Langsung ke konten utama

Jarak Terjauh dan Terdekat

doc. pribadi : Pantai Indrayanti, Yogyakarta

Seseorang sedang berusaha berlari sekencang kencangnya menjauhi masa lalu. Bukan, bukan karena orang tersebut sangat membenci masa lalunya. Orang tersebut sudah berdamai, ingin membuat jembatan yang lebih baik untuk menuju masa depannya. Orang tersebut sadar apa apa yang tertinggal di masa lalu tidak bisa diubah. Hanya bisa diikhlaskan dan diterima. Karena tidak semua orang dapat melakukan ini. Namun seseorang tersebut nampaknya masih khawatir. Takut apa yang menjadi masa lalunya tidak dapat diterima orang lain, terutama seseorang yang akan menjadi teman hidupnya kelak, entah siapapun. Sehingga apapun usaha yang dilakukannya kini seperti sia-sia. Toh masa lalunya tetap seperti itu. Suatu hari, seseorang itu pergi ke sebuah pantai dimana ia ingin mengatakannya kepada laut, kepada awan, kepada angin. Ia ingin membuang sejauh-jauhnya hal yang bernama masa lalu itu.
“Nak, kenapa menangis ?” Tanya kakek tua yang sedang memungut sampah
“Saya hanya ingin bebas dari masa lalu kek. Saya menyesal.” Jawab seseorang itu
Kakek tersebut bertanya lagi “Apa yang kamu pelajari dari masa lalu ?”
“Saya belajar memaafkan kek. Saya belajar ikhlas dan menerima diri sendiri. Walaupun semua itu perlu waktu.” Seseorang itu menjawab sekenanya
“Nak, kakek sudah hidup hampir 75 tahun. Kakek sudah menjalani asam garam kehidupan ini. Kakek juga memiliki masa lalu. Setiap orang punya masa lalu. Baik atau buruk masa lalu seseorang tidak jadi masalah nak. Yang penting kamu bisa memaafkan dan tidak mengulangi kesalahan yang sama di masa lalu. Kalau kamu terus terusan merasa menyesal kamu tidak akan bisa menikmati hari ini untuk memperbaiki masa depan. Perbaiki masa depan mulai dari hari ini nak.”
“Nak, kata pepatah ada trias dungu, yaitu yang pertama orang yang selalu menyesali masa lalu, kedua orang yang tidak menikmati hari ini, dan yang ketiga orang yang mengkhawatirkan masa depan. Padahal nak, jarak yang paling jauh di semesta ini kau tau apa ?”
“Jarak antara bumi dengan bintang bintang kek ?” Seseorang itu mencoba menjawab
“Bukan nak. Jarak yang paling jauh adalah antara sekarang dengan masa lalu. Bahkan sedetik yang lalu pun sudah menjadi masa lalu. Kenapa disebut jauh ? Karena tidak dapat kembali. Sedangkan jarak yang paling dekat di semesta ini adalah antara hari ini dengan masa depan. Sedetik yang akan berjalan sudah menjadi masa depan. Maka sebenarnya yang disebut masa depan juga saat ini juga. Tinggal bagaimana kita bisa menikmatinya dan memperbaikinya nak.”
Seseorang itu mengangguk ngangguk menyerap semua penjelasan kakek tua itu.
“Oh begitu ya kek. Saya baru tau”.
“Guru terbaik di duni ini apa nak ?” Kali ini kakek bertanya sambil tersenyum memperlihatkan giginya yang sudah tanggal.
“Pengalaman kek.” Seseorang itu menjawab dengan yakin
“Iya nak. Kakek ini bisa berkata seperti ini bukan karena kakek pandai. Tetapi karena pengalaman nak. Kalau kamu sudah di usia kakek, kamu akan merasakan dan paham sendiri nak betapa pengalaman pengalaman hidup itu akan membentuk dirimu saat ini. Kamu nanti akan bisa cerita banyak ke anak anak dan cucumu. Agar pengalamanmu jadi pelajaran juga untuk mereka. Agar kesalahan yang kamu lakukan di masa lalu tidak dilakukan lagi, dan agar keberhasilanmu di masa lalu juga dapat dicontoh oleh anak anak dan cucumu. Pengalaman emosi itu harus dirasakan nak, tidak dapat dipelajari hanya dari teori. Peluklah masa lalu itu, terima. Ketika kamu sudah bisa berdamai dengan masa lalumu. Kamu akan mudah menerima orang lain yang nantinya akan masuk ke dalam kehidupanmu nak yang pasti memiliki masa lalu juga.” Kini kakek tersenyum lebar semakin memperliahatkan giginya yang sudah tidak nampak lagi.
“Baik kek. Saya belajar banyak. Mulai hari ini saya akan berbenah menerima diri sendiri, memperbaiki diri sendiri, dan memberi ruang untuk seseorang yang akan datang, siapapun itu.”
Seseorang itu mulai memperliahtkan cahaya wajahnya yang sedari tadi meredup bersama masa lalunya.
“Nak coba kamu celupkan tanganmu ke air laut itu.”
Seseorang itu kemudian mencelupkan jari telunjuk kanannya ke air laut itu. “Air yang menetes cuma dikit ya kek.”
“Iya nak, Itulah dunia nak. Lautan itulah akhirat. Dunia itu kecil sekali kan nak ? Maka jangan terlalu memikirkan dan bersedih karena dunia fana ini nak.”
Seseorang itu paham maksud kakek tua itu. “Terima kasih kek ilmunya”
“Sama sama ya nak. Kamu masih punya banyak harapan untuk berkarya dan memperbaiki masa depan. Lakukan nak.” Kakek tersebut tersenyum lagi sembari mengangkat kantong sampahnya bersiap pergi.
“Terima kasih banyak kek.”

Setelah itu lautan yang ada di depan seseorang itu terlihat tenang dan teduh. Seseorang itu sepakat, jarak yang paling jauh di semesta ini adalah masa lalu dan jarak yang paling dekat adalah masa depan. Kini seseorang itu merubah konsep tentang jarak yang selama ini ia pegang. Jarak tidak hanya soal kilometer, tetapi waktu. Bau laut merebak. Ada harapan baru.


#fiction

Rumah, 11 April 2020

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Seramnya Ilmu Biomedik Dasar (IBD)

Di kampus saya, ada lima fakultas yang termasuk ke dalam rumpun ilmu kesehatan, yaitu FK, FKG, FF, FIK, dan FKM. Tentu bukan tanpa tujuan, UI membangun sebuah gedung yang bernama gedung rumpun ilmu kesehatan tempatnya 5 fakultas tersebut. Salah satunya adalah untuk melancarkan terselenggaranya mata kuliah campuran dari 5 fakultas tersebut. Mata kuliah campuran pertama yang saya dapatkan adalah Ilmu Biomedik Dasar (IBD) 4 sks. Saya sekelas dengan teman-teman 5 fakultas tersebut. Satu kelas isinya 20an orang.
Kata kating, mata kuliah ini menyeramkan. Kenapa ? Karena mata kuliah ini katanya susah, sks nya gede, tugasnya banyak, dan tentunya sekelas dengan mahasiswa fakultas lain yang menimbulkan rasa nervous. Dan ternyata benar hehehe. Tetapi tidak semenyeramkan tu koq 😊 begini penjelasannya.
Definis Ilmu Biomedik Dasar (IBD) Ilmu Biomedik Dasar adalah sebuah mata kuliah wajib bagi semua mahasiswa rumpun ilmu kesehatan, karena mata kuliah ini mempelajari dasar-dasar dari manusia,mempelaja…

Mengambil Berkahnya

Ada yang unik di sebuah warung es krim di jalan dekat kosan saya di Depok. Warung es krim itu terhitung baru buka sekitaran setahun yang lalu. Setiap hari saya melewatinya dan memperhatikan warung tersebut. Saya perhatikan dari dulu sampai sekarang dan walaupun pelayan yang menunggu sempat ganti beberapa kali, tetapi setiap jam sholat warungnya tutup dan dipintunya ditulis “Abangnya agi istirahat, sholat. Tunggu ya😊 “. Ini yang membuat berbeda dengan warung-warung yang lain. Ya meskipun warung yang lain mungkin juga tetap melakukan kewajiban dan bergantian, tetapi warung ini juga memberikan tulisan yang bisa saja menjadi ajakan untuk yang lain untuk melakukan sholat. Waktu saya sedang praktik di sebuah sasana tresna werdha, adek tingkat minta tolong kepada saya untuk maketin mapnya yang tertinggal di sana. Kebetulan saat itu saya masih praktik di sana. Kebetulan juga hari itu hari jumat pukul 11.00. Karena jam 13.00 saya ada jadwal presentasi saya akhirnya memesan ojek online untuk m…