Langsung ke konten utama

Postingan

 Beberapa sesuatu memang harus diikhlaskan. Atau diberi jarak. Beberapa sesuatu juga memang tidak layak disimpan. Atau bahkan sekedar dikenang. Simpan yang perlu saja. Tinggalkan yang tidak perlu. Agar langkah kaki kita lebih ringan dalam melangkah.
 Pada akhirnya pun, keputusan yang kita buat akan ditanggung konsekuensinya oleh diri kita sendiri. Bukan orang lain. Orang lain bukan kita dan kita bukan orang lain. Pada akhirnya pun, kita akan berjalan di jalannya masing masing. Jalan yang entah akan bersinggungan kembali ataupun tidak.  Tapi ada satu kelegaan luar biasa, aku telah menyelamatkan diriku sendiri dari ekspektasi dan dari hal yang tidak ingin aku jalani. Rasanya mau bilang, "Boleh ga istirahat dulu? Sejenak?" Bukan untuk menyerah. Bukan karena lemah. Tapi karena mau memastikan, langkah kakiku tak salah jalan lagi. Boleh kan ?
 Rindu suasana rumah, masakan rumah, masak di rumah, nurul, mba pipin, rinda, indri, dan kondisi saat itu. Rindu semuanya. Dan juga....... Ah sudahlah kalau yang terakhir.

let it Go

Tetap saja. Ada luka luka disudut hati. Yang entah kapan bisa disembuhkan. Selain dengan ikhlas. Menduga duga prasangka memang tidak nyaman. Tetapi ternyata kejelasan juga malah menambah luka yang entah apa obatnya. "Selamat ya, sudah menemukan perempuan yang se visi denganmu. Perempuan yang bisa mendukung mimpi mimpimu."  Kamu mengucapkan itu dengan tulus disertai senyum Tetap saja. Kamu tidak bisa membohongi dirimu sendiri. Kamu ingin pergi, sejauh mungkin. Tapi di saat yang sama langkahmu terhenti hanya karena kamu tidak sanggup meninggalkan hal yang sudah jelas jelas harus kamu tinggalkan. Tetap saja. Rasa sakit ini seperti tidak ada obat. Dan, kamu hanya diam di tempat. Membiarkan lukamu yang semakin menganga. Sakit sekali ya, rasanya. Tapi sudah diputuskan, detik ini juga, mari move up!
 Mendung belum tentu hujan. Tapi matahari akan tetap bersinar. Rembulan juga akan tetap ada meski terkadang tidak terlihat. Terkadang, kita terlalu memaksakan diri untuk sesuatu yang belum jelas kepastiannya.  Kalau kata seorang teman, "kamu cuma butuh percaya des sama doa doamu. berharap pada Allah saja. Aku dulu berpikir memperjelas sesuatu agar clear, mau hitam atau putih. Tetapi sesuatu yang jelas itu tidak semuanya baik jika tidak di waktu yang tepat. Semua ini hanya soal waktu kan. Dan kamu udah tau jawabannya apa yang harus kamu lakukan." Lagi lagi, aku hanya bisa memeluk diriku sendiri sambil sesenggukan di kamar.
Perempuan cuma butuh kepastian. Bukan ucapan yang tak kunjung ada bukti. Ataupun janji yang tidak ditepati. Meski sekarang di rumahmu sedang turun hujan deras. Tapi ingat, hujan bisa reda. Dan ketika reda, untuk menjadikannya kembali hujan, perlu waktu. Hujan, bukan permainan yang dilewatkan.
Tanpa kamu minta, aku selalu di sini. Di tempat yang sama.  Aku tidak akan pergi kemana mana. Sekalipun mungkin di luar sana banyak yang lebih menarik. Tapi buat apa ? Aku akan bertahan semampuku. Sebisa aku bisa bertahan. Sebisa aku bisa bersabar. Meski, apa yang aku usahakan pun belum tentu berbuah manis. Jika menunggu menurutmu adalah pekerjaan sia sia dan bukan perjuangan, bagiku itu perjuangan yang berarti. Itu artinya, aku harus memutar otak selama itu aku harus melakukan apa saja agar waktuku berarti, aku juga harus merelakan waktuku terbuang, aku juga harus rela jika apa yang aku usahakan ternyata tidak sesuai dengan harapan. Dan yang membuatku mau tidak mau harus melakukannya dari nol lagi. Bagiku, itu perjuangan berat. Karena, setauku, Menunggu adalah bersabar. Dan sabar itu harusnya tidak terbatas kan ? Dan aku, sedang diuji oleh "ketidak terbatasan" itu Depok, 18 mei 2021