Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2021
Kamu sudah tidak berada di depan pintu lagi. Kamu sudah masuk ke dalam duniaku. Dunia yang mungkin asing bagimu. Dunia yang mungkin masih berantakan di beberapa sudut sudut bagiannya.  Selamat datang !  Kamu telah berhasil mendobrak pintu yang selama ini aku kunci rapat rapat. Karena Aku takut, dunia yang selama ini aku kunci rapat tidak bisa diterima oleh orang lain. Aku juga takut, tidak sesuai ekspektasi orang lain. Tapi, berbagi dunia ini denganmu, aku tidak merasa takut lagi. Dan aku juga tidak takut lagi akan kemungkinan kemungkinan. Semua sudah disepakati di awal. Bagaimanapun nanti, tidak ada yang merasa kalah. Depok, 7 Oktober 2021
Ketika kamu dihadapkan pada banyak hal, dan semuanya penting. Bukan lagi tentang milih memilih. Tapi tentang menurunkan ego. Ketika ada satu hal yang dikorbankan, berarti harus bisa menerima konsekuensi dari keputusan itu.  Aku tau, sangat sulit. Tapi, bukan berarti tidak mungkin. 
Semoga, apa yang kita perjuangkan membuat kita semakin berserah, bukan semakin memaksakan kehendak. Semoga, apa yang kita langitkan membuat kita semakin ikhlas. Apapun hasil dari perjuangan ini, membuat kita merasa menang. Kita menang, karena kita telah berjuang, kita berusaha sebaik mungkin tapi tetap pasrah dengan segala kemungkinan. Kita menang, karena kita tetap percaya pada rukun iman yang ke-6. 

Kemungkinan

Jika terus menerus mencari yang sempurna, mungkin sampai nantipun tidak akan menemukan. Pun, jika terus menerus mencari yang sesuai kriteria A, B,C, D, E, dsb, juga tidak pernah ditemukan dalam satu orang. Pada akhirnya, Hanya mendapatkan kecewa karena ekspektasi tidak sesuai dengan realita.  Menunggu, sesuatu yang membosankan bagi sebagian orang. Namun mungkin juga menyenangkan jika dilakukan dengan berjuang. Seperti mengisi hari hari dengan melakukan kegiatan yang positif : bekerja, membaca buku, juga sembari menikmati hidup. Walaupun mungkin terasa menjenuhkan tapi, perempuan ahlinya menunggu. Dia akan terus menerus menunggu, meski ternyata di halte yang salah. Semoga, yang ragu segera diberikan rasa percaya. Semoga yang merasa tidak mampu, diberikan kemampuan. Semoga yang berniat baik segera diberikan jalan. Dan semoga yang disemogakan menjadi kenyataan. Juga tak lupa, menyiapkan ruang di dalam hati untuk berbagai kemungkinan. "Sampai saya harus mendefinisikan ulang 'kamu...
 Beberapa sesuatu memang harus diikhlaskan. Atau diberi jarak. Beberapa sesuatu juga memang tidak layak disimpan. Atau bahkan sekedar dikenang. Simpan yang perlu saja. Tinggalkan yang tidak perlu. Agar langkah kaki kita lebih ringan dalam melangkah.
 Pada akhirnya pun, keputusan yang kita buat akan ditanggung konsekuensinya oleh diri kita sendiri. Bukan orang lain. Orang lain bukan kita dan kita bukan orang lain. Pada akhirnya pun, kita akan berjalan di jalannya masing masing. Jalan yang entah akan bersinggungan kembali ataupun tidak.  Tapi ada satu kelegaan luar biasa, aku telah menyelamatkan diriku sendiri dari ekspektasi dan dari hal yang tidak ingin aku jalani. Rasanya mau bilang, "Boleh ga istirahat dulu? Sejenak?" Bukan untuk menyerah. Bukan karena lemah. Tapi karena mau memastikan, langkah kakiku tak salah jalan lagi. Boleh kan ?
 Rindu suasana rumah, masakan rumah, masak di rumah, nurul, mba pipin, rinda, indri, dan kondisi saat itu. Rindu semuanya. Dan juga....... Ah sudahlah kalau yang terakhir.

let it Go

Tetap saja. Ada luka luka disudut hati. Yang entah kapan bisa disembuhkan. Selain dengan ikhlas. Menduga duga prasangka memang tidak nyaman. Tetapi ternyata kejelasan juga malah menambah luka yang entah apa obatnya. "Selamat ya, sudah menemukan perempuan yang se visi denganmu. Perempuan yang bisa mendukung mimpi mimpimu."  Kamu mengucapkan itu dengan tulus disertai senyum Tetap saja. Kamu tidak bisa membohongi dirimu sendiri. Kamu ingin pergi, sejauh mungkin. Tapi di saat yang sama langkahmu terhenti hanya karena kamu tidak sanggup meninggalkan hal yang sudah jelas jelas harus kamu tinggalkan. Tetap saja. Rasa sakit ini seperti tidak ada obat. Dan, kamu hanya diam di tempat. Membiarkan lukamu yang semakin menganga. Sakit sekali ya, rasanya. Tapi sudah diputuskan, detik ini juga, mari move up!
 Mendung belum tentu hujan. Tapi matahari akan tetap bersinar. Rembulan juga akan tetap ada meski terkadang tidak terlihat. Terkadang, kita terlalu memaksakan diri untuk sesuatu yang belum jelas kepastiannya.  Kalau kata seorang teman, "kamu cuma butuh percaya des sama doa doamu. berharap pada Allah saja. Aku dulu berpikir memperjelas sesuatu agar clear, mau hitam atau putih. Tetapi sesuatu yang jelas itu tidak semuanya baik jika tidak di waktu yang tepat. Semua ini hanya soal waktu kan. Dan kamu udah tau jawabannya apa yang harus kamu lakukan." Lagi lagi, aku hanya bisa memeluk diriku sendiri sambil sesenggukan di kamar.
Perempuan cuma butuh kepastian. Bukan ucapan yang tak kunjung ada bukti. Ataupun janji yang tidak ditepati. Meski sekarang di rumahmu sedang turun hujan deras. Tapi ingat, hujan bisa reda. Dan ketika reda, untuk menjadikannya kembali hujan, perlu waktu. Hujan, bukan permainan yang dilewatkan.
Tanpa kamu minta, aku selalu di sini. Di tempat yang sama.  Aku tidak akan pergi kemana mana. Sekalipun mungkin di luar sana banyak yang lebih menarik. Tapi buat apa ? Aku akan bertahan semampuku. Sebisa aku bisa bertahan. Sebisa aku bisa bersabar. Meski, apa yang aku usahakan pun belum tentu berbuah manis. Jika menunggu menurutmu adalah pekerjaan sia sia dan bukan perjuangan, bagiku itu perjuangan yang berarti. Itu artinya, aku harus memutar otak selama itu aku harus melakukan apa saja agar waktuku berarti, aku juga harus merelakan waktuku terbuang, aku juga harus rela jika apa yang aku usahakan ternyata tidak sesuai dengan harapan. Dan yang membuatku mau tidak mau harus melakukannya dari nol lagi. Bagiku, itu perjuangan berat. Karena, setauku, Menunggu adalah bersabar. Dan sabar itu harusnya tidak terbatas kan ? Dan aku, sedang diuji oleh "ketidak terbatasan" itu Depok, 18 mei 2021
 Pagi ini langit depok mendung. Sampai sore pun awan awan mendung masih stay di langit Depok. Hingga aku pulang, tiba tiba hujan deras sekali. Aku stres karena sudah ditengah jalan. Tidak ada tempat berteduh. Mau gamau, aku harus menerjang hujan ini. Ternyata, menerjang hujan tidak semenakutkan itu. Aku bahagia, karena bisa hujan hujanan. Kali ini aku merasa menang dan jujur, karena aku berhasil membuktikan bahwa aku menyukai hujan dan berani hujan hujanan di bawahnya. Tidak terus menerus menghindarinya. Kemarin kemarin, aku mengaku suka hujan, tapi lebih suka hanya melihat dari tepi jendela. Tanpa berani merasakan rintiknya. Ternyata, kesukaanku itu hanya bohong. Aku bohong kepada diriku sendiri kalau aku suka hujan. Dan hari ini, aku sudah membuktikannya. Aku suka hujan, Dan aku berani merasakan rintik demi rintik yang jatuh dari langit. Meski aku tahu, hujan bisa membuatku sakit berkepanjangan karena hawa dingin yang menembus kulit, mengalir ke seluruh tubuh, mengendalik...
"Sepertinya hidup memang  begini. Harus berkali kali merasakan patah, untuk pada akhirnya memahami. Bahwa untuk mencintai orang lain, harus mencintai diri sendiri terlebih dahulu. Dan, jangan menggantungkan kebahagiaan pada orang lain, atau berharap menjadi sumber kebahagiaan bagi orang lain. Supaya kita inget, bahwa bahagia adalah tanggung jawab kita sendiri"
"Kamu boleh mengejar apa yang belum kamu punya, tapi kamu juga bisa kehilangan sesuatu yang pernah kamu miliki" - imperfect "Salah satunya adalah ?" "Aku"

Ramdhan Day 12

Semenjak mulai 'mengenal' dunia rumah sakit, aku sering menyaksikan pasien - pasien yang menghembuskan napas terakhirnya dan mendapat kabar bahwa pasien - pasien yang beberapa hari yang lalu dirawat ternyata sudah tiada.  Tiga hari yang lalu saat dinas sore, aku baru saja menerima pasien yang akan rencana operasi besar. Persiapannya begitu banyak dan rumit. Baru kali ini aku menjumpai pasien dengan persiapan operasi yang serumit ini. Aku mencoba menenangkan diri, mencoba memahami apa yang harus aku lakukan terlebih dahulu. Hal pertama yang aku lakukan adalah pemeriksaan EKG (elektrokardiogram) untuk konsul toleransi operasi ke spesialis jantung. Kemudian melakukan pengukuran tanda-tanda vital pasien. Setelah itu, ada dokter spesialis paru visit dan aku menemani visitnya. Setelah dokter selesai visit, kemudian aku melihat SOAP beliau dan melaporkannya ke DPJP sekaligus konfirmasi terkait persediaan darah yang dibutuhkan untuk operasi. Long story short, saat sudah jam operan mala...

Ramadhan Day 7

Harus lebih ikhlas lagi dalam berjuang, dalam berkorban. Harus lebih pasrah lagi. Harus lebih tidak menggenggam terlalu erat. Harus lebih percaya Harus lebih tidak memaksakan Berjuang itu berkorban. Entah itu tenaga, pikiran, atau bahkan waktu. Kadang, ingin melawan arus. Kadang pula, ingin mengikuti arus, pasrah. Sepasrah pasrahnya. Entah akan dibawa ke lautan yang aku inginkan, atau akan dibawa ke lautan yang tidak aku inginkan. Kembali lagi pada konsep, apa apa yang terbaik tidak pernah ada pada takaran manusia :) Depok, 19 April 2021 7 Ramadhan 1442 H

Ramadhan Day 5

 Lepas jaga malam, aku merasa kewalahan menghadapi banyak orang. Padahal hanya pegang 5 pasien, tapi ternyata dari ke 5 itu memiliki keunikannya sendiri.  Aku belajar, yang namanya manusia memang unik, memiliki keinginannya sendiri. Apalagi manusia sakit ya, keluhannya beda beda. Meski di dalam mindsetku aku berusaha untuk menanamkan pemahaman bahwa "perlakukan pasien sebagaimana kamu ingin diperlakukan", atau disebut dengan golden rule principle. Tetapi tetap saja, butuh latihan terus menerus. Butuh stok sabar yang banyak. Tetap belajar mengasah empati. Tetap belajar tentang komunukasi yang baik. Apalagi, akhir akhir ini ada isu perawat diperlakukan secara kekerasan. Rasanya itu, miris. Iya, menjadi tenaga kesehatan tidak semudah itu. Tapi karena hal itulah, kita belajar jadi lebih baik (setiap harinya). Kita belajar untuk memanusiakan manusia. Kita belajar memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan. Aku jadi belajar juga, tentang menolong dan berbuat kebai...

Ramadhan Day 4

 Hampir 6 bulan, tapi aku merasa belum "kerasan". Meski sempat akan mundur, entah kenapa di sata itu ada keberanian untuk aku maju lagi. Dunia pasca kampus membuatku "jetlag". Mindsetku harus terus menerus diubah untuk segera move on dari dunia kampus yang ternyata masa masa paling indah selama sekolah. Yhaa, dunia kampus se menarik itu. Rindu akan organisasi, makan di kantin RIK, menyepi sendirian ke perpusat, mengurus acara perhimak, dsb. Masa masa yang membuatku merasa memiliki banyak teman. Saat di Depok, ada teman. Saat pulang ke rumah pun, ada teman main. Namun, dunia perlahan berubah. Saat memasuki tingkat akhir, duniaku mulai sepi. Saat tak lagi mengikuti organisasi, tak lagi aktif di perhimak, saat tak lagi ikut kegiatan ini itu, dan hanya sibuk mengurus skripsi. Kemudian, saat sudah benar benar lepas dari dunia kampus, duniaku semakin sunyi. Teman temanku yang masih terkoneksi sampai saat ini hanya itu itu saja. Bisa dihitung dengan jari. Mereka mulai sibu...

Ramadhan Day 1

 Ada yang berbeda dari ramadhan tahun ini. Pertama kalinya ramadhan full di Depok, pertama kalinya ramadhan di rumah sakit, pertama kalinya ramadhan dengan sahur dan berbuka dengan kondisi sedang merawat pasien. Dan pertama kalinya, menurunkan ekspektasi, meninggikan kesabaran, terhadap seseorang dan rencana masa depan. Ramadhan kali ini adalah tentang menguatkan diri. Menjadi kuat dengan bertahan di depok dengan segala roller coasternya. Juga menjadi kuat dengan bertahan pada komitmen yang telah dibuat oleh diri sendiri. Semalam, saat sahur pertama, aku masih ada teman untuk diajak sahur bersama. Namun, aku tidak tahu apakah tahun depan kondisi ini akan sama. Setelah bertukar pikiran dengan beberapa teman dekatku, mereka memiliki rencana sendiri sendiri yang mungkin tidak diwujudkan di depok. Itu artinya, aku juga harus menguatkan diri jika suatu saat akan jauh dari teman temanku. Aku tidak tahu, apakah ramadhan ini ramadhan terakhirku bersama mereka. Namun sepertinya, iya. Bebera...
Seperti mau ujian, jika persiapannya matang pasti akan lebih berani dan pede. Tapi jika persiapannya belum matang, pasti tidak yakin. Dan menurutku, untuk hal seperti ini, persiapan akan dilakukan terus menerus, sampai benar benar yakin. Setiap hari belajar, berusaha, dan mempersiapkan yang sebaik baiknya. Juga jangan lupa lapangkan hati, berikan ruang untuk belajar ikhlas, bersiap melepaskan, juga bersiap menerima yang sepenuhnya. Jarak kita masih sangat jauh, meski keliatannya dekat. Jarak yang jauh itu hanya berbatas sebaris pernyataan dan sebaris jawaban.   Selamat bersiap! 
 Terima kasih untuk diriku sendiri yang hari ini sudah memutuskan untuk dirinya sendiri. Semoga, keputusan yang diambil adalah yang terbaik. Semoga, kuat menjalaninya. Memang ya, doa orangtua itu sangat diijabah :) Ridhonya Allah ridhonya orangtua. Dan apa apa yang terbaik, tidak pernah ada dalam takaran manusia. Ketika egois dengan keputusan diri sendiri, kemaren seperti ditampar juga oleh diri sendiri "siapa aku, bisa bisanya sok tau yang terbaik buat aku" Semangat untuk menjalani hari hari penuh tantangan, ke depannya :)
 "Jadi mikir, sepertinya seseorang bisa menerima orang lain jika orang lain itu sudah menjadi sesuatu. Memang benar ya, cuma keluarga tempat kembali yang bisa nerima apa adanya diri kita : termasuk diri kita yang gagal."
"Jadi tidak perlu bersikap berlebihan/memiliki ekspektasi berlebihan/berespon yang berlebihan". Secukupnya saja. Kamu hanya 1 dari sekian banyak "teman"nya yang juga diperlakukan yang sama. Santai saja. Cukup. -sebuah afirmasi yang aku lakukan terus menerus juga ke diriku sendiri 
Sorenya sore di Depok. Sepanjang hari mendung, tapi tidak hujan. Hanya mendung mendung saja. Padahal aku berharap hujan, agar suasana menjadi lebih dingin (dan syahdu). Hujan di kala libur adalah rezeki, karena aku bisa menikmati tanpa harus basah basahan. Aku menjadi lebih nyaman membaca buku, menikmati semua aktivitasku di kamar, termasuk tidur siang hehe. Ah namanya juga orang dewasa, katanya suka hujan tapi nyatanya ga suka kehujanan. Ah namanya juga orang dewasa juga, katanya mendung tapi kok ga hujan. Padahal sudah ditunggu tunggu. Namanya juga hidup, mendung kan bukan berarti mau hujan. Ah baiklah ~  Ingat ingat : jangan berekspektasi berlebihan.