Langsung ke konten utama

Ramadhan Day 4

 Hampir 6 bulan, tapi aku merasa belum "kerasan". Meski sempat akan mundur, entah kenapa di sata itu ada keberanian untuk aku maju lagi. Dunia pasca kampus membuatku "jetlag". Mindsetku harus terus menerus diubah untuk segera move on dari dunia kampus yang ternyata masa masa paling indah selama sekolah. Yhaa, dunia kampus se menarik itu. Rindu akan organisasi, makan di kantin RIK, menyepi sendirian ke perpusat, mengurus acara perhimak, dsb. Masa masa yang membuatku merasa memiliki banyak teman. Saat di Depok, ada teman. Saat pulang ke rumah pun, ada teman main. Namun, dunia perlahan berubah. Saat memasuki tingkat akhir, duniaku mulai sepi. Saat tak lagi mengikuti organisasi, tak lagi aktif di perhimak, saat tak lagi ikut kegiatan ini itu, dan hanya sibuk mengurus skripsi. Kemudian, saat sudah benar benar lepas dari dunia kampus, duniaku semakin sunyi. Teman temanku yang masih terkoneksi sampai saat ini hanya itu itu saja. Bisa dihitung dengan jari. Mereka mulai sibuk dengan urusan mereka sendiri. Ada yang sibuk dengan pekerjaan, studi lanjut, oh bahkan beberapa mulai berkeluarga.

Time flies.
Rasanya seperti baru kemarin ya, ternyata sudah sejauh ini perjalananku.
Ketika menengok ke belakang, ada rasa syukur, bisa menghadapi tantangan demi tantangan. Tapi ketika mengintip ke depan, rasanya ketakutan itu lebih besar. Aku tidak tahu, bisa bertahan sampai kapan "di sini".

Rasa rasanya, ingin segera pergi dari kehidupan yang seperti ini. Tapi, aku belum tahu, mau kemana. Rasa rasanya, aku memiliki mimpi kehidupan yang ingin aku jalani, tapi bukan kehidupan yang saat ini sedang aku jalani.

Aku hanya ingin pulang, ke rumah.
Tapi rasa rasanya.........

Ya Allah, tolong kuatkan :")

Depok, 16 April 2021
4 Ramadhan 1442 H

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramadhan Day 22 : Ke Kota

Tidak ada yang bisa duduk tenang. Hujan deras menghimpun cemas di pintu stasiun. Kereta seharusnya datang 5 menit yang lalu. Terkadang, satu menit menunggu terasa lebih merugikan daripada seumur hidup berlalu sia-sia. Seorang pemuda menyalami seorang bapak yang kupikir adalah orangtuanya. Sang bapak melambaikan tangan. Bersedih. Senyum getirnya memunculkan keriput. Si pemuda membalas dengan lambaian yang sama. Tetapi sumringah. Senyum bahagianya memunculkan rona merah. Seolah ia sedang berpura-pura lupa bahwa pria berkeriput itu telah menua. Begitu pun mimpi-mimpi yang menunggunya di kota. Demikian pikirnya, barangkali. Berjarak satu sama lain bukanlah pilihan sulit bagi sebagian orang. Jauh dan dekat hanya soal hitungan kilometer. Berbagai moda melipat jarak bagai kertas. Tetapi seringkali, jarak tidak bekerja seperti itu. Ia mengganti peta dalam pikiranmu dengan ilusi. Jauh dekat bukan lagi dihitung melalui kilometer. Meski ia disampingmu, tapi seringkali ia terasa jauh. Sejauh ...

Ramadhan Day 25 : Tantangan Itu Biasa, Menyelesaikannya itu Istimewa

FIK UI 2015 wisuda. dokumentasi pribadi Pernah tidak dalam hidupmu kamu membuat keputusan yang menurutmu paling menantang ? Aku pernah yaitu saat memutuskan aku mengikuti profesi ners. Bagiku itu adalah keputusan besar yang membentuk diriku di hari ini. Setahun yang lalu, di saat yang sama aku sedang sibuk merevisi proposal skripsiku dan merayu dosen pembimbing agar aku bisa sidang akhir Mei. Singkat cerita aku bisa sidang di akhir Mei. Aku merasa aku menang. Aku berhasil melewati salah 1 fase terberatku, yaitu skripsi. Namun setelah itu muncul pertanyaan baru lagi, what's next ? Bagi mahasiswa keperawatan, wisuda sarjana bukanlah akhir dari masa perkuliahan. Justru ini awal kehidupan yang sesungguhnya. Setelah menimbang berbagai pertimbangan, aku akhirnya memutuskan untuk mengikuti profesi, karena jalan mimpiku yang selanjutnya memang harus dilalui melalui profesi. Iya, aku harus mendapatkan Surat Tanda Registrasi (STR) agar aku dapat bekerja sebagai praktisi. Untuk mend...

Ramadhan Day 9 : Dear Me,

sumber : unsplash.com Ada kalanya aku ingin menjadi aku yang masih berumur 10 tahun. Saat itu aku masih kelas 5 SD. Saat segalanya begitu menyenangkan. Saat segalanya begitu sederhana. Saat raga dan jiwa tak perlu saling tentang. Saat mulut dan hati tak perlu saling berpura-pura. Saat aku sedang suka-sukanya membaca buku pelajaran, apalagi buku pelajaran Bahasa Indonesia. Aku suka, karena di sana banyak cerita. Dengan membaca cerita, aku seperti jalan-jalan. Aku senang saat pelajaran IPA, terutama tentang tumbuh-tumbuhan. Saat itu, aku menjadi rajin meminjam buku ensiklopedia di perpus tentang bonsai, tanaman-tanaman yang tumbuh di dunia, dan juga hewan-hewan. Oh ya aku ingat, aku juga penasaran dengan planet-planet dan luar angkasa. Lantas aku meminjam buku ensiklopedia tentang itu. Dari buku itulah aku kenal dengan yang namanya negara-negara luar dan tanaman-tanaman yang tumbuh di sana. Aku juga jadi mengetahui tentang tata surya. Tak hanya itu, aku juga suka dengan pelajaran I...