Semenjak mulai 'mengenal' dunia rumah sakit, aku sering menyaksikan pasien - pasien yang menghembuskan napas terakhirnya dan mendapat kabar bahwa pasien - pasien yang beberapa hari yang lalu dirawat ternyata sudah tiada.
Tiga hari yang lalu saat dinas sore, aku baru saja menerima pasien yang akan rencana operasi besar. Persiapannya begitu banyak dan rumit. Baru kali ini aku menjumpai pasien dengan persiapan operasi yang serumit ini. Aku mencoba menenangkan diri, mencoba memahami apa yang harus aku lakukan terlebih dahulu. Hal pertama yang aku lakukan adalah pemeriksaan EKG (elektrokardiogram) untuk konsul toleransi operasi ke spesialis jantung. Kemudian melakukan pengukuran tanda-tanda vital pasien. Setelah itu, ada dokter spesialis paru visit dan aku menemani visitnya. Setelah dokter selesai visit, kemudian aku melihat SOAP beliau dan melaporkannya ke DPJP sekaligus konfirmasi terkait persediaan darah yang dibutuhkan untuk operasi. Long story short, saat sudah jam operan malam, aku ke kamar pasiennya kembali dan menanyakan keluhan serta obat rutinnya. Beliau sudah tidak bisa duduk tegak dan terasa sesak saat miring ke kanan.
Kemudian, tadi malam, aku mendengar kabar, bahwa pasien tersebut sudah meninggal dunia dikarenakan syok hipovolemik. Aku langsung lemas dan tidak percaya. Rasanya baru kemarin bertemu dengan pasien, masih bisa ngobrol.
Lesson learned nya : umur tidak ada yang tahu, bisa jadi hari ini kita masih sehat dan masih bisa ngobrol, tapi tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi kepada kita selanjutnya. Secanggih apapun alat-alat medis, jika Allah sudah berkehendak, maka tidak ada yang bisa menghalangi. Alat-alat medis dan tenaga medis adalah tool. Sebagai manusia, kita hanya bisa berusaha, tapi untuk hasil, tetap Allah yang menentukan. Aku kembali belajar rukun iman yang ke 6. Kematian itu sangat dekat ternyata dan pasti akan datang, siap tidak siap. Maka, persiapkan kematian itu dengan baik :") sebuah nasihat untukku sendiri.
Beliau adalah seorang guru besar, yang dimana pasti publikasi, kontribusinya sudah banyak. Walaupun sudah tiada, tapi karyanya tetap hidup.
Aku menjadi berpikir ulang, jika suatu saat aku tiada, karya apa yang bisa aku tinggalkan ? Amal jariyah apa yang bisa aku lakukan sekarang ? Agar supaya, ketika tiada, masih ada yang menolongku.
Terima kasih, aku menjadi belajar banyak hal.
Depok, 24 April 2021
12 Ramadhan 1442 H
Komentar
Posting Komentar