Langsung ke konten utama

Ramdhan Day 12

Semenjak mulai 'mengenal' dunia rumah sakit, aku sering menyaksikan pasien - pasien yang menghembuskan napas terakhirnya dan mendapat kabar bahwa pasien - pasien yang beberapa hari yang lalu dirawat ternyata sudah tiada. 

Tiga hari yang lalu saat dinas sore, aku baru saja menerima pasien yang akan rencana operasi besar. Persiapannya begitu banyak dan rumit. Baru kali ini aku menjumpai pasien dengan persiapan operasi yang serumit ini. Aku mencoba menenangkan diri, mencoba memahami apa yang harus aku lakukan terlebih dahulu. Hal pertama yang aku lakukan adalah pemeriksaan EKG (elektrokardiogram) untuk konsul toleransi operasi ke spesialis jantung. Kemudian melakukan pengukuran tanda-tanda vital pasien. Setelah itu, ada dokter spesialis paru visit dan aku menemani visitnya. Setelah dokter selesai visit, kemudian aku melihat SOAP beliau dan melaporkannya ke DPJP sekaligus konfirmasi terkait persediaan darah yang dibutuhkan untuk operasi. Long story short, saat sudah jam operan malam, aku ke kamar pasiennya kembali dan menanyakan keluhan serta obat rutinnya. Beliau sudah tidak bisa duduk tegak dan terasa sesak saat miring ke kanan.

Kemudian, tadi malam, aku mendengar kabar, bahwa pasien tersebut sudah meninggal dunia dikarenakan syok hipovolemik. Aku langsung lemas dan tidak percaya. Rasanya baru kemarin bertemu dengan pasien, masih bisa ngobrol. 

Lesson learned nya : umur tidak ada yang tahu, bisa jadi hari ini kita masih sehat dan masih bisa ngobrol, tapi tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi kepada kita selanjutnya. Secanggih apapun alat-alat medis, jika Allah sudah berkehendak, maka tidak ada yang bisa menghalangi. Alat-alat medis dan tenaga medis adalah tool. Sebagai manusia, kita hanya bisa berusaha, tapi untuk hasil, tetap Allah yang menentukan. Aku kembali belajar rukun iman yang ke 6. Kematian itu sangat dekat ternyata dan pasti akan datang, siap tidak siap. Maka, persiapkan kematian itu dengan baik :") sebuah nasihat untukku sendiri.

Beliau adalah seorang guru besar, yang dimana pasti publikasi, kontribusinya sudah banyak. Walaupun sudah tiada, tapi karyanya tetap hidup.

Aku menjadi berpikir ulang, jika suatu saat aku tiada, karya apa yang bisa aku tinggalkan ? Amal jariyah apa yang bisa aku lakukan sekarang ? Agar supaya, ketika tiada, masih ada yang menolongku.

Terima kasih, aku menjadi belajar banyak hal. 

Depok, 24 April 2021

12 Ramadhan 1442 H

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramadhan Day 22 : Ke Kota

Tidak ada yang bisa duduk tenang. Hujan deras menghimpun cemas di pintu stasiun. Kereta seharusnya datang 5 menit yang lalu. Terkadang, satu menit menunggu terasa lebih merugikan daripada seumur hidup berlalu sia-sia. Seorang pemuda menyalami seorang bapak yang kupikir adalah orangtuanya. Sang bapak melambaikan tangan. Bersedih. Senyum getirnya memunculkan keriput. Si pemuda membalas dengan lambaian yang sama. Tetapi sumringah. Senyum bahagianya memunculkan rona merah. Seolah ia sedang berpura-pura lupa bahwa pria berkeriput itu telah menua. Begitu pun mimpi-mimpi yang menunggunya di kota. Demikian pikirnya, barangkali. Berjarak satu sama lain bukanlah pilihan sulit bagi sebagian orang. Jauh dan dekat hanya soal hitungan kilometer. Berbagai moda melipat jarak bagai kertas. Tetapi seringkali, jarak tidak bekerja seperti itu. Ia mengganti peta dalam pikiranmu dengan ilusi. Jauh dekat bukan lagi dihitung melalui kilometer. Meski ia disampingmu, tapi seringkali ia terasa jauh. Sejauh ...

Ramadhan Day 25 : Tantangan Itu Biasa, Menyelesaikannya itu Istimewa

FIK UI 2015 wisuda. dokumentasi pribadi Pernah tidak dalam hidupmu kamu membuat keputusan yang menurutmu paling menantang ? Aku pernah yaitu saat memutuskan aku mengikuti profesi ners. Bagiku itu adalah keputusan besar yang membentuk diriku di hari ini. Setahun yang lalu, di saat yang sama aku sedang sibuk merevisi proposal skripsiku dan merayu dosen pembimbing agar aku bisa sidang akhir Mei. Singkat cerita aku bisa sidang di akhir Mei. Aku merasa aku menang. Aku berhasil melewati salah 1 fase terberatku, yaitu skripsi. Namun setelah itu muncul pertanyaan baru lagi, what's next ? Bagi mahasiswa keperawatan, wisuda sarjana bukanlah akhir dari masa perkuliahan. Justru ini awal kehidupan yang sesungguhnya. Setelah menimbang berbagai pertimbangan, aku akhirnya memutuskan untuk mengikuti profesi, karena jalan mimpiku yang selanjutnya memang harus dilalui melalui profesi. Iya, aku harus mendapatkan Surat Tanda Registrasi (STR) agar aku dapat bekerja sebagai praktisi. Untuk mend...

Ramadhan Day 19 : tidak berjudul

Aku tidak menjamin bisa seperti mereka. Karena I life with myself.  Tetapi setidaknya aku sedang berproses untuk bertumbuh setiap harinya. Meski hanya 1 mm. Aku juga tidak yakin, pertumbuhanku setiap hari bisa membuatku layak. Tetapi aku yakin, apa yang aku lakukan hari ini tidak ada yang sia-sia. Apa yang aku lakukan hari ini semoga bisa mengubah masa depanku, walaupun hanya sedikit. Sesuatu yang sangat aku khawatirkan. Rumah, 12 Mei 2020 19 Ramadhan 1441 H