Aku tidak bisa meramal apa yang ada di dalam pikiranmu. Aku bukan cenayang yang bisa dengan gesit mengetahui semuanya. Kamu dengan tingkahmu yang konyol yang selalu melukiskan tawa di wajahku. Walaupun sesekali memang menyebalkan. Yang aku tahu, kamu sedang memperjuangkan mimpimu, memperjuangkan dia yang juga menjadi tambatan hatimu, meski aku tidak tahu siapa. Aku hanya bisa menebak-nebak saja karena semuanya masih abu-abu. Meski aku terlihat bahagia jika kamu bercerita tentang perempuan lain, tapi tetap saja aku merasa...... ah sudahlah. Aku memperingatkan diriku sendiri untuk segera membuka peta dan menemukan jalan keluar. Sayang, peta pikiranmu ternyata tidak terdeteksi di dalam ponselku. Sekarang, hanya kompas di hatiku saja yang bisa menunjukkan arah pulang. Aku ingin segera keluar dari labirin ini, meski hati kecil berkata tidak. Semuanya menjadi serba rumit, atau memang aku yang mempersulit. "Ayo langkahkan kakimu keluar perlahan. Tempat ini bukan milikmu sekarang"- s...
Rumah untuk bercerita, berkontemplasi, dan mencipta kenangan