Langsung ke konten utama

Tentang : Menjadi Cair

Sebut saja ini cerita hidup. Bagaimanapun dan entah bagaimana akhir dari cerita ini akan menjadi cerita hidup bagi yang menulis maupun yang membaca. Kisah ini fiktif, meski terlihat nyata. Pembaca boleh menginterpretasikannya sendiri.  Cerita ini menggunakan sudut pandang aku, aku sebagai orang pertama cerita ini dan kamu sebagai teman perangkai cerita ini.

Aku kira kamu si introvert yang penuh dengan ambisi. Ternyata, kamu si cair yang bisa mencairkan segala suasana. Dan ajaibnya, kamu bisa mencairkanku yang sudah lama begitu beku. Oh bukan, aku memang begini, introvert yang sibuk dengan pikirannya sendiri. Alih-alih memiliki banyak teman, aku bahkan lebih senang berinteraksi dengan buku-buku tulisanku. Iya, aku kaku. Meski aku mati-matian agar terlihat lues. 

Katamu, aku kaku, aku tidak punya banyak teman apalahi teman laki laki, dan aku yang punya banyak mimpi. Mungkin kamu benar, tapi mungkin juga engga. Kamu tidak tahu betapa bekunya aku saat di depan banyak orang. Aku introvert, butuh pencair. Aku bukan sepertimu yang mudah bergaul dengan semua orang. Aku tau, kamu ekstrovert. Kamu tidak perlu mengeluarkan banyak energi untuk menjadi cair.
Aku melihatnya dari caramu berbicara dengan orang baru. Dalam beberapa jam saja kamu langsung akrab. Kamu punya banyak teman dan bisa hidup bersama dengan mereka dalam waktu yang lama. Sedangkan aku harus memiliki ruang privasi sendiri. 

Begini saja, kamu ajari aku bagaimana caranya untuk menjadi cair. Kamu ajari aku bagaimana caranya bisa humble dan tidak kaku di depan orang.

"Hah, kamu introvert?"
"Aku bukan introvert, aku hanya orang yang berkepribadian cenderung introvert"
"Masa cerewet cerewet kayagitu introvert"
"Aku cerewetnya ke beberapa doang. Gak semuanya. Aku kaku di depan orang baru"

Iya, aku hanya bisa cair dengan orang orang yang terdekat saja dan menurutku nyaman.
Teman, sahabat, keluarga adalah salah satunya.
Tidak semua orang dapat mengertiku dengan baik. Apalagi dengan bahasaku yang bermajas majas.
Tapi kamu keren, bisa memahami dengan baik apa yang aku katakan dan aku, mencoba masuk ke dalam pikiranmu yang serba aneh dan out of the box. Semoga, aku tidak tersesat

Tentang, 
27 Agustus 2020

#fiksi
#liefs


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramadhan Day 22 : Ke Kota

Tidak ada yang bisa duduk tenang. Hujan deras menghimpun cemas di pintu stasiun. Kereta seharusnya datang 5 menit yang lalu. Terkadang, satu menit menunggu terasa lebih merugikan daripada seumur hidup berlalu sia-sia. Seorang pemuda menyalami seorang bapak yang kupikir adalah orangtuanya. Sang bapak melambaikan tangan. Bersedih. Senyum getirnya memunculkan keriput. Si pemuda membalas dengan lambaian yang sama. Tetapi sumringah. Senyum bahagianya memunculkan rona merah. Seolah ia sedang berpura-pura lupa bahwa pria berkeriput itu telah menua. Begitu pun mimpi-mimpi yang menunggunya di kota. Demikian pikirnya, barangkali. Berjarak satu sama lain bukanlah pilihan sulit bagi sebagian orang. Jauh dan dekat hanya soal hitungan kilometer. Berbagai moda melipat jarak bagai kertas. Tetapi seringkali, jarak tidak bekerja seperti itu. Ia mengganti peta dalam pikiranmu dengan ilusi. Jauh dekat bukan lagi dihitung melalui kilometer. Meski ia disampingmu, tapi seringkali ia terasa jauh. Sejauh ...

Ramadhan Day 25 : Tantangan Itu Biasa, Menyelesaikannya itu Istimewa

FIK UI 2015 wisuda. dokumentasi pribadi Pernah tidak dalam hidupmu kamu membuat keputusan yang menurutmu paling menantang ? Aku pernah yaitu saat memutuskan aku mengikuti profesi ners. Bagiku itu adalah keputusan besar yang membentuk diriku di hari ini. Setahun yang lalu, di saat yang sama aku sedang sibuk merevisi proposal skripsiku dan merayu dosen pembimbing agar aku bisa sidang akhir Mei. Singkat cerita aku bisa sidang di akhir Mei. Aku merasa aku menang. Aku berhasil melewati salah 1 fase terberatku, yaitu skripsi. Namun setelah itu muncul pertanyaan baru lagi, what's next ? Bagi mahasiswa keperawatan, wisuda sarjana bukanlah akhir dari masa perkuliahan. Justru ini awal kehidupan yang sesungguhnya. Setelah menimbang berbagai pertimbangan, aku akhirnya memutuskan untuk mengikuti profesi, karena jalan mimpiku yang selanjutnya memang harus dilalui melalui profesi. Iya, aku harus mendapatkan Surat Tanda Registrasi (STR) agar aku dapat bekerja sebagai praktisi. Untuk mend...

Ramadhan Day 9 : Dear Me,

sumber : unsplash.com Ada kalanya aku ingin menjadi aku yang masih berumur 10 tahun. Saat itu aku masih kelas 5 SD. Saat segalanya begitu menyenangkan. Saat segalanya begitu sederhana. Saat raga dan jiwa tak perlu saling tentang. Saat mulut dan hati tak perlu saling berpura-pura. Saat aku sedang suka-sukanya membaca buku pelajaran, apalagi buku pelajaran Bahasa Indonesia. Aku suka, karena di sana banyak cerita. Dengan membaca cerita, aku seperti jalan-jalan. Aku senang saat pelajaran IPA, terutama tentang tumbuh-tumbuhan. Saat itu, aku menjadi rajin meminjam buku ensiklopedia di perpus tentang bonsai, tanaman-tanaman yang tumbuh di dunia, dan juga hewan-hewan. Oh ya aku ingat, aku juga penasaran dengan planet-planet dan luar angkasa. Lantas aku meminjam buku ensiklopedia tentang itu. Dari buku itulah aku kenal dengan yang namanya negara-negara luar dan tanaman-tanaman yang tumbuh di sana. Aku juga jadi mengetahui tentang tata surya. Tak hanya itu, aku juga suka dengan pelajaran I...