Langsung ke konten utama

Tentang : Labirin pikiranmu

Aku tidak bisa meramal apa yang ada di dalam pikiranmu. Aku bukan cenayang yang bisa dengan gesit mengetahui semuanya. Kamu dengan tingkahmu yang konyol yang selalu melukiskan tawa di wajahku. Walaupun sesekali memang menyebalkan. Yang aku tahu, kamu sedang memperjuangkan mimpimu, memperjuangkan dia yang juga menjadi tambatan hatimu, meski aku tidak tahu siapa. Aku hanya bisa menebak-nebak saja karena semuanya masih abu-abu. Meski aku terlihat bahagia jika kamu bercerita tentang perempuan lain, tapi tetap saja aku merasa...... ah sudahlah.

Aku memperingatkan diriku sendiri untuk segera membuka peta dan menemukan jalan keluar. Sayang, peta pikiranmu ternyata tidak terdeteksi di dalam ponselku. Sekarang, hanya kompas di hatiku saja yang bisa menunjukkan arah pulang. Aku ingin segera keluar dari labirin ini, meski hati kecil berkata tidak.

Semuanya menjadi serba rumit, atau memang aku yang mempersulit. "Ayo langkahkan kakimu keluar perlahan. Tempat ini bukan milikmu sekarang"- sebuah suara memperingatkanku berulang kali. Aku memang ingin segera keluar dari labirin ini, tetapi hatiku tidak. Hatiku ingin tetap tinggal, meski aku sendiri tahu, nanti mungkin akan ada orang lain yang masuk ke labirin ini lengkap dengan peta dan kemampuan bernavigasi. Oh juga dengan guidenya, si pemilik labirin ini.

Kenapa aku menjadi terlihat bodoh. Sudah tahu akan ada yang datang, tetapi aku masih tetap tinggal. Aku mau diusir secara sopan atau lebih baik aku mundur perlahan sekarang ? Aku tidak bisa pergi sekarang. Aku bahkan menikmati apa yang ada di labirin ini. Lukisan lukisan memori indah yang pernah tercipta oleh pemiliknya. Meski sang pemiliki mungkin tidak menyadari ada aku yang tinggal di dalam pikirannya. 

"Kamu masih punya mimpi-mimpi yang harus kamu perjuangkan. Ayolah, bodoh sekali dirimu dengan berada di sini terus menerus. Kamu tidak akan menemukan apa-apa selain rasa sakit yang mungkin nanti akan kamu rasakan. Iya tidak sekarang memang, tetapi nanti. Tepatnya, aku tidak tahu kapan".

"Bahkan, sekarang mimpi terbesarku adalah aku ingin tetap tinggal di sini."

Aku menjadi rumit sendiri, aku bingung harus mendengarkan mana. Kata hati atau pikiranku. Kenapa kali ini mereka bertentangan. Bisakah kalian akur dan satu suara ? Aku harus bagaimana ?

Jika aku mundur, sama saja menyerah. Atau pertanda aku mengikhlaskan.

Ah, kenapa sekarang menyerah dan mengikhlaskan juga sama-sama beda tipis. Aku bahkan tidak tahu apa itu menyerah dan mengikhlaskan. Semuanya mejadi blur. 

Aku ingin pergi, tapi hatiku saja tidak ingin. Lalu, bagaimana aku harus memulai ?


Tentang,

28 Agustus 2020

#fiksi

#liefs

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramadhan Day 22 : Ke Kota

Tidak ada yang bisa duduk tenang. Hujan deras menghimpun cemas di pintu stasiun. Kereta seharusnya datang 5 menit yang lalu. Terkadang, satu menit menunggu terasa lebih merugikan daripada seumur hidup berlalu sia-sia. Seorang pemuda menyalami seorang bapak yang kupikir adalah orangtuanya. Sang bapak melambaikan tangan. Bersedih. Senyum getirnya memunculkan keriput. Si pemuda membalas dengan lambaian yang sama. Tetapi sumringah. Senyum bahagianya memunculkan rona merah. Seolah ia sedang berpura-pura lupa bahwa pria berkeriput itu telah menua. Begitu pun mimpi-mimpi yang menunggunya di kota. Demikian pikirnya, barangkali. Berjarak satu sama lain bukanlah pilihan sulit bagi sebagian orang. Jauh dan dekat hanya soal hitungan kilometer. Berbagai moda melipat jarak bagai kertas. Tetapi seringkali, jarak tidak bekerja seperti itu. Ia mengganti peta dalam pikiranmu dengan ilusi. Jauh dekat bukan lagi dihitung melalui kilometer. Meski ia disampingmu, tapi seringkali ia terasa jauh. Sejauh ...

Ramadhan Day 25 : Tantangan Itu Biasa, Menyelesaikannya itu Istimewa

FIK UI 2015 wisuda. dokumentasi pribadi Pernah tidak dalam hidupmu kamu membuat keputusan yang menurutmu paling menantang ? Aku pernah yaitu saat memutuskan aku mengikuti profesi ners. Bagiku itu adalah keputusan besar yang membentuk diriku di hari ini. Setahun yang lalu, di saat yang sama aku sedang sibuk merevisi proposal skripsiku dan merayu dosen pembimbing agar aku bisa sidang akhir Mei. Singkat cerita aku bisa sidang di akhir Mei. Aku merasa aku menang. Aku berhasil melewati salah 1 fase terberatku, yaitu skripsi. Namun setelah itu muncul pertanyaan baru lagi, what's next ? Bagi mahasiswa keperawatan, wisuda sarjana bukanlah akhir dari masa perkuliahan. Justru ini awal kehidupan yang sesungguhnya. Setelah menimbang berbagai pertimbangan, aku akhirnya memutuskan untuk mengikuti profesi, karena jalan mimpiku yang selanjutnya memang harus dilalui melalui profesi. Iya, aku harus mendapatkan Surat Tanda Registrasi (STR) agar aku dapat bekerja sebagai praktisi. Untuk mend...

Ramadhan Day 19 : tidak berjudul

Aku tidak menjamin bisa seperti mereka. Karena I life with myself.  Tetapi setidaknya aku sedang berproses untuk bertumbuh setiap harinya. Meski hanya 1 mm. Aku juga tidak yakin, pertumbuhanku setiap hari bisa membuatku layak. Tetapi aku yakin, apa yang aku lakukan hari ini tidak ada yang sia-sia. Apa yang aku lakukan hari ini semoga bisa mengubah masa depanku, walaupun hanya sedikit. Sesuatu yang sangat aku khawatirkan. Rumah, 12 Mei 2020 19 Ramadhan 1441 H