Aku tidak bisa meramal apa yang ada di dalam pikiranmu. Aku bukan cenayang yang bisa dengan gesit mengetahui semuanya. Kamu dengan tingkahmu yang konyol yang selalu melukiskan tawa di wajahku. Walaupun sesekali memang menyebalkan. Yang aku tahu, kamu sedang memperjuangkan mimpimu, memperjuangkan dia yang juga menjadi tambatan hatimu, meski aku tidak tahu siapa. Aku hanya bisa menebak-nebak saja karena semuanya masih abu-abu. Meski aku terlihat bahagia jika kamu bercerita tentang perempuan lain, tapi tetap saja aku merasa...... ah sudahlah.
Aku memperingatkan diriku sendiri untuk segera membuka peta dan menemukan jalan keluar. Sayang, peta pikiranmu ternyata tidak terdeteksi di dalam ponselku. Sekarang, hanya kompas di hatiku saja yang bisa menunjukkan arah pulang. Aku ingin segera keluar dari labirin ini, meski hati kecil berkata tidak.
Semuanya menjadi serba rumit, atau memang aku yang mempersulit. "Ayo langkahkan kakimu keluar perlahan. Tempat ini bukan milikmu sekarang"- sebuah suara memperingatkanku berulang kali. Aku memang ingin segera keluar dari labirin ini, tetapi hatiku tidak. Hatiku ingin tetap tinggal, meski aku sendiri tahu, nanti mungkin akan ada orang lain yang masuk ke labirin ini lengkap dengan peta dan kemampuan bernavigasi. Oh juga dengan guidenya, si pemilik labirin ini.
Kenapa aku menjadi terlihat bodoh. Sudah tahu akan ada yang datang, tetapi aku masih tetap tinggal. Aku mau diusir secara sopan atau lebih baik aku mundur perlahan sekarang ? Aku tidak bisa pergi sekarang. Aku bahkan menikmati apa yang ada di labirin ini. Lukisan lukisan memori indah yang pernah tercipta oleh pemiliknya. Meski sang pemiliki mungkin tidak menyadari ada aku yang tinggal di dalam pikirannya.
"Kamu masih punya mimpi-mimpi yang harus kamu perjuangkan. Ayolah, bodoh sekali dirimu dengan berada di sini terus menerus. Kamu tidak akan menemukan apa-apa selain rasa sakit yang mungkin nanti akan kamu rasakan. Iya tidak sekarang memang, tetapi nanti. Tepatnya, aku tidak tahu kapan".
"Bahkan, sekarang mimpi terbesarku adalah aku ingin tetap tinggal di sini."
Aku menjadi rumit sendiri, aku bingung harus mendengarkan mana. Kata hati atau pikiranku. Kenapa kali ini mereka bertentangan. Bisakah kalian akur dan satu suara ? Aku harus bagaimana ?
Jika aku mundur, sama saja menyerah. Atau pertanda aku mengikhlaskan.
Ah, kenapa sekarang menyerah dan mengikhlaskan juga sama-sama beda tipis. Aku bahkan tidak tahu apa itu menyerah dan mengikhlaskan. Semuanya mejadi blur.
Aku ingin pergi, tapi hatiku saja tidak ingin. Lalu, bagaimana aku harus memulai ?
Tentang,
28 Agustus 2020
#fiksi
#liefs
Komentar
Posting Komentar