Langsung ke konten utama

Baiknya

Baiknya,

Kamu duduk dulu

Sendiri

Merenungi

Apa yang kamu cari

Apa yang harus kamu ikhlaskan

Apa yang harus kamu perjuangkan

Apa yang harus kamu tidak perlu perjuangkan

Baiknya

Kamu pergi ke tempat sunyi

Dimana kamu

Hanya bisa mendengar isi hati

Tanpa ada suara bising dari orang lain

Baiknya

Memang begini

Kamu perjuangkan saja

Mimpi mimpimu

Tapi kamu harus ingat

Kamu harus bisa mengikhlaskan dulu

Apa yang harus kamu lepaskan

Kamu tahu kan

Untuk melangkah lebih jauh

Kamu harus tanpa beban

Logikanya begini

Untuk apa memperjuangkan sesuatu yang bahkan sesuatu itu tidak layak diperjuangkan

Untuk apa memaksakan sesuatu yang tak mau dipaksa

Meskipun kamu merasa sudah menemukan

Meskipun kamu merasa sudah cukup

Tapi kan 

Itu anggapanmu

Dalam hal ini

Menemukan dan cukup

Harus datang dari 2 sisi

Sudahlah

Kamu perjuangkan saja mimpi mimpimu

Kasia mereka

Sudah berdebu di sudut kamar

Kamu pasti bisa

Melalui ini semua

Meskipun kamu bilang ini berat


Everything shall pass kawan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramadhan Day 22 : Ke Kota

Tidak ada yang bisa duduk tenang. Hujan deras menghimpun cemas di pintu stasiun. Kereta seharusnya datang 5 menit yang lalu. Terkadang, satu menit menunggu terasa lebih merugikan daripada seumur hidup berlalu sia-sia. Seorang pemuda menyalami seorang bapak yang kupikir adalah orangtuanya. Sang bapak melambaikan tangan. Bersedih. Senyum getirnya memunculkan keriput. Si pemuda membalas dengan lambaian yang sama. Tetapi sumringah. Senyum bahagianya memunculkan rona merah. Seolah ia sedang berpura-pura lupa bahwa pria berkeriput itu telah menua. Begitu pun mimpi-mimpi yang menunggunya di kota. Demikian pikirnya, barangkali. Berjarak satu sama lain bukanlah pilihan sulit bagi sebagian orang. Jauh dan dekat hanya soal hitungan kilometer. Berbagai moda melipat jarak bagai kertas. Tetapi seringkali, jarak tidak bekerja seperti itu. Ia mengganti peta dalam pikiranmu dengan ilusi. Jauh dekat bukan lagi dihitung melalui kilometer. Meski ia disampingmu, tapi seringkali ia terasa jauh. Sejauh ...

Ramadhan Day 25 : Tantangan Itu Biasa, Menyelesaikannya itu Istimewa

FIK UI 2015 wisuda. dokumentasi pribadi Pernah tidak dalam hidupmu kamu membuat keputusan yang menurutmu paling menantang ? Aku pernah yaitu saat memutuskan aku mengikuti profesi ners. Bagiku itu adalah keputusan besar yang membentuk diriku di hari ini. Setahun yang lalu, di saat yang sama aku sedang sibuk merevisi proposal skripsiku dan merayu dosen pembimbing agar aku bisa sidang akhir Mei. Singkat cerita aku bisa sidang di akhir Mei. Aku merasa aku menang. Aku berhasil melewati salah 1 fase terberatku, yaitu skripsi. Namun setelah itu muncul pertanyaan baru lagi, what's next ? Bagi mahasiswa keperawatan, wisuda sarjana bukanlah akhir dari masa perkuliahan. Justru ini awal kehidupan yang sesungguhnya. Setelah menimbang berbagai pertimbangan, aku akhirnya memutuskan untuk mengikuti profesi, karena jalan mimpiku yang selanjutnya memang harus dilalui melalui profesi. Iya, aku harus mendapatkan Surat Tanda Registrasi (STR) agar aku dapat bekerja sebagai praktisi. Untuk mend...

Ramadhan Day 19 : tidak berjudul

Aku tidak menjamin bisa seperti mereka. Karena I life with myself.  Tetapi setidaknya aku sedang berproses untuk bertumbuh setiap harinya. Meski hanya 1 mm. Aku juga tidak yakin, pertumbuhanku setiap hari bisa membuatku layak. Tetapi aku yakin, apa yang aku lakukan hari ini tidak ada yang sia-sia. Apa yang aku lakukan hari ini semoga bisa mengubah masa depanku, walaupun hanya sedikit. Sesuatu yang sangat aku khawatirkan. Rumah, 12 Mei 2020 19 Ramadhan 1441 H