![]() |
| FIK UI 2015 wisuda. dokumentasi pribadi |
Setelah itu, barulah mengikuti Uji Kompetensi Ners Indonesia (UKNI). Sebuah ujian nasional bagi calon ners yang akan menyatakan apakah calon ners tersebut kompeten atau tidak. Jika lulus dalam ujian ini, barulah diizinkan untuk mengurus STR. Apakah cepat ? ya kira-kira waktunya 3-4 bulan setelah UKNI. Jika ditotal paling tidak harus menjalani selama 5.5 tahun untuk bisa bekerja hehe :)
Kembali ke keputusanku untuk mengikuti profesi.
Aku sebenarnya takut untuk menjalani profesi ini karena banyak cerita dari kakak tingkat yang katanya profesi itu cape banget, setiap hari masuk libur hanya hari minggu, ujian kliniknya ngeri, dan berbagai cerita horror lainnya. Tetapi pada suatu waktu aku bertanya ke salah 1 kakak tingkat yang cukup dekat denganku bagaimana sih profesi itu, beli menjawab, "Enjoy aja, kalau cape memang cape karena setiap hari berangkat. Hari libur untuk mengerjakan tugas. Belajarnya nanti aja kalau mendekati ujian yang penting jaga kesehatan. Alhamdulillah kemarin selama praktik gue ga sakit. Allah beri sehat. Banyak-banyak berdoa". Perkataan beliau ini memang sedikit menenangkan, namun tetap saja aku dilanda ketakutan apalagi aku sudah lupa semua materi - materi saat akademik haha lengkap sudah. Itu pertanda aku harus review banyak !
Namun pada akhirnya aku teregistrasi juga menjadi mahasiswa profesi ners. Iya, menjadi maba lagi. Aku menjadikan profesi ini sebagai ajangku untuk mengupgrade diri. Aku ingin mengeksplor diriku lebih jauh, menggali pengalaman, dan juga meningkatkan skill keperawatanku yang masih ala kadarnya. Jadi, apa itu wisuda sarjana ? Hanya sebuah euforia sementara :")
Bulan Agustus adalah bulan dimana aku pertama kalinya merasakan atmosfer sebagai mahasiswa profesi. Di bulan ini kami satu angkatan diberikan pengarahan terkait kegiatan profesi yang insha Allah akan dilakukan selama 1 tahun ke depan. Selain itu,kami diberikan pelatihan tentang Emergency Nursing Basic Level (ENBL) seperti bagaimana menangani kasus emergensi sesak napas, serangan jantung, kecelakaan, dsb. Selain itu tak lupa ada ujian-ujiannya juga ! Di ujian-ujian praktik ini sempat membuatku menyerah di awal karena merasa kok dosennya killer banget sih. Tetapi di sisi lain membuatku semakin semangat belajar bahwa aku harus bisa menjawab semua pertanyaan dosen itu. Aku pun merasa kelelahan karena setiap hari berangkat ke kampus. Pergi pagi pulang petang setiap hari. Namun, aku berkata kepada diriku sendiri. Ini baru awal, harus bisa adapatasi. Besok-besok juga akan seperti ini. Selama profesi aku merasa banyak sekali tantangan yang pada akhirnya beberapa diantaranya bisa aku lewati.
1. Tantangan pertama, kehidupan monoton.
benar saja, setelah menjadi mahasiswa profesi kehidupanku memang monoton seperti itu. Berangkat praktik-nugas-belajar-ujian-tidur. Begitu terus sampai berbulan - bulan wkwk. Namun sesekali aku mengajak temanku untuk refreshing, makan es buah lusi misalnya. Pernah juga duduk di Masjid UI sendirian saking stresnya wkwk. Pernah juga jalan-jalan ke toko buku sendirian setiap weekend. Walaupun tidak membeli buku. Memang ya aku kurang piknik. haha tetapi aku lama-lama menikmatinya. Bahkan aku pernah ingin pokoknya selesai profesi aku harus jalan-jalan ke Bromo !
Kehidupan profesi yang libur hanya hari minggu membuat jiwa mainku bergejolak
2. Tantangan kedua, bingung mengatur waktu
Saat-saat pertama menjalani profesi sempat sedikit keteteran, namun aku bisa menemukan polanya. Kapan harus belajar,, kapan harus nugas, kapan harus tidur. Tidur adalah perkara penting ya, untuk menjaga kesehatan. Aku menghindari begadang jika memang tidak jaga malam. Selama profesi memang harus diwajibkan sekali untuk menjaga kesehatan, alasannya yang pertama karena aku praktik di rumah sakit dimana disitu banyak sekali kuman, yang kedua karena jika sekali tidak masuk, harus mengganti hari praktik. Sehingga aku berusaha mungkin menjaga diriku tetap sehat. Alhamdulillah selama praktik selalu sehat.
Selain itu, ketika saat ujian adalah masa -masa genting dimana harus ada tugas yang harus diselesaikan namun juga harus belajar. Maka selama profesi aku berprinsip tidak menumpuk tugas yang harus diselesaikan setiap hari. Lebih baik mengerjakan setiap hari karena percayalah semakin ditumpuk jiwa malas akan semakin kuat. Maka, aku menyelesaikan tugas terlebih dahulu baru kemudian belajar dengan tenang. Untuk urusan domestik kamar jangan ditanya. Pasti sudah seperti tidak terurus. Buku ada dimana-mana. Gapapa. Beres-beres kamar nanti saja setelah ujian.
3. Tantangan berbaur dengan orang baru dan melakukan tindakan ke pasien
Hidup di dunia profesi membuatku lebih cepat mengenal dan beradaptasi dengan hal baru. Aku menjadi tahu bagaimana caranya berkomunikasi yang baik kepada senior, kepada tenaga kesehatan lain, juga kepada pasien. Aku belajar untuk mengkondisikan diriku baik agar komunikasi ke yang lain juga baik. Dengan rolling ruangan hampir setiap minggu juga membuatku cepat beradaptasi dan menemukan ritme kerja per ruangan. Selain itu, saat awal masuk profesi aku takut untuk melakukan tindakan ke pasien sesederhana mencabut infus. Tetapi lama-lama aku berani mencoba mengambil darah vena, menginfus, memasang selang kateter kencing, merekam EKG (Elektrokardiogram), memasang monitor, memasang NGT (Nasogastric tube), oh bahkan aku pernah menolong persalinan ! meski dibantu.Dulu, melihat persalinan adalah hal menurutku ngeri, tetapi sekarang sudah biasa saja. Prinsipku pada saat itu adalah mumpung masih jadi mahasiswa, coba saja. Gagal tidak apa-apa. Daripada nanti ketika sudah bekerja, kalo gagal kan malu :( Fun fact, selama profesi aku hanya berhasil memasang infus 1 kali wkwk. Lainnya berkali kali mencoba tetapi selalu gagal.
Melakukan tindakan ke pasien adalah hal menantang tetapi jika sudah dicoba akan merasa puas, terlepas itu berhasil/gagal. Tetapi bagiku itu tetap berhasil karena setidaknya berhasil mengalahkan ketakutan dari diri sendiri.
4. Tantangan saat ujian klinik
Ujian klinik juga hal yang menurutku menantang. Iya ujian ke pasien. Selain itu kita juga melakukan tindakan ke pasien. Tetapi yang lebih menakutkan adalah saat ujian responsi (lisan) dengan dosen. Saat ditanya tanya pasiennya kenapa, diagnosanya apa, tindakannya apa, kenapa bisa gini, kenapa bisa gitu, dsb dsb panjang !
Maka, masa-masa sebelum ujian adalah masa-masa genting. Lalu aku berpikir, ternyata ujian saat akademik belum ada apa-apanya.
5. Tantangan beradaptasi dengan teman 1 kelompok.
Setiap stase (mata kuliah) aku berkelompok dengan berbeda-beda orang. Sehingga adaptasi dengan teman adalah tantangan. Pada kehidupan profesi, teman 1 kelompok adalah juga penentu sukses tidaknya dirimu haha karena dalam hal ini mereka partner kita di segala hal kecuali tugas dan ujian. Maka membangun hubungan yang baik dengan teman adalah kunci. Saat profesi juga mulai kelihatan sifat asli teman-temanku dan mereka pun menjadi tahu sifat-sifatku. Tetapi disisi lain aku dan teman-temanku menjadi mengenal lebih dekat dan lebih saling memahami karena sudah tahu sifatnya.
6.. Tantangan menyelesaikan Tugas Akhir !
Memulai, menjalani, dan menyelesaikan tidak ada yang mudah. Semuanya ada tantangannya masing-masing. Mengerjakan TA ini hampir sama dengan mengerjakan skripsi hanya di TA ini aku harus mencari tindakan keperawatan dengan praktik berbasis bukti (evidence based practice )dimana referensinya menurutku tidak semudah mencari jurnal ilmiah untuk skripsi, Tetapi doakan saja semoga aku segera menemukan titik terang dan bisa menyelesaikan profesi ini dengan baik.
Ya begitulah kehidupan profesi dan segala tantangannya. Dengan menjalani profesi ini aku merasa menjadi pribadi yang lebih matang, yang lebih memahami satu sama lain, menjadi lebih berani, menjadi lebih pandai mengelola waktu dan emosi, dan ya aku merasa terupgrade ! Tetapi juga harus masih banyak belajar, karena apa yang aku dapatkan selama profesi masih belum seberapa dengan nanti di kehidupan nyata berikutnya : dunia kerja !
Tantangan adalah hal yang biasa, maka menyelesaikannya itu istimewa. Ternyata bagian terpenting dari membuat keputusan adalah bertanggung jawab
Thanks, self dan juga orang - orang yang membantuku selama profesi dan selalu mendengarkan celotehanku.
Semangat sedikit lagi !Rumah, 18 Mei 2020
24 Ramadhan 1441 H


Semoga diberikan kelancaran ya kak
BalasHapus