| sumber : unsplash.com |
Tekad itu seperti bahan bakar yang terus memberikan energi kepada seseorang untuk mencapai apa yang menjadi tujuannya. Sesuatu yang terus membuat kaki berjalan meski terseok-seok dan banyak tantangan. Maka, sebelum mencapai sesuatu perihal membulatkan tekad adalah hal penting.
Itulah makna tekad menurutku.
Aku pernah learning by doing tentang membulatkan tekad. Namun jika dipikir-pikir aku belajar jika sudah di tahun terakhir aku sekolah. Tetapi hal itu ternyata berhasil membuat karakter 'pantang menyerah' dalam diriku.
Pertam, aku belajar untuk membulatkan tekad adalah saat SMA kelas 11
Pada saat itu tahun 2014 aku mulai mengenal UI . Mulai sejak itu pula aku mulai mencari tahu tentang UI, seperti jurusan-jurusan + mata kuliahnya, jalur masuk, biaya kuliah, kehidupan mahasiswanya, dan juga PERHIMAK UI. Oh aku bahkan melihat video-video wisuda UI di youtube. Sehingga UI memang sudah sangat melekat di hati dan juga kepala. Mulai sejak itu aku membuat rencana bagaimana caraku agar keterima di UI. Aku mulai download soal-soal SBMPTN dan juga SIMAK UI. Aku juga diam-diam mulai belajar sbmptn dan simak ui karena aku sadar nilai rapotku tidak akan bisa mengantarkanku ke mimpiku itu. Aku juga sadar aku ini siswa yang biasa saja dan perlu waktu untuk belajar, sehingga aku start lebih awal untuk bisa mencapai mimpiku itu.
Tahun 2015 adalah tahun titik balik dalam hidupku, dimana aku pertama kalinya belajar untuk memperjuangkan mimpi. Tahun jatuh dan bangkitku. Tahun yang dipenuhi warna warni perjuangan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Iya, tahun ini adalah tahun penolakanku untuk masuk B3, Supercamp, SNMPTN, dan SBMPTN. Sebelum akhirnya aku dinyatakan diterima sebagai mahasiswa UI melalui SIMAK UI. Jalur yang tidak aku sangka-sangka karena katanya soal-soal SIMAK UI lebih sulit dibandingkan SBMPTN. Tetapi nothing impossible kan ?
Time flies so fast, kemudian aku sudah menjadi mahasiswa tingkat akhir dimana aku harus lulus !
Yang kedua, aku belajar membulatkan tekad saat aku akan menyelesaikan visi di kelas S(arjana). Aku mulai mengerjakan skripsi di semester 8 bulan Januari. Namun pembagian dosen pembimbing baru diberitahukan di pertengahan Januari. Aku kemudian berniat bahwa aku harus bisa sidang akhir Mei, sebelum lebaran. Setelah itu aku membuat timeline, kapan harus menyelesaikan per babnya, kapan seminar proposal, kapan mengambil data, dan kapan sidang akhir. Aku buat dalam waktu 5 bulan yaitu Januari sampai Mei. Beberapa dari rencana yang aku buat ada yang sesuai ada juga yang tidak. Dosen pembimbingku adalah tipe orang teliti, detail, bimbingan seminggu sekali dan tidak boleh mendadak. Oh ya beliau juga selow, sebelum deadline hari terakhir sidang beliau akan terus memanfaatkan waktunya untuk merevisi proposal mahasiswanya haha. Sampai-sampai aku pernah hanya revisi perihal tanda baca, dan spasi. Ya ampun bu :( . Aku merencanakan bisa seminar proposal bulan Februari agar aku bisa memiliki banyak waktu untuk mengurus perizinan karena mengurus perizinan mengambil data butuh waktu 2-3 minggu. Namun, qadarullah aku harus sempro akhir Maret. Namun, sebelumnya aku sudah mengurus perizinan untuk mengambil data untuk study pendahuluan yang ternyata bisa digunakan untuk perizinan mengambil data penelitian hanya nanti diperpanjang saja ke Kesbangpol Depok. Sehingga aku hanya memperpanjang ke Kesbangpol dimana hanya membutuhkan waktu kurang lebih 1 jam. Setelah itu aku bisa mengambil data di Puskesmas. Alhamdulilahnya selama pengambilan data ada beberapa teman-temanku yang bersedia membantu sehingga pengambilan data hanya membutuhkan waktu 2 minggu. Setelah pengambilan data selesai, aku harus mengolah data tersebut menggunakan SPSS namun aku belum bisa menggunakan SPSS haha. Kemudian aku minta tolong temanku untuk mengajari aku mengolah data menggunakan SPSS. Proses mengolah data membutuhkan waktu 2 hari. Setelah itu selesai aku langsung menulis sampai bab kesimpulan dan saran. Kemudian aku langsung mengumpulkan ke dosen pembimbing. Bimbingan pertama masih banyak revisi terkait penulisan data sampai kesimpulan dan saran. Kemudian aku merevisi dan mengumpulkan lagi. Saat bimbingan kedua sudah lumayan sedikit revisinya.
Kemudian aku bilang, "Bu saya bisa sidang akhir Mei tidak ya ?"
Pembimbing menjawab,"Gimana ya destin, ini masih banyak revisi. Terakhir sidang masih Juli kan ya."
Aku bilang lagi, "Iya bu".
Aku keluar ruangan dosen dengan muka ditekuk. Namun aku tak kehilangan ide, aku melobi dosen pembimbingku lagi melalui chat, "Bu apakah saya bisa sidang akhir Mei ya bu ? Insha Allah saya siap. Nanti saya akan revisi hasil bimbingan hari ini dan hari kamis saya bisa bimbingan lagi dengan ibu, kemudian hari jumat bisa mengumpulkan berkas ke gedung A"
Send! Aku tak peduli nanti jawaban dosenku bagaimana, diizinkan Alhamdulilah, tidak juga tidak apa-apa yang penting aku sudah berusaha. Ternyata jawaban dosenku, "Destin sudah siap ?", aku menjawab, "Insha Allah bu.". Kemudian dosen pembimbingku menjawab lagi, "Baik destin, penguji bisa tanggal 28 Mei". Singkat cerita, aku bisa sidang di tanggal tersebut.
Aku berkesimpulan bahwa untuk membulatkan tekad harus : 1) memiliki niat yang kuat. Niatnya karena apa dan harus bisa menjawab why melakukan hal tersebut. 2) Tujuan yang jelas. Tujuan yang jelas dan kapan harus dicapainya memudahkan untuk kita merencanakan timeline. 3) Memiliki growth mindset yang siap untuk belajar hal-hal baru walaupun itu asing. seperti SPSS misalnya. Semua hal bisa dipelajari asal mau belajar. 4) Menguatkan mental dan berani bahwa dalam perjalanannya pasti tidak mudah dan banyak tantangan. Banyak hal yang mungkin tidak akan sesuai ekspektasi. Banyak tantangan yang kadang kala membuat ingin menyerah saja. Tetapi kita harus punya keyakinan bahwa apapun yang diusahakan tidak ada yang sia-sia. 5) Melapangkan hati dan tetap berdoa bahwa selama kita melibatkan Dia, Dia akan memberikan pertolonganNya. 6) Restu orang tua. Ini penting. Doa orangtu terjabah kan ? 7) Buang jauh-jauh pikiran "Aku tidak bisa". Aku pernah mendapat nasihat dari dosen pembimbing untuk tidak terlalu overthinking, tetapi jalani saja karena jika sudah berpikir macam-macam hanya akan menciutkan tekad kita. Sudah takut dengan kemungkinan buruk yang akan terjadi, padahal kan belum tentu terjadi.
Aku juga belajar bahwa membulatkan tekad juga hal yang harus terus dipelajari seumur. Pelajaran yang kemarin kita alami tidak serta membuat tekad selalu kuat, ada kalanya melemah. Namun jika kita memiliki niat yang lurus, tujuan yang jelas, rencana yang matang, terus menguatkan mental dan terus berdoa, insha Allah tekad akan terus terbentuk dan terjaga.
Memang ya, dalam membentuk karakter tidak bisa sehari dua hari, tetapi bertahun-tahun.
Rumah, 23 Mei 2020
29 Ramadhan 1441 H

Komentar
Posting Komentar