![]() |
| sumber : unsplash.com |
Dalam
bayanganku, menjadi dewasa akan sangat membahagiakan karena bisa mengatur
hidupnya sendiri. Tidak lagi ketergantungan dengan orangtua. Namun, setelah
menjalani sebagai manusia yang baru menginjak dewasa awal, menjadi dewasa itu
rumit. Maksudku begini. Usia dewasa ini fase dimana manusia mulai memasuki quarter
life crysis. Sebuah fase dimana apa yang kita putuskan saat ini akan
menggema sampai akhir kehidupan. Sebuah keputusan yang akan diambil adalah
keputusan-keputusan yang permanen. Seperti mau berkarir sebagai apa, mau
memilih siapa sebagai teman hidupnya, dan sebagainya. Keputusan-keputusan itu
menurutku tidak bisa diambil didasarkan perasaan/keinginan semata saja. Tetapi
ada hal-hal lain yang perlu dipertimbangkan. Harus realistis.
Aku
baru menjalani sebagai manusia yang hidup di fase dewasa awal. Sampai hari ini
aku masih belum merasakan secara signifikan perbedaan kehidupan sebagai manusia
dewasa. Mungkin karena aku masih kuliah yang semoga tahun ini bisa selesai.
Sehingga aku belum merasakan bagaimana rasanya hidup di dunia kerja dan dunia
pasca kampus yang katanya real life (?). Walaupun begitu, pikiranku
sendiri mulai bertumbuh. Aku mulai memikirkan, nanti aku mau bagaimana setelah
lulus. Orangtua menginginkan aku bekerja di rumah sakit saja, tetapi
aku......menginginkan di tempat lain. Nah, belum lulus saja sudah pusing nanti
mau bagaimana wkwk. Tetapi tenanglah, aku sudah membuat lifeplan sehingga
aku tidak kehilangan arah (?). Oh iya, lifeplan juga perihal yang penting
untuk dimiliki di fase ini. Aku bukan manusia ambis yang sudah tahu tujuan
hidupku sejak masuk kuliah. Aku baru tahu kemana aku akan melangkah ya ketika
sudah memasuki tahun-tahun terakhir kuliah. Ketika aku sudah banyak melihat
pengalaman orang lain dan melihat kenyataan tentang dunia keperawatan yang aku
geluti. Pikiranku mulai terbuka. Oh ternyata perawat itu tidak hanya di rumah
sakit. Tetapi bisa juga jadi researcher, lecturer, manager, dan
sebagainya.
Kehidupan
mulai rumit.
Sekarang,
ketika kita akan memutuskan sesuatu benar-benar dipikir dan tidak bisa hanya
memakai perasaan saja. Ketika akan bertindak/melakukan sesuatu juga mikir-mikir,
yang akan aku lakukan berguna tidak ya untuk kehidupanku selanjutnya, dan mulai
memikirkan bagaimana caranya agar diri ini bisa bermanfaat untuk banyak orang.
Beranjak
dewasa memang melelahkan, namun disanalah bahagianya. Kita kembali belajar
menata hidup, menata emosi, dan manata hati. Kita hampir menemukan seluruh
puzzle-puzzle kehidupan kita yang sebelumnya berserakan. Puzzle-puzzle yang
membuat kehidupanmu kembali utuh. Dan kita juga kembali belajar menjadi
manusia, bahwa kita tidak sekedar numpang lewat di dunia ini. Satu lagi, menjadi dewasa adalah fase untuk menyeelsaikan diri sendiri.
Semoga,
kehidupan dewasa kita selalu berada di jalan yang lurus, meski itu rasanya
sulit sekali. Tetapi bukan berarti tidak mungkin.
Semangat
!
Rumah,
4 Mei 2020
11
Ramadhan 1441 H


Komentar
Posting Komentar