Langsung ke konten utama

Ramadhan Day 11 : Menjadi Dewasa

sumber : unsplash.com


Dalam bayanganku, menjadi dewasa akan sangat membahagiakan karena bisa mengatur hidupnya sendiri. Tidak lagi ketergantungan dengan orangtua. Namun, setelah menjalani sebagai manusia yang baru menginjak dewasa awal, menjadi dewasa itu rumit. Maksudku begini. Usia dewasa ini fase dimana manusia mulai memasuki quarter life crysis. Sebuah fase dimana apa yang kita putuskan saat ini akan menggema sampai akhir kehidupan. Sebuah keputusan yang akan diambil adalah keputusan-keputusan yang permanen. Seperti mau berkarir sebagai apa, mau memilih siapa sebagai teman hidupnya, dan sebagainya. Keputusan-keputusan itu menurutku tidak bisa diambil didasarkan perasaan/keinginan semata saja. Tetapi ada hal-hal lain yang perlu dipertimbangkan. Harus realistis.
Aku baru menjalani sebagai manusia yang hidup di fase dewasa awal. Sampai hari ini aku masih belum merasakan secara signifikan perbedaan kehidupan sebagai manusia dewasa. Mungkin karena aku masih kuliah yang semoga tahun ini bisa selesai. Sehingga aku belum merasakan bagaimana rasanya hidup di dunia kerja dan dunia pasca kampus yang katanya real life (?). Walaupun begitu, pikiranku sendiri mulai bertumbuh. Aku mulai memikirkan, nanti aku mau bagaimana setelah lulus. Orangtua menginginkan aku bekerja di rumah sakit saja, tetapi aku......menginginkan di tempat lain. Nah, belum lulus saja sudah pusing nanti mau bagaimana wkwk. Tetapi tenanglah, aku sudah membuat lifeplan sehingga aku tidak kehilangan arah (?). Oh iya, lifeplan juga perihal yang penting untuk dimiliki di fase ini. Aku bukan manusia ambis yang sudah tahu tujuan hidupku sejak masuk kuliah. Aku baru tahu kemana aku akan melangkah ya ketika sudah memasuki tahun-tahun terakhir kuliah. Ketika aku sudah banyak melihat pengalaman orang lain dan melihat kenyataan tentang dunia keperawatan yang aku geluti. Pikiranku mulai terbuka. Oh ternyata perawat itu tidak hanya di rumah sakit. Tetapi bisa juga jadi researcher, lecturer, manager, dan sebagainya.
Kehidupan mulai rumit.
Sekarang, ketika kita akan memutuskan sesuatu benar-benar dipikir dan tidak bisa hanya memakai perasaan saja. Ketika akan bertindak/melakukan sesuatu juga mikir-mikir, yang akan aku lakukan berguna tidak ya untuk kehidupanku selanjutnya, dan mulai memikirkan bagaimana caranya agar diri ini bisa bermanfaat untuk banyak orang.
Beranjak dewasa memang melelahkan, namun disanalah bahagianya. Kita kembali belajar menata hidup, menata emosi, dan manata hati. Kita hampir menemukan seluruh puzzle-puzzle kehidupan kita yang sebelumnya berserakan. Puzzle-puzzle yang membuat kehidupanmu kembali utuh. Dan kita juga kembali belajar menjadi manusia, bahwa kita tidak sekedar numpang lewat di dunia ini. Satu lagi, menjadi dewasa adalah fase untuk menyeelsaikan diri sendiri.
Semoga, kehidupan dewasa kita selalu berada di jalan yang lurus, meski itu rasanya sulit sekali. Tetapi bukan berarti tidak mungkin.
Semangat !

Rumah, 4 Mei 2020
11 Ramadhan 1441 H


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramadhan Day 22 : Ke Kota

Tidak ada yang bisa duduk tenang. Hujan deras menghimpun cemas di pintu stasiun. Kereta seharusnya datang 5 menit yang lalu. Terkadang, satu menit menunggu terasa lebih merugikan daripada seumur hidup berlalu sia-sia. Seorang pemuda menyalami seorang bapak yang kupikir adalah orangtuanya. Sang bapak melambaikan tangan. Bersedih. Senyum getirnya memunculkan keriput. Si pemuda membalas dengan lambaian yang sama. Tetapi sumringah. Senyum bahagianya memunculkan rona merah. Seolah ia sedang berpura-pura lupa bahwa pria berkeriput itu telah menua. Begitu pun mimpi-mimpi yang menunggunya di kota. Demikian pikirnya, barangkali. Berjarak satu sama lain bukanlah pilihan sulit bagi sebagian orang. Jauh dan dekat hanya soal hitungan kilometer. Berbagai moda melipat jarak bagai kertas. Tetapi seringkali, jarak tidak bekerja seperti itu. Ia mengganti peta dalam pikiranmu dengan ilusi. Jauh dekat bukan lagi dihitung melalui kilometer. Meski ia disampingmu, tapi seringkali ia terasa jauh. Sejauh ...

Ramadhan Day 25 : Tantangan Itu Biasa, Menyelesaikannya itu Istimewa

FIK UI 2015 wisuda. dokumentasi pribadi Pernah tidak dalam hidupmu kamu membuat keputusan yang menurutmu paling menantang ? Aku pernah yaitu saat memutuskan aku mengikuti profesi ners. Bagiku itu adalah keputusan besar yang membentuk diriku di hari ini. Setahun yang lalu, di saat yang sama aku sedang sibuk merevisi proposal skripsiku dan merayu dosen pembimbing agar aku bisa sidang akhir Mei. Singkat cerita aku bisa sidang di akhir Mei. Aku merasa aku menang. Aku berhasil melewati salah 1 fase terberatku, yaitu skripsi. Namun setelah itu muncul pertanyaan baru lagi, what's next ? Bagi mahasiswa keperawatan, wisuda sarjana bukanlah akhir dari masa perkuliahan. Justru ini awal kehidupan yang sesungguhnya. Setelah menimbang berbagai pertimbangan, aku akhirnya memutuskan untuk mengikuti profesi, karena jalan mimpiku yang selanjutnya memang harus dilalui melalui profesi. Iya, aku harus mendapatkan Surat Tanda Registrasi (STR) agar aku dapat bekerja sebagai praktisi. Untuk mend...

Ramadhan Day 19 : tidak berjudul

Aku tidak menjamin bisa seperti mereka. Karena I life with myself.  Tetapi setidaknya aku sedang berproses untuk bertumbuh setiap harinya. Meski hanya 1 mm. Aku juga tidak yakin, pertumbuhanku setiap hari bisa membuatku layak. Tetapi aku yakin, apa yang aku lakukan hari ini tidak ada yang sia-sia. Apa yang aku lakukan hari ini semoga bisa mengubah masa depanku, walaupun hanya sedikit. Sesuatu yang sangat aku khawatirkan. Rumah, 12 Mei 2020 19 Ramadhan 1441 H