Langsung ke konten utama

Ramadhan Day 18 : Beyond IELTS

IELTS - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas


Akhir-akhir ini aku disibukkan oleh IELTS. Aku mencoba untuk belajar lagi setelah 2 tahun yang lalu pernah mendapatkan mata kuliah ini. Aku baru sadar ternyata banyak kurang-kurangnya. Sesederhana reading, ternyata ada hal-hal yang aku tak paham maksudnya, apalagi writing dan speaking. Grammar apa kabar ? Vocab ? Aku merasa tersentil karena masih banyak banget kurangnya. Tetapi di sisi lain aku bahagia karena masih memiliki kesempatan untuk mempelajarinya.
Masa-masa ini mengingatkanku saat kelas 12 menjelang SBMPTN. Hari-hariku aku isi dengan belajar materi dan latihan soal. Pengalaman itu cukup untukku belajar menyusun strategi untuk belajar IELTS secara otodidak. 
Otakku akan bekerja efektif saat di pagi hari, sehingga pagi hari selepas subuh adalah waktuku untuk memulai belajar. Awalnya aku niatkan hanya belajar 2 jam saja. 1 jam latihan soal, 1 jam lagi untuk melihat pembahasan. Namun pada akhirnya, aku bisa belajar lebih dari 2 jam karena aku masih asik untuk mengeksplore tentang materinya. Setiap hari aku jadwalkan untuk belajar skill yang berbeda-beda. Misal hari senin listening, selasa reading, rabu writing, kamis speaking, jumat speaking, sabtu writing, dan minggu latihan soal semuanya. Aku juga sebenarnya mengalokasikan waktu 1 jam lagi untuk belajar grammar, tetapi aku pusing setelah sudah belajar 2 jam lebih wkwk. Sehingga belajar grammar masih wacana. Doakan saja semoga besok-besok bisa terealisasi. 
Ternyata belajar IELTS yang beneran tuh begini ya, terasa banget strugglenya! Kerasa banget menghadapi soal-soal yang ternyata banyak jebakannya. 
Aku baru paham kalau mengerjakan soal-soal IELTS selain mengetahui tipsnya juga harus paham maknanya. Yang terpenting adalah makna, bukan kata-katanya. Hal inilah yang menguji tentang seberapa paham kita terhadap listening dan reading. Lalu kalau untuk writing juga harus bisa memparafrase tulisan yaitu menggunakan kata-kata lain tetapi maknanya tetap sama. Sedangkan untuk speaking adalah tentang seberapa fasih, seberapa bisa menggunakan kalimat kompleks, seberapa benar pronounciation dan grammarnya, juga koherensi dan kohesi dari kalimat yang kita ucapkan.
Tetapi kalau dipikir, belajar IELTS selain untuk persyaratan bagi yang mau melanjutkan studi S2, ini juga untuk bekal kita sendiri saat menghadapi dunia perkuliahan S2 yang katanya jauh lebih wow dibanding S1. 
Saat listening kita bukan 40 soal lagi, tetapi setiap hari dan setiap saat kita harus mendengarkan orang ngeobrol menggunakan bahasa Inggris
Saat reading kita bukan 3 atau 4 passage lagi, tetapi berlembar-lembar jurnal ilmiah
Saat writing kita bukan 160 dan 250 kata lagi, tetapi 5000 kata dalam sekali membuat essay
dan saat speaking kita bukan lagi 15 menit dan membahas topik yang 'cukup ringan', tetapi berjam-jam dan berdiskusi tentang penelitian. 
Aku membayangkan itu semua, dan belum siap haha. Masih banyak PR-PR yang harus aku tuntaskan untuk bisa mencapai BEYOND IELTS.
Maka, teruslah belajar untuk memantaskan diri dan menyiapkan diri. Karena ingin saja tidak cukup !

Semangat para pejuang IELTS !

P.S : minimal membaca 5 teks BBC/al jazeera dan dengarkan podcast berbahasa Inggris setiap harinya untuk meningkatkan reading dan listening.

Rumah, 11 Mei 2020
18 Ramadhan 1441 H



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramadhan Day 22 : Ke Kota

Tidak ada yang bisa duduk tenang. Hujan deras menghimpun cemas di pintu stasiun. Kereta seharusnya datang 5 menit yang lalu. Terkadang, satu menit menunggu terasa lebih merugikan daripada seumur hidup berlalu sia-sia. Seorang pemuda menyalami seorang bapak yang kupikir adalah orangtuanya. Sang bapak melambaikan tangan. Bersedih. Senyum getirnya memunculkan keriput. Si pemuda membalas dengan lambaian yang sama. Tetapi sumringah. Senyum bahagianya memunculkan rona merah. Seolah ia sedang berpura-pura lupa bahwa pria berkeriput itu telah menua. Begitu pun mimpi-mimpi yang menunggunya di kota. Demikian pikirnya, barangkali. Berjarak satu sama lain bukanlah pilihan sulit bagi sebagian orang. Jauh dan dekat hanya soal hitungan kilometer. Berbagai moda melipat jarak bagai kertas. Tetapi seringkali, jarak tidak bekerja seperti itu. Ia mengganti peta dalam pikiranmu dengan ilusi. Jauh dekat bukan lagi dihitung melalui kilometer. Meski ia disampingmu, tapi seringkali ia terasa jauh. Sejauh ...

Ramadhan Day 25 : Tantangan Itu Biasa, Menyelesaikannya itu Istimewa

FIK UI 2015 wisuda. dokumentasi pribadi Pernah tidak dalam hidupmu kamu membuat keputusan yang menurutmu paling menantang ? Aku pernah yaitu saat memutuskan aku mengikuti profesi ners. Bagiku itu adalah keputusan besar yang membentuk diriku di hari ini. Setahun yang lalu, di saat yang sama aku sedang sibuk merevisi proposal skripsiku dan merayu dosen pembimbing agar aku bisa sidang akhir Mei. Singkat cerita aku bisa sidang di akhir Mei. Aku merasa aku menang. Aku berhasil melewati salah 1 fase terberatku, yaitu skripsi. Namun setelah itu muncul pertanyaan baru lagi, what's next ? Bagi mahasiswa keperawatan, wisuda sarjana bukanlah akhir dari masa perkuliahan. Justru ini awal kehidupan yang sesungguhnya. Setelah menimbang berbagai pertimbangan, aku akhirnya memutuskan untuk mengikuti profesi, karena jalan mimpiku yang selanjutnya memang harus dilalui melalui profesi. Iya, aku harus mendapatkan Surat Tanda Registrasi (STR) agar aku dapat bekerja sebagai praktisi. Untuk mend...

Ramadhan Day 19 : tidak berjudul

Aku tidak menjamin bisa seperti mereka. Karena I life with myself.  Tetapi setidaknya aku sedang berproses untuk bertumbuh setiap harinya. Meski hanya 1 mm. Aku juga tidak yakin, pertumbuhanku setiap hari bisa membuatku layak. Tetapi aku yakin, apa yang aku lakukan hari ini tidak ada yang sia-sia. Apa yang aku lakukan hari ini semoga bisa mengubah masa depanku, walaupun hanya sedikit. Sesuatu yang sangat aku khawatirkan. Rumah, 12 Mei 2020 19 Ramadhan 1441 H