Akhir-akhir ini aku disibukkan oleh IELTS. Aku mencoba untuk belajar lagi setelah 2 tahun yang lalu pernah mendapatkan mata kuliah ini. Aku baru sadar ternyata banyak kurang-kurangnya. Sesederhana reading, ternyata ada hal-hal yang aku tak paham maksudnya, apalagi writing dan speaking. Grammar apa kabar ? Vocab ? Aku merasa tersentil karena masih banyak banget kurangnya. Tetapi di sisi lain aku bahagia karena masih memiliki kesempatan untuk mempelajarinya.
Masa-masa ini mengingatkanku saat kelas 12 menjelang SBMPTN. Hari-hariku aku isi dengan belajar materi dan latihan soal. Pengalaman itu cukup untukku belajar menyusun strategi untuk belajar IELTS secara otodidak.
Otakku akan bekerja efektif saat di pagi hari, sehingga pagi hari selepas subuh adalah waktuku untuk memulai belajar. Awalnya aku niatkan hanya belajar 2 jam saja. 1 jam latihan soal, 1 jam lagi untuk melihat pembahasan. Namun pada akhirnya, aku bisa belajar lebih dari 2 jam karena aku masih asik untuk mengeksplore tentang materinya. Setiap hari aku jadwalkan untuk belajar skill yang berbeda-beda. Misal hari senin listening, selasa reading, rabu writing, kamis speaking, jumat speaking, sabtu writing, dan minggu latihan soal semuanya. Aku juga sebenarnya mengalokasikan waktu 1 jam lagi untuk belajar grammar, tetapi aku pusing setelah sudah belajar 2 jam lebih wkwk. Sehingga belajar grammar masih wacana. Doakan saja semoga besok-besok bisa terealisasi.
Ternyata belajar IELTS yang beneran tuh begini ya, terasa banget strugglenya! Kerasa banget menghadapi soal-soal yang ternyata banyak jebakannya.
Aku baru paham kalau mengerjakan soal-soal IELTS selain mengetahui tipsnya juga harus paham maknanya. Yang terpenting adalah makna, bukan kata-katanya. Hal inilah yang menguji tentang seberapa paham kita terhadap listening dan reading. Lalu kalau untuk writing juga harus bisa memparafrase tulisan yaitu menggunakan kata-kata lain tetapi maknanya tetap sama. Sedangkan untuk speaking adalah tentang seberapa fasih, seberapa bisa menggunakan kalimat kompleks, seberapa benar pronounciation dan grammarnya, juga koherensi dan kohesi dari kalimat yang kita ucapkan.
Tetapi kalau dipikir, belajar IELTS selain untuk persyaratan bagi yang mau melanjutkan studi S2, ini juga untuk bekal kita sendiri saat menghadapi dunia perkuliahan S2 yang katanya jauh lebih wow dibanding S1.
Saat listening kita bukan 40 soal lagi, tetapi setiap hari dan setiap saat kita harus mendengarkan orang ngeobrol menggunakan bahasa Inggris
Saat reading kita bukan 3 atau 4 passage lagi, tetapi berlembar-lembar jurnal ilmiah
Saat writing kita bukan 160 dan 250 kata lagi, tetapi 5000 kata dalam sekali membuat essay
dan saat speaking kita bukan lagi 15 menit dan membahas topik yang 'cukup ringan', tetapi berjam-jam dan berdiskusi tentang penelitian.
Aku membayangkan itu semua, dan belum siap haha. Masih banyak PR-PR yang harus aku tuntaskan untuk bisa mencapai BEYOND IELTS.
Maka, teruslah belajar untuk memantaskan diri dan menyiapkan diri. Karena ingin saja tidak cukup !
Semangat para pejuang IELTS !
P.S : minimal membaca 5 teks BBC/al jazeera dan dengarkan podcast berbahasa Inggris setiap harinya untuk meningkatkan reading dan listening.
Rumah, 11 Mei 2020
18 Ramadhan 1441 H

Komentar
Posting Komentar