Langsung ke konten utama

Ramadhan Day 8 : Memaafkan Diri Sendiri

sumber : unsplash.com


Jika ada 1 hal yang ingin aku pelajari seumur hidupku, maka hal itu adalah “maaf”. Aku belajar dari dulu sampai sekarang tentang itu, rasanya belum lulus juga. Belajarnya setiap hari, ujiannya setiap saat, mendadak. Mungkin dari level memaafkan diri sendiri sampai memaafkan orang lain. Untuk bisa lulus itu semua, ternyata perlu proses. Bisa dikatakan, sampai hari ini, aku kewalahan menghadapi diri sendiri yang keras kepala. Enggan mendengarkan perkataanya sendiri. “Sudah maafkan saja” kata hati yang terdalam. Namun otak mengatakan “Tidak selamanya maaf itu menyembuhkan”. Pertentangan seperti itu hampir terjadi di setiap ujian. Kenapa kalian tidak berdamai saja sih ? Satu suara !
Jika ada 1 hal yang harus aku maafkan, maka hal itu adalah diri sendiri. Terlihat sederhana karena tidak perlu mengatakan maaf seperti kepada orang lain. Terlihat simple karena tidak perlu memikirkan respon orang lain terhadap permintaan maaf kita. Tetapi justru memaafkan diri sendiri adalah hal paling rumit yang pernah aku hadapi. Aku tahu kesalahannya, tetapi aku juga yang meminta maaf, dan aku juga lah yang harus berubah. Ini bagaimana ?
Berbuat kesalahan yang berdampak pada diri sendiri memang salah, karena itu seperti minum racun. Hal itu tidaklah baik. Apalagi jika kesalahan itu terus ada dampaknya sampai hari ini. Membuat kita mudah curiga terhadap orang lain, menganggap orang lain sama jahatnya, dan ya berbagai hal negatif lainnya yang tidak lain adalah bekas traumanya masih ada. Ternyata hal itu bukanlah karena orang lain yang salah, tetapi diri sendiri yang salah karena masih mengizinkan anggapan-anggapan itu untuk tetap ada.
Jahat ya.
Sebegitunya.
Jika ada 1 hal yang harus aku selesaikan untuk diriku sendiri, maka hal itu adalah inner child.
Sebuah perbuatan masa lalu yang menyisakan luka, sebuah kesalahan yang terus menggema sampai hari ini, dan sebuah trauma yang masih terasa sampai hari ini. Aku ingin menyudahi itu semua. Cukup !
Aku belajar untuk memaafkan orang lain yang mungkin pernah bersinggungan denganku. Meski aku mengatakan “Iya dimaafin”. Tetapi aku sebenarnya belum bisa sepenuhnya memaafkan, namun janganlah risau pada akhirnya aku pun memaafkan meski perlu waktu. Karena bagiku memaafkan adalah proses yang tidak sebentar. Entahlah hatiku tidak semudah itu untuk memberikan maaf. Ini yang ingin aku perbaiki. Aku ingin lebih legowo, karena pastinya kehidupan ke depan tidak terus menerus sesuai dengan ego kita. Maka, belajar menurunkan ego juga PR yang ingin aku selesaikan. Semenjak kecil aku memang memiliki ego tinggi. Hal ini terlihat kan dari keinginanku yang begitu kuat untuk mendapatkan sesuatu, dan begitu kecewa jika tidak mendapatkan sesuatu itu. Aku berusaha untuk lebih legowo untuk menerima apapun yang terbaik untukku. Aku tidak ingin menjadi manusia egois yang terus menerus berpusat pada diri sendiri.
Dear self, maafkan ya sampai hari ini belum bisa merawatmu dengan baik. Masih belum memberikan nutrisi terbaik yang membuatmu bertumbuh, malah memberikanmu racun yang hampir membuatmu...menjadi seperti ini. Kamu masih diliputi kesalahan-kesalahan, kamu masih diliputi ego tinggi; sifat yang tak semestinya sudah tidak ada, dan masih diliputi oleh hati yang belum bisa seluas langit.
Dear self, maafkan ya sampai hari ini kamu masih terus tersiksa oleh dirimu sendiri. Masih terpenjara dalam labirin yang entah kapan dirimu bisa keluar. Langkahmu masih tertahan di sini, yang seharusnya sudah menuju arah lain.
Dear self, maafkan ya sudah terus menerus memberi makan ego. Kamu harus sadar tidak semua kenyataan akan sesuai dengan harapan. Kamu juga harus bisa menerima kenyataan itu. Tenanglah semua akan baik baik saja jika hatimu siap menerimanya.
Dear self, mulai hari ini kamu harus belajar untuk memaafkan dirimu sendiri. Sebenarnya sudah dimulai ya memaafkannya. Tetapi sekarang harus lebih ikhlas lagi memaafkannya. Ikhlas seikhlas-ikhlasnya. Lebih legowo lagi untuk menerima semua kenyataan yang telah terjadi. Lebih bisa menerima dengan semua peristiwa dalam hidupmu yang telah terjadi kepadamu. Mulai hari ini, hatinya diluaskan lagi seluas langit. Langit itu memang berbatas tetapi langit itu tidak bertepi. Sehingga akan lebih luas lagi ruang penerimaan untuk dirimu sendiri : sebelum nanti menerima orang lain yang masuk ke dalam hidupmu untuk menetap.
Dear self, tenang saja. All is well. Setiap orang pasti memiliki kesalahan dan juga peristiwa masa lalu yang tidak menyenangkan. Orang yang mengagumimu saja, ketika mengetahui kesalahanmu mungkin akan pergi meninggalkanmu. Tetapi orang yang tulus padamu, akan selalu tinggal bersamamu.
Dear self, aku hanya ingin mengingatkan. Manusia seperti kita ini memang pandai sekali bersikap manis, bersikap baik. Menyembunyikan diri di balik jas berdasi dan baju koko. Menyembunyikan dosa dibalik hijab dan gelang tasbih. Manusia selalu dilanda ketakutan, takut bila orang lain mengenalnya. Takut bila orang lain mengetahui aibnya. Hidup seperti itu sungguh memuakkan, bukan ? Kamu sudah menjalaninya.
Bila  orang itu baik. Dia akan melihat masa depan dan memaafkan kesalahanmu. Sejauh kamu memang benar-benar beritikad baik. Di dunia ini masih banyak orang baik. Sayangnya, mereka ikut-ikutan bersembunyi. Kamu bisa menemukan mereka, asal kamu pun menjadi baik. Jika kamu hanya berpura-pura baik, maka kamu akan bertemu dengan orang yang juga berpura-pura baik. Tidak mau, kan ?
Memang ya, pekerjaan terumit adalah : memaafkan diri sendiri dan menerima diri sendiri yang diliputi kesalahan dan kebaikan dengan tulus ikhlas.
Kata dosenku, ada 3 kata-kata ajaib dalam hidup : minta tolong, minta maaf, dan terima kasih :)

Rumah, 1 Mei 2020
8 Ramadhan 1441 H


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramadhan Day 22 : Ke Kota

Tidak ada yang bisa duduk tenang. Hujan deras menghimpun cemas di pintu stasiun. Kereta seharusnya datang 5 menit yang lalu. Terkadang, satu menit menunggu terasa lebih merugikan daripada seumur hidup berlalu sia-sia. Seorang pemuda menyalami seorang bapak yang kupikir adalah orangtuanya. Sang bapak melambaikan tangan. Bersedih. Senyum getirnya memunculkan keriput. Si pemuda membalas dengan lambaian yang sama. Tetapi sumringah. Senyum bahagianya memunculkan rona merah. Seolah ia sedang berpura-pura lupa bahwa pria berkeriput itu telah menua. Begitu pun mimpi-mimpi yang menunggunya di kota. Demikian pikirnya, barangkali. Berjarak satu sama lain bukanlah pilihan sulit bagi sebagian orang. Jauh dan dekat hanya soal hitungan kilometer. Berbagai moda melipat jarak bagai kertas. Tetapi seringkali, jarak tidak bekerja seperti itu. Ia mengganti peta dalam pikiranmu dengan ilusi. Jauh dekat bukan lagi dihitung melalui kilometer. Meski ia disampingmu, tapi seringkali ia terasa jauh. Sejauh ...

Ramadhan Day 25 : Tantangan Itu Biasa, Menyelesaikannya itu Istimewa

FIK UI 2015 wisuda. dokumentasi pribadi Pernah tidak dalam hidupmu kamu membuat keputusan yang menurutmu paling menantang ? Aku pernah yaitu saat memutuskan aku mengikuti profesi ners. Bagiku itu adalah keputusan besar yang membentuk diriku di hari ini. Setahun yang lalu, di saat yang sama aku sedang sibuk merevisi proposal skripsiku dan merayu dosen pembimbing agar aku bisa sidang akhir Mei. Singkat cerita aku bisa sidang di akhir Mei. Aku merasa aku menang. Aku berhasil melewati salah 1 fase terberatku, yaitu skripsi. Namun setelah itu muncul pertanyaan baru lagi, what's next ? Bagi mahasiswa keperawatan, wisuda sarjana bukanlah akhir dari masa perkuliahan. Justru ini awal kehidupan yang sesungguhnya. Setelah menimbang berbagai pertimbangan, aku akhirnya memutuskan untuk mengikuti profesi, karena jalan mimpiku yang selanjutnya memang harus dilalui melalui profesi. Iya, aku harus mendapatkan Surat Tanda Registrasi (STR) agar aku dapat bekerja sebagai praktisi. Untuk mend...

Ramadhan Day 19 : tidak berjudul

Aku tidak menjamin bisa seperti mereka. Karena I life with myself.  Tetapi setidaknya aku sedang berproses untuk bertumbuh setiap harinya. Meski hanya 1 mm. Aku juga tidak yakin, pertumbuhanku setiap hari bisa membuatku layak. Tetapi aku yakin, apa yang aku lakukan hari ini tidak ada yang sia-sia. Apa yang aku lakukan hari ini semoga bisa mengubah masa depanku, walaupun hanya sedikit. Sesuatu yang sangat aku khawatirkan. Rumah, 12 Mei 2020 19 Ramadhan 1441 H