![]() |
| sumber : unsplash.com |
Jika
ada 1 hal yang ingin aku pelajari seumur hidupku, maka hal itu adalah “maaf”.
Aku belajar dari dulu sampai sekarang tentang itu, rasanya belum lulus juga. Belajarnya
setiap hari, ujiannya setiap saat, mendadak. Mungkin dari level memaafkan diri
sendiri sampai memaafkan orang lain. Untuk bisa lulus itu semua, ternyata perlu
proses. Bisa dikatakan, sampai hari ini, aku kewalahan menghadapi diri sendiri
yang keras kepala. Enggan mendengarkan perkataanya sendiri. “Sudah maafkan saja”
kata hati yang terdalam. Namun otak mengatakan “Tidak selamanya maaf itu
menyembuhkan”. Pertentangan seperti itu hampir terjadi di setiap ujian. Kenapa
kalian tidak berdamai saja sih ? Satu suara !
Jika
ada 1 hal yang harus aku maafkan, maka hal itu adalah diri sendiri. Terlihat
sederhana karena tidak perlu mengatakan maaf seperti kepada orang lain.
Terlihat simple karena tidak perlu memikirkan respon orang lain terhadap
permintaan maaf kita. Tetapi justru memaafkan diri sendiri adalah hal paling
rumit yang pernah aku hadapi. Aku tahu kesalahannya, tetapi aku juga yang
meminta maaf, dan aku juga lah yang harus berubah. Ini bagaimana ?
Berbuat
kesalahan yang berdampak pada diri sendiri memang salah, karena itu seperti
minum racun. Hal itu tidaklah baik. Apalagi jika kesalahan itu terus ada
dampaknya sampai hari ini. Membuat kita mudah curiga terhadap orang lain,
menganggap orang lain sama jahatnya, dan ya berbagai hal negatif lainnya yang
tidak lain adalah bekas traumanya masih ada. Ternyata hal itu bukanlah karena
orang lain yang salah, tetapi diri sendiri yang salah karena masih mengizinkan
anggapan-anggapan itu untuk tetap ada.
Jahat
ya.
Sebegitunya.
Jika
ada 1 hal yang harus aku selesaikan untuk diriku sendiri, maka hal itu adalah inner
child.
Sebuah
perbuatan masa lalu yang menyisakan luka, sebuah kesalahan yang terus menggema
sampai hari ini, dan sebuah trauma yang masih terasa sampai hari ini. Aku ingin
menyudahi itu semua. Cukup !
Aku
belajar untuk memaafkan orang lain yang mungkin pernah bersinggungan denganku. Meski
aku mengatakan “Iya dimaafin”. Tetapi aku sebenarnya belum bisa sepenuhnya
memaafkan, namun janganlah risau pada akhirnya aku pun memaafkan meski perlu
waktu. Karena bagiku memaafkan adalah proses yang tidak sebentar. Entahlah
hatiku tidak semudah itu untuk memberikan maaf. Ini yang ingin aku perbaiki.
Aku ingin lebih legowo, karena pastinya kehidupan ke depan tidak terus menerus sesuai
dengan ego kita. Maka, belajar menurunkan ego juga PR yang ingin aku
selesaikan. Semenjak kecil aku memang memiliki ego tinggi. Hal ini terlihat kan
dari keinginanku yang begitu kuat untuk mendapatkan sesuatu, dan begitu kecewa
jika tidak mendapatkan sesuatu itu. Aku berusaha untuk lebih legowo untuk
menerima apapun yang terbaik untukku. Aku tidak ingin menjadi manusia egois
yang terus menerus berpusat pada diri sendiri.
Dear
self, maafkan ya sampai hari ini belum bisa merawatmu dengan baik. Masih belum
memberikan nutrisi terbaik yang membuatmu bertumbuh, malah memberikanmu racun
yang hampir membuatmu...menjadi seperti ini. Kamu masih diliputi
kesalahan-kesalahan, kamu masih diliputi ego tinggi; sifat yang tak semestinya sudah
tidak ada, dan masih diliputi oleh hati yang belum bisa seluas langit.
Dear
self, maafkan ya sampai hari ini kamu masih terus tersiksa oleh dirimu sendiri.
Masih terpenjara dalam labirin yang entah kapan dirimu bisa keluar. Langkahmu masih
tertahan di sini, yang seharusnya sudah menuju arah lain.
Dear
self, maafkan ya sudah terus menerus memberi makan ego. Kamu harus sadar tidak
semua kenyataan akan sesuai dengan harapan. Kamu juga harus bisa menerima
kenyataan itu. Tenanglah semua akan baik baik saja jika hatimu siap
menerimanya.
Dear
self, mulai hari ini kamu harus belajar untuk memaafkan dirimu sendiri.
Sebenarnya sudah dimulai ya memaafkannya. Tetapi sekarang harus lebih ikhlas
lagi memaafkannya. Ikhlas seikhlas-ikhlasnya. Lebih legowo lagi untuk menerima
semua kenyataan yang telah terjadi. Lebih bisa menerima dengan semua peristiwa
dalam hidupmu yang telah terjadi kepadamu. Mulai hari ini, hatinya diluaskan
lagi seluas langit. Langit itu memang berbatas tetapi langit itu tidak bertepi.
Sehingga akan lebih luas lagi ruang penerimaan untuk dirimu sendiri : sebelum
nanti menerima orang lain yang masuk ke dalam hidupmu untuk menetap.
Dear
self, tenang saja. All is well. Setiap orang pasti memiliki kesalahan dan juga
peristiwa masa lalu yang tidak menyenangkan. Orang yang mengagumimu saja,
ketika mengetahui kesalahanmu mungkin akan pergi meninggalkanmu. Tetapi orang
yang tulus padamu, akan selalu tinggal bersamamu.
Dear
self, aku hanya ingin mengingatkan. Manusia seperti kita ini memang pandai
sekali bersikap manis, bersikap baik. Menyembunyikan diri di balik jas berdasi
dan baju koko. Menyembunyikan dosa dibalik hijab dan gelang tasbih. Manusia
selalu dilanda ketakutan, takut bila orang lain mengenalnya. Takut bila orang
lain mengetahui aibnya. Hidup seperti itu sungguh memuakkan, bukan ? Kamu sudah
menjalaninya.
Bila
orang itu baik. Dia akan melihat masa depan
dan memaafkan kesalahanmu. Sejauh kamu memang benar-benar beritikad baik. Di
dunia ini masih banyak orang baik. Sayangnya, mereka ikut-ikutan bersembunyi.
Kamu bisa menemukan mereka, asal kamu pun menjadi baik. Jika kamu hanya
berpura-pura baik, maka kamu akan bertemu dengan orang yang juga berpura-pura
baik. Tidak mau, kan ?
Memang
ya, pekerjaan terumit adalah : memaafkan diri sendiri dan menerima diri sendiri
yang diliputi kesalahan dan kebaikan dengan tulus ikhlas.
Kata dosenku, ada 3 kata-kata ajaib dalam hidup : minta tolong, minta maaf, dan terima kasih :)
Rumah,
1 Mei 2020
8
Ramadhan 1441 H


Komentar
Posting Komentar