| sumber : unsplash.com |
Aku
bukan malaikat yang kehidupannya selalu lurus. Aku adalah manusia biasa yang memiliki
banyak emosi. Sampai-sampai, aku kebingungan sendiri menghadapi emosi yang
macam-macam itu. Emosi-emosi itu memang tidak bisa kita usir, justru harus dirawat
agar emosi itu semakin menguatkan jiwa kita. Bukan sebaliknya. Yang aku
perhatikan sampai saat ini, sebuah emosi dapat dikelola dengan baik jika kita
berulang kali merasakannya dan belajar untuk mengevalusinya. Tidak bisa sekali
dua kali langsung terkendali. Kalau dari pengalaman pribadi sih begitu. Dulu,
ketika aku sedang sedih atau kecewa, aku tidak mau melakukan apapun. Untuk
bangun dari tempat tidur saja rasanya berat sekali. Sekarang juga terkadang
masih begitu, tetapi tidak separah dulu. Apalagi kalau lagi sebel dan marah ke
orang, tidak bisa sehari dua hari sembuh. Minimal 3 hari baru biasa saja lagi. Tetapi kalau lagi bahagia, seharian senyum ga
ilang-ilang. Memang, duniaku adalah dunia ekstrem. Aku masih belajar untuk
menghilangkan emosi-emosi negatif dan belajar mengelola responku. Di dunia
ini memang tidak semua hal bisa kita kendalikan. Untuk hal-hal yang tidak bisa
kita kendalikan, kita hanya bisa mengendalikan respon kita. Parahnya, kadang bukan
kita yang mengendalikan respon, tetapi keadaan yang mengendalikan kita. Melelahkan
kan ?
Aku
rasa iya. Melelahkan. Jika sikap orang ke kita semuanya diambil hati. Sudahlah
kurang-kurangi kayagitu. Tidak baik. Seharusnya bahagia/sedih/marah tidak
ditentukan dari sikap orang ke kita. Memang sih sikap orang berpengaruh tapi
harusnya tidak lebih besar pengaruhnya dibanding dengan respon kita – nasihatku
kepada diri sendiri
Sekarang
coba duduklah, coba kamu pikirkan, dalam keadaan tertentu seberapa sikap orang
memperparah keadaanmu ? Lalu bagaimana kamu ingin diperlakukan ?
Kalau
aku, misal jika aku sedang sedih dan kecewa aku tidak bisa menyimpannya
sendirian, aku harus menumpahkan semuanya. Entah itu nangis, entah itu
didengarkan. Walaupun tidak mendapatkan solusi tetapi setidaknya membuatku
lebih lega. Lalu tanyalah kenapa, I think itu memperbaik suasana alam
perasaan.
Kalau
aku lagi marah, cuekin saja haha. Kalau aku lagi marah terus aku marah-marah ke
orang dan orang itu balik marah-marah aku semakin marah wkwk. Kompor emang.
Jadi cuekin saja ketika aku lagi marah, nanti juga reda sendiri. Sebenarnya
lama sih redanya. Aku harus mengeluarkan uneg-uneg marahku dulu. Caranya ? Tidur.
Walaupun bangun-bangun masih kerasa marahnya. Tapi it’s better.
Aku
pernah mempraktikan yang sudah diajarkan saat kelas di Fakultas Psikologi yaitu
harus mengambil jeda terlebih dahulu sebelum merespon apa-apa. Aku belum
sepenuhnya bisa. Tapi, I’ll try it again and again !
Pada
intinya, ketika aku sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja aku ingin didengarkan
dan ditenangkan. Karena tidak selamanya aku mampu mengungkapkannya terlebih
dahulu. Aku tidak bisa semudah itu mengungkapkan, namun dapat terlihat dari
sikapku karena aku bukan orangyang pandai berpurapura. Sudah itu saja. Walaupun
ketenangan datang dari diri sendiri saat sudah legowo dengan semuanya.
Jadi,
aku penasaran kepada kalian-kalian yang pandai mengelola emosi dan tidak meletup-letup.
Itu bagaimana caranya ? Ajari aku ☹
Rumah,
6 Mei 2020
13
Ramadhan 1441 H

Komentar
Posting Komentar