Langsung ke konten utama

Ramadhan Day 13 : Mengelola Emosi

brown egg
sumber : unsplash.com

Aku bukan malaikat yang kehidupannya selalu lurus. Aku adalah manusia biasa yang memiliki banyak emosi. Sampai-sampai, aku kebingungan sendiri menghadapi emosi yang macam-macam itu. Emosi-emosi itu memang tidak bisa kita usir, justru harus dirawat agar emosi itu semakin menguatkan jiwa kita. Bukan sebaliknya. Yang aku perhatikan sampai saat ini, sebuah emosi dapat dikelola dengan baik jika kita berulang kali merasakannya dan belajar untuk mengevalusinya. Tidak bisa sekali dua kali langsung terkendali. Kalau dari pengalaman pribadi sih begitu. Dulu, ketika aku sedang sedih atau kecewa, aku tidak mau melakukan apapun. Untuk bangun dari tempat tidur saja rasanya berat sekali. Sekarang juga terkadang masih begitu, tetapi tidak separah dulu. Apalagi kalau lagi sebel dan marah ke orang, tidak bisa sehari dua hari sembuh. Minimal 3 hari baru biasa saja lagi.  Tetapi kalau lagi bahagia, seharian senyum ga ilang-ilang. Memang, duniaku adalah dunia ekstrem. Aku masih belajar untuk menghilangkan emosi-emosi negatif dan belajar mengelola responku. Di dunia ini memang tidak semua hal bisa kita kendalikan. Untuk hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan, kita hanya bisa mengendalikan respon kita. Parahnya, kadang bukan kita yang mengendalikan respon, tetapi keadaan yang mengendalikan kita. Melelahkan kan ?
Aku rasa iya. Melelahkan. Jika sikap orang ke kita semuanya diambil hati. Sudahlah kurang-kurangi kayagitu. Tidak baik. Seharusnya bahagia/sedih/marah tidak ditentukan dari sikap orang ke kita. Memang sih sikap orang berpengaruh tapi harusnya tidak lebih besar pengaruhnya dibanding dengan respon kita – nasihatku kepada diri sendiri
Sekarang coba duduklah, coba kamu pikirkan, dalam keadaan tertentu seberapa sikap orang memperparah keadaanmu ? Lalu bagaimana kamu ingin diperlakukan ?
Kalau aku, misal jika aku sedang sedih dan kecewa aku tidak bisa menyimpannya sendirian, aku harus menumpahkan semuanya. Entah itu nangis, entah itu didengarkan. Walaupun tidak mendapatkan solusi tetapi setidaknya membuatku lebih lega. Lalu tanyalah kenapa, I think itu memperbaik suasana alam perasaan.
Kalau aku lagi marah, cuekin saja haha. Kalau aku lagi marah terus aku marah-marah ke orang dan orang itu balik marah-marah aku semakin marah wkwk. Kompor emang. Jadi cuekin saja ketika aku lagi marah, nanti juga reda sendiri. Sebenarnya lama sih redanya. Aku harus mengeluarkan uneg-uneg marahku dulu. Caranya ? Tidur. Walaupun bangun-bangun masih kerasa marahnya. Tapi it’s better.
Aku pernah mempraktikan yang sudah diajarkan saat kelas di Fakultas Psikologi yaitu harus mengambil jeda terlebih dahulu sebelum merespon apa-apa. Aku belum sepenuhnya bisa. Tapi, I’ll try it again and again !
Pada intinya, ketika aku sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja aku ingin didengarkan dan ditenangkan. Karena tidak selamanya aku mampu mengungkapkannya terlebih dahulu. Aku tidak bisa semudah itu mengungkapkan, namun dapat terlihat dari sikapku karena aku bukan orangyang pandai berpurapura. Sudah itu saja. Walaupun ketenangan datang dari diri sendiri saat sudah legowo dengan semuanya.
Jadi, aku penasaran kepada kalian-kalian yang pandai mengelola emosi dan tidak meletup-letup. Itu bagaimana caranya ? Ajari aku

Rumah, 6 Mei 2020
13 Ramadhan 1441 H


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramadhan Day 22 : Ke Kota

Tidak ada yang bisa duduk tenang. Hujan deras menghimpun cemas di pintu stasiun. Kereta seharusnya datang 5 menit yang lalu. Terkadang, satu menit menunggu terasa lebih merugikan daripada seumur hidup berlalu sia-sia. Seorang pemuda menyalami seorang bapak yang kupikir adalah orangtuanya. Sang bapak melambaikan tangan. Bersedih. Senyum getirnya memunculkan keriput. Si pemuda membalas dengan lambaian yang sama. Tetapi sumringah. Senyum bahagianya memunculkan rona merah. Seolah ia sedang berpura-pura lupa bahwa pria berkeriput itu telah menua. Begitu pun mimpi-mimpi yang menunggunya di kota. Demikian pikirnya, barangkali. Berjarak satu sama lain bukanlah pilihan sulit bagi sebagian orang. Jauh dan dekat hanya soal hitungan kilometer. Berbagai moda melipat jarak bagai kertas. Tetapi seringkali, jarak tidak bekerja seperti itu. Ia mengganti peta dalam pikiranmu dengan ilusi. Jauh dekat bukan lagi dihitung melalui kilometer. Meski ia disampingmu, tapi seringkali ia terasa jauh. Sejauh ...

Ramadhan Day 25 : Tantangan Itu Biasa, Menyelesaikannya itu Istimewa

FIK UI 2015 wisuda. dokumentasi pribadi Pernah tidak dalam hidupmu kamu membuat keputusan yang menurutmu paling menantang ? Aku pernah yaitu saat memutuskan aku mengikuti profesi ners. Bagiku itu adalah keputusan besar yang membentuk diriku di hari ini. Setahun yang lalu, di saat yang sama aku sedang sibuk merevisi proposal skripsiku dan merayu dosen pembimbing agar aku bisa sidang akhir Mei. Singkat cerita aku bisa sidang di akhir Mei. Aku merasa aku menang. Aku berhasil melewati salah 1 fase terberatku, yaitu skripsi. Namun setelah itu muncul pertanyaan baru lagi, what's next ? Bagi mahasiswa keperawatan, wisuda sarjana bukanlah akhir dari masa perkuliahan. Justru ini awal kehidupan yang sesungguhnya. Setelah menimbang berbagai pertimbangan, aku akhirnya memutuskan untuk mengikuti profesi, karena jalan mimpiku yang selanjutnya memang harus dilalui melalui profesi. Iya, aku harus mendapatkan Surat Tanda Registrasi (STR) agar aku dapat bekerja sebagai praktisi. Untuk mend...

Ramadhan Day 9 : Dear Me,

sumber : unsplash.com Ada kalanya aku ingin menjadi aku yang masih berumur 10 tahun. Saat itu aku masih kelas 5 SD. Saat segalanya begitu menyenangkan. Saat segalanya begitu sederhana. Saat raga dan jiwa tak perlu saling tentang. Saat mulut dan hati tak perlu saling berpura-pura. Saat aku sedang suka-sukanya membaca buku pelajaran, apalagi buku pelajaran Bahasa Indonesia. Aku suka, karena di sana banyak cerita. Dengan membaca cerita, aku seperti jalan-jalan. Aku senang saat pelajaran IPA, terutama tentang tumbuh-tumbuhan. Saat itu, aku menjadi rajin meminjam buku ensiklopedia di perpus tentang bonsai, tanaman-tanaman yang tumbuh di dunia, dan juga hewan-hewan. Oh ya aku ingat, aku juga penasaran dengan planet-planet dan luar angkasa. Lantas aku meminjam buku ensiklopedia tentang itu. Dari buku itulah aku kenal dengan yang namanya negara-negara luar dan tanaman-tanaman yang tumbuh di sana. Aku juga jadi mengetahui tentang tata surya. Tak hanya itu, aku juga suka dengan pelajaran I...