Langsung ke konten utama

Ramadhan Day 10 : Hidupmu Berharga

sumber : unsplash.com

Aku tahu, akhir-akhir ini kamu merasa sedang tidak baik baik saja, merasa tidak berarti untuk orang lain, dan ya berbagai perasaan lain yang membuatmu berpikir tidak lebih baik dari siapapun. Aku tahu, kamu berpikiran demikian. Akhir-akhir ini memang kepalamu sedang seperti dipenuhi oleh berbagai hal yang membuatmu khawatir sendiri.
Hari ini kamu melewati harimu tidak seperti biasanya. Kamu merasa tidak memiliki energi untuk melakukan apapun, termasuk sekedar beranjak dari tempat tidur. Energimu sudah kamu habiskan untuk menonton drama yang kamu buat sendiri di dalam kepalamu. Kamu hanya melewatinya dengan tidur, tidur, dan rebahan. Manusia macam apa kamu ini ! Seperti sudah tidak memiliki masa depan saja.
Lalu, malam datang. Kamu putuskan untuk tidur lebih cepat. Berharap, tidur dapat membawa pergi jauh semua perasaan resah dan khawatir yang ada pada dirimu. Tapi lagi-lagi, mimpimu dipenuhi dengan hal-hal yang kamu khawatirkan. Kamu sontak terbangun, kemudian kamu menangis. Sejadi jadinya. Gapapa. Keluarkan semuanya. Menangis bukan pertanda kamu lemah, tetapi kamu hanya sedang ingin mengeluarkan beban yang ada di dalam dirimu. Berharap beban itu akan hilang bersama dengan air tak berwarna yang mengalir deras dari sudut-sudut matamu.
Namun kali ini, hatimu belum juga menemukan ketenangannya. Hatimu masih seperti layangan putus. Melayang-layang kesana kemari kemudian menabrak pohon dan jatuh. Tau kan gimana rasanya ? Selepas menangis, memang terasa lebih ringan. Tetapi kepalamu masih dipenuhi pikiran-pikiran itu. Berbagai pertanyaan, kekhawatiran masa depan, dan juga perasaan tak berhargamu.
“Benarkah aku tidak berarti untuk orang lain ?” Katamu bertanya pada diri sendiri
Aku yang menulis pun tidak mengetahui jawabannya.
Aku hanya ingin mengatakan, bukan menggurui.
Bahwa kita terkadang memandang sesuatu dari sisi egois. Kita seringkali merasa tidak berarti untuk orang lain. Yang disebut orang lain di sini itu siapa ?
Aku pikir, kamu yang seharusnya memandang dari sisi yang lain, kita memang terkadang merasa kita tidak berarti untuk orang lain, tetapi kita tidak pernah tahu bagaimana berartinya kita untuk orang lain itu. Barangkali kamu yang kurang menghargai kehadirannya.
Let see, orangtuamu. Aku pikir kamu berharga untuk mereka. Kamu adalah buah hati mereka. Cahaya hidup mereka. Coba kamu lihat. Orangtuamu bekerja keras setiap hari untuk siapa ? Mereka bisa sesemangat itu untuk menjalani hidup karena siapa ? Tidak lain adalah karena anak. Mereka seserius itu untuk bisa menghidupimu. Jangan tanyakan lagi kamu berarti apa tidak untuk mereka. Perbuatan mereka sudah cukup menjawab semuanya
Kemudian teman-temanmu. Aku pikir kamu juga berharga untuk mereka. Mereka selalu menolongmu ketika kamu membutuhkan. Mereka rela menjadi kuping saat kamu membutuhkan tempat untuk bercerita. Meski mereka tahu, tidak semua yang kamu ceritakan itu penting. Mereka juga selalu mencarimu jika kamu tidak ada kabar, atau jika ada yang tiba-tiba aneh pada dirimu. Memastikan kamu baik-baik saja. Jangan tanyakan kamu berarti apa engga untuk mereka. Dari cara mereka bersikap, kamu sudah mengetahui jawabannya.
Yang terakhir adalah orang-orang yang pernah kamu tolong. Seperti ibu-ibu yang kamu beli dagangannya, pengemis yang kamu beri makan, dan juga orang-orang yang coba kamu sembuhkan. Kamu menjadi orang yang berarti untuk mereka. Kamu menjadi salah satu orang yang dapat mengubah hidup mereka, meski tidak banyak. Setidaknya mereka masih dapat melanjutkan hidupnya. Sepertinya kamu perlu mengingat hal-hal sederhana yang membuatmu bahagia, yang membuatmu berarti untuk orang lain. Tidak perlu menjadi orang besar dulu untuk menjadi 'arti'.
Nah namun, kalau untuk seseorang itu...aku yang menulis itu pun tidak tahu jawabannya. Mungkin kamu tanyakan saja pada Tuhanmu. Pasti Dia tahu jawabannya. Kalaupun misalnya orang itu tidak menganggapmu menjadi orang yang berarti dalam hidupnya, tidak berarti hidupmu berakhir. Kamu masih memiliki banyak orang lain yang lebih bisa menghargaimu dan menganggap kehadiranmu. Kamu fokus saja kepada mereka. Kalaupun orang itu menganggapmu orang yang berarti dalam hidupnya, jangan bahagia dulu. Belum tentu orang itu masa depanmu, barangkali dia hanya ujian. Ingat-ingat, orang baik di dunia ini banyak, tetapi yang tepat hanya 1. Selebihnya adalah ujian.
Ujian untukmu apakah kamu menempatkan hati dan hidupmu untuk seseorang itu atau hal yang lebih penting dari itu : Tuhanmu. Di depan sana, ada 2 hal yang menunggumu. 1 adalah kematian yang berdiri tegak, 1 lagi adalah orang yang akan menjadi teman hidupmu. Dari 2 ini, mana yang sudah kamu persiapkan ? Mana yang lebih membuatmu khawatir ?
Sudahlah jangan berpikir yang macam-macam. Lebih baik kamu melanjutkan hidupmu saja. Mungkin hal ini terlihat klise. Sekarang, kamu punguti kembali puzzle hatimu yang sudah berserakan. Satukan lagi. Lalu kembalikan ke tempatnya. Yaitu ke dirimu sendiri. Kunci serapat-rapatnya. Sampai nanti ada yang benar-benar mengetuknya lagi dengan sopan. Seseorang yang meminta hatimu tidak ke kamu, tetapi ke ayahmu.
Karena dia tahu, hati perempuan itu bukan piala untuk dimenangkan dan dipamerkan. Tetapi sebuah pintu yang menunggu diketuk setiap hari.

Rumah, 3 Mei 2020
10 Ramadhan 1441 H
Source : seorang teman





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramadhan Day 22 : Ke Kota

Tidak ada yang bisa duduk tenang. Hujan deras menghimpun cemas di pintu stasiun. Kereta seharusnya datang 5 menit yang lalu. Terkadang, satu menit menunggu terasa lebih merugikan daripada seumur hidup berlalu sia-sia. Seorang pemuda menyalami seorang bapak yang kupikir adalah orangtuanya. Sang bapak melambaikan tangan. Bersedih. Senyum getirnya memunculkan keriput. Si pemuda membalas dengan lambaian yang sama. Tetapi sumringah. Senyum bahagianya memunculkan rona merah. Seolah ia sedang berpura-pura lupa bahwa pria berkeriput itu telah menua. Begitu pun mimpi-mimpi yang menunggunya di kota. Demikian pikirnya, barangkali. Berjarak satu sama lain bukanlah pilihan sulit bagi sebagian orang. Jauh dan dekat hanya soal hitungan kilometer. Berbagai moda melipat jarak bagai kertas. Tetapi seringkali, jarak tidak bekerja seperti itu. Ia mengganti peta dalam pikiranmu dengan ilusi. Jauh dekat bukan lagi dihitung melalui kilometer. Meski ia disampingmu, tapi seringkali ia terasa jauh. Sejauh ...

Ramadhan Day 25 : Tantangan Itu Biasa, Menyelesaikannya itu Istimewa

FIK UI 2015 wisuda. dokumentasi pribadi Pernah tidak dalam hidupmu kamu membuat keputusan yang menurutmu paling menantang ? Aku pernah yaitu saat memutuskan aku mengikuti profesi ners. Bagiku itu adalah keputusan besar yang membentuk diriku di hari ini. Setahun yang lalu, di saat yang sama aku sedang sibuk merevisi proposal skripsiku dan merayu dosen pembimbing agar aku bisa sidang akhir Mei. Singkat cerita aku bisa sidang di akhir Mei. Aku merasa aku menang. Aku berhasil melewati salah 1 fase terberatku, yaitu skripsi. Namun setelah itu muncul pertanyaan baru lagi, what's next ? Bagi mahasiswa keperawatan, wisuda sarjana bukanlah akhir dari masa perkuliahan. Justru ini awal kehidupan yang sesungguhnya. Setelah menimbang berbagai pertimbangan, aku akhirnya memutuskan untuk mengikuti profesi, karena jalan mimpiku yang selanjutnya memang harus dilalui melalui profesi. Iya, aku harus mendapatkan Surat Tanda Registrasi (STR) agar aku dapat bekerja sebagai praktisi. Untuk mend...

Ramadhan Day 19 : tidak berjudul

Aku tidak menjamin bisa seperti mereka. Karena I life with myself.  Tetapi setidaknya aku sedang berproses untuk bertumbuh setiap harinya. Meski hanya 1 mm. Aku juga tidak yakin, pertumbuhanku setiap hari bisa membuatku layak. Tetapi aku yakin, apa yang aku lakukan hari ini tidak ada yang sia-sia. Apa yang aku lakukan hari ini semoga bisa mengubah masa depanku, walaupun hanya sedikit. Sesuatu yang sangat aku khawatirkan. Rumah, 12 Mei 2020 19 Ramadhan 1441 H