![]() |
| sumber : unsplash.com |
Aku
tahu, akhir-akhir ini kamu merasa sedang tidak baik baik saja, merasa tidak
berarti untuk orang lain, dan ya berbagai perasaan lain yang membuatmu berpikir
tidak lebih baik dari siapapun. Aku tahu, kamu berpikiran demikian. Akhir-akhir
ini memang kepalamu sedang seperti dipenuhi oleh berbagai hal yang membuatmu
khawatir sendiri.
Hari
ini kamu melewati harimu tidak seperti biasanya. Kamu merasa tidak memiliki
energi untuk melakukan apapun, termasuk sekedar beranjak dari tempat tidur.
Energimu sudah kamu habiskan untuk menonton drama yang kamu buat sendiri di
dalam kepalamu. Kamu hanya melewatinya dengan tidur, tidur, dan rebahan.
Manusia macam apa kamu ini ! Seperti sudah tidak memiliki masa depan saja.
Lalu,
malam datang. Kamu putuskan untuk tidur lebih cepat. Berharap, tidur dapat
membawa pergi jauh semua perasaan resah dan khawatir yang ada pada dirimu. Tapi
lagi-lagi, mimpimu dipenuhi dengan hal-hal yang kamu khawatirkan. Kamu sontak
terbangun, kemudian kamu menangis. Sejadi jadinya. Gapapa. Keluarkan semuanya.
Menangis bukan pertanda kamu lemah, tetapi kamu hanya sedang ingin mengeluarkan
beban yang ada di dalam dirimu. Berharap beban itu akan hilang bersama dengan
air tak berwarna yang mengalir deras dari sudut-sudut matamu.
Namun
kali ini, hatimu belum juga menemukan ketenangannya. Hatimu masih seperti
layangan putus. Melayang-layang kesana kemari kemudian menabrak pohon dan
jatuh. Tau kan gimana rasanya ? Selepas menangis, memang terasa lebih ringan.
Tetapi kepalamu masih dipenuhi pikiran-pikiran itu. Berbagai pertanyaan,
kekhawatiran masa depan, dan juga perasaan tak berhargamu.
“Benarkah
aku tidak berarti untuk orang lain ?” Katamu bertanya pada diri sendiri
Aku
yang menulis pun tidak mengetahui jawabannya.
Aku
hanya ingin mengatakan, bukan menggurui.
Bahwa
kita terkadang memandang sesuatu dari sisi egois. Kita seringkali merasa tidak
berarti untuk orang lain. Yang disebut orang lain di sini itu siapa ?
Aku
pikir, kamu yang seharusnya memandang dari sisi yang lain, kita memang
terkadang merasa kita tidak berarti untuk orang lain, tetapi kita tidak pernah
tahu bagaimana berartinya kita untuk orang lain itu. Barangkali kamu yang
kurang menghargai kehadirannya.
Let
see, orangtuamu. Aku pikir kamu berharga untuk mereka. Kamu adalah buah hati
mereka. Cahaya hidup mereka. Coba kamu lihat. Orangtuamu bekerja keras setiap
hari untuk siapa ? Mereka bisa sesemangat itu untuk menjalani hidup karena
siapa ? Tidak lain adalah karena anak. Mereka seserius itu untuk bisa
menghidupimu. Jangan tanyakan lagi kamu berarti apa tidak untuk mereka.
Perbuatan mereka sudah cukup menjawab semuanya
Kemudian
teman-temanmu. Aku pikir kamu juga berharga untuk mereka. Mereka selalu
menolongmu ketika kamu membutuhkan. Mereka rela menjadi kuping saat kamu
membutuhkan tempat untuk bercerita. Meski mereka tahu, tidak semua yang kamu
ceritakan itu penting. Mereka juga selalu mencarimu jika kamu tidak ada kabar,
atau jika ada yang tiba-tiba aneh pada dirimu. Memastikan kamu baik-baik saja.
Jangan tanyakan kamu berarti apa engga untuk mereka. Dari cara mereka bersikap,
kamu sudah mengetahui jawabannya.
Yang
terakhir adalah orang-orang yang pernah kamu tolong. Seperti ibu-ibu yang kamu
beli dagangannya, pengemis yang kamu beri makan, dan juga orang-orang yang coba
kamu sembuhkan. Kamu menjadi orang yang berarti untuk mereka. Kamu menjadi
salah satu orang yang dapat mengubah hidup mereka, meski tidak banyak.
Setidaknya mereka masih dapat melanjutkan hidupnya. Sepertinya kamu perlu mengingat hal-hal sederhana yang membuatmu bahagia, yang membuatmu berarti untuk orang lain. Tidak perlu menjadi orang besar dulu untuk menjadi 'arti'.
Nah namun,
kalau untuk seseorang itu...aku yang menulis itu pun tidak tahu jawabannya.
Mungkin kamu tanyakan saja pada Tuhanmu. Pasti Dia tahu jawabannya. Kalaupun
misalnya orang itu tidak menganggapmu menjadi orang yang berarti dalam
hidupnya, tidak berarti hidupmu berakhir. Kamu masih memiliki banyak orang lain
yang lebih bisa menghargaimu dan menganggap kehadiranmu. Kamu fokus saja kepada
mereka. Kalaupun orang itu menganggapmu orang yang berarti dalam hidupnya,
jangan bahagia dulu. Belum tentu orang itu masa depanmu, barangkali dia hanya
ujian. Ingat-ingat, orang baik di dunia ini banyak, tetapi yang tepat hanya 1.
Selebihnya adalah ujian.
Ujian
untukmu apakah kamu menempatkan hati dan hidupmu untuk seseorang itu atau hal
yang lebih penting dari itu : Tuhanmu. Di depan sana, ada 2 hal yang
menunggumu. 1 adalah kematian yang berdiri tegak, 1 lagi adalah orang yang akan
menjadi teman hidupmu. Dari 2 ini, mana yang sudah kamu persiapkan ? Mana yang
lebih membuatmu khawatir ?
Sudahlah
jangan berpikir yang macam-macam. Lebih baik kamu melanjutkan hidupmu saja.
Mungkin hal ini terlihat klise. Sekarang, kamu punguti kembali puzzle hatimu
yang sudah berserakan. Satukan lagi. Lalu kembalikan ke tempatnya. Yaitu ke
dirimu sendiri. Kunci serapat-rapatnya. Sampai nanti ada yang benar-benar
mengetuknya lagi dengan sopan. Seseorang yang meminta hatimu tidak ke kamu,
tetapi ke ayahmu.
Karena
dia tahu, hati perempuan itu bukan piala untuk dimenangkan dan dipamerkan.
Tetapi sebuah pintu yang menunggu diketuk setiap hari.
Rumah,
3 Mei 2020
10
Ramadhan 1441 H
Source : seorang teman


Komentar
Posting Komentar