Langsung ke konten utama

Ramadhan Day 27 : Aliran Rasa : Am I Left Behind ?

concrete rail road
sumber : unsplash.com
 
Ada kalanya aku merasa tertinggal di belakang, saat yang lain sudah mulai berlari.
Aku masih sibuk saja mempersiapkan bekal di garis start. 
Ada kalanya aku ingin menyusul mereka, tetapi langkah kakiku kelelahan jika harus berkejaran dengan orang lain.
Ada kalanya aku ingin seperti mereka, yang fokus sama mimpi-mimpiny, yang fokus dengan apa yang dikerjakan, yang bekerja keras, yang idenya brilian,  dan yang seperti  tidak punya rasa lelah.
Ingin sekali.
Aku selalu saja begini, merasa tertinggal di belakang.
Aku juga sering merasa I am not better enogh dari yang lain.
Kenapa orang lain bisa aku tidak ?

Aku berpikir, oh mungkin usahaku kurang, mungkin aku kurang banyak lagi membaca, mungkin aku memang harus usaha esktra.
Aku juga berpikir, oh iya setiap orang kan punya timingnya masing-masing. Aku, kamu, mereka.
Semua sudah punya waktunya sendiri. Tidak ada lebih lambat ataupun lebih cepat.
Tujuan kita kan memang berbeda maka jalan yang kita tempuh juga berbeda. Tidak sepantasnya mengatakan dia lebih cepat atau aku lebih lambat.
Apa yang sedang dikerjakan setiap orang pun berbeda. Jadi tidak sepantasnya membanding-bandingkan.  

Jadi, tetap semangat ya ! Fokus saja sama tujuan, saling menyemangati, karena kamu tidak sendirian di dunia ini :)

Rumah, 20 Mei 2020
27 Ramadhan 1441 H

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramadhan Day 22 : Ke Kota

Tidak ada yang bisa duduk tenang. Hujan deras menghimpun cemas di pintu stasiun. Kereta seharusnya datang 5 menit yang lalu. Terkadang, satu menit menunggu terasa lebih merugikan daripada seumur hidup berlalu sia-sia. Seorang pemuda menyalami seorang bapak yang kupikir adalah orangtuanya. Sang bapak melambaikan tangan. Bersedih. Senyum getirnya memunculkan keriput. Si pemuda membalas dengan lambaian yang sama. Tetapi sumringah. Senyum bahagianya memunculkan rona merah. Seolah ia sedang berpura-pura lupa bahwa pria berkeriput itu telah menua. Begitu pun mimpi-mimpi yang menunggunya di kota. Demikian pikirnya, barangkali. Berjarak satu sama lain bukanlah pilihan sulit bagi sebagian orang. Jauh dan dekat hanya soal hitungan kilometer. Berbagai moda melipat jarak bagai kertas. Tetapi seringkali, jarak tidak bekerja seperti itu. Ia mengganti peta dalam pikiranmu dengan ilusi. Jauh dekat bukan lagi dihitung melalui kilometer. Meski ia disampingmu, tapi seringkali ia terasa jauh. Sejauh ...

Ramadhan Day 25 : Tantangan Itu Biasa, Menyelesaikannya itu Istimewa

FIK UI 2015 wisuda. dokumentasi pribadi Pernah tidak dalam hidupmu kamu membuat keputusan yang menurutmu paling menantang ? Aku pernah yaitu saat memutuskan aku mengikuti profesi ners. Bagiku itu adalah keputusan besar yang membentuk diriku di hari ini. Setahun yang lalu, di saat yang sama aku sedang sibuk merevisi proposal skripsiku dan merayu dosen pembimbing agar aku bisa sidang akhir Mei. Singkat cerita aku bisa sidang di akhir Mei. Aku merasa aku menang. Aku berhasil melewati salah 1 fase terberatku, yaitu skripsi. Namun setelah itu muncul pertanyaan baru lagi, what's next ? Bagi mahasiswa keperawatan, wisuda sarjana bukanlah akhir dari masa perkuliahan. Justru ini awal kehidupan yang sesungguhnya. Setelah menimbang berbagai pertimbangan, aku akhirnya memutuskan untuk mengikuti profesi, karena jalan mimpiku yang selanjutnya memang harus dilalui melalui profesi. Iya, aku harus mendapatkan Surat Tanda Registrasi (STR) agar aku dapat bekerja sebagai praktisi. Untuk mend...

Ramadhan Day 19 : tidak berjudul

Aku tidak menjamin bisa seperti mereka. Karena I life with myself.  Tetapi setidaknya aku sedang berproses untuk bertumbuh setiap harinya. Meski hanya 1 mm. Aku juga tidak yakin, pertumbuhanku setiap hari bisa membuatku layak. Tetapi aku yakin, apa yang aku lakukan hari ini tidak ada yang sia-sia. Apa yang aku lakukan hari ini semoga bisa mengubah masa depanku, walaupun hanya sedikit. Sesuatu yang sangat aku khawatirkan. Rumah, 12 Mei 2020 19 Ramadhan 1441 H