| sumber : unsplash.com |
Aku
pernah terjatuh, tepat setelah diajak terbang. Saat itu, aku marah sekali
dengan yang mengajakku terbang dan menjanjikan akan pergi ke negeri sebrang.
Tetapi malah menjatuhkanku di tengah jalan. Ini maksudnya apa ? Lagi ngeprank apa gimana
?
Pada
suatu masa, aku menjadi belajar untuk membangun tembok tinggi, tetapi lagi-lagi
berhasil dirobohkan oleh diriku sendiri. Aku terlalu memanjakan diriku sendiri.
Terlalu mengikuti kata kepala bukan kata hati. Sudah tahu nanti akan dijatuhkan
lagi tetapi malah mau-maunya diajak terbang lagi. Dan benar, tidak lama
kemudian, aku kembali dijatuhkan. Kali ini lebih keras dan lebih sakit. Aku
kapok. Aku tidak lagi-lagi mau mudah percaya dengan seseorang. Bagiku orang itu
sama saja. Jahat.
Saat
itu, aku berjanji kepada diriku sendiri, pokoknya tidak mau lagi diajak terbang
kemanapun itu. Meski yang mengajak kelihatannya orang baik sekalipun. Aku berjanji
akan membangun tembok diri tinggi-tinggi. Biarkan. Jika ada yang ingin mengajak
terbang lagi harus merobohkan tembok itu. Baik itu dengan izinku, atau dengan caranya
sendiri.
Saat
itu, aku tidak percaya lagi dengan yang mengaku-ngaku ingin mengajak terbang.
Menjanjikan ini dan itu. Sedangkan dia belum bisa menjanjikan masa depannya
sendiri. Malah menjanji janjikan masa depan untuk orang lain. Anda sedang tidak
lagi hidup di negeri dongeng kan ?
Iya
aku sakit. Ternyata luka yang ada di dalam dan tidak terlihat jauh lebih
berbahaya dibanding luka yang terlihat.
Tetapi
sekarang, saat aku berhasil menyembuhkan semua luka itu dan aku berhasil memaafkan
diri sendiri aku baru sadar aku ternyata sudah lebih bertumbuh. Kali ini aku
harus mengucapkan terima kasih kepada yang telah membuatku bertumbuh. Bukan, ini
bukan sarkasme. Tetapi ini adalah bukti bahwa jatuhku tidak serta merta
membuatku tak berdaya.
Terima
kasih, aku sekarang menjadi paham ternyata dijatuhkan itu tidak enak, sehingga
nanti-nanti aku tidak ingin menjatuhkan orang lain dengan pura-pura mengajaknya
terbang terlebih dahulu. Kalau tidak ingin serius mengajaknya terbang sampai di
negeri sebrang, jangan menjanji-janjikan.
Terima
kasih, aku sekarang menjadi paham ternyata yang terlihat baik belum tentu baik.
Aku menjadi lebih berhati-hati dengan orang. Aku menjadi lebih hati-hati dalam
mempercayai orang. Dan aku sadar, bahwa orang rumah adalah satu-satunya yang
dapat dipercaya secara utuh. Setidaknya untuk saat ini.
Terima
kasih, aku menjadi semakin kaya pengalaman emosi. Pembelajaran semacam ini
tidak bisa hanya didapat melalui teori. Harus merasakan langsung. Hal ini
penting agar nanti tidak mengulangi kesalahan yang sama. Atau saat nanti sudah
menjadi orangtua dan kita ditanya oleh anak kita, kita mengerti langkah apa
yang harus diambil agar mereka tidak terjebak di lubang yang sama.. Agar mereka
belajar dari pengalaman orangtuanya.
Terima
kasih, aku mungkin kehilangan. Iya, kehilangan. Tetapi aku menemukan. Aku menemukan
kembali Zat Yang Maha Kekal. Yang tidak akan pernah meninggalkanku, yang tidak
akan pernah berbohong dengan janjiNya. Yang tidak akan mengecewakan hambaNya.
Terima
kasih, atas pembelajaran berharganya.
Rumusnya : yang diingat itu pembelajarannya saja. Titik.
Rumah,
7 Mei 2020
14
Ramadhan 1441 H

Komentar
Posting Komentar