Langsung ke konten utama

Ramadhan Day 14 : Jatuh

selective focus photography of orange and brown falling maple leaves
sumber : unsplash.com

Aku pernah terjatuh, tepat setelah diajak terbang. Saat itu, aku marah sekali dengan yang mengajakku terbang dan menjanjikan akan pergi ke negeri sebrang. Tetapi malah menjatuhkanku di tengah  jalan. Ini maksudnya apa ? Lagi ngeprank apa gimana ?
Pada suatu masa, aku menjadi belajar untuk membangun tembok tinggi, tetapi lagi-lagi berhasil dirobohkan oleh diriku sendiri. Aku terlalu memanjakan diriku sendiri. Terlalu mengikuti kata kepala bukan kata hati. Sudah tahu nanti akan dijatuhkan lagi tetapi malah mau-maunya diajak terbang lagi. Dan benar, tidak lama kemudian, aku kembali dijatuhkan. Kali ini lebih keras dan lebih sakit. Aku kapok. Aku tidak lagi-lagi mau mudah percaya dengan seseorang. Bagiku orang itu sama saja. Jahat.
Saat itu, aku berjanji kepada diriku sendiri, pokoknya tidak mau lagi diajak terbang kemanapun itu. Meski yang mengajak kelihatannya orang baik sekalipun. Aku berjanji akan membangun tembok diri tinggi-tinggi. Biarkan. Jika ada yang ingin mengajak terbang lagi harus merobohkan tembok itu. Baik itu dengan izinku, atau dengan caranya sendiri.
Saat itu, aku tidak percaya lagi dengan yang mengaku-ngaku ingin mengajak terbang. Menjanjikan ini dan itu. Sedangkan dia belum bisa menjanjikan masa depannya sendiri. Malah menjanji janjikan masa depan untuk orang lain. Anda sedang tidak lagi hidup di negeri dongeng kan ?
Iya aku sakit. Ternyata luka yang ada di dalam dan tidak terlihat jauh lebih berbahaya dibanding luka yang terlihat.
Tetapi sekarang, saat aku berhasil menyembuhkan semua luka itu dan aku berhasil memaafkan diri sendiri aku baru sadar aku ternyata sudah lebih bertumbuh. Kali ini aku harus mengucapkan terima kasih kepada yang telah membuatku bertumbuh. Bukan, ini bukan sarkasme. Tetapi ini adalah bukti bahwa jatuhku tidak serta merta membuatku tak berdaya.
Terima kasih, aku sekarang menjadi paham ternyata dijatuhkan itu tidak enak, sehingga nanti-nanti aku tidak ingin menjatuhkan orang lain dengan pura-pura mengajaknya terbang terlebih dahulu. Kalau tidak ingin serius mengajaknya terbang sampai di negeri sebrang, jangan menjanji-janjikan.
Terima kasih, aku sekarang menjadi paham ternyata yang terlihat baik belum tentu baik. Aku menjadi lebih berhati-hati dengan orang. Aku menjadi lebih hati-hati dalam mempercayai orang. Dan aku sadar, bahwa orang rumah adalah satu-satunya yang dapat dipercaya secara utuh. Setidaknya untuk saat ini.
Terima kasih, aku menjadi semakin kaya pengalaman emosi. Pembelajaran semacam ini tidak bisa hanya didapat melalui teori. Harus merasakan langsung. Hal ini penting agar nanti tidak mengulangi kesalahan yang sama. Atau saat nanti sudah menjadi orangtua dan kita ditanya oleh anak kita, kita mengerti langkah apa yang harus diambil agar mereka tidak terjebak di lubang yang sama.. Agar mereka belajar dari pengalaman orangtuanya.
Terima kasih, aku mungkin kehilangan. Iya, kehilangan. Tetapi aku menemukan. Aku menemukan kembali Zat Yang Maha Kekal. Yang tidak akan pernah meninggalkanku, yang tidak akan pernah berbohong dengan janjiNya. Yang tidak akan mengecewakan hambaNya.
Terima kasih, atas pembelajaran berharganya.
Rumusnya : yang diingat itu pembelajarannya saja. Titik.

Rumah, 7 Mei 2020
14 Ramadhan 1441 H


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramadhan Day 22 : Ke Kota

Tidak ada yang bisa duduk tenang. Hujan deras menghimpun cemas di pintu stasiun. Kereta seharusnya datang 5 menit yang lalu. Terkadang, satu menit menunggu terasa lebih merugikan daripada seumur hidup berlalu sia-sia. Seorang pemuda menyalami seorang bapak yang kupikir adalah orangtuanya. Sang bapak melambaikan tangan. Bersedih. Senyum getirnya memunculkan keriput. Si pemuda membalas dengan lambaian yang sama. Tetapi sumringah. Senyum bahagianya memunculkan rona merah. Seolah ia sedang berpura-pura lupa bahwa pria berkeriput itu telah menua. Begitu pun mimpi-mimpi yang menunggunya di kota. Demikian pikirnya, barangkali. Berjarak satu sama lain bukanlah pilihan sulit bagi sebagian orang. Jauh dan dekat hanya soal hitungan kilometer. Berbagai moda melipat jarak bagai kertas. Tetapi seringkali, jarak tidak bekerja seperti itu. Ia mengganti peta dalam pikiranmu dengan ilusi. Jauh dekat bukan lagi dihitung melalui kilometer. Meski ia disampingmu, tapi seringkali ia terasa jauh. Sejauh ...

Ramadhan Day 25 : Tantangan Itu Biasa, Menyelesaikannya itu Istimewa

FIK UI 2015 wisuda. dokumentasi pribadi Pernah tidak dalam hidupmu kamu membuat keputusan yang menurutmu paling menantang ? Aku pernah yaitu saat memutuskan aku mengikuti profesi ners. Bagiku itu adalah keputusan besar yang membentuk diriku di hari ini. Setahun yang lalu, di saat yang sama aku sedang sibuk merevisi proposal skripsiku dan merayu dosen pembimbing agar aku bisa sidang akhir Mei. Singkat cerita aku bisa sidang di akhir Mei. Aku merasa aku menang. Aku berhasil melewati salah 1 fase terberatku, yaitu skripsi. Namun setelah itu muncul pertanyaan baru lagi, what's next ? Bagi mahasiswa keperawatan, wisuda sarjana bukanlah akhir dari masa perkuliahan. Justru ini awal kehidupan yang sesungguhnya. Setelah menimbang berbagai pertimbangan, aku akhirnya memutuskan untuk mengikuti profesi, karena jalan mimpiku yang selanjutnya memang harus dilalui melalui profesi. Iya, aku harus mendapatkan Surat Tanda Registrasi (STR) agar aku dapat bekerja sebagai praktisi. Untuk mend...

Ramadhan Day 19 : tidak berjudul

Aku tidak menjamin bisa seperti mereka. Karena I life with myself.  Tetapi setidaknya aku sedang berproses untuk bertumbuh setiap harinya. Meski hanya 1 mm. Aku juga tidak yakin, pertumbuhanku setiap hari bisa membuatku layak. Tetapi aku yakin, apa yang aku lakukan hari ini tidak ada yang sia-sia. Apa yang aku lakukan hari ini semoga bisa mengubah masa depanku, walaupun hanya sedikit. Sesuatu yang sangat aku khawatirkan. Rumah, 12 Mei 2020 19 Ramadhan 1441 H