Langsung ke konten utama

Ramadhan Day 17 : Batas

person holding white printer paper
sumber : unsplash.com
Apa kabar selama 2 bulan ini #dirumahaja ? Kamu jangan tanyakan kabarku, aku baik-baik saja. Walaupun tidak baik-baik saja. Aku mendengar berita bahwa masa 2 bulan ini sudah sangat berdampak pada kehidupan manusia ya. Banyak sekali pekerja yang di rumahkan, sekolah diliburkan, aktivitas dibatasi, para napi dibebaskan, dan berujung pada melonjaknya kasus kriminalitas seperti pencurian. Manusia sudah cukup kelimpungan menghadapi ini, sehingga apapun dilakukan asalkan tetap bisa makan (?). Berbagai kebijakan pemerintah telah diberlakukan. Salah satunya adalah pembatasan sosial berskala besar. Pasti banyak yang tidak tahan ya dengan kebijakan tersebut yang amat sangat membatasi pergerakan. Tetapi, menurutku itu cukup efektif untuk menekan penyebaran. Bersabarlah sedikit untuk hasil yang lebih baik, daripada tidak sabar tetapi justru nanti akan lebih buruk dampaknya.
Di masa ini memang sebuah ujian bagi manusia, ujian untuk menekan ego masing-masing. Sebuah ujian untuk membuat batas antara keinginan dan juga kepedulian. Setiap manusia pasti memiliki keinginan. Banyak yang sudah mulai lelah, jenuh, stres, ingin pulang, ingin jalan-jalan, dan sebagainya. Di masa ini adalah ajang belajar untuk latihan kontrol diri. Latihan untuk tidak menuruti hal-hal yang sekiranya akan memperburuk keadaaan. Karena apapun yang dilakukan oleh kita di masa ini akan berdampak pada orang lain.
Tetapi di sisi lain aku melihat manusia saling bergotong royong membantu saudaranya. Aku melihat kebersamaan yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Aku melihat jiwa manusia kembali hidup. Manusia yang saling memanusiakan manusia. Pemandangan seperti itu ternyata indah ya. 

Jadi, untuk kali ini saja, bisakah untuk tidak egois lalu mencoba untuk memikirkan orang lain ?

Sedang tidak mood menulis panjang.
Rumah, 10 Mei 2020
17 Ramadhan 1441 H

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramadhan Day 22 : Ke Kota

Tidak ada yang bisa duduk tenang. Hujan deras menghimpun cemas di pintu stasiun. Kereta seharusnya datang 5 menit yang lalu. Terkadang, satu menit menunggu terasa lebih merugikan daripada seumur hidup berlalu sia-sia. Seorang pemuda menyalami seorang bapak yang kupikir adalah orangtuanya. Sang bapak melambaikan tangan. Bersedih. Senyum getirnya memunculkan keriput. Si pemuda membalas dengan lambaian yang sama. Tetapi sumringah. Senyum bahagianya memunculkan rona merah. Seolah ia sedang berpura-pura lupa bahwa pria berkeriput itu telah menua. Begitu pun mimpi-mimpi yang menunggunya di kota. Demikian pikirnya, barangkali. Berjarak satu sama lain bukanlah pilihan sulit bagi sebagian orang. Jauh dan dekat hanya soal hitungan kilometer. Berbagai moda melipat jarak bagai kertas. Tetapi seringkali, jarak tidak bekerja seperti itu. Ia mengganti peta dalam pikiranmu dengan ilusi. Jauh dekat bukan lagi dihitung melalui kilometer. Meski ia disampingmu, tapi seringkali ia terasa jauh. Sejauh ...

Ramadhan Day 25 : Tantangan Itu Biasa, Menyelesaikannya itu Istimewa

FIK UI 2015 wisuda. dokumentasi pribadi Pernah tidak dalam hidupmu kamu membuat keputusan yang menurutmu paling menantang ? Aku pernah yaitu saat memutuskan aku mengikuti profesi ners. Bagiku itu adalah keputusan besar yang membentuk diriku di hari ini. Setahun yang lalu, di saat yang sama aku sedang sibuk merevisi proposal skripsiku dan merayu dosen pembimbing agar aku bisa sidang akhir Mei. Singkat cerita aku bisa sidang di akhir Mei. Aku merasa aku menang. Aku berhasil melewati salah 1 fase terberatku, yaitu skripsi. Namun setelah itu muncul pertanyaan baru lagi, what's next ? Bagi mahasiswa keperawatan, wisuda sarjana bukanlah akhir dari masa perkuliahan. Justru ini awal kehidupan yang sesungguhnya. Setelah menimbang berbagai pertimbangan, aku akhirnya memutuskan untuk mengikuti profesi, karena jalan mimpiku yang selanjutnya memang harus dilalui melalui profesi. Iya, aku harus mendapatkan Surat Tanda Registrasi (STR) agar aku dapat bekerja sebagai praktisi. Untuk mend...

Ramadhan Day 19 : tidak berjudul

Aku tidak menjamin bisa seperti mereka. Karena I life with myself.  Tetapi setidaknya aku sedang berproses untuk bertumbuh setiap harinya. Meski hanya 1 mm. Aku juga tidak yakin, pertumbuhanku setiap hari bisa membuatku layak. Tetapi aku yakin, apa yang aku lakukan hari ini tidak ada yang sia-sia. Apa yang aku lakukan hari ini semoga bisa mengubah masa depanku, walaupun hanya sedikit. Sesuatu yang sangat aku khawatirkan. Rumah, 12 Mei 2020 19 Ramadhan 1441 H