Langsung ke konten utama

Postingan

Semoga, apa yang kita perjuangkan membuat kita semakin berserah, bukan semakin memaksakan kehendak. Semoga, apa yang kita langitkan membuat kita semakin ikhlas. Apapun hasil dari perjuangan ini, membuat kita merasa menang. Kita menang, karena kita telah berjuang, kita berusaha sebaik mungkin tapi tetap pasrah dengan segala kemungkinan. Kita menang, karena kita tetap percaya pada rukun iman yang ke-6. 

Kemungkinan

Jika terus menerus mencari yang sempurna, mungkin sampai nantipun tidak akan menemukan. Pun, jika terus menerus mencari yang sesuai kriteria A, B,C, D, E, dsb, juga tidak pernah ditemukan dalam satu orang. Pada akhirnya, Hanya mendapatkan kecewa karena ekspektasi tidak sesuai dengan realita.  Menunggu, sesuatu yang membosankan bagi sebagian orang. Namun mungkin juga menyenangkan jika dilakukan dengan berjuang. Seperti mengisi hari hari dengan melakukan kegiatan yang positif : bekerja, membaca buku, juga sembari menikmati hidup. Walaupun mungkin terasa menjenuhkan tapi, perempuan ahlinya menunggu. Dia akan terus menerus menunggu, meski ternyata di halte yang salah. Semoga, yang ragu segera diberikan rasa percaya. Semoga yang merasa tidak mampu, diberikan kemampuan. Semoga yang berniat baik segera diberikan jalan. Dan semoga yang disemogakan menjadi kenyataan. Juga tak lupa, menyiapkan ruang di dalam hati untuk berbagai kemungkinan. "Sampai saya harus mendefinisikan ulang 'kamu...
 Beberapa sesuatu memang harus diikhlaskan. Atau diberi jarak. Beberapa sesuatu juga memang tidak layak disimpan. Atau bahkan sekedar dikenang. Simpan yang perlu saja. Tinggalkan yang tidak perlu. Agar langkah kaki kita lebih ringan dalam melangkah.
 Pada akhirnya pun, keputusan yang kita buat akan ditanggung konsekuensinya oleh diri kita sendiri. Bukan orang lain. Orang lain bukan kita dan kita bukan orang lain. Pada akhirnya pun, kita akan berjalan di jalannya masing masing. Jalan yang entah akan bersinggungan kembali ataupun tidak.  Tapi ada satu kelegaan luar biasa, aku telah menyelamatkan diriku sendiri dari ekspektasi dan dari hal yang tidak ingin aku jalani. Rasanya mau bilang, "Boleh ga istirahat dulu? Sejenak?" Bukan untuk menyerah. Bukan karena lemah. Tapi karena mau memastikan, langkah kakiku tak salah jalan lagi. Boleh kan ?
 Rindu suasana rumah, masakan rumah, masak di rumah, nurul, mba pipin, rinda, indri, dan kondisi saat itu. Rindu semuanya. Dan juga....... Ah sudahlah kalau yang terakhir.

let it Go

Tetap saja. Ada luka luka disudut hati. Yang entah kapan bisa disembuhkan. Selain dengan ikhlas. Menduga duga prasangka memang tidak nyaman. Tetapi ternyata kejelasan juga malah menambah luka yang entah apa obatnya. "Selamat ya, sudah menemukan perempuan yang se visi denganmu. Perempuan yang bisa mendukung mimpi mimpimu."  Kamu mengucapkan itu dengan tulus disertai senyum Tetap saja. Kamu tidak bisa membohongi dirimu sendiri. Kamu ingin pergi, sejauh mungkin. Tapi di saat yang sama langkahmu terhenti hanya karena kamu tidak sanggup meninggalkan hal yang sudah jelas jelas harus kamu tinggalkan. Tetap saja. Rasa sakit ini seperti tidak ada obat. Dan, kamu hanya diam di tempat. Membiarkan lukamu yang semakin menganga. Sakit sekali ya, rasanya. Tapi sudah diputuskan, detik ini juga, mari move up!
 Mendung belum tentu hujan. Tapi matahari akan tetap bersinar. Rembulan juga akan tetap ada meski terkadang tidak terlihat. Terkadang, kita terlalu memaksakan diri untuk sesuatu yang belum jelas kepastiannya.  Kalau kata seorang teman, "kamu cuma butuh percaya des sama doa doamu. berharap pada Allah saja. Aku dulu berpikir memperjelas sesuatu agar clear, mau hitam atau putih. Tetapi sesuatu yang jelas itu tidak semuanya baik jika tidak di waktu yang tepat. Semua ini hanya soal waktu kan. Dan kamu udah tau jawabannya apa yang harus kamu lakukan." Lagi lagi, aku hanya bisa memeluk diriku sendiri sambil sesenggukan di kamar.