Langsung ke konten utama

Nurse Is My Life



Berbicara tentang mimpi,harapan dan masa depan adalah sesuatu yang tidak bisa ditebak.  Tidak ada seorang pun yang tahu. Semua adalah rahasia Sang Kuasa. Sebagai manusia,kita hanya bisa berusaha mencari jalan. Keputusan akhir tetap berada di tangan Tuhan. Perkenalkan saya Destin Kurniawati. Saya berasal dari SMAN 1 Gombong,Kebumen. Selama ini mungkin kehidupan saya biasa-biasa saja,tidak ada yang mencuat dan lebih sering bertemu dengan kegagalan. Walaupun begitu,saya mempunyai sebuah mimpi. Setelah lulus SMA nanti saya ingin berkuliah yang prodinya berhubungan dengan kesehatan. Dan saya memilih UI sebagai dermaga saya menimba ilmu nanti.
Saya memilih ilmu kesehatan karena menurut saya kesehatan adalah bagian yang penting dalam kehidupan manusia. Saya lebih memilih keperawatan karena nantinya ilmunya akan bermanfaat untuk orang banyak dan tentunya sesuai dengan kapasitas otak saya. Selain dari diri saya sendiri, orangtua saya juga menyarankan saya untuk masuk ilmu keperawatan saja karena nantinya ilmunya bakal bermanfaat dan kita bisa bekerja sekaligus beribadah menolong orang yang membutuhkan. Sebenarnya orangtua saya membebaskan saya untuk memilih jurusan apa saja ketika kuliah tetapi karena saya juga berminat di bidang ilmu kesehatan,mereka tetap mendukung saya. Intinya orangtua saya hanya ingin yang terbaik untuk anaknya dan menjadikan kuliah sebagai bekal masa depan. Ayah saya pernah mengatakan kalau kuliah bukan saja untuk meninggikan lulusan, tetapi ilmu yang didapatlah yang akan bermanfaat. Karena di sini tidak hanya belajar disiplin ilmu keperawatan saja,tetapi juga belajar kepemimpinan dari pengalaman organisasi, UKM,kepanitiaan, pengabdian masyarakat, konference atau kegiatan lainnya. Dan mungkin masih banyak lagi bekal yang akan saya dapatkan di FIK ini. Waktu itu juga ada kakak kelas saya yang diterima di FIK UI melalui jalur SNMPTN. Saat itu yang ada di pikiran saya adalah “wow,hebat sekali”. Setelah itu,saya semakin penasaran dengan UI yang kata orang-orang adalah salah satu universitas terbaik di Indonesia. Yang terkenal dengan jaket kuning sebagai almamater kebanggaannya. Saya langsung mencari tahu informasi tentang UI dari internet dan kakak senior. Saya mendapat banyak inspirasi dan semangat baru dari mereka. Saya membayangkan betapa bahagianya orangtua saya jika anaknya bisa menjadi bagian dari universitas terbaik di negeri ini.
Waktu kelas XI, saya sempat menghadiri UI Opendays di perpusat UI. Saya datang jauh-jauh dari Kebumen hanya karena ingin mencari informasi lebih lanjut tentang FIK. Saya langsung ke stand FIK dan disitu saya dijelaskan bermacam-macam tentang keperawatan oleh kakak senior. Setelah itu,saya semakin mantap memilih FIK. Walaupun terkadang jika ditanya sama orang-orang “mau masuk mana ?” saya menjawab “keperawatan UI” . Pendapat mereka bermacam-macam. Ada yang mengatakan “kenapa tidak dokter saja ? perawat itu tanggung” ada juga yang mengatakan “mau jadi perawat saja kok jauh-jauh ke UI” dan ada juga yang mengatakan “Apapun mimpimu perjuangkan dan capailah”. Omongan orang memang bermacam-macam. Tetapi saya sudah menanamkan UI dalam hati lebih dulu. Saya tidak ingin terpengaruh dengan mereka. Saya sudah berniat sejak awal. Walaupun mimpi ini oleh sebagian orang dianggap mustahil karena saya memang orang yang biasa saja. Tetapi entah kenapa,dalam hati saya selalu yakin kalau saya mampu bisa menjadi bagian dari keluarga besar UI. Karena konsekuensi memilih tidak hanya untuk hal-hal yang menyenangkan saja, tetapi juga dalam badai ombak sekalipun harus tetap bertahan. Perjuangan pun tak seperti biasanya. Membutuhkan effort yang lebih.  Saatnya melakukan pergerakan yang lebih terbuka. Tanganku sudah begitu gatal ingin cepat-cepat menghantam. Kakiku sudah tak sabar ingin cepat-cepat berlari. Saya ingin melihat dunia yang lebih luas dari apa yang ada di dalam pikiran saya selama ini. Kali ini saya ingin membuktikan kalau saya layak bergabung dengan mereka putra putri terbaik bangsa.
            Jalan tak semudah yang dibayangkan. Tapi justru inilah yang membuat saya semakin gencar mengejar mimpi saya untuk bisa masuk keperawatan UI. Saya tidak pernah melihat seberapa besar gaji yang akan saya dapat nanti ketika bekerja. Menjadi perawat adalah bekerja untuk masyarakat. Tidak hanya menolong mereka saja yang mempunyai uang,tetapi juga mereka yang membutuhkan. Kesehatan adalah aset penting dalam kehidupan manusia. Setiap orang berhak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Apalagi sekarang banyak sekali mucul penyakit baru akibat makanan yang tidak sehat. Seperti pemakaian formalin, boraks dan bahan-bahan kimia lain yang tidak wajar dicampurkan pada makanan. Sehingga semakin bertambah tahun semakin banyak penyakit yang muncul. Saya cukup prihatin mendengar berita tersebut.
            Tentang asuransi jaminan kesehatan pun masih saja ada pembedaan fasilitas dengan orang yang membayar. Saya tidak tahu bagaimana hal tersebut bisa terjadi. Saya hanya ingin masyarakat Indonesia memiliki hak yang sama dalam masalah kesehatan. Terutama untuk masyarakat ekonomi kelas menengah ke bawah. Bermodalkan niat tersebut dan doa restu dari orangtua dan orang-orang terdekat saya,akhirnya saya bisa berada di sini bersama para pemimpi lainnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramadhan Day 22 : Ke Kota

Tidak ada yang bisa duduk tenang. Hujan deras menghimpun cemas di pintu stasiun. Kereta seharusnya datang 5 menit yang lalu. Terkadang, satu menit menunggu terasa lebih merugikan daripada seumur hidup berlalu sia-sia. Seorang pemuda menyalami seorang bapak yang kupikir adalah orangtuanya. Sang bapak melambaikan tangan. Bersedih. Senyum getirnya memunculkan keriput. Si pemuda membalas dengan lambaian yang sama. Tetapi sumringah. Senyum bahagianya memunculkan rona merah. Seolah ia sedang berpura-pura lupa bahwa pria berkeriput itu telah menua. Begitu pun mimpi-mimpi yang menunggunya di kota. Demikian pikirnya, barangkali. Berjarak satu sama lain bukanlah pilihan sulit bagi sebagian orang. Jauh dan dekat hanya soal hitungan kilometer. Berbagai moda melipat jarak bagai kertas. Tetapi seringkali, jarak tidak bekerja seperti itu. Ia mengganti peta dalam pikiranmu dengan ilusi. Jauh dekat bukan lagi dihitung melalui kilometer. Meski ia disampingmu, tapi seringkali ia terasa jauh. Sejauh ...

Ramadhan Day 25 : Tantangan Itu Biasa, Menyelesaikannya itu Istimewa

FIK UI 2015 wisuda. dokumentasi pribadi Pernah tidak dalam hidupmu kamu membuat keputusan yang menurutmu paling menantang ? Aku pernah yaitu saat memutuskan aku mengikuti profesi ners. Bagiku itu adalah keputusan besar yang membentuk diriku di hari ini. Setahun yang lalu, di saat yang sama aku sedang sibuk merevisi proposal skripsiku dan merayu dosen pembimbing agar aku bisa sidang akhir Mei. Singkat cerita aku bisa sidang di akhir Mei. Aku merasa aku menang. Aku berhasil melewati salah 1 fase terberatku, yaitu skripsi. Namun setelah itu muncul pertanyaan baru lagi, what's next ? Bagi mahasiswa keperawatan, wisuda sarjana bukanlah akhir dari masa perkuliahan. Justru ini awal kehidupan yang sesungguhnya. Setelah menimbang berbagai pertimbangan, aku akhirnya memutuskan untuk mengikuti profesi, karena jalan mimpiku yang selanjutnya memang harus dilalui melalui profesi. Iya, aku harus mendapatkan Surat Tanda Registrasi (STR) agar aku dapat bekerja sebagai praktisi. Untuk mend...

Ramadhan Day 19 : tidak berjudul

Aku tidak menjamin bisa seperti mereka. Karena I life with myself.  Tetapi setidaknya aku sedang berproses untuk bertumbuh setiap harinya. Meski hanya 1 mm. Aku juga tidak yakin, pertumbuhanku setiap hari bisa membuatku layak. Tetapi aku yakin, apa yang aku lakukan hari ini tidak ada yang sia-sia. Apa yang aku lakukan hari ini semoga bisa mengubah masa depanku, walaupun hanya sedikit. Sesuatu yang sangat aku khawatirkan. Rumah, 12 Mei 2020 19 Ramadhan 1441 H