Memasuki semester baru seperti memasuki dimensi
waktu yang baru. Dimana banyak hal yang hrus dikerjakan namun waktu
yang tersedia masih sama seperti yang sebelum-sebelumnya. Masih 24 jam
sehari. Awal-awal memang keteteran, sering merasa waktu yang disediakan
itu sangat kurang. oke, setelah ditelusuri, ternyata ada 1 hal
mengapa saya beranggapan seperti itu, yaitu "lalai".
Terkadang,
kebanyakan dari kita sering menunda-nunda pekerjaan yang seharusnya bisa
dikerjaan sekarang. Berbagai alasan klasik muncul "Ah, deadlinennya
masih lama ikih, ah masih mager nih gue, cape nugas mulu, sumbernya
belum ketemu2, dll". Itulah sebab dimana kita terus merasa kekurangan
waktu. Ternyata kita sendiri yang menyia-nyiakannya. Padahal, kita
seharusnya masih bisa memanfaatkan waktu itu untuk mengerjakan hal yang
lain lagi. Lalu kalau sudah begitu, ujung-ujungnya "sesal tak
berkesudahan". Bahkan Kita pun terkadang menyalahkan "tidur" kita.
Padahal semua ada proporsinya masing-masing. Dan karena hal itu pula
kita terkadang terlenakan oleh hal-hal yang sifatnya keduniaan saja.
Kita menjadi menunda nunda sholat, ga sempet membaca al quran, gak bisa
bangun tahajud, dll. Padahal Allah memberikan waktu 24 jam sehari itu
udah lebih dari cukup untuk melakukan segala hal yang ingin kita
kerjakan. Dia sudah mempertimbangkan itu semua kenapa Dia memberikan
waktu 24 jam. So, kenapa terus mengeluh ?
Ini nasihat untuk diri saya sendiri, dimana saya pun masih terkadang bahkan sering lalai terhadap waktu.
So, manfaatkan waktu dengan baik sebelum dikecewakan oleh waktu.
Waktu lebih berharga daripada uang. Uang ilang bisa dicari, tapi kalau waktu mau nyari dimana ?
.
.
"Menyia-nyiakan
waktu itu lebih parah dari kematian. Karena menyia-nyiakan waktu
memutuskan dari (mengingat) Allah dan negeri akhirat. Sedangkan kematian
hanya memutuskan dari dunia dan penghuninya" - Ibnu Qayyim
Refleksi diri di tengah banyaknya tugas dan kewajiban.
Depok, 26 Februari 2017
Komentar
Posting Komentar