Langsung ke konten utama

Kehidupan di Luar Sana

Di luar sana, ternyata banyak orang yang selalu memperbaiki dirinya
Menyibukkan dirinya dengan kebaikan.
Di luar sana, ternyata banyak orang yang begitu gigih menjaga dirinya
Ia menyimpan begitu rapat segala perasaanya hingga waktu yang tepat.
Ia tidak ingin mengkhianati Sang Maha Cinta.
Di luar sana, ternyata begitu banyak orang yang berusaha membawa dirinya bermanfaat.
Dengan kontribusi, dengan membangun start up, pun dengan sesederhana memberikan makanan kepada anak jalanan.
Namun, di luar sana pun masih banyak orang yang menyibukkan dirinya dengan ketidakbaikan.
Memakan uang rakyat, mencuri, pun sampai sesederhana bertindak tidak jujur seperti menyontek.
Di luar sana, masih banyak orang yang begitu mudah mengumbar perasaanya. Ingin memiliki, namun belum bisa bertanggung jawab ataas perasaanya sendiri.
Hingga banyak orang di luar sana yang mengalami galau kronis akibat perbuatannya sendiri.
Di luar sana, banyak orang yang ingin memberikan kebermanfaatan namun mereka tak punya daya. Untuk bisa makan di hari itu pun mereka sudah bahagia.
Baginya, bermanfaat bagi orang lain adalah dengan menghiburnya dengan lagu yang mereka nyanyikan.
Begitulah, kehidupan di luar sana.
Bersyukurlah, jika sampai hari ini masih diberi lingkungan yang baik. Lingkungan yang tak semua orang bisa mendapatkannya.
Bersyukurlah, jika sampai hari ini masih bisa hidup nyaman karena di sana banyak orang yang berusaha  mati matian untuk bisa merasakan hal ini.
Bersyukurlah, jika sampai hari ini masih dijaga perasaanya. Karena kelak pada waktunya, akan ada orang yang baik yang akan berikrar sehidup semati untuk menjagmu.
Bersyukurlah, karena ternyata dibalik keluhan kita, masih banyak hal-hal yang lupa kita syukuri.

Depok, 11 April 2018

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramadhan Day 22 : Ke Kota

Tidak ada yang bisa duduk tenang. Hujan deras menghimpun cemas di pintu stasiun. Kereta seharusnya datang 5 menit yang lalu. Terkadang, satu menit menunggu terasa lebih merugikan daripada seumur hidup berlalu sia-sia. Seorang pemuda menyalami seorang bapak yang kupikir adalah orangtuanya. Sang bapak melambaikan tangan. Bersedih. Senyum getirnya memunculkan keriput. Si pemuda membalas dengan lambaian yang sama. Tetapi sumringah. Senyum bahagianya memunculkan rona merah. Seolah ia sedang berpura-pura lupa bahwa pria berkeriput itu telah menua. Begitu pun mimpi-mimpi yang menunggunya di kota. Demikian pikirnya, barangkali. Berjarak satu sama lain bukanlah pilihan sulit bagi sebagian orang. Jauh dan dekat hanya soal hitungan kilometer. Berbagai moda melipat jarak bagai kertas. Tetapi seringkali, jarak tidak bekerja seperti itu. Ia mengganti peta dalam pikiranmu dengan ilusi. Jauh dekat bukan lagi dihitung melalui kilometer. Meski ia disampingmu, tapi seringkali ia terasa jauh. Sejauh ...

Ramadhan Day 25 : Tantangan Itu Biasa, Menyelesaikannya itu Istimewa

FIK UI 2015 wisuda. dokumentasi pribadi Pernah tidak dalam hidupmu kamu membuat keputusan yang menurutmu paling menantang ? Aku pernah yaitu saat memutuskan aku mengikuti profesi ners. Bagiku itu adalah keputusan besar yang membentuk diriku di hari ini. Setahun yang lalu, di saat yang sama aku sedang sibuk merevisi proposal skripsiku dan merayu dosen pembimbing agar aku bisa sidang akhir Mei. Singkat cerita aku bisa sidang di akhir Mei. Aku merasa aku menang. Aku berhasil melewati salah 1 fase terberatku, yaitu skripsi. Namun setelah itu muncul pertanyaan baru lagi, what's next ? Bagi mahasiswa keperawatan, wisuda sarjana bukanlah akhir dari masa perkuliahan. Justru ini awal kehidupan yang sesungguhnya. Setelah menimbang berbagai pertimbangan, aku akhirnya memutuskan untuk mengikuti profesi, karena jalan mimpiku yang selanjutnya memang harus dilalui melalui profesi. Iya, aku harus mendapatkan Surat Tanda Registrasi (STR) agar aku dapat bekerja sebagai praktisi. Untuk mend...

Ramadhan Day 9 : Dear Me,

sumber : unsplash.com Ada kalanya aku ingin menjadi aku yang masih berumur 10 tahun. Saat itu aku masih kelas 5 SD. Saat segalanya begitu menyenangkan. Saat segalanya begitu sederhana. Saat raga dan jiwa tak perlu saling tentang. Saat mulut dan hati tak perlu saling berpura-pura. Saat aku sedang suka-sukanya membaca buku pelajaran, apalagi buku pelajaran Bahasa Indonesia. Aku suka, karena di sana banyak cerita. Dengan membaca cerita, aku seperti jalan-jalan. Aku senang saat pelajaran IPA, terutama tentang tumbuh-tumbuhan. Saat itu, aku menjadi rajin meminjam buku ensiklopedia di perpus tentang bonsai, tanaman-tanaman yang tumbuh di dunia, dan juga hewan-hewan. Oh ya aku ingat, aku juga penasaran dengan planet-planet dan luar angkasa. Lantas aku meminjam buku ensiklopedia tentang itu. Dari buku itulah aku kenal dengan yang namanya negara-negara luar dan tanaman-tanaman yang tumbuh di sana. Aku juga jadi mengetahui tentang tata surya. Tak hanya itu, aku juga suka dengan pelajaran I...