Semester 8 adalah semester terakhir di perkuliahan kelas S. Yay ! Tapi di semester ini selain mengerjakan tugas akhir yang bernama skripsi, masih melakukan praktikum klinik gerontik atau lansia. Selama 4 hari pertama saya melakukan praktikum klinik di sebuah rumah sakit jiwa di Bogor.
Saya mendapatkan insight baru ketika saya praktik di sana. Walaupun ini bukan kali pertama saya praktik di sana, tetapi ini kali pertama saya praktik ke pasien lansia. Seperti yang kita tahu kebanyakan pasien di RSMM adalah pasien yang memiliki gangguan jiwa. Walaupun seharusnya saya berpraktik dengan kompetensi menangani lansia dengan gangguan fisik. Ya tapi namanya juga calon perawat, harus tetap menangani secara komprehensif hehe.
Insight pertama saya dapatkan ketikan orientasi mata ajar ini. Salah satu fasil kami mengatakan bahwa kami harus siap dengan kondisi di klinik bahwa kebanyakan pasien lansianya memiliki gangguan jiwa yang artinya kami harus belajar lebih ekstra !. Fasil kami juga berkata, “Sekarang biaya sekolah kan semakin mahal ya. Nah manfaatkan kesempatan belajar ini, jangan disia-siakan. Jika menemui kesempatan belajar yang lebih ya ambil saja. Ambil sebanyak-banyaknya ilmu, jangan takut salah.”
Dari perkataan seorang fasil tersebut saya berefleksi bahwa terkadang kita takut untuk menghadapi tantangan yang double atau triple karena merasa kita belum layak. Justru itu harusnya di kesempatan itulah kita belajar. Memang selalu ada pengalam pertama, selama kita belum mencobanya kita malah tidak akan pernah bisa menghadapi tantangan itu.
Insight kedua terjadi saat di RS. Kalau saya amati, rata-rata yang dirawat di sini mereka yang memiliki gangguan jiwa sejak muda. Ada yang ditinggal suaminya ketika kondisi sedang hamil, ada yang bangkrut, ada yang diPHPin suaminya bahwa suaminya akan datang menjemput sehingga orang tersebut selalu menunggu di depan pintu. Hmmm. Jika dipikir-pikir manifestasi klinis yang terjadi pada mereka seperti misalnya berhalusinasi/marah-marah/waham itu karena efek faktor pencetus yang membuat mereka demikian.
Mereka trauma. Mereka jatuh. Mereka tidak tahu caranya kembali.
Pesan moral :
1. Jangan takut jika dihadapkan dengan tantangan yang double atau triple karena dari situ kita bisa belajar banyak. Setiap pengalaman memang harus ada pengalaman pertama yang mungkin bisa kita jadikan pelajaran juga untuk perbaikan diri. Jangan takut salah karena kita lagi belajar.
2. Jangan terlalu terikat dengan masalah dunia seperti cinta, harta, tahta, wanita (?) karena bagaimanapun juga walaupun hal-hal tersebut memang kita butuhkan tetapi semuanya ada porsinya. Tetap isi hati kita dengan Allah dan letakkan urusan-urusan itu ada di tangan. Agar apapun yang mengecewakan nantinya, yang terluka hanya tangan kita bukan hati kita.
3. Tetap jaga kewarasan dengan bersyukur, menerima apapun cobaan dan tetap libatkan Allah dalam semua urusan.
Depok, 4 Maret 2019
Komentar
Posting Komentar