“Skripsi yang baik adalah skripsi yang selesai”-Anies Baswedan
Setelah
menjalani skripsi yang penuh dengan tantangan, ternyata skripsi tidak
semenyeramkan yang ada dalam bayangan atau yang kakak tingkat katakan hehe.
Jadi selow aja bagi kalian yang akan menjalani fase skripsi ini, nda usah mikir
yang aneh-aneh dulu. Jalani aja.
Petualangan
skripsi saya dimulai di penghujung semester 7 saat saya masih menjalani praktik
klinik stase anak. Sekitar bulan Desember awal kami se-angkatan ada orientasi tentang
perskripsian oleh koordinator prodi S1. Skripsi di fakultas saya pada kurikulum
saya (karena mulai tahun 2017 kurikulum berganti) dimulai full di semester 8 sehingga kami hanya mempunyai waktu kurang lebih
6 bulan untuk mengerjakan. Oke, saya mulai dengan proses pemilihan departemen
peminatan skripsi.
Departemen Peminatan
Fakultas
saya memiliki 6 departemen peminatan yaitu departemen dasar keperawatan dan
keperawatan dasar (DKKD), keperawatan medikal bedah (KMB), keperawatan anak, keperawatan
jiwa, keperawatan komunitas, dan keperawatan maternitas. Untuk mengurangi kesenjangan
peminat antara departemen, maka fakultas membuat kuota pada masing-masing
departemen. Untuk memilih departemen tersebut, kami harus berebut via google
form. Menariknya, jika departemen yang kita tuju sudah penuh, secara otomatis
akan terlempar ke departemen yang kuotanya masih ada.
Pemilihan
departemen untuk topik skripsi saya bagi saya penentu masa depan saya. Sehingga
saya kemarin sempat galau mau memilih departemen mana karena semuanya saya suka
(hilih) wkwk. Namun karena saya memiliki rencana untuk studi lanjut S2 yang
nantinya akan lebih mengerucut ke peminatan sebuah departemen, pilihan saya
jatuh ke departemen komunitas. Sebelum menjatuhkan pilihan ke departemen
komunitas, saya sempat terpikirkan untuk mengambil departemen maternitas, namun
setelah bermeditasi dan mendapatkan masukan dari teman ternyata saya lebih cenderung
untuk memilih departemen komunitas (kaya milih jodoh aja wkwk). Saat itu saya merasa
bahwa saya lebih tertarik ke departemen komunitas dimana departemen ini
kiprahnya sangat luas. Intinya saya memiliki rencana setelah saya lulus ners
nanti saya akan lebih banyak berkiprah di departemen ini.
Dosen pembimbing
Setelah
memilih departemen peminatan berserta topik yang diajukan, kami menunggu sekitar
sebulan untuk mendapatkan informasi dosen pembimbing. Mungkin tidak seperti
fakultas lain dimana mahasiswa bisa bebas memilih dosen pembimbingnya, di
fakultas saya dosen pembimbing dibagi oleh prodi. Sehingga kami satu angkatan
benar-benar memulai skripsi di saat yang sama dan benar-benar diatur oleh
fakultas. Sekitar awal Januari setelah baru, kami mendapatkan informasi
pembagian dosen pembimbing. Namun, departemen saya belum dapat sehingga mahasiswa
departemen saya menunggu lagi hingga pertengahan Januari baru keluar nama-nama
dosen pembimbing. Ya, departemen saya mulai mengerjakan skripsi bisa dibilang sudah
tertinggal dari mahasiswa departemen lain.
Saya
mendapatkan dosen pembimbing yang sudah saya kenal. Saya pernah bekerja sama
dengan ibu dosen ini di kepanitiaan Pilmapres FIK UI tahun 2017 menjadi bendahara
sehingg kami sudah saling kenal sebelumnya. Kebetulan lagi, saya satu dosen pembimbing bersama dengan mba
pipin sobiku sehingga kami lebih mudah untuk berkoordinasi.
Apa
yang dilakukan ketika menunggu pembagian dosen pembimbing ?
Dari
skripsi ini saya belajar, bahwa menunggu sesuatu yang pasti datang tidak bisa
hanya dengan diam. Sambil menunggu nama-nama dosen pembimbing keluar, saya mencari
judul skripsi dengan membaca-baca puluhan jurnal nasional maupun internasional.
Saya sampai mencatat ringakasan setiap jurnal di buku catatan saya. Saya
mencatat apa hasil dari penelitian sebelumnya, dilakukan dimana, pakai
instrumen apa, dan apa yang masih kurang dari penelitian tersebut. Berhari-hari
saya melakukan itu sampai pada akhirnya secara tidak sengaja saya membuka
sebuah ebook yang di dalam ebook
tersebut ada materi tentang health
literacy. “Wah ini menarik” batin saya. Setelah saya mencari jurnal tentang
health literacy, penelitian di
Indonesia masih jarang sekali bahkan bisa dihitung menggunakan jari padahal
implikasinya besar terhadap kesehatan seseorang. Sehingga saya memutuskan untuk
mengambil topik ini dan saya kaitkan dengan gaya hidup pada klien dewasa yang
hipertensi. Selain itu, di penelitian ala mahasiswa FIK juga harus mencari
instrumen baku tentang variabel yang kita pilih. Kalau bisa yang sudah pernah
dipakai di Indonesia sehingga tidak perlu translate lagi. Ya, begitulah yang saya lakukan sembari
menunggu nama dosen pembimbing. Petualangan dimulai !
Pra-Sempro
Sekitar
pertengahan bulan Januari, saya berangkat ke Depok untuk bertemu dengan dosen
pembimbing untuk pertama kalinya. Namun, kami harus mengumpulkan dua judul beserta
latar belakangnya. Perasaan saat pertama kali bimbingan adalah deg-degan hehe.
23 Januari 2019 adalah hari pertama kami bimbingan. Dosen pembimbing memberikan
umpan balik tentang judul dan latar belakang yang sudah kami buat. Kami juga
ditanya lebih prefer ke judul yang
mana yang akan dijadikan judul skripsi. Kami mendapatkan banyak sekali masukan tentang
apa saja yang harus ada di latar belakang. Akhirnya, kami pun memperbaiki dan
kembali bimbingan di bulan Februari.
Oh
ya, setelah bertemu dengan dosen pembimbing saya juga membuat timeline pengerjaan skripsi saya. Seperti
kapan harus sempro ,kapan harus ambil data, kapan harus sidang akhir. Saat itu
saya menargetkan bisa sidang akhir pada akhir Mei. Sehingga selama mulai
mengerjakan skripsi ini sebisa mungkin saya bergerak cepat dan tidak
menunda-nunda waktu. Jangan lupa juga selalu selipkan doa “Semoga bisa sidang
akhir pada akhir Mei”
Hasilnya
?
Sempro
Saya
menargetkan untuk melakukan seminar proposal akhir Februari. Sehingga saat itu
saya mengerjakan satu bab satu minggu. Akhir Februari saya sudah selesai
mengerjakan bab 1-4. Namun ternyata banyak sekali masukan yang membangun dari dosen
pembimbing. Sehingga saya memperbaiki lagi. Selagi memperbaiki, saya juga mengurus
surat izin untuk studi pendahuluan di puskesmas yang ternyata harus izin ke
Dinkes Depok dulu yang membuat saya hampir putus asa karena saya merasa
terkejar-kejar oleh waktu. Karena surat izin dari Dinkes cukup lama (sekitar 7
hari kerja yang berarti hampir 2 minggu hari normal) saya juga terkadang
mengatakan ke dosen pembimbing saya. “Bu, surat dari Dinkes belum keluar-keluar,
sedangkan waktunya sudah mepet bagaimana ya bu?”. Ibu dospem saya mengatakan “Coba
kamu ketemu sama PJ PTM di Dinkesnya langsung. Informal dulu saja”. “Kalau
misal harus pakai surat bagaimana ya bu ?”. Ibu dospem saya lagi -lagi mengatakan
“Coba dulu saja, jalani dulu, soal nanti bagaimana urusan nanti. Sambil kamu
latihan melobi orang” Bertemu dengan dospem saya adalah seperti bertemu dengan
jodoh karena karakternya yang sangat berkebalikan dengan saya. Ibu dosen saya
sangat realistis sedangkan saya terlalu idealis dan memikirkan terlalu panjang
hal-hal yang belum terjadi sehingga takut dulu sebelum mencoba. Selain itu, ibu
dospem saya selalu mendukung skripsi saya dan memberikan masukan dengan cara
yang bijak sehingga membuat saya selalu bersemangat mengerjakan hehe.
Saya
mengurus surat izin pada pertengahan Februari ke Dinkes namun setelah saya
follow up beberapa kali ke Dinkes, surat tersebut baru jadi di akhir Fabruari.
Setelah itu saya mengurus ke Kesbangpol Depok. Padahal saya menargetkan bisa
seminar proposal akhir Februari agar saya memiliki banyak waktu untuk mengambil
data. Saya mulai was was karena takut tidak bisa seminar proposal di akhir
Februari. Namun setelah surat dari Kesbangpol keluar, surat tersebut menyatakan
“izin pengambilan data penelitian” dimana surat ini bisa diperpanjang. Hal ini
berarti nanti saya tidak perlu mengurus ke Dinkes lagi, tinggal memperpanjang
saja ke Kesbangpol.
Tanggal
28 Maret 2019 saya melakukan seminar proposal. Hari tersebut adalah batas akhir
seminar proposal di FIK sebelum diperpanjang. Teman-teman saya juga sudah
banyak sekali yang sudah melakukan seminar. Sehingga seringkali saya merasa
sedih dan tertekan kok saya belum seminar-seminar. Sehingga entah kenapa saya tidak terlalu ansietas untuk
melakukan seminar ini, mungkin karena saya sering melihat seminar proposalnya
teman kali ya (?) hehe. Sempro berjalan dengan lancar dan saya mendapat banyak
sekali masukan yang membangun.
Drama Pengambilan Data
Masa-masa
setelah seminar proposal adalah masa masa gabut yang penuh dengan waktu
luang karena sudah tidak ada lagi praktik klinik. Sehingga waktu saya
benar-benar hanya untuk mengerjakan skripsi. Setelah seminar proposal saya
merevisi proposal saya. Setelah itu konsul dengan dospem untuk uji validitas.
Saya sempar pusing tak karuan karena saya mengganti salah satu instrumen saya.
Alhamdulilah ternyata masih nemu instrumen yang sudah pernah dipakai di
Indonesia sehingga tidak perlu translate lagi. Selain itu, saya juga bingung
apakah harus mengambil data di posbindu atau menunggu di puskesmas. Katanya,
banyak klien hipertensi yang ke posbindu daripada ke puskesmas. Sehingga sesuai
dengan saran dosen pembimbing saya saya mengambil di posbindu, sehingga saya
harus mengurus surat izin ke kelurahan juga. Hari itu juga saya bertanya ke
gd.A bagaimana alur perizinan ke kelurahan apakah harus ke dinkes dulu atau
bagaimana. Saya disuruh tanya ke kelurahannya langsung. Eh, sampai di kelurahan
malah saya dihujat habis-habisan wkwk. Kzl juga w, niatan hati tanya baik-baik
bagaimana alurnya agar tidak salah, malah dibilang macem-macem kaya menjelek-jelekan
almamaterlah, dibilang saya bohonglah, apalah itulah. Sehingga daripada menguras
emosi saya, saya memutuskan akan mengambil data di puskesmas saja.
Saya
kembali datang ke Dinkes untuk bertanya apakah saya perlu mengurus surat dari awal
lagi untuk mengmabil data penelitian karena waktu penelitian saya juga sudah
habis. Ternyata saya bisa langsung mengurus ke Kesbangpol yang dimana maksimal
1 jam sudah jadi kalau nda ngantri hehe. Sehingga untuk surat izin penelitian
saya sudah aman, saya sudah bisa memulai mengambil data.
Ketika
surat izin sudah jadi, ada drama lagi di puskesmas. Saya mengambil data di
puskesmas A dan B. Puskesmas A saya gunakan untuk uji validitas dan puskesmas B
untuk pengambilan daa penelitian. Sempat ada permasalahan untuk pengambilan
data di puskesmas A karena dokter PJ PTM nya baru ganti dan sekarang belum
dinas disitu. Sehingga saya melakukan lobi ke bagian adiministrasi puskesmas
juga ke dokter tersebut untuk menitipkan saya ke dokter yang sedang bertugas
disitu saja. Setelah berhari-hari melakukan lobi dan doa-doa yang panjang,
ketika malam hari saya mendapatkan chat dari dokter bahwa saya bisa untuk mengambil
data di puskesmas tersebut dan nanti akan dibantu oleh dokter lain yang sedang
bertugas. Hari itu, hari senin 23 April 2019 adalah hari pertama saya melakukan
pengambilan data.
Ekspektasi
: Sehari bisa dapet 15 responden dan semua responden mengisi sendiri kuesioner
Realita
: Sehari dapet 8-10 responden dan sebagian besar responden matanya sudah tidak
awas karena usia sehingga saya harus membacakan.
Saya
melakukan pengambilan data untuk uji validitas dan reliabilitas selama 3 hari
yaitu hari senin-rabu. Hari kamis saya mengolah data ternyata banyak pernyataan
yang tidak valid. Saya juga sempat khawatir waktu itu karena takut harus ambil
data ulang lagi. Ketika harus ambil data ulang berarti akan semakin memundurkan
timeline saya.
Namun
ketika saya konsultasi dengan dospem di hari jumat, saya tidak perlu mengambil
data ulang lagi. Saya hanya perlu untuk uji keterbacaan dan modifikasi kalimat
yang dibantu oleh dospem saya.
Minggu
berikutnya, di hari senin 29 April 2019 – 10 Mei 2019 adalah tanggal dimana kegiatan
sehari-hari saya hanya ke puskesmas untuk mengambil data. Pengambilan data ini saya lakukan setiap hari senin-sabtu selama 2
minggu. Setiap harinya saya juga dibantu oleh teman-teman saya mulai dari Shedy
sampai Eni hehe. Terima kasih teman-temanku yang sudah membantuku dalam
pengambilan data ini :”). Setiap harinya target saya hanya 10 orang saja. Namun
terkadang ada beberapa hari dimana saya hanya mendapat 9, 7, atau bahkan 6.
Selain karena memang dihari tersebut jarang yang hipertensi, selain itu juga banyak
yang menolak untuk menjadi responden.
Namun,
walaupun mengambil data adalah fase paling menantang, saya tetap bisa
menikmatinya karena saya dan responden bisa saling berbagai cerita. Saya
belajar untuk berkomunikasi, belajar untuk menjadi pendengar yang baik tanpa
menghakimi, dan mengajari tanpa menggurui. Sehingga banyak sekali yang mendoakan
“Semoga dilancarkan ya neng skripsinya. Saya senang karena jadi tambah ilmu”.
Ya ucapan seperti itu sudah membuat saya senang dan mungking berkat doa-doa
mereka juga, pengambilan data saya selesai sesuai dengan target.
Drama Pengolahan data – Sidang Akhir
Hari
sabtu sore, di hari pengambilan data, saya langsung menghubungi teman saya yang
bernama khaula untuk meminta diajari mengolah data menggunakan SPSS. Maklum saya
tidak pernah belajar sebelumnya *LOL wkwkw. Oh ya waktu pengambilan data di puskesmas
itu hanya dari pagi jam 7-12 siang sehingga setelah itu kita punya banyak waktu
luang. Daripada membuang-buang waktu, saya gunakan waktu luang tersebut untuk
memasukkan data dari kuesioner ke SPSS. Seharusnya kata dosen penguji saya,
masukkan datanya dulu ke excel baru nanti dicopy ke SPSS jadi kita punya master
data yang belum diolah sebagai back up data
kita. Selain itu, memasukkan data setelah pengambilan data mengurangi human error karena terlalu banyak
memasukkan data di saat yang bersamaan.
Sore
hari setelah pengambilan data, saya langsung ke rumah khaula untuk berguru.
Saya diajarkan bagaimana cara menguji kenormalan data sampai dengan uji
bivariat. Iya, malam harinya saya sudah selesai mengolah data dan Alhamdulilah
hasilnya ada hubungan 😊
sehingga sesuai dengan hipotesis.
Hari
minggunya saya langsung mengerjakan bab 5 (hasil penelitian). Mengerjakan bab 5
sehari bisa kelar sih kalau ngolah datanya sudah selesai semuanya. Namun saya
sempat bingung uji bivariatnya pakai yang mana wkwk karena kan banyak tuh uji
bivariat kaya chi square, pearson, spearmen, dll. Namun setelah saya membaca
buku tentang per SPSS an akhirnya saya memakai uji korelasi gamma. Alasannya ? sini
ngopi-ngopi dulu sama aku nanti baru jelasin wkwk.
Setelah
selesai mengerjakan bab 5, hari senin dan selasa saya langsung mengerjakan bab
6 (pembahasan) dan bab 7 (kesimpulan dan saran). Saya benar-benar on fire karena
ingin #mengejarmei. Sebenarnya, saya
bisa saja menyicil mencari jurnal untuk pembahasan saat masih pengambilan data,
namun karena saya malas tidak
memiliki niatan, akhirnya saya mencari jurnal di saat mengerjakan hehe dan itu
ternyata membuat lama ya. Alhamdulilah saya bisa menyelesaikan bab 6 dan 7 di
selasa sore dan saya langsung mengumpulkan ke box dospem saya. Hari jumat saya
bimbingan bersama teman saya. Saat itu dospem saya mengatakan bahwa kami baru
akan sidang kira-kira akhir Juni. Karena waktu yang sudah mepet. Namun, ketika
saya mengumpulkan hasil revisian saya dan mengumpulkan manuskrip jurnal saya mengechat
kembali dospem saya dengan perasaan
sedikit putus asa (dibalas ya Alhamdulilah, tidak dibalas ya sudah gapapa). dan
akhirnya dospem saya membalasa pesan saya dan saya dijadwalkan untuk sidang
tanggal 28 Mei 2019. Itu artinya, saya hanya memiliki waktu 1 minggu untuk
mengurus semuanya (berkas-berkas dan finalisasi skripsi).
Satu
minggu terakhir adalah waktu terhectic saya. Saya harus memperbaiki skripsi
saya dari bab 1-7. Lalu di hari teakhir pengumpulan berkas, untuk pertama
kalinya selam kuliah saya hanya tidur 3 jam dari jam 22.30-1.30 malam wkwkw
setelah itu melek sampai sore harinya karena hari itu hari terakhir pengumpulan berkas. Di hari itu saya harus
merapikan proposal saya dan ada masalah di penomoran halaman yang menurut saya
cukup ribet dan saya orangnya gaptek beginian wkwk jadilah saya menomori manual
dari awal hingga akhir karena penomoran otomatisnya error semua. Setelah
pagi-pagi bimbingan untuk yang terakhir, saya kembali memperbaiki proposal saya
sampai jam 13. Saya baru ke percetakan jam 13 – jam 14. Setelah itu saya
mengontak dosen penguji untuk menyerahkan proposal saya. Akhirnya setelah dari
percetakan saya langsung ke dosen penguji. Alhamdulilah kebetulan 2 dosen
penguji saya dan dosen pembimbing saya sedang duduk berderet di ruangan yang
sama, sehingga saya tidak perlu kesana kemari. Setelah itu saya ke perpusat
untuk memfollow up hasil uji kemiripan proposal saya. Saya sudah mengirim dari
pagi namun belum juga dikirim sedangkan saya takutnya prodi tutup jam 15.
Sehingga saya lari-lari ke perpus lantai 3 untuk memfollow up hasi. Ternyata memang
di perpus sedang antri karena banyak yang memasukkan proposal untuk uji
kemiripan. Namun untungnya saya kesana sehingga langsung diurus. Ketika saya di
perpus pun masih ada drama lagi, internetnya lola banget sehingga saya menunggu
sekitar setengah jam untuk mendapatkan hasil uji kemiripan proposal saya. Ya,
saya jadi tau tempat uji kemiripan yang di perpus di sebelah mana hehe jadi
untuk teman-teman yang akan melakukan uji kemiripan saran saya kirimkan uji
kemiripan yang di link jangan dihari H mengumpulkan berkas takutnya memang di sana
lagi antri, kalau mau lebih cepat datang langsung ke perpus lantai 3 dari lift
kekiri terus.
Permasalahan
uji kemiripan sudah selesai, sekarang saya bisa mengeprint dan segera
mengumpulkan ke prodi. Namun setelah di prodi ada 1 drama lagi, ada 1 berkas
yang harusnya tulisannya “Lembar persetujuan” dan harus ada ttd pembimbing
punya saya malah tulisannya “Lembar pengesahan” dan belum ada ttd pembimbing.
Sehingga saya lari-lari ke printnan untuk mengedit tulisan dan mengeprint. Setelah
itu saya langsung ke ruang dosen, beruntung dospem saya masih di sana. Setelah
itu, saya baru ke prodi lagi dan
Alhamdulilah walaupun mepet detik-detik terakhir prodi tutup, saya masih bisa
mengumpulkan dan akan sidang 28 Mei.
Long story short, saya
berhasil melewati sidang tersebut dengan baik dan dengan nilai yang baik. Namun
tetap banyak revisi yang harus dikerjakan.
Dari skripsi ini saya belajar banyak
hal, diantaranya :
1. Just
do it ! Awalnya saya adalah orang yang takut untuk mencoba karena sudah mikir
macam-macam sebelum saya mencoba. Takut inilah ,itulah. Namun semenjak saya
mengerjakan skripsi saya sudah tidak peduli lagi dengan pikiran negatif saya,
yang penting skripsi saya kelar. Sehingga apapun yang harus saya hadapi, saya
hadapi tanpa berpikir macam-macam dulu. Selain itu saya mendapatkan dosen yang
mendorong saya untuk melakukan hal itu. Tau saja beliau kalau mahasiswa
bimbingannya suka panikan tapi taku mencoba hehe
2. Mengoptimalkan
waktu. Total waktu pengerjaan skripsi saya Alhamdulilah hanya 4 bulan (Januari
akhir-Mei akhir) karena prinsip saya waktu itu adalah saya ingin sidang sebelum
lebaran agar nanti saya bisa melakukan hal lain (belajar IELTS, mereview materi
untuk profesi, dsb hehe). Sehingga saya menjadi orang yang benar-benar tidak menunda-nunda
waktu untuk mengerjakan. Toh kalau ga dikerjakan nanti juga kita pasti akan
mengerjakan, memangnya skripsi akan selesai dengan sendiri kalau dibiarin aja ?
kan enggak. Sehingga niatan saya sejak awal ini diberi kelancaran oleh Allah
dan diberi jalan untuk saya bisa mencapai target saya. Allah Maha Baik.
Walaupun konsekuensinya dalam mengerjakan harus benar-benar disiplin dan ga
boleh nyante-nyante. Saya benar-benar merasa dan sangat tertampar bahwa 1 detik sangat berarti apalagi ketika hari pengumpulan
berkas, telat sedikit saja, saya bisa-bisa sidang setelah lebaran. Walaupun
mulai skripsinya akhir-akhir bukan berarti kita selesainya akan akhir juga.
Asal mau berdoa dan berusaha insha Allah bisa sesuai dengan rencana.
3. Saya
semakin percaya, ketika kita menuliskan rencana dan berupaya untuk mencapainya,
pada akhirnya kita akan sampai. Selain usaha yang tiada henti, saya juga selalu
berdoa agar saya dikuatkan dalam proses mengerjakan skripsi ini dan agar saya
bisa sidang akhir Mei. Selain itu, saya meminta doa kepada kedua orangtua agar
dilancarkan, menyelesaikan masa lalu saya agar tidak menjadi penghambat saya di
hari ini.
Setelah
mengerjakan skripsi 4 bulan ini saya merasa bahwa skripsi tidak semenyeramkan
yang ada dalam bayangan. Penting sekali untuk tetap fokus terhadap progres diri
sendiri karena tantangan yang dihadapi tiap orang itu berbeda-beda (dramanya
beda-beda) sehingga tidak bisa diktakan ketika misal si X lebih cepat dari si Y,
berarti si Y itu tidak lebih baik dari si X. Selain itu faktor dosen,
perizinan, responden, dam will power dari pembuat skripsi juga mempengaruhi
kesuksesan pengerjaan skripsi ini.
Ketika
skripsi ini telah usai, bukan berarti beban telah tiada, justru bertambah
besar. Belum revisian dan menghadapi dunia profesi dimana dunia itu katanya sih
lebih berat daripada tingkat sarjana. Sehingga jangan sampai terlena, tetap
terus belajar, tetap fokus, dan mari kita hadapi dunia profesi ini dengan
ketekunan, kerja keras, dan doa yang tidak pernah putus.
Salam
Semangat !
Destin
Kurniawati
Kebumen,
14 Juni 2019
Komentar
Posting Komentar