Langsung ke konten utama

Mengejar Mei


“Skripsi yang baik adalah skripsi yang selesai”-Anies Baswedan
Setelah menjalani skripsi yang penuh dengan tantangan, ternyata skripsi tidak semenyeramkan yang ada dalam bayangan atau yang kakak tingkat katakan hehe. Jadi selow aja bagi kalian yang akan menjalani fase skripsi ini, nda usah mikir yang aneh-aneh dulu. Jalani aja.
Petualangan skripsi saya dimulai di penghujung semester 7 saat saya masih menjalani praktik klinik stase anak. Sekitar bulan Desember awal kami se-angkatan ada orientasi tentang perskripsian oleh koordinator prodi S1. Skripsi di fakultas saya pada kurikulum saya (karena mulai tahun 2017 kurikulum berganti) dimulai full di semester 8 sehingga kami hanya mempunyai waktu kurang lebih 6 bulan untuk mengerjakan. Oke, saya mulai dengan proses pemilihan departemen peminatan skripsi.
Departemen Peminatan
Fakultas saya memiliki 6 departemen peminatan yaitu departemen dasar keperawatan dan keperawatan dasar (DKKD), keperawatan medikal bedah (KMB), keperawatan anak, keperawatan jiwa, keperawatan komunitas, dan keperawatan maternitas. Untuk mengurangi kesenjangan peminat antara departemen, maka fakultas membuat kuota pada masing-masing departemen. Untuk memilih departemen tersebut, kami harus berebut via google form. Menariknya, jika departemen yang kita tuju sudah penuh, secara otomatis akan terlempar ke departemen yang kuotanya masih ada.
Pemilihan departemen untuk topik skripsi saya bagi saya penentu masa depan saya. Sehingga saya kemarin sempat galau mau memilih departemen mana karena semuanya saya suka (hilih) wkwk. Namun karena saya memiliki rencana untuk studi lanjut S2 yang nantinya akan lebih mengerucut ke peminatan sebuah departemen, pilihan saya jatuh ke departemen komunitas. Sebelum menjatuhkan pilihan ke departemen komunitas, saya sempat terpikirkan untuk mengambil departemen maternitas, namun setelah bermeditasi dan mendapatkan masukan dari teman ternyata saya lebih cenderung untuk memilih departemen komunitas (kaya milih jodoh aja wkwk). Saat itu saya merasa bahwa saya lebih tertarik ke departemen komunitas dimana departemen ini kiprahnya sangat luas. Intinya saya memiliki rencana setelah saya lulus ners nanti saya akan lebih banyak berkiprah di departemen ini.

Dosen pembimbing
Setelah memilih departemen peminatan berserta topik yang diajukan, kami menunggu sekitar sebulan untuk mendapatkan informasi dosen pembimbing. Mungkin tidak seperti fakultas lain dimana mahasiswa bisa bebas memilih dosen pembimbingnya, di fakultas saya dosen pembimbing dibagi oleh prodi. Sehingga kami satu angkatan benar-benar memulai skripsi di saat yang sama dan benar-benar diatur oleh fakultas. Sekitar awal Januari setelah baru, kami mendapatkan informasi pembagian dosen pembimbing. Namun, departemen saya belum dapat sehingga mahasiswa departemen saya menunggu lagi hingga pertengahan Januari baru keluar nama-nama dosen pembimbing. Ya, departemen saya mulai mengerjakan skripsi bisa dibilang sudah tertinggal dari mahasiswa departemen lain.
Saya mendapatkan dosen pembimbing yang sudah saya kenal. Saya pernah bekerja sama dengan ibu dosen ini di kepanitiaan Pilmapres FIK UI tahun 2017 menjadi bendahara sehingg kami sudah saling kenal sebelumnya. Kebetulan lagi, saya  satu dosen pembimbing bersama dengan mba pipin sobiku sehingga kami lebih mudah untuk berkoordinasi.
Apa yang dilakukan ketika menunggu pembagian dosen pembimbing ?
Dari skripsi ini saya belajar, bahwa menunggu sesuatu yang pasti datang tidak bisa hanya dengan diam. Sambil menunggu nama-nama dosen pembimbing keluar, saya mencari judul skripsi dengan membaca-baca puluhan jurnal nasional maupun internasional. Saya sampai mencatat ringakasan setiap jurnal di buku catatan saya. Saya mencatat apa hasil dari penelitian sebelumnya, dilakukan dimana, pakai instrumen apa, dan apa yang masih kurang dari penelitian tersebut. Berhari-hari saya melakukan itu sampai pada akhirnya secara tidak sengaja saya membuka sebuah ebook  yang di dalam ebook tersebut ada materi tentang health literacy. “Wah ini menarik” batin saya. Setelah saya mencari jurnal tentang health literacy, penelitian di Indonesia masih jarang sekali bahkan bisa dihitung menggunakan jari padahal implikasinya besar terhadap kesehatan seseorang. Sehingga saya memutuskan untuk mengambil topik ini dan saya kaitkan dengan gaya hidup pada klien dewasa yang hipertensi. Selain itu, di penelitian ala mahasiswa FIK juga harus mencari instrumen baku tentang variabel yang kita pilih. Kalau bisa yang sudah pernah dipakai di Indonesia sehingga tidak perlu translate lagi.  Ya, begitulah yang saya lakukan sembari menunggu nama dosen pembimbing. Petualangan dimulai !
Pra-Sempro
Sekitar pertengahan bulan Januari, saya berangkat ke Depok untuk bertemu dengan dosen pembimbing untuk pertama kalinya. Namun, kami harus mengumpulkan dua judul beserta latar belakangnya. Perasaan saat pertama kali bimbingan adalah deg-degan hehe. 23 Januari 2019 adalah hari pertama kami bimbingan. Dosen pembimbing memberikan umpan balik tentang judul dan latar belakang yang sudah kami buat. Kami juga ditanya lebih prefer ke judul yang mana yang akan dijadikan judul skripsi. Kami mendapatkan banyak sekali masukan tentang apa saja yang harus ada di latar belakang. Akhirnya, kami pun memperbaiki dan kembali bimbingan di bulan Februari.
Oh ya, setelah bertemu dengan dosen pembimbing saya juga membuat timeline pengerjaan skripsi saya. Seperti kapan harus sempro ,kapan harus ambil data, kapan harus sidang akhir. Saat itu saya menargetkan bisa sidang akhir pada akhir Mei. Sehingga selama mulai mengerjakan skripsi ini sebisa mungkin saya bergerak cepat dan tidak menunda-nunda waktu. Jangan lupa juga selalu selipkan doa “Semoga bisa sidang akhir pada akhir Mei”
Hasilnya ?
Sempro
Saya menargetkan untuk melakukan seminar proposal akhir Februari. Sehingga saat itu saya mengerjakan satu bab satu minggu. Akhir Februari saya sudah selesai mengerjakan bab 1-4. Namun ternyata banyak sekali masukan yang membangun dari dosen pembimbing. Sehingga saya memperbaiki lagi. Selagi memperbaiki, saya juga mengurus surat izin untuk studi pendahuluan di puskesmas yang ternyata harus izin ke Dinkes Depok dulu yang membuat saya hampir putus asa karena saya merasa terkejar-kejar oleh waktu. Karena surat izin dari Dinkes cukup lama (sekitar 7 hari kerja yang berarti hampir 2 minggu hari normal) saya juga terkadang mengatakan ke dosen pembimbing saya. “Bu, surat dari Dinkes belum keluar-keluar, sedangkan waktunya sudah mepet bagaimana ya bu?”. Ibu dospem saya mengatakan “Coba kamu ketemu sama PJ PTM di Dinkesnya langsung. Informal dulu saja”. “Kalau misal harus pakai surat bagaimana ya bu ?”. Ibu dospem saya lagi -lagi mengatakan “Coba dulu saja, jalani dulu, soal nanti bagaimana urusan nanti. Sambil kamu latihan melobi orang” Bertemu dengan dospem saya adalah seperti bertemu dengan jodoh karena karakternya yang sangat berkebalikan dengan saya. Ibu dosen saya sangat realistis sedangkan saya terlalu idealis dan memikirkan terlalu panjang hal-hal yang belum terjadi sehingga takut dulu sebelum mencoba. Selain itu, ibu dospem saya selalu mendukung skripsi saya dan memberikan masukan dengan cara yang bijak sehingga membuat saya selalu bersemangat mengerjakan hehe.
Saya mengurus surat izin pada pertengahan Februari ke Dinkes namun setelah saya follow up beberapa kali ke Dinkes, surat tersebut baru jadi di akhir Fabruari. Setelah itu saya mengurus ke Kesbangpol Depok. Padahal saya menargetkan bisa seminar proposal akhir Februari agar saya memiliki banyak waktu untuk mengambil data. Saya mulai was was karena takut tidak bisa seminar proposal di akhir Februari. Namun setelah surat dari Kesbangpol keluar, surat tersebut menyatakan “izin pengambilan data penelitian” dimana surat ini bisa diperpanjang. Hal ini berarti nanti saya tidak perlu mengurus ke Dinkes lagi, tinggal memperpanjang saja ke Kesbangpol.
Tanggal 28 Maret 2019 saya melakukan seminar proposal. Hari tersebut adalah batas akhir seminar proposal di FIK sebelum diperpanjang. Teman-teman saya juga sudah banyak sekali yang sudah melakukan seminar. Sehingga seringkali saya merasa sedih dan tertekan kok saya belum seminar-seminar. Sehingga  entah kenapa saya tidak terlalu ansietas untuk melakukan seminar ini, mungkin karena saya sering melihat seminar proposalnya teman kali ya (?) hehe. Sempro berjalan dengan lancar dan saya mendapat banyak sekali masukan yang membangun.
Drama Pengambilan Data
Masa-masa setelah seminar proposal adalah masa masa gabut yang penuh dengan waktu luang karena sudah tidak ada lagi praktik klinik. Sehingga waktu saya benar-benar hanya untuk mengerjakan skripsi. Setelah seminar proposal saya merevisi proposal saya. Setelah itu konsul dengan dospem untuk uji validitas. Saya sempar pusing tak karuan karena saya mengganti salah satu instrumen saya. Alhamdulilah ternyata masih nemu instrumen yang sudah pernah dipakai di Indonesia sehingga tidak perlu translate lagi. Selain itu, saya juga bingung apakah harus mengambil data di posbindu atau menunggu di puskesmas. Katanya, banyak klien hipertensi yang ke posbindu daripada ke puskesmas. Sehingga sesuai dengan saran dosen pembimbing saya saya mengambil di posbindu, sehingga saya harus mengurus surat izin ke kelurahan juga. Hari itu juga saya bertanya ke gd.A bagaimana alur perizinan ke kelurahan apakah harus ke dinkes dulu atau bagaimana. Saya disuruh tanya ke kelurahannya langsung. Eh, sampai di kelurahan malah saya dihujat habis-habisan wkwk. Kzl juga w, niatan hati tanya baik-baik bagaimana alurnya agar tidak salah, malah dibilang macem-macem kaya menjelek-jelekan almamaterlah, dibilang saya bohonglah, apalah itulah. Sehingga daripada menguras emosi saya, saya memutuskan akan mengambil data di puskesmas saja.
Saya kembali datang ke Dinkes untuk bertanya apakah saya perlu mengurus surat dari awal lagi untuk mengmabil data penelitian karena waktu penelitian saya juga sudah habis. Ternyata saya bisa langsung mengurus ke Kesbangpol yang dimana maksimal 1 jam sudah jadi kalau nda ngantri hehe. Sehingga untuk surat izin penelitian saya sudah aman, saya sudah bisa memulai mengambil data.  
Ketika surat izin sudah jadi, ada drama lagi di puskesmas. Saya mengambil data di puskesmas A dan B. Puskesmas A saya gunakan untuk uji validitas dan puskesmas B untuk pengambilan daa penelitian. Sempat ada permasalahan untuk pengambilan data di puskesmas A karena dokter PJ PTM nya baru ganti dan sekarang belum dinas disitu. Sehingga saya melakukan lobi ke bagian adiministrasi puskesmas juga ke dokter tersebut untuk menitipkan saya ke dokter yang sedang bertugas disitu saja. Setelah berhari-hari melakukan lobi dan doa-doa yang panjang, ketika malam hari saya mendapatkan chat dari dokter bahwa saya bisa untuk mengambil data di puskesmas tersebut dan nanti akan dibantu oleh dokter lain yang sedang bertugas. Hari itu, hari senin 23 April 2019 adalah hari pertama saya melakukan pengambilan data.
Ekspektasi : Sehari bisa dapet 15 responden dan semua responden mengisi sendiri kuesioner
Realita : Sehari dapet 8-10 responden dan sebagian besar responden matanya sudah tidak awas karena usia sehingga saya harus membacakan.
Saya melakukan pengambilan data untuk uji validitas dan reliabilitas selama 3 hari yaitu hari senin-rabu. Hari kamis saya mengolah data ternyata banyak pernyataan yang tidak valid. Saya juga sempat khawatir waktu itu karena takut harus ambil data ulang lagi. Ketika harus ambil data ulang berarti akan semakin memundurkan timeline saya.
Namun ketika saya konsultasi dengan dospem di hari jumat, saya tidak perlu mengambil data ulang lagi. Saya hanya perlu untuk uji keterbacaan dan modifikasi kalimat yang dibantu oleh dospem saya.
Minggu berikutnya, di hari senin 29 April 2019 – 10 Mei 2019 adalah tanggal dimana kegiatan sehari-hari saya hanya ke puskesmas untuk mengambil data. Pengambilan data ini  saya lakukan setiap hari senin-sabtu selama 2 minggu. Setiap harinya saya juga dibantu oleh teman-teman saya mulai dari Shedy sampai Eni hehe. Terima kasih teman-temanku yang sudah membantuku dalam pengambilan data ini :”). Setiap harinya target saya hanya 10 orang saja. Namun terkadang ada beberapa hari dimana saya hanya mendapat 9, 7, atau bahkan 6. Selain karena memang dihari tersebut jarang yang hipertensi, selain itu juga banyak yang menolak untuk menjadi responden.
Namun, walaupun mengambil data adalah fase paling menantang, saya tetap bisa menikmatinya karena saya dan responden bisa saling berbagai cerita. Saya belajar untuk berkomunikasi, belajar untuk menjadi pendengar yang baik tanpa menghakimi, dan mengajari tanpa menggurui. Sehingga banyak sekali yang mendoakan “Semoga dilancarkan ya neng skripsinya. Saya senang karena jadi tambah ilmu”. Ya ucapan seperti itu sudah membuat saya senang dan mungking berkat doa-doa mereka juga, pengambilan data saya selesai sesuai dengan target.
Drama Pengolahan data – Sidang Akhir
Hari sabtu sore, di hari pengambilan data, saya langsung menghubungi teman saya yang bernama khaula untuk meminta diajari mengolah data menggunakan SPSS. Maklum saya tidak pernah belajar sebelumnya *LOL wkwkw. Oh ya waktu pengambilan data di puskesmas itu hanya dari pagi jam 7-12 siang sehingga setelah itu kita punya banyak waktu luang. Daripada membuang-buang waktu, saya gunakan waktu luang tersebut untuk memasukkan data dari kuesioner ke SPSS. Seharusnya kata dosen penguji saya, masukkan datanya dulu ke excel baru nanti dicopy ke SPSS jadi kita punya master data yang belum diolah sebagai back up data kita. Selain itu, memasukkan data setelah pengambilan data mengurangi human error karena terlalu banyak memasukkan data di saat yang bersamaan.
Sore hari setelah pengambilan data, saya langsung ke rumah khaula untuk berguru. Saya diajarkan bagaimana cara menguji kenormalan data sampai dengan uji bivariat. Iya, malam harinya saya sudah selesai mengolah data dan Alhamdulilah hasilnya ada hubungan 😊 sehingga sesuai dengan hipotesis.
Hari minggunya saya langsung mengerjakan bab 5 (hasil penelitian). Mengerjakan bab 5 sehari bisa kelar sih kalau ngolah datanya sudah selesai semuanya. Namun saya sempat bingung uji bivariatnya pakai yang mana wkwk karena kan banyak tuh uji bivariat kaya chi square, pearson, spearmen, dll. Namun setelah saya membaca buku tentang per SPSS an akhirnya saya memakai uji korelasi gamma. Alasannya ? sini ngopi-ngopi dulu sama aku nanti baru jelasin wkwk.
Setelah selesai mengerjakan bab 5, hari senin dan selasa saya langsung mengerjakan bab 6 (pembahasan) dan bab 7 (kesimpulan dan saran). Saya benar-benar on fire karena ingin #mengejarmei.  Sebenarnya, saya bisa saja menyicil mencari jurnal untuk pembahasan saat masih pengambilan data, namun karena saya malas  tidak memiliki niatan, akhirnya saya mencari jurnal di saat mengerjakan hehe dan itu ternyata membuat lama ya. Alhamdulilah saya bisa menyelesaikan bab 6 dan 7 di selasa sore dan saya langsung mengumpulkan ke box dospem saya. Hari jumat saya bimbingan bersama teman saya. Saat itu dospem saya mengatakan bahwa kami baru akan sidang kira-kira akhir Juni. Karena waktu yang sudah mepet. Namun, ketika saya mengumpulkan hasil revisian saya dan mengumpulkan manuskrip jurnal saya mengechat kembali  dospem saya dengan perasaan sedikit putus asa (dibalas ya Alhamdulilah, tidak dibalas ya sudah gapapa). dan akhirnya dospem saya membalasa pesan saya dan saya dijadwalkan untuk sidang tanggal 28 Mei 2019. Itu artinya, saya hanya memiliki waktu 1 minggu untuk mengurus semuanya (berkas-berkas dan finalisasi skripsi).
Satu minggu terakhir adalah waktu terhectic saya. Saya harus memperbaiki skripsi saya dari bab 1-7. Lalu di hari teakhir pengumpulan berkas, untuk pertama kalinya selam kuliah saya hanya tidur 3 jam dari jam 22.30-1.30 malam wkwkw setelah itu melek sampai sore harinya karena hari itu hari  terakhir pengumpulan berkas. Di hari itu saya harus merapikan proposal saya dan ada masalah di penomoran halaman yang menurut saya cukup ribet dan saya orangnya gaptek beginian wkwk jadilah saya menomori manual dari awal hingga akhir karena penomoran otomatisnya error semua. Setelah pagi-pagi bimbingan untuk yang terakhir, saya kembali memperbaiki proposal saya sampai jam 13. Saya baru ke percetakan jam 13 – jam 14. Setelah itu saya mengontak dosen penguji untuk menyerahkan proposal saya. Akhirnya setelah dari percetakan saya langsung ke dosen penguji. Alhamdulilah kebetulan 2 dosen penguji saya dan dosen pembimbing saya sedang duduk berderet di ruangan yang sama, sehingga saya tidak perlu kesana kemari. Setelah itu saya ke perpusat untuk memfollow up hasil uji kemiripan proposal saya. Saya sudah mengirim dari pagi namun belum juga dikirim sedangkan saya takutnya prodi tutup jam 15. Sehingga saya lari-lari ke perpus lantai 3 untuk memfollow up hasi. Ternyata memang di perpus sedang antri karena banyak yang memasukkan proposal untuk uji kemiripan. Namun untungnya saya kesana sehingga langsung diurus. Ketika saya di perpus pun masih ada drama lagi, internetnya lola banget sehingga saya menunggu sekitar setengah jam untuk mendapatkan hasil uji kemiripan proposal saya. Ya, saya jadi tau tempat uji kemiripan yang di perpus di sebelah mana hehe jadi untuk teman-teman yang akan melakukan uji kemiripan saran saya kirimkan uji kemiripan yang di link jangan dihari H mengumpulkan berkas takutnya memang di sana lagi antri, kalau mau lebih cepat datang langsung ke perpus lantai 3 dari lift kekiri terus.
Permasalahan uji kemiripan sudah selesai, sekarang saya bisa mengeprint dan segera mengumpulkan ke prodi. Namun setelah di prodi ada 1 drama lagi, ada 1 berkas yang harusnya tulisannya “Lembar persetujuan” dan harus ada ttd pembimbing punya saya malah tulisannya “Lembar pengesahan” dan belum ada ttd pembimbing. Sehingga saya lari-lari ke printnan untuk mengedit tulisan dan mengeprint. Setelah itu saya langsung ke ruang dosen, beruntung dospem saya masih di sana. Setelah itu,  saya baru ke prodi lagi dan Alhamdulilah walaupun mepet detik-detik terakhir prodi tutup, saya masih bisa mengumpulkan dan akan sidang 28 Mei.
Long story short, saya berhasil melewati sidang tersebut dengan baik dan dengan nilai yang baik. Namun tetap banyak revisi yang harus dikerjakan.
Dari skripsi ini saya belajar banyak hal, diantaranya :
1.      Just do it ! Awalnya saya adalah orang yang takut untuk mencoba karena sudah mikir macam-macam sebelum saya mencoba. Takut inilah ,itulah. Namun semenjak saya mengerjakan skripsi saya sudah tidak peduli lagi dengan pikiran negatif saya, yang penting skripsi saya kelar. Sehingga apapun yang harus saya hadapi, saya hadapi tanpa berpikir macam-macam dulu. Selain itu saya mendapatkan dosen yang mendorong saya untuk melakukan hal itu. Tau saja beliau kalau mahasiswa bimbingannya suka panikan tapi taku mencoba hehe
2.      Mengoptimalkan waktu. Total waktu pengerjaan skripsi saya Alhamdulilah hanya 4 bulan (Januari akhir-Mei akhir) karena prinsip saya waktu itu adalah saya ingin sidang sebelum lebaran agar nanti saya bisa melakukan hal lain (belajar IELTS, mereview materi untuk profesi, dsb hehe). Sehingga saya menjadi orang yang benar-benar tidak menunda-nunda waktu untuk mengerjakan. Toh kalau ga dikerjakan nanti juga kita pasti akan mengerjakan, memangnya skripsi akan selesai dengan sendiri kalau dibiarin aja ? kan enggak. Sehingga niatan saya sejak awal ini diberi kelancaran oleh Allah dan diberi jalan untuk saya bisa mencapai target saya. Allah Maha Baik. Walaupun konsekuensinya dalam mengerjakan harus benar-benar disiplin dan ga boleh nyante-nyante. Saya benar-benar merasa dan sangat tertampar bahwa  1 detik sangat berarti apalagi ketika hari pengumpulan berkas, telat sedikit saja, saya bisa-bisa sidang setelah lebaran. Walaupun mulai skripsinya akhir-akhir bukan berarti kita selesainya akan akhir juga. Asal mau berdoa dan berusaha insha Allah bisa sesuai dengan rencana.
3.      Saya semakin percaya, ketika kita menuliskan rencana dan berupaya untuk mencapainya, pada akhirnya kita akan sampai. Selain usaha yang tiada henti, saya juga selalu berdoa agar saya dikuatkan dalam proses mengerjakan skripsi ini dan agar saya bisa sidang akhir Mei. Selain itu, saya meminta doa kepada kedua orangtua agar dilancarkan, menyelesaikan masa lalu saya agar tidak menjadi penghambat saya di hari ini.
Setelah mengerjakan skripsi 4 bulan ini saya merasa bahwa skripsi tidak semenyeramkan yang ada dalam bayangan. Penting sekali untuk tetap fokus terhadap progres diri sendiri karena tantangan yang dihadapi tiap orang itu berbeda-beda (dramanya beda-beda) sehingga tidak bisa diktakan ketika misal si X lebih cepat dari si Y, berarti si Y itu tidak lebih baik dari si X. Selain itu faktor dosen, perizinan, responden, dam will power dari pembuat skripsi juga mempengaruhi kesuksesan pengerjaan skripsi ini.
Ketika skripsi ini telah usai, bukan berarti beban telah tiada, justru bertambah besar. Belum revisian dan menghadapi dunia profesi dimana dunia itu katanya sih lebih berat daripada tingkat sarjana. Sehingga jangan sampai terlena, tetap terus belajar, tetap fokus, dan mari kita hadapi dunia profesi ini dengan ketekunan, kerja keras, dan doa yang tidak pernah putus.

Salam Semangat !
Destin Kurniawati
Kebumen, 14 Juni 2019

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramadhan Day 22 : Ke Kota

Tidak ada yang bisa duduk tenang. Hujan deras menghimpun cemas di pintu stasiun. Kereta seharusnya datang 5 menit yang lalu. Terkadang, satu menit menunggu terasa lebih merugikan daripada seumur hidup berlalu sia-sia. Seorang pemuda menyalami seorang bapak yang kupikir adalah orangtuanya. Sang bapak melambaikan tangan. Bersedih. Senyum getirnya memunculkan keriput. Si pemuda membalas dengan lambaian yang sama. Tetapi sumringah. Senyum bahagianya memunculkan rona merah. Seolah ia sedang berpura-pura lupa bahwa pria berkeriput itu telah menua. Begitu pun mimpi-mimpi yang menunggunya di kota. Demikian pikirnya, barangkali. Berjarak satu sama lain bukanlah pilihan sulit bagi sebagian orang. Jauh dan dekat hanya soal hitungan kilometer. Berbagai moda melipat jarak bagai kertas. Tetapi seringkali, jarak tidak bekerja seperti itu. Ia mengganti peta dalam pikiranmu dengan ilusi. Jauh dekat bukan lagi dihitung melalui kilometer. Meski ia disampingmu, tapi seringkali ia terasa jauh. Sejauh ...

Ramadhan Day 25 : Tantangan Itu Biasa, Menyelesaikannya itu Istimewa

FIK UI 2015 wisuda. dokumentasi pribadi Pernah tidak dalam hidupmu kamu membuat keputusan yang menurutmu paling menantang ? Aku pernah yaitu saat memutuskan aku mengikuti profesi ners. Bagiku itu adalah keputusan besar yang membentuk diriku di hari ini. Setahun yang lalu, di saat yang sama aku sedang sibuk merevisi proposal skripsiku dan merayu dosen pembimbing agar aku bisa sidang akhir Mei. Singkat cerita aku bisa sidang di akhir Mei. Aku merasa aku menang. Aku berhasil melewati salah 1 fase terberatku, yaitu skripsi. Namun setelah itu muncul pertanyaan baru lagi, what's next ? Bagi mahasiswa keperawatan, wisuda sarjana bukanlah akhir dari masa perkuliahan. Justru ini awal kehidupan yang sesungguhnya. Setelah menimbang berbagai pertimbangan, aku akhirnya memutuskan untuk mengikuti profesi, karena jalan mimpiku yang selanjutnya memang harus dilalui melalui profesi. Iya, aku harus mendapatkan Surat Tanda Registrasi (STR) agar aku dapat bekerja sebagai praktisi. Untuk mend...

Ramadhan Day 9 : Dear Me,

sumber : unsplash.com Ada kalanya aku ingin menjadi aku yang masih berumur 10 tahun. Saat itu aku masih kelas 5 SD. Saat segalanya begitu menyenangkan. Saat segalanya begitu sederhana. Saat raga dan jiwa tak perlu saling tentang. Saat mulut dan hati tak perlu saling berpura-pura. Saat aku sedang suka-sukanya membaca buku pelajaran, apalagi buku pelajaran Bahasa Indonesia. Aku suka, karena di sana banyak cerita. Dengan membaca cerita, aku seperti jalan-jalan. Aku senang saat pelajaran IPA, terutama tentang tumbuh-tumbuhan. Saat itu, aku menjadi rajin meminjam buku ensiklopedia di perpus tentang bonsai, tanaman-tanaman yang tumbuh di dunia, dan juga hewan-hewan. Oh ya aku ingat, aku juga penasaran dengan planet-planet dan luar angkasa. Lantas aku meminjam buku ensiklopedia tentang itu. Dari buku itulah aku kenal dengan yang namanya negara-negara luar dan tanaman-tanaman yang tumbuh di sana. Aku juga jadi mengetahui tentang tata surya. Tak hanya itu, aku juga suka dengan pelajaran I...