Langsung ke konten utama

Tentang Sabar dan Ikhlas

sumber : unsplash.com


Sebulan ini  menghadapi berbagai jenis manusia. Ada yang kooperatif ada juga yang engga. Ada yang membuat hati bahagia, ada juga yang membuat hati kesal dan kecewa, dan masih banyak lagi dengan keunikan mereka. Salah satu hal yang didapat adalah kecakapan berkomunikasi dan menata emosi. Memang, terkadang melelahkan menghadapi berbagai jenis orang, setiap hari. Tetapi itu melatihku untuk bersabar, sabar, sabar, dan tetep legowo. "Kelak sabar dan ikhlas itu akan menjadi pelajaran yang berharga di kemudian hari"- kata seseorang. Bagiku, untuk bisa sabar ya harus menghadapi ujian agar kita terus mengasah kesabaran kita. Untuk bisa ikhlas juga harus menghadapi ujian agar terus mengasah keikhlasan kita dalam berbuat. Untuk bisa legowo ya juga harus menghadapi ujian agar terus mengasah kita untuk tetap legowo di setiap kondisi, agar tetap kuat hati dan mentalnya. Menurutku pelajaran-pelajaran seperti itu tidak bisa didapatkan secara instan. Jika ada orang yang bisa seperti itu, berati dia telah mengorbankan waktunya dan dirinya untuk menjalani proses menjadi orang yang demikian. Iya ya, pembentukan karakter tidak bisa satu dua hari, tapi bertahun-tahun, seumur hidup kita. Kali ini aku bersyukur, setiap hari harus berhadapan dengan berbagai karakter orang karena secara tidak langsung aku sedang ditempa untuk menjadi lebih sabar, lebih ikhlas, lebih legowo, dan lebih kuat mentalnya. Sebuah proses yang menyakitkan tapi, worth it karena membentuk karakter dan menjadi pelajaran berharga. Untuk bertumbuh, memang harus engga nyaman dulu kan ?

Terus barusan telfon sama bapak, bapak tiba-tiba bilang "Menjadi kepala keluarga itu harus bisa mengayomi anggotanya. Meskipun harus berkorban perasaan. Yang penting anggotanya tetap nyaman dan percaya. Seperti harus tetap menyekolahkan anak sampai selesai kuliah, meskipun jauh dan butuh biaya tapi kan itu semua demi anak. Seperti harus terbuka satu sama lain, jujur, tanggung jawab. Karakter-karakter itu yang membuat anggotanya percaya bahwa seorang kepala keluarganya benar-benar bertanggung jawab dan serius. Nanti kalau kamu sudah menjadi orangtua akan mengalaminya sendiri. Tentang berkorban perasaan, tentang mengalah untuk menang. Jadi dalam rumah tangga itu ga bisa saling ngeyel dan egois, tapi harus saling menurunkan ego dan mengalah agar tidak terjadi benturan. Dengan begitu, semoga mendapat keberkahan."

Pelajaran dalam hidup ini memang tidak pernah sederhana.

Depok, 7 Desember 2020


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramadhan Day 22 : Ke Kota

Tidak ada yang bisa duduk tenang. Hujan deras menghimpun cemas di pintu stasiun. Kereta seharusnya datang 5 menit yang lalu. Terkadang, satu menit menunggu terasa lebih merugikan daripada seumur hidup berlalu sia-sia. Seorang pemuda menyalami seorang bapak yang kupikir adalah orangtuanya. Sang bapak melambaikan tangan. Bersedih. Senyum getirnya memunculkan keriput. Si pemuda membalas dengan lambaian yang sama. Tetapi sumringah. Senyum bahagianya memunculkan rona merah. Seolah ia sedang berpura-pura lupa bahwa pria berkeriput itu telah menua. Begitu pun mimpi-mimpi yang menunggunya di kota. Demikian pikirnya, barangkali. Berjarak satu sama lain bukanlah pilihan sulit bagi sebagian orang. Jauh dan dekat hanya soal hitungan kilometer. Berbagai moda melipat jarak bagai kertas. Tetapi seringkali, jarak tidak bekerja seperti itu. Ia mengganti peta dalam pikiranmu dengan ilusi. Jauh dekat bukan lagi dihitung melalui kilometer. Meski ia disampingmu, tapi seringkali ia terasa jauh. Sejauh ...

Ramadhan Day 25 : Tantangan Itu Biasa, Menyelesaikannya itu Istimewa

FIK UI 2015 wisuda. dokumentasi pribadi Pernah tidak dalam hidupmu kamu membuat keputusan yang menurutmu paling menantang ? Aku pernah yaitu saat memutuskan aku mengikuti profesi ners. Bagiku itu adalah keputusan besar yang membentuk diriku di hari ini. Setahun yang lalu, di saat yang sama aku sedang sibuk merevisi proposal skripsiku dan merayu dosen pembimbing agar aku bisa sidang akhir Mei. Singkat cerita aku bisa sidang di akhir Mei. Aku merasa aku menang. Aku berhasil melewati salah 1 fase terberatku, yaitu skripsi. Namun setelah itu muncul pertanyaan baru lagi, what's next ? Bagi mahasiswa keperawatan, wisuda sarjana bukanlah akhir dari masa perkuliahan. Justru ini awal kehidupan yang sesungguhnya. Setelah menimbang berbagai pertimbangan, aku akhirnya memutuskan untuk mengikuti profesi, karena jalan mimpiku yang selanjutnya memang harus dilalui melalui profesi. Iya, aku harus mendapatkan Surat Tanda Registrasi (STR) agar aku dapat bekerja sebagai praktisi. Untuk mend...

Ramadhan Day 19 : tidak berjudul

Aku tidak menjamin bisa seperti mereka. Karena I life with myself.  Tetapi setidaknya aku sedang berproses untuk bertumbuh setiap harinya. Meski hanya 1 mm. Aku juga tidak yakin, pertumbuhanku setiap hari bisa membuatku layak. Tetapi aku yakin, apa yang aku lakukan hari ini tidak ada yang sia-sia. Apa yang aku lakukan hari ini semoga bisa mengubah masa depanku, walaupun hanya sedikit. Sesuatu yang sangat aku khawatirkan. Rumah, 12 Mei 2020 19 Ramadhan 1441 H