Setelah hampir setahun tinggal di sebuah kota, banyak pelajaran yang saya dapatkan di luar disiplin ilmu yang saya pelajari. Hal pertama yang saya dapatkan adalah compassion and respect to other. Iya termasuk para pengamen, pedagang asongan, pengemis, bahkan pencopet sekalipun. Disitu, saya merasa menjadi manusia yang paling beruntung karena saya bisa mengenyam pendidikan. Mengapa ? Karena masih banyak anak-anak yang tidak bisa mengenyam pendidikan .Saya sering sekali melihat anak-anak kecil menjualkan barang dagangannya entah itu tisu, jananan kecil, minuman dan lain-lain. Ketika di angkutan umum saya juga sering menemui anak-anak yang mengamen. Saya seringkali berpikir “Bagaimana nasib mereka ke depannya ?”
Negeri ini sudah merdeka. Anak-anak di usia mereka
seharusnya berada di bangku sekolah untuk
belajar. Tetapi dari dahulu sampai sekarang masalah yang paling menonjol
tentang pendidikan adalah “biaya”. Jangankan untuk sekolah, untuk sesuap nasi
pun mereka sudah bersyukur. Katanya pendidikan di sekolah dasar sudah gratis
harusnya mereka bisa dong. Tetapi tetap saja, masih ada biaya-biaya lain yang
mungkin terlalu berat untuk mereka. Itulah fakta yang pernah saya lihat.
“Pendidikan adalah hiasan dalam kemakmuran dan tempat perlindungan dalam kesulitan”-Aristoteles (Gudang kata,n.d).
Bukankah pendidikan hak seluruh rakyat Indonesia dan
sesuai dengan salah satu tujuan negara Indonesia yaitu untuk mencerdaskan
kehidupan bangsa yang dituangkan dalam Pembukaan UUD 1945 ? Ah, tak perlu
diingatkan pun seharusnya ingat, seharusnya mengerti. Pemerintah pun mengerti.
Terbukti adanya langkah-langkah konkrit yang mereka lakukan untuk meminimalisir
buta huruf di Indonesia. Hal ini adalah PR untuk kita semua khususnya bagi
orang-orang terdidik untuk bisa mendidik , bukan hanya PR untuk pemerintah.
Ironi yang ada sekarang adalah orang-orang yang kaya
semakin kaya dan yang miskin semakin miskin. Ada yang berjalan begitu cepat
dengan pasti menuju arah yang dia tuju, adapula yang berjalan begitu lambat
dengan pandangan nanar tak berarah. Iya, karena mereka pun tidak mengerti apa
yang akan mereka tuju. Mereka bisa hidup layak pun sudah sangat bersyukur.
Semoga orang-orang yang berpendidikan sekarang, bisa
lebih bisa memberikan manfaat bagi sesama. Saya pun sedang berusaha untuk itu.
Semoga orang-orang berpendidikan tidak menyalahgunakan lagi kepintaran mereka
untuk melakukan hal yang merugikan banyak orang. Tidak hanya memberikan
janji-janji manis tanpa aksi nyata. Jangan pula seperti ‘koruptor’ yang
memiskinkan masyarakat dan membiarkan masyarakat hidup melarat. Semakin dewasa, pemikiran saya terhadap dunia
semakin terbuka. Menjadikan Indonesia sebagai negara yang berdiri tegak, tak
gentar dan sejahtera di mata dunia adalah sekian dari banyak harapan terhadap
saya sendiri di masa depan untuk dapat berkontribusi pada tanah air tercinta.
Jadi, mulailah peduli dengan sesama. Entah itu
pedagang asongan,pengamen, bahkan pencopet sekalipun. Jangan memandang mereka
sebelah mata. Mereka sama-sama masyarakat negara ini. Mereka punya hak yang
sama dengan kita.
“Bercita-cita melahirkan calon-calon pemimpin di bidang kemanusiaan dan peradaban dengan menyeimbangkan nilai-nilai akademis, moralis dan seni. Bertujuan menghasilkan generasi bangsa Indonesia yang lebih makmur dan demokratis, yang berfokus pada perdamaian, keadilan dan nilai-nilai peduli lingkungan yang kuat.” (Universitas Indonesia, n.d)
Maaf jika tulisan ini kurang sependapat dengan
kalian karena ini pure pendapat saya. Mungkin pemikiran saya masih terlalu
dangkal dengan hal ini,karena saya pun sedang dalam proses belajar. Saya hanya
ingin mengungkapkan apa yang ada, yang pernah saya lihat.
Kebumen, 6 Agustus 2016 1.00 WIB

Komentar
Posting Komentar