Langsung ke konten utama

Menuntut Ilmu

Kali ini saya akan menulis tentang NHW (nice homework) yang diberikan oleh IIP. Tugas kali ini adalah merenungi tentang ilmu apa yang ingin ditekuni di universitas kehidupan ini.

Sebelumnya saya ingin flashback. Pada saat saya kuliah semester 2, bapak saya pernah mengatakan kalau bapak saya ingin anak-anaknya menjadi anak-anak yang berkualitas. Definisi berkualitas itu sendiri menurut bapak saya adalah mengetahui ilmu dunia dan juga ilmu akhirat. Ilmu dunia di sini bertujuan agar kita bisa bertahan hidup di dunia dan ilmu akhirat bertujuan agar kita tidak terlena dan selalu mengingat akhirat.

Jadi jika saya ditanya akan menekuni ilmu apa di universitas kehidupan ini saya akan menekuni 2 jenis ilmu itu yang sebenarnya sudah saya tekuni sejak kecil.

1. Ilmu agama. Ini penting sekali diketahui agar hidup tidak tersesat karena di zaman ini juga sudah banyak area abu-abu antara yang benar dan salah yang dibuat oleh manusia itu sendiri. Hingga pada akhirnya orang yang pengetahuan agamanya kurang takutnya nanti bisa masuk ke dalam lubang tersebut. Selain itu dengan berbekal ilmu agama kita menjadi tahu apa tujuan hidup dan apa yang seharusnya dilakukan ketika hidup. Agar tujuan hidup yang sejati tidak terlepas dari genggaman.

2. Nursing
Kalau dipikir-pikir ttidak semua ilmu dunia itu hanya bersifat keduniaan lho. Buktinya di keperawatan saya  mempelajari manusia dari sejak dalam kandungan sampai meninggal. Dari situ saya merenung tentang kebesaran Allah SWT untuk menciptakan manusia. Saat mata kuliah keperawatan maternitas dosen saya pernah mengatakan bahwa "Posisi kepala janin di dalam kandungan adalah merunduk karena pada posisi itulah posisi kepala terkecil untuk muat keluar di jalan lahir". Itulah kenapa manusia tidak boleh sombong karena dari awal sudah dilahirkan dengan posisi kepada menunduk.
Lalu saat praktikum 2, saat praktikum memandikan klien di tempat tidur dosen saya juga mengatakan "Prinsip memandikan adalah dari bersih ke kotor. Kalo pada tangan ya dari ujung jari sampai ke aksila. Itu sama seperti prinsip wudhu, dari bersih ke kotor. Saat kamu membasuh  tangan dari ujung jari sampai ke siku kan ?" Dan lain-lain hehe itu hanya contoh sederhana saja.
Selain itu, ilmu ini juga akan sangat bermanfaat bagi diri sendiri, keluarga, ataupun masyarakat. Di keperawatan ini juga saya belajar tentang kehamilan, bagaimana cara berkomunikasi dengan anak, tumbuh kembang anak, penyakit-penyakit dan manajemennya, belajar ilmu jiwa juga, oh ya saya juga belajar tentang keperawatan (gerontik) lansia. Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain bukan ? Ya, harapannya dengan menekuni ilmu ini saya bisa bermanfaat bagi orang lain. Sehingga ilmu yang saya pelajari tidak sia-sia, tetapi menjadi berkah.

Lalu bagaimana cara memperoleh ilmu tersebut ? Dengan belajar lah hehe
Alhamdulilah 3.5 tahun yang lalu Allah rezekikan saya kesempatan untuk menuntut ilmu keperawatan di UI. Dan kuliah di sini kebanyakan ya belajar sendiri karena memang sistem pembelajran di UI yang menuntut demikian. Belajarnya bisa melalui buku, ebook, jurnal, video, maupun berdiskusi dengan teman. Namun saat yang paling menyenangkan adalah ketika praktikum klinik. Kami dipersilakan untuk mengaplikasikan ilmu yang sudah kami pelajari di kelas dan belajar langsung dari pengalaman. Saya banyak belajar dari orang-orang yang saya temui ketika praktikum klinik. Mulai dari pasien-pasien di RSMM, di puskesmas, di RSUD, di sekolah, di TK, di tuna ganda, dan di masyarakat kelurahan. Saya banyak belajar dari mereka.

Namun dalam menuntu ilmu ini saya masih banyak kekurangan dan masih banyak hal yang harus diperbaiki. Seperti misalnya saya terkadang suka malas ketika lelah dan jadwal berantakan. Saya mulai awal tahun ini mulai menata jadwal baru yang lebih rapi dan lebih berkomitmen untuk memenuhi jadwal yang telah saya susun. Doakan semoga istiqomah.

Depok, 4 februari 2019



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramadhan Day 22 : Ke Kota

Tidak ada yang bisa duduk tenang. Hujan deras menghimpun cemas di pintu stasiun. Kereta seharusnya datang 5 menit yang lalu. Terkadang, satu menit menunggu terasa lebih merugikan daripada seumur hidup berlalu sia-sia. Seorang pemuda menyalami seorang bapak yang kupikir adalah orangtuanya. Sang bapak melambaikan tangan. Bersedih. Senyum getirnya memunculkan keriput. Si pemuda membalas dengan lambaian yang sama. Tetapi sumringah. Senyum bahagianya memunculkan rona merah. Seolah ia sedang berpura-pura lupa bahwa pria berkeriput itu telah menua. Begitu pun mimpi-mimpi yang menunggunya di kota. Demikian pikirnya, barangkali. Berjarak satu sama lain bukanlah pilihan sulit bagi sebagian orang. Jauh dan dekat hanya soal hitungan kilometer. Berbagai moda melipat jarak bagai kertas. Tetapi seringkali, jarak tidak bekerja seperti itu. Ia mengganti peta dalam pikiranmu dengan ilusi. Jauh dekat bukan lagi dihitung melalui kilometer. Meski ia disampingmu, tapi seringkali ia terasa jauh. Sejauh ...

Ramadhan Day 25 : Tantangan Itu Biasa, Menyelesaikannya itu Istimewa

FIK UI 2015 wisuda. dokumentasi pribadi Pernah tidak dalam hidupmu kamu membuat keputusan yang menurutmu paling menantang ? Aku pernah yaitu saat memutuskan aku mengikuti profesi ners. Bagiku itu adalah keputusan besar yang membentuk diriku di hari ini. Setahun yang lalu, di saat yang sama aku sedang sibuk merevisi proposal skripsiku dan merayu dosen pembimbing agar aku bisa sidang akhir Mei. Singkat cerita aku bisa sidang di akhir Mei. Aku merasa aku menang. Aku berhasil melewati salah 1 fase terberatku, yaitu skripsi. Namun setelah itu muncul pertanyaan baru lagi, what's next ? Bagi mahasiswa keperawatan, wisuda sarjana bukanlah akhir dari masa perkuliahan. Justru ini awal kehidupan yang sesungguhnya. Setelah menimbang berbagai pertimbangan, aku akhirnya memutuskan untuk mengikuti profesi, karena jalan mimpiku yang selanjutnya memang harus dilalui melalui profesi. Iya, aku harus mendapatkan Surat Tanda Registrasi (STR) agar aku dapat bekerja sebagai praktisi. Untuk mend...

Ramadhan Day 9 : Dear Me,

sumber : unsplash.com Ada kalanya aku ingin menjadi aku yang masih berumur 10 tahun. Saat itu aku masih kelas 5 SD. Saat segalanya begitu menyenangkan. Saat segalanya begitu sederhana. Saat raga dan jiwa tak perlu saling tentang. Saat mulut dan hati tak perlu saling berpura-pura. Saat aku sedang suka-sukanya membaca buku pelajaran, apalagi buku pelajaran Bahasa Indonesia. Aku suka, karena di sana banyak cerita. Dengan membaca cerita, aku seperti jalan-jalan. Aku senang saat pelajaran IPA, terutama tentang tumbuh-tumbuhan. Saat itu, aku menjadi rajin meminjam buku ensiklopedia di perpus tentang bonsai, tanaman-tanaman yang tumbuh di dunia, dan juga hewan-hewan. Oh ya aku ingat, aku juga penasaran dengan planet-planet dan luar angkasa. Lantas aku meminjam buku ensiklopedia tentang itu. Dari buku itulah aku kenal dengan yang namanya negara-negara luar dan tanaman-tanaman yang tumbuh di sana. Aku juga jadi mengetahui tentang tata surya. Tak hanya itu, aku juga suka dengan pelajaran I...