Langsung ke konten utama

Sebuah surat, Untukmu

Kepada engkau, 
Aku tidak tahu siapa engkau. 
Aku tidak tahu dimana engkau.
Semoga siapapun dan dimanapun engkau, engkau selalu sedang bergerak dalam jalan kebaikan.
Disibukkan dalam menisnya menuntut ilmu, bahagianya membantu orang lain, atau bahkan sedang berjuang mengakselerasi diri untuk bisa berkeliling dunia untuk menemukan rahasia-rahasia hidup.
Fokus saja dengan tujuan hidupmu dan apa yang telah kamu perjuangkan saat ini.
Kamu tidak perlu mengubah tujuan hidupmu hanya untuk bisa bertemu dengan seseorang yang engkau inginkan.
Ingatlah, orang-orang satu tujuan akan bertemu dalam satu perjalanan.

Kepada engkau,
Aku akan tetap di sini menunggu dengan cara yang terbaik
Menyibukkan diri dengan menuntut ilmu, mengakselerasi diri, dan juga mendekatkan diri kepada Ilahi. Aku rasa itu sebaik-baik cara menjaga diri.
Tahukah kamu ?
Aku baru paham pentingnya menjaga diri dari nasihat bapak.
Suatu malam setelah menjenguk ibu di RS, bapak tiba-tiba bercerita tentang kesetiaan suami istri ketika salah satu ada yang sakit. Bapak berkata begini "Apa yang kamu lakukan akan kembali lagi ke kamu. Kalau bukan kamu ya ke keturunanmu. Jadi berbuat baiklah mulai saat ini agar nanti anak-anakmu tidak mendapatkan sesuatu yang merugikan akibat perbuatanmu. Dengan kamu tidak mempermainkan orang lain, anak-anakmu insha Allah tidak dipermainkan. Tapi sebaliknya, jika kamu seenak hati memainkan orang lain, hati-hatilah perbuatan itu akan kembali ke kamu ataupun ke anak-anakmu."
Ya, aku baru paham arti menjaga diri yang sesungguhnya dari nasihat itu. Menjaga diri itu tidak untuk diri sendiri, tetapi jauh untuk keturunan kita nanti. Sebaik-baik menanam adalah menaman hal yang baik bukan ?

Kepada engkau,
Aku percaya, meski kita belum berpapasan, suatu saat di waktu yang tepat kita akan berpapasan.
Semoga kita berpapasan dalam kondisi terbaik dan dengan cara yang terbaik.

Tapi, apakah kamu juga akan bijaksana seperti bapak ?

#NHW3
#MatrikulasiIIP

Depok, 18 Februari 2019


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramadhan Day 22 : Ke Kota

Tidak ada yang bisa duduk tenang. Hujan deras menghimpun cemas di pintu stasiun. Kereta seharusnya datang 5 menit yang lalu. Terkadang, satu menit menunggu terasa lebih merugikan daripada seumur hidup berlalu sia-sia. Seorang pemuda menyalami seorang bapak yang kupikir adalah orangtuanya. Sang bapak melambaikan tangan. Bersedih. Senyum getirnya memunculkan keriput. Si pemuda membalas dengan lambaian yang sama. Tetapi sumringah. Senyum bahagianya memunculkan rona merah. Seolah ia sedang berpura-pura lupa bahwa pria berkeriput itu telah menua. Begitu pun mimpi-mimpi yang menunggunya di kota. Demikian pikirnya, barangkali. Berjarak satu sama lain bukanlah pilihan sulit bagi sebagian orang. Jauh dan dekat hanya soal hitungan kilometer. Berbagai moda melipat jarak bagai kertas. Tetapi seringkali, jarak tidak bekerja seperti itu. Ia mengganti peta dalam pikiranmu dengan ilusi. Jauh dekat bukan lagi dihitung melalui kilometer. Meski ia disampingmu, tapi seringkali ia terasa jauh. Sejauh ...

Ramadhan Day 25 : Tantangan Itu Biasa, Menyelesaikannya itu Istimewa

FIK UI 2015 wisuda. dokumentasi pribadi Pernah tidak dalam hidupmu kamu membuat keputusan yang menurutmu paling menantang ? Aku pernah yaitu saat memutuskan aku mengikuti profesi ners. Bagiku itu adalah keputusan besar yang membentuk diriku di hari ini. Setahun yang lalu, di saat yang sama aku sedang sibuk merevisi proposal skripsiku dan merayu dosen pembimbing agar aku bisa sidang akhir Mei. Singkat cerita aku bisa sidang di akhir Mei. Aku merasa aku menang. Aku berhasil melewati salah 1 fase terberatku, yaitu skripsi. Namun setelah itu muncul pertanyaan baru lagi, what's next ? Bagi mahasiswa keperawatan, wisuda sarjana bukanlah akhir dari masa perkuliahan. Justru ini awal kehidupan yang sesungguhnya. Setelah menimbang berbagai pertimbangan, aku akhirnya memutuskan untuk mengikuti profesi, karena jalan mimpiku yang selanjutnya memang harus dilalui melalui profesi. Iya, aku harus mendapatkan Surat Tanda Registrasi (STR) agar aku dapat bekerja sebagai praktisi. Untuk mend...

Ramadhan Day 9 : Dear Me,

sumber : unsplash.com Ada kalanya aku ingin menjadi aku yang masih berumur 10 tahun. Saat itu aku masih kelas 5 SD. Saat segalanya begitu menyenangkan. Saat segalanya begitu sederhana. Saat raga dan jiwa tak perlu saling tentang. Saat mulut dan hati tak perlu saling berpura-pura. Saat aku sedang suka-sukanya membaca buku pelajaran, apalagi buku pelajaran Bahasa Indonesia. Aku suka, karena di sana banyak cerita. Dengan membaca cerita, aku seperti jalan-jalan. Aku senang saat pelajaran IPA, terutama tentang tumbuh-tumbuhan. Saat itu, aku menjadi rajin meminjam buku ensiklopedia di perpus tentang bonsai, tanaman-tanaman yang tumbuh di dunia, dan juga hewan-hewan. Oh ya aku ingat, aku juga penasaran dengan planet-planet dan luar angkasa. Lantas aku meminjam buku ensiklopedia tentang itu. Dari buku itulah aku kenal dengan yang namanya negara-negara luar dan tanaman-tanaman yang tumbuh di sana. Aku juga jadi mengetahui tentang tata surya. Tak hanya itu, aku juga suka dengan pelajaran I...