Langsung ke konten utama

Flexbility Psychology

Jika menurut anak kesehatan manusia terbentuk dari sel-sel, menurut anak psikologi manusia terbentuk dari kata-kata. Mengapa demikian ? Menurut anak psikologi, Manusia melakukan sesuatu berdasarkan dari nilai-nilai yang diyakininya. Niali-nilai tersebut tersusun dari kata-kata :) 
Beberapa hari yang lalu saya belajar tentang flexibility psychology dari kakak-kakak magister pskologi. Flexibility psychology itu intinya bahwa kita selalu memiliki pilihan sebelum melakukan sesuatu. Tanpa disadari setiap hari, hidup kita selalu diliputi oleh pilihan-pilihan.  kita diajarkan untuk lebih fleksibel terhadap hidup. Ya, seperti yang kita rasakan sekarang bahwa hidup ini berat guys. Ada tanggungan kuliah, mulai memikirkan apa yang akan dilakukan ke depannya, jauh dari orangtua, dsb. Janganlah kita membuat diri kita semakin menderita dengan menuntut dengan kata “harus” seolah-olah tidak ada pilihan lain. Namun bukan berarti dengan tidak adanya kata harus ini, kita menjadi pribadi yang tidak memperjuangkan. Nah dalam flexibility psychology ini ketika kita berada di choice point kita mengganti kata “harus” menjadi “boleh”. Lalu mengganti kata “tapi” menjadi “dan”. Kenapa ? Karena kata “harus” secara tidak langsung membuat psikologis kita menjadi tertekan karena seolah-olah kita harus mencapainya dan tidak ada pilihan lain. Padahal, terkadang apa yang kita inginkan belum tentu yang terbaik untuk kita shingga kita membuat psikologis kita jadi lebih fleksibel dengan mengganti kata harus menjadi “boleh”. Misal, saya harus dapet nilai 90 diganti menjadi saya boleh dapet nilai 90. Dalam hal ini, kata boleh lebih fleksibel daripada harus karena memang dalam segala hal ada hal-hal yang tidak bisa dikendalikan oleh kita. Ketika kita akan melakukan sesuatu seringkali kita juga menggunakan kata”tapi” agar kita excuse. Misalnya, aku mau belajar tapi mati lampu. Dalam hal ini seolah-olah kita sudah berniat belajar tapi mati lampu dan mati lampu itu membuat seolah tidak memiliki pilihan lain. Sehingga kata tapi di sini sangat menjatuhkan. Oleh karenanya kita mengganti kata tapi dengan kata “dan”. Kalimat tersebut diganti menjadi, “Aku mau belajar dan mati lampu, jadi aku akan belajar nanti ketika sudah nyala atau aku numpang ke kos teman”. Kata “dan” di sini tidak menjatuhkan seperti kata “tapi”.
Dalam menentukan pilihan-pilihan hidup seringkali kita pun dilanda kebingungan. Seperti misalnya apakah hari ini akan masuk kelas atau tidak, mau bangun tidur jamberapa, mau sholat tarawih atau tidak, dan sebagainya. Terkadnag atau bahkan sering, dalam memilih sesuatu pun kita berdasarkan dari apa yang sudah biasa kita lakukan. Misalnya lagi gabut, mainan HP. Lagi makan, sambil main HP. Ga masuk kelas karena kesiangan, dsb. Padahal, tidak semua pilihan yang kita lakukan menuju ke tujuan hidup kita.
Saya baru menyadari kenapa manusia harus memiliki tujuan hidup dan nilai-nilai hidup. Tujuan hidup adalah tujuan kita dalam melangkah dan dapat dijadikan arah ketika  kita bingung dalam menentukan pilihan. Sedangkan nilai-nilai hidup juga berfungsi sebagai tuntunan kita dalam melakukan sesuatu. Seperti misalnya kita meyakini bahwa nilai kekeluargaan adalah yang terpenting untuk saya. Maka dalam membuat keputusan perbuatan apa yang akan dilakukan untuk menuju tujuan hidup, kita selalu melibatkan keluarga untuk mendukung kita. Seperti misalnya lagi, kita percaya bahwa nilai kejujuran adalah nilai yang harus melakat dalam hidup saya. Maka, dalam membuat keputusan untuk menuju tujuan hidup itu, kita selalu melakukan kejujuran untuk mencapainya. Seperti misalnya selalu mengerjakan ujian sendiri, selalu berkata jujur kepada orang lain, jujur terhadap diri sendiri, dsb. 
Sehingga kaitan antara flexbility psychology dan tujuan hidup adalah bahwa setiap manusia pasti memiliki punya tujuan hidup. Dalam mencapai tujuan hidup itu terkadang manusia terlalu membuat menderita diri sendiri dengan terus memaksa diri dengan kata “harus” yang seolah kita tidak punya pilihan lain dan seolah bahwa kita lah yang menentukan apakah kita bisa sampai pada tujuan hidup kita, padahal kita tidak punya kendali apa-apa atas hal tersebut. Yang bisa kita lakukan adalah usaha dan doa, namun untuk masalah hasil adalah tugas Yang Maha Kuasa. Sehingga kita mengubah kata “harus” menjadi “boleh” yang secara arti lebih memiliki pilihan dan membuat space untuk Sang Maha Kuasa menentukan keputusanNya. Dalam perjalanan mencapai tujuan hidup itu pun, manusia seringkali kebingungan dalam melangkah, atau melangkah tapi pada jalan yang semakin menjauhkan dia dari tujuan hidupnya. Sehingga ketika kita berada di choice point atau titik kebingungan, kita harus ingat lagi tujuan hidup dan nilai-nilai hidup kita sebagai panduan kita memilih jalan yang harus ditempuh.
Selamat merenungi apa tujuan hidup dan nilai-nilai hidup kita :)
Depok, 6 Mei 2019 5.20 am
#tulisanramadhan
#day1

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramadhan Day 22 : Ke Kota

Tidak ada yang bisa duduk tenang. Hujan deras menghimpun cemas di pintu stasiun. Kereta seharusnya datang 5 menit yang lalu. Terkadang, satu menit menunggu terasa lebih merugikan daripada seumur hidup berlalu sia-sia. Seorang pemuda menyalami seorang bapak yang kupikir adalah orangtuanya. Sang bapak melambaikan tangan. Bersedih. Senyum getirnya memunculkan keriput. Si pemuda membalas dengan lambaian yang sama. Tetapi sumringah. Senyum bahagianya memunculkan rona merah. Seolah ia sedang berpura-pura lupa bahwa pria berkeriput itu telah menua. Begitu pun mimpi-mimpi yang menunggunya di kota. Demikian pikirnya, barangkali. Berjarak satu sama lain bukanlah pilihan sulit bagi sebagian orang. Jauh dan dekat hanya soal hitungan kilometer. Berbagai moda melipat jarak bagai kertas. Tetapi seringkali, jarak tidak bekerja seperti itu. Ia mengganti peta dalam pikiranmu dengan ilusi. Jauh dekat bukan lagi dihitung melalui kilometer. Meski ia disampingmu, tapi seringkali ia terasa jauh. Sejauh ...

Ramadhan Day 25 : Tantangan Itu Biasa, Menyelesaikannya itu Istimewa

FIK UI 2015 wisuda. dokumentasi pribadi Pernah tidak dalam hidupmu kamu membuat keputusan yang menurutmu paling menantang ? Aku pernah yaitu saat memutuskan aku mengikuti profesi ners. Bagiku itu adalah keputusan besar yang membentuk diriku di hari ini. Setahun yang lalu, di saat yang sama aku sedang sibuk merevisi proposal skripsiku dan merayu dosen pembimbing agar aku bisa sidang akhir Mei. Singkat cerita aku bisa sidang di akhir Mei. Aku merasa aku menang. Aku berhasil melewati salah 1 fase terberatku, yaitu skripsi. Namun setelah itu muncul pertanyaan baru lagi, what's next ? Bagi mahasiswa keperawatan, wisuda sarjana bukanlah akhir dari masa perkuliahan. Justru ini awal kehidupan yang sesungguhnya. Setelah menimbang berbagai pertimbangan, aku akhirnya memutuskan untuk mengikuti profesi, karena jalan mimpiku yang selanjutnya memang harus dilalui melalui profesi. Iya, aku harus mendapatkan Surat Tanda Registrasi (STR) agar aku dapat bekerja sebagai praktisi. Untuk mend...

Ramadhan Day 9 : Dear Me,

sumber : unsplash.com Ada kalanya aku ingin menjadi aku yang masih berumur 10 tahun. Saat itu aku masih kelas 5 SD. Saat segalanya begitu menyenangkan. Saat segalanya begitu sederhana. Saat raga dan jiwa tak perlu saling tentang. Saat mulut dan hati tak perlu saling berpura-pura. Saat aku sedang suka-sukanya membaca buku pelajaran, apalagi buku pelajaran Bahasa Indonesia. Aku suka, karena di sana banyak cerita. Dengan membaca cerita, aku seperti jalan-jalan. Aku senang saat pelajaran IPA, terutama tentang tumbuh-tumbuhan. Saat itu, aku menjadi rajin meminjam buku ensiklopedia di perpus tentang bonsai, tanaman-tanaman yang tumbuh di dunia, dan juga hewan-hewan. Oh ya aku ingat, aku juga penasaran dengan planet-planet dan luar angkasa. Lantas aku meminjam buku ensiklopedia tentang itu. Dari buku itulah aku kenal dengan yang namanya negara-negara luar dan tanaman-tanaman yang tumbuh di sana. Aku juga jadi mengetahui tentang tata surya. Tak hanya itu, aku juga suka dengan pelajaran I...