Langsung ke konten utama

Review Novel Merdeka Sejak Hati

Merdeka Sejak Hati
gambar dari goodreads,com

Novel terbaru karya Ahmad Fuadi telah memberikan saya  pandangan  baru terhadap hidup yaitu kemerdekaan hakiki. Mungkin, dulu makna merdeka bagi saya adalah ketika negara sudah tidak dijajah oleh penjajah. Atau disaat saya tidak memiliki tugas apapun. Namun, setelah membaca novel ini makna itu telah berubah. Merdeka memang artinya kita bisa lepas dari penjajah. Namun, setelah kemerdekaan, Indonesia pun masih berjuang untuk mempertahankan kemerdekaanya. Tantangannya bukan lagi penjajah dari luar tetapi justru dari rakyat Indonesia sendiri yang berniat memberontak.
Sedangkan merdeka bagi saya adalah ketika saya dapat menjalankan hidup ini tanpa ada pengaruh dari orang lain, ketika saya dapat menjalani hidup sesuai dengan nilai islam yang telah saya pelajari, ketika saya dapat memerdekakan pikiran saya dengan terus sekolah, ketika saya tidak terikat dengan siapapun atau apapun hal-hal yang berkaitan dengan dunia seperti ketergantungan kepada seseorang, kepada benda, kepada jabatan. Merdeka itu ketika saya bisa hidup dengan nyaman berkecukupan. Itulah merdeka bagi saya.  Karena kata bapak saya, ukuran bahagia/sengsaranya seseorang dalam takaran agama tidak bisa dilihat dari material tapi dilihat dari segi ketenangan hati. Ada orang yang mungkin kaya harta, tetapi hidupnya tidak tenang, masih merasa kurang ini itu. Ada juga orang yang kelihatannya sangat sederhana, tetapi di dalam hatinya diliputi ketenangan yang luar biasa. Selalu bersyukur dan merasa cukup. Kata bapak saya lagi, rejeki itu adalah titipan. Bukan milik kita secara mutlak. Sehingga kita tidak boleh merasa “sayang” jika menggunakan itu untuk kebaikan. Misalnya tidak pelit bersedekah, tidak pelit mengeluarkan uang untuk sekolah, dan sebagainya. Keluarkan rejeki sesuai dengan porsinya. Toh mau sekaya apapun, kita makan tetap 1 piring. Toh, hartamu itu tidak akan dibawa mati.

Selain itu, saya pernah membaca bukunya Yasmin Mogahed yang berjudul Reclaim Your Heart yang menceritakan bahwa dalam hidup ini kita bisa saja secara tidak sadar membuat ikatan-ikatan. Ikatan dengan seseorang seperti orangtua, teman, saudara, dsb. Ikatan dengan barang-barang. Ikatan dengan jabatan, serta hal lain yang sifatnya duniawi dan membuat kita merasa memiliki. Ketika kita terlalu terikat dengan hal-hal seperti itu, jika suatu waktu salah satu hal yang kita ikat itu diambil, kita menjadi merasa kehilangan. Bahkan terkadang menjadi sedih berlebihan. Lalu kita lupa, bahwa semua itu memang pada dasarnya bukan milik kita. Tapi milih Sang Maha Kuasa. Kita lupa, kalau kita hanya boleh memiliki ikatan denganNya. Karena Dia yang Maha Punya dan tidak akan membuatmu kecewa.
Dari novel ini saya belajar, merdeka yang sesungguhnya adalah ketika saya tidak memiliki ikatan kepada siapapun atau apapun kecuali hanya kepada Tuhan.

Berikut saya ceritakan sedikit tentang novel ini.
Novel ini mengisahkan kehidupan Lafran Pane, salah satu pahlawan nasional namun tidak dikenal. Setting tempat novel berpindah-pindah. Mulai dari Padang, Medan, Batavia, Bengkulu, sampai Yogyakarta. Latar waktu novel ini dimulai tahun 1922-1991 yaitu dimulai dari lahirnya Lafran Pane sampai meninggalnya beliau. Dengan rentang waktu tersebut di novel ini menceritakan tentang perjuangan Indonesia Merdeka, detik-detik proklamasi, agresi militer Belanda, hingga G 30S PKI. Novel yang membuat wawasan tentang kenegaraan menjadi luas karena dinovel ini diceritakan secara detail bagaimana kejadian-kejadian tersebut berlangsung. Selain itu, di novel ini juga menceritakan kehidupan Lafran mulai dari lahir hingga meninggal dunia yang disajikan dengan sangat ringan. Walaupun di awal-awal cerita sedikit membosankan, namun ketika sudah sampai klimaks cerita di novel ini (dimulai ketika Lafran mulai kuliah) begitu hidup dan banyak sekali nilai-nilai kehidupan yang dapat diambil dari novel ini.

Lafran Pane merupakan anak yang berasal dari Sipirok. Lafran sudah ditinggal ibunya meninggal sejak masih bayi. Ayahnya adalah seorang guru yang juga aktivis masyarakat. Sehingga membuat ayah Lafran cukup sibuk mengurus urusannya. Lafran juga memiliki beberapa kakak. Sejak ditinggal meninggal ibunya, Lafran diasuh oleh neneknya. Lafran kecil sudah bertanya-tanya kenapa tidak memiliki ibu, sedangkan anak-anak lain memiliki ibu dan mendapatkan kasih sayang dari ibunya. Kasih sayang nenek Lafran rupanya tidak membuat Lafran merasakan seperti kasih sayang seorang ibu. Ditambah lagi ayah Lafran tidak begitu perhatian ke Lafran karena sibuk dengan urusannya. Sehingga Lafran menjadi anak yang ingin bebas, tidak mau diatur oleh siapapun. Lafran kecil menjadi anak yang nakal. Berkali-kali dikeluarkan dari sekolah karena sering bolos. Walaupun Lafran termasuk anak yang cerdas, dan nilai ulangan selalu bagus. Menurut Lafran, pelajaran di sekolah kurang menantang karena dipelajari sekali langsung bisa. Sehingga sepulang sekolah Lafran mulai mencari-cari kegiatan lain. Lafran pernah jadi tukang tunggu bioskop, jualan es keliling, ikut club petinju, ikut geng motor, sampai Lafran pernah pergi dari rumah dan hidup menggelandang karena tidak mau diatur-atur. Lafran ingin merdeka. Entah kemerdekaan apa yang sebenarnya Lafran ingin temukan.

Ketika Lafran sudah remaja, Lafran pernah akan dihukum mati oleh Jepang. Namun, ayah Lafran menyelamatkan Lafran dengan bernegosiasi. Lafran bisa bebas dengan syarat dia harus meninggalkan tanah Sumatera dalam 12 jam. Setelah itu, ayah Lafran memerintahkan Lafran untuk pergi ke Batavia. Di sana, Lafran tinggal bersama abangnya. Lafran pun melanjutkan sekolah di sana. Abangnya Lafran ini juga seorang aktivis kemerdekaan. Dia sering melakukan rapat-rapat untuk kemerdekaan Indonesia. Mulai sejak inilah Lafran juga penasaran dan ingin ikut serta berkontribusi bagi kemerdekaan Indonesia.
Mulai saat itu, Lafran sering ikut dan berdiskusi tentang kemerdekaan Indonesia. Dengan adanya kabar kota Hiroshima dan Nagasaki di bom oleh sekutu dan Jepang menyerah kepada sekutu, para pejuang kemerdekaan memanfaatkan momen ini untuk segera momroklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Setelah Indonesia merdeka, Belanda datang lagi dan melakukan agresi militernya di Jakarta. Sehingga ibukota Indonesia sementara dipindahkan ke Yogyakarta berserta. Lafran Pane dan abang-abangnya turut ikut pindah ke Yogyakarta. Di kota inilah Lafran melanjutkan pendidikannya ke bangku kuliah di STI yang sekarang dikenal sebagai UII (Universitas Islam Indonesia). Perguruan tinggi tersebut merupakan perguruan tinggi islam pertama di Indonesia. Lafran ingin melanjutkan ke STI karena ingin mempelajari agama lebih dalam. Baginya, kemerdekaan Indonesia bisa dipertahankan jika masyarakatnya bisa berperilaku baik untuk mempertahankan kemerdekaan. Salah satu cara agar masyarakat berperilaku baik adalah dengan mengerti agama dan menjadikan agama sebagai the way of life. Di STI ini juga Lafran tercetus ide untuk mendirikan sebuah organisasi yang dapat meningkatkan harkat martabat masyarakat Indonesia. Organisasi tersebut adalah HMI (Himpunan Mahasiswa Islam). Organisasi ini tidak berafiliasi politik manapun, tidak mengkotak kotakan islam berdasarkan golongan. Organisasi ini murni untuk menyatukan masyarakat Indonesia dan meningkatkan drajat martabatnya. Setelah berbagai perjuangan yang tidak mudah, organisasi HMI resmi dibentuk di dalam ruang kelas. Setelah itu, Lafran sibuk mengurus HMI.  Di tahun kedua kuliah, Lafran pindah kuliah di sekolah tata negara karena merasa dirinya lebih perlu belajar tata negara untuk mempertahankan Indonesia.

Setelah menyelesaikan sarjana, Lafran menjadi pengajar di UII, IAIN, UGM, dan berbagai sekolah di Yogyakarta. Lafran selalu menggunakan sepeda kemanapun beliau pergi.
Pada suatu hari, ketika Lafran sudah menikah, memiliki anak yang sudah besar-besar, dan seiring dengan menaiknya profesinya sebagai dosen, Lafran diangkat menjadi guru besar. Di saat itu pula, banyak tawaran yang berdatangan. Seperti ditawari jadi menteri, rektor, dan DPA (Dewan Pertimbangan Agung). Namun karena tidak ingin berafiliasi dengan politik demi menjaga kemurniannya sebagai pendiri HMI, Lafran tidak pernah mengambil satu tawaran jabatan itu. Namun tawaran menjadi DPA akhirnya Lafran terima tanpa harus masuk partai manapun.

Masa lalu pak Lafran yang pernah menjadi anak nakal dan tidak mendapatkan kasih sayang ibu membuat pak Lafran belajar. Pak Lafran memiliki 3 anak. anak pertama dan kedua adalah laki-laki. Anak terakhir perempuan. Pak Lafran dan istrinya mendidik dan mengasuh anaknya dengan penuh kasih sayang. Pak Lafran termasuk orang yang disiplin sehingga pak Lafran juga mendidik anak-anaknya untuk disiplin. Selain itu, pak Lafran memberikan asupan gizi makanan yang cukup untuk anak agar anak-anak sehat. Pak Lafran juga memberikan kemerdekaan pilihan kepada anak-anaknya untuk menjadi apapun yang mereka inginkan selama itu baik. Walaupun Pak Lafran pendiri HMI, hal itu tidak serta merta membuat Pak Lafran memaksakan anaknya pula untuk ikut menjadi anggota HMI. Biar dengan kesadarn anak-anak saja mereka ikut. Pak Lafran memberikan kebebasan kepada anak untuk memilih agar anka-anak belajar bertanggung jawab atas apa yang mereka pilih.
Dari sini saya belajar, bahwa orangtua adalah orang yang paling berpengalaman. Orangtua selalu menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Perjalanan hidup orangtua pun menjadi bahan pelajaran untuk mereka. Harapannya agar anak-anak bisa menjadi lebih baik dari mereka. Tidak mengulangi kesalahan yang telah orangtua mereka lakukan.

Saya jadi teringat bapak saya. Bapak saya dulu ingin sekali berkuliah. Namun karena ketidakcukupan ekonomi keluarga dan jaman dulu beasiswa masih langka, akhirnya bapak saya tidak jadi berkuliah. Bapak saya belajar dari pengalaman ini. Saat itu bapak saya pernah mengatakan bahwa bapak harus menyekolahkan anaknya sampai kuliah. Pendidikan anak harus lebih tinggi dari orangtua. Agar anak-anak bapak menjadi anak-anak yang berkualitas, yaitu anak yang mengerti ilmu agama dan ilmu dunia. Ilmu agama itu dipakai sebagai the way of life. Sedangkan ilmu dunia itu dipakai untuk memenuhi kebutuhan kita selama hidup di dunia. Oke lanjut tentang pak Lafran Pane ya.

Pak Lafran adalah sosok yang sederhana. Dengan gelarnya sebagai guru besar, tidak serta merta membuatnya gila harta dan jabatan. Ambil yang seperlunya saja, yang memang menjadi kebutuhan. Bahkan kemana-mana pak Lafran tetap menggunakan sepedanya. Menurut beliau, selama barang masih bisa terpakai, tidak akan diganti. Karena kalau diganti ketika masih bisa dipakai itu namanya keinginan bukan kebutuhan. Pak Lafran ingin dirinya merdeka dari harta benda dan jabatan.

Beberapa saat setelah itu, anak Pak Lafran yang kedua yang menjadi dokter, sakit parah dan kemudian meninggal dunia. Padahal usianya masih belum 30 tahun. Namun ajal siapa tahu. Setelah itu, kehidupan Pak Lafran berubah. Istrinya Pak Lafran juga mulai sakit-sakitan. Dari yang sakit biasa sampai terkena kanker. Delapan tahun setelah kepergian anaknya, istrinya Pak Lafran juga ikut menyusul anaknya. Seketika itu, pak Lafran semakin sedih. Namun Pak Lafran menguatkan diri sendiri bahwa semua yang dimiliki adalah titipan. Dari sini pak Lafran juga belajar untuk mengikhlaskan, memerdekakan hatinya dari keterikatan kepada keluarga.  Dua tahun setelah itu, pak Lafran juga menyusul istrinya pada tahun 1991. Ketika pak Lafran meninggal banyak sekali yang melayat. Selain pak Lafran anggota DPA, pak Lafran juga dosen yang pasti mahasiswanya ada dimana-mana. Walaupun pak Lafran telah meninggal, namun ilmu yang diajarkan pak Lafran kepada para mahasiswanya terus hidup. Organisasi HMI yang dulu didirikan pak Lafran juga masih berjalan sampai hari ini. Itulah yang disebut dengan amalan yang tidak akan terputus. Salah satunya adalah ilmu yang bermanfaat.

Dari sini kita belajar dan memikirkan. Ketika nanti kita meninggal, jejak seperti apa yang akan kita tinggalkan ? Karya apa yang akan kita tinggalkan ? Apa yang akan membuat nama kita terus dikenang ?
Terima kasih pak Ahmad Fuadi yang telah menulis novel ini. Saya belajar banyak.

Kebumen, 30 Juli 2019


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramadhan Day 22 : Ke Kota

Tidak ada yang bisa duduk tenang. Hujan deras menghimpun cemas di pintu stasiun. Kereta seharusnya datang 5 menit yang lalu. Terkadang, satu menit menunggu terasa lebih merugikan daripada seumur hidup berlalu sia-sia. Seorang pemuda menyalami seorang bapak yang kupikir adalah orangtuanya. Sang bapak melambaikan tangan. Bersedih. Senyum getirnya memunculkan keriput. Si pemuda membalas dengan lambaian yang sama. Tetapi sumringah. Senyum bahagianya memunculkan rona merah. Seolah ia sedang berpura-pura lupa bahwa pria berkeriput itu telah menua. Begitu pun mimpi-mimpi yang menunggunya di kota. Demikian pikirnya, barangkali. Berjarak satu sama lain bukanlah pilihan sulit bagi sebagian orang. Jauh dan dekat hanya soal hitungan kilometer. Berbagai moda melipat jarak bagai kertas. Tetapi seringkali, jarak tidak bekerja seperti itu. Ia mengganti peta dalam pikiranmu dengan ilusi. Jauh dekat bukan lagi dihitung melalui kilometer. Meski ia disampingmu, tapi seringkali ia terasa jauh. Sejauh ...

Ramadhan Day 25 : Tantangan Itu Biasa, Menyelesaikannya itu Istimewa

FIK UI 2015 wisuda. dokumentasi pribadi Pernah tidak dalam hidupmu kamu membuat keputusan yang menurutmu paling menantang ? Aku pernah yaitu saat memutuskan aku mengikuti profesi ners. Bagiku itu adalah keputusan besar yang membentuk diriku di hari ini. Setahun yang lalu, di saat yang sama aku sedang sibuk merevisi proposal skripsiku dan merayu dosen pembimbing agar aku bisa sidang akhir Mei. Singkat cerita aku bisa sidang di akhir Mei. Aku merasa aku menang. Aku berhasil melewati salah 1 fase terberatku, yaitu skripsi. Namun setelah itu muncul pertanyaan baru lagi, what's next ? Bagi mahasiswa keperawatan, wisuda sarjana bukanlah akhir dari masa perkuliahan. Justru ini awal kehidupan yang sesungguhnya. Setelah menimbang berbagai pertimbangan, aku akhirnya memutuskan untuk mengikuti profesi, karena jalan mimpiku yang selanjutnya memang harus dilalui melalui profesi. Iya, aku harus mendapatkan Surat Tanda Registrasi (STR) agar aku dapat bekerja sebagai praktisi. Untuk mend...

Ramadhan Day 9 : Dear Me,

sumber : unsplash.com Ada kalanya aku ingin menjadi aku yang masih berumur 10 tahun. Saat itu aku masih kelas 5 SD. Saat segalanya begitu menyenangkan. Saat segalanya begitu sederhana. Saat raga dan jiwa tak perlu saling tentang. Saat mulut dan hati tak perlu saling berpura-pura. Saat aku sedang suka-sukanya membaca buku pelajaran, apalagi buku pelajaran Bahasa Indonesia. Aku suka, karena di sana banyak cerita. Dengan membaca cerita, aku seperti jalan-jalan. Aku senang saat pelajaran IPA, terutama tentang tumbuh-tumbuhan. Saat itu, aku menjadi rajin meminjam buku ensiklopedia di perpus tentang bonsai, tanaman-tanaman yang tumbuh di dunia, dan juga hewan-hewan. Oh ya aku ingat, aku juga penasaran dengan planet-planet dan luar angkasa. Lantas aku meminjam buku ensiklopedia tentang itu. Dari buku itulah aku kenal dengan yang namanya negara-negara luar dan tanaman-tanaman yang tumbuh di sana. Aku juga jadi mengetahui tentang tata surya. Tak hanya itu, aku juga suka dengan pelajaran I...