“Manusia terlahir
merdeka, lingkungan membuat kita terpenjara”- Fiersa Besari
Manusia terkadang
seenaknya saja. Meminta waktu lebih lambat dari biasanya ketika sedang
mengalami hal yang membahagiakan dan meminta waktu berjalan secepat kilat
ketika sedang mengalami ketidaknyamanan. Saya pun demikian. Namun kali ini saya
bisa lebih berdamai dengan keadaan.
Sebuah kenangan terkadang
membuat kita terpenjara. Terpenjara dalam angan-angan kita sendiri.
Berandai-andai, andaikan hari membahagiakan itu terjadi setiap hari, andaikan
di hari yang membahagiakan itu waktu berjalan lebih lambat atau bahkan berharap
waktu kan berhenti. Tapi saya sadar, tidak ada yang abadi di dunia ini. Semua
akan datang dan pergi silih berganti. Maka, saya simpan saja kenangan yang
bahagia dan tidak bahagia tersebut sebagai pembelajaran.
Meski sudah pernah ke
Dieng 2 tahun yang lalu, entah mengapa tahun ini saya ingin mengunjunginya
lagi. Alasan utamanya adalah karena ingin merefresh otak dari perskripsian
selama 7 bulan ini, dan alasan kedua adalah ingin menyelesaikan diri sendiri
dengan melakukan hal-hal ekstrem yang ingin saya lakukan sekarang. Seperti
ngecamp di sana misalnya sambil menikmati mentari terbit dari lautan awan.
Namun hal ini tidak terwujud dikarenakan tidak diperbolehkan orang tua hehe.
Saya ke Dieng bersama 4
teman saya yang semuanya cowo (cewenya ga ada yang mau diajak) dan semuanya
manusia teknik. Berasa 5 cm ga sih :D. Ya, tapi walaupun mereka semua cowo
mereka baik, tidak aneh-aneh tapi justru melindungi. Keempat teman saya adalah
anton, cholis, fahmi, dan eki. Terkhusus untuk eki, saya baru kenal dia ya saat
kami bertemu di rumah cholis. Dia adalah teman satu jurusannya cholis.
Senin pagi, kami
berangkat dari Kebumen menuju ke Dieng menggunakan sepeda motor melalui jalur
Alian-Wadaslintang-Wonosobo. Sepanjang perjalanan jalannya berkelok-kelok tiada
habisnya sampai anton protes mulu ini kelokan kapan abisnya. Padahal itu belum
seberapanya wkwkw. Perjalanan Kebumen-Dieng memakan waktu sekitar 3,5 jam
dengan kecepatan 60-70 km/jam.
Hawa dingin mulai
merasuki tulang saat kami mulai memasuki Kota Wonosobo. Kotanya cukup ramai,
rapih, dan dingin. Jarak Dieng dari Kota Wonosobo juga cukup jauh, memakan
waktu sekitar 1.5 jam. Pemandangan dari Kota Wonosobo menuju Dieng dipenuhi
oleh pemandangan yang sangat indah. Bagi orang yang cenderung introvert seperti
saya, saya sangat senang sekali pemandangan seperti ini. Hal ini juga dapat mengecharge
energi saya.
Di tengah perjalanan saya ceriwis banget ke anton.
Destin :"Ton ini pemandangannya bagus banget kanan kiri."
Anton :"Eh berenti dulu bentar yu. Foto foto."
Destin :" jangan lah. Ntar ketinggalan sama mereka"
Anton :"Lah aku dari tadi ngliatnya truk"
Destin :"ups. Maap lupa kamu di depan ya wkwkwkw"
Sesampainya di sebuah gardu pandang di tenga jalan kami berhenti sejenak untuk beristirahat. Si rempong anton tiba tiba bilang.
Anton : "Ki tolong fotoin dong. Minjem carriernya juga"
Eki :"Ke sini cuma buat ngasuh anton doang -_- "
Ya begitulah ya kerempongan di antara kita wkwkw.
Di tengah perjalanan saya ceriwis banget ke anton.
Destin :"Ton ini pemandangannya bagus banget kanan kiri."
Anton :"Eh berenti dulu bentar yu. Foto foto."
Destin :" jangan lah. Ntar ketinggalan sama mereka"
Anton :"Lah aku dari tadi ngliatnya truk"
Destin :"ups. Maap lupa kamu di depan ya wkwkwkw"
Sesampainya di sebuah gardu pandang di tenga jalan kami berhenti sejenak untuk beristirahat. Si rempong anton tiba tiba bilang.
Anton : "Ki tolong fotoin dong. Minjem carriernya juga"
Eki :"Ke sini cuma buat ngasuh anton doang -_- "
Ya begitulah ya kerempongan di antara kita wkwkw.
Sesampainya di wilayah
Dieng sekitar pukul 10.30 WIB, kami ke dinding yang betuliskan “Dieng” terlebih
dahulu untuk berfoto. Namun sebelumnya kami mampir ke toko souvenir di sekitar
dinding bertuliskan Dieng untuk membeli topi couple. Kata Eki sih buat kenang-kenangan.
Selain itu juga agar di foto bagus.
![]() |
| Dinding bertuliskan Dieng |
Setelah itu, kami ke telaga warna yang konon
katanya warna airnya bagus. Ngomong-ngomong telaga warna, saya teringat ketika
kelas 4 SD, saya membaca cerita rakyat berjudul “Telaga Warna” di buku cetak bahasa
Indonesia. Namun karena sudah sangat lama, saya lupa bagaimana jalan ceritanya.
Sekarang saya baru tahu kalau telaga warna tersebut ternyata letaknya di Dieng.
Tiket masuk ke Telaga Warna adalah Rp.12.500,00. Kami langsung masuk ke dalam
wilayah telaga warna. Telaganya memang bagus. Pemandangannya bagus juga
dikelilingi oleh bukit-bukit. Selain itu, warna air telaga yang terletak di
tengah berwarna hijau kemudian air yang berada di samping berwarna biru. Semacam
ada gradasi warna tersendiri di air telaga warna tersebut. Kami berjalan
mengitari telaga warna sampai kami masuk ke dalam hutan-hutan kecil. Sebenarnya
saya ingin ke atas sampai batu ratapan angin yang katanya jika berfoto di sana
kedua telaga warna tersebut bisa terlihat dan terlihat perbedaan warna di kedua
telaga tersebut. Namun karena keterbatasan waktu saya di Dieng, saya memutuskan
tidak jadi ke sana. Oh ya ini pertama kali saya pergi dengan teman-teman yang semuanya
laki-laki. Ternyata ada untungnya, mereka tidak rempong dan pengertian.
Entahlah saya merasa diutamakan wkwk baik dalam berfoto ataupun dalam hal lain.
Thanks guys pengertiannya 😊. Setelah berkeliling
telaga warna, tak terasa waktu menunjukkan pukul 13.00. Kami sholat terlebih
dahulu di mushola dalam wilayah telaga warna. Walaupun siang hari bolong,
airnya ternyata tetap dingin seperti es, tapi tetap seger.
Setelah sholat, kami
melanjutkan ke kawah sikidang. Sebenarnya saya sudah pernah mengunjungi ke kawah
sikidang 2 tahun yang lalu. Tiket masuk ke kawah sikidang adalah Rp.15.000,00. Tetapi
masih ada tambahan untuk parkir sebesar Rp.3.000,00.Setelah memarkir kendaraan,
kami berjalan kaki menuju ke kawah Sikidang melewati banyak pedagang oleh-oleh
di tenda-tenda. Sesampainya di samping kawah, kami menggunakan masker karena
bau belerang yang sangat menyengat. Di samping kawah juga terdapat bapak-bapak
penjual telor rebus dari kawah. Jadi telor rebus tersebut dimasak menggunakan
air panas yang dari kawah menggunakan kayu panjang. Telornya diletakkan di
ujung kayu panjang tersebut, lalu kayu panjangnya dimasukkan ke dalam air kawah.
Kami juga membuat sedikit
video singkat ala-ala jurnal. Ditunggu ki editan videonya di youtube hehe.
Selesai mengabadikan gambar, kami duduk sejenak dan mendengarkan musik indie
berjudul “Tentang Rumahku” kesukaannya anton. Memang itu anak terlalu indie ya
:p.
Syahdu sekali ya, melihat
pemandangan dari atas sembari merasakan tiupan angin, ditemani lagu indie.
Ketika waktu menunjukkan
pukul 14.45, kami turun bukit. Menuruni bukit ternyata jauh lebih menakutkan
dibandingkan dengan turun karena tanahnya kering sehingga berisiko terpeleset. Setelah
di bawah dan kembali ke parkiran, saya dan anton pulang karena tidak ikut
ngecamp. Alasannya adalah tidak dibolehkan orangtua walaupun sebenarnya saya
ingin sekali ngecamp untuk melihat sunrise.
Di jalan pulang, saya dan anton hampir tersasar. Saat di pertigaan jalan alian-prembun-wadaslintang harusnya saya belok kiri ke arah prembun tetapi kami lurus arah alian. Saat hampir maghrib mulai curiga, ini jalanan sepi banget kaya hutan hutan.
Nah kemudian kami tanya ternyata benar ini jalan yang arah alian. Kemudian kami putar arah dan mencari jalan arah prembun.
Kami maghrib di jalan. Dan saat melewati jalan arah prembun pun tidak ada bedanya. Tetap sepi. Di jalanan cuma ada kami berdua. Kami kemudian diam sepanjang perjalanan dan berdoa semoga selamat sampai rumah.
Anehnya ketika maghrib maghrib waktu terasa begitu lambat dan jarak yang kami tempuh rasanya jauh. Wallahu'alam.
Tetapi kami tetap bahagia!
Di jalan pulang, saya dan anton hampir tersasar. Saat di pertigaan jalan alian-prembun-wadaslintang harusnya saya belok kiri ke arah prembun tetapi kami lurus arah alian. Saat hampir maghrib mulai curiga, ini jalanan sepi banget kaya hutan hutan.
Nah kemudian kami tanya ternyata benar ini jalan yang arah alian. Kemudian kami putar arah dan mencari jalan arah prembun.
Kami maghrib di jalan. Dan saat melewati jalan arah prembun pun tidak ada bedanya. Tetap sepi. Di jalanan cuma ada kami berdua. Kami kemudian diam sepanjang perjalanan dan berdoa semoga selamat sampai rumah.
Anehnya ketika maghrib maghrib waktu terasa begitu lambat dan jarak yang kami tempuh rasanya jauh. Wallahu'alam.
Tetapi kami tetap bahagia!
Tetapi satu hari di sana
cukup bagi saya untuk merefresh otak dan segala kepenatan pasca skripsi.
Terima kasih teman-teman,
semoga tahun depan bisa ke sana lagi ya. Semoga.
![]() |
| Sunrise dari Sikunir |





Komentar
Posting Komentar