Langsung ke konten utama

Visionary Life 1: Quarter Life Crysis

Beberapa insight yang aku dapatkan dari buku visionary life,karya Jodhias.
silhouette of road signage during golden hour
sumber : unsplash.com
Umur 20an adalah masa dimana orang-orang menyebutnya sebagai quarter life crysis yaitu dimana kita akan merasa galau tentang masa depan, lulus atau tidak, masuk sekolah favorit atau tidak, lanjut kerja atau nikah, dsb. 
Jika quarter life crysis menyerang manusia, ia bisa membuat orang tersebut bertanya-tanya tentang semua hal privasi yang tak bisa dijawab dengan jawaban begitu saja secara sederhana. Seperti misalnya, "Apa sih yang kamu kejar?", "Apa tujuan hidupmu ?", "Apa passionmu ?", tunggu-tunggu, kita nanti sama-sama mati kan ya, "Lalu ini semua buat apa?" 
Bagi yang sudah bisa menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, Selamat! Kalian keren !
Tapi yang belum, gapapa, kalian ga sendiri ! Tapi segera temukan - ngomong ke sendiri juga

Aku juga baru kepikiran hal-hal ini aat mau masuk semester 7. Saat itu sedang liburan semester. Karena aku tinggal 1 tahun lagi menyandang gelar mahasiswa sarjana, dan ketika melihat ke belakang aku merasa menyesal karena belum berbuat banyak. Saat itu, aku sudah kepikiran rencana-rencana ke depan, namun ada 1 hal yang aku takutkan, yaitu ipk! haha. Sampai-sampai aku ke Jogja untuk mendatangi  sebuah kantor yang mengurusi tentang studi ke LN dan bertanya perihal ipk. Tetapi setelah mendapatkan jawabannya, aku cukup lega. Lalu aku bertekad untuk memperbaiki ipk ku. Namun, sekarang ini juga masih suka mikir sebenarnya aku hidup yang seperti apa, kok rasanya aku tidak pintar di segala hal, kok rasanya aku gatau apa kesukaanku, dsb dsb.. Pertanyaan-pertanyaan itu pun masih terngiang ngiang sampai sekarang.

Setelah membaca buku ini aku menemukan sebuah insight.
Pernah ngliat gunung es ga ? Kalau belum, carilah di google, karena aku pun belum pernah melihatnya secara langsung kecuali di film titanic !
Jika kita perhatikan, gunung es yang terlihat tidak terlalu tinggi. Tapi ternyata, gunung es memiliki fondasi yang sangat dalam di dalam laut memiliki ukuran yang jauh lebih besar dibandingkan puncaknya.
Meresapi hal tersebut, aku sadar bahwa kesuksesan yang terlihat dari seseorang ataupun hasil baik dan buruk yang dialami seseorang adalah akibat dari pemikiran dan kebiasaan orang tersebut.Baik pemikiran dan kebiasaan, keduanya merupakan hal yang tidak terlihat. 
Lalu, aku jadi sadar, untuk membangun sesuatu yang terlihat harus dimulai dari yang tidak terlihat. Karena kekuatan yang hakiki itu berasal dari dalam pikiran dan jiwa kita.
Sebagai contoh lagi, gedung-gedung tinggi di perkotaan dimulai dari tanah. Bangunan itu lebih dulu disusun di dalam kepala sang arsitek, baru setelah itu kontraktor mengerjakan pekerjaannya sesuai dengan bayangan sang arsitek melalui medium rancangan bangunan yang dipahami secara bersama.

Oleh karena itu, dapat kita ambil kesimpulan seperti ini
"Pikiran akan menghasilkan perkataan. Perkataan akan menghasilkan perbuatan. Perbuatan akan menghasilkan kebiasaan. Kebiasaan akan menghasilkan takdir."

Di dalam islam, pondasi dari segala hal untuk melakukan sesuatu disebut dengan niat. Segala sesuatu yang kita dapatakan sesuai dengan niatnya. 
Maka, ketika dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi memang perlu menghadirkan jiwa, iman, dan juga pikiran yang jernih. Sebelum merancang rencana hidup ke depan juga harus tau dulu niatnya untuk apa, harus tau dulu "why"nya. Karena, "why" dapat menjadi bahan bakar untuk kita terus bergerak. 

Semangat menemukan !

Rumah, 5 Juli 2020

Komentar

  1. Quarter life crisis, bikin semua hal jadi terasa perlu untuk dipertanyakan. Lagi dalam fase ini juga kayaknya. Setelah dengan mantap memilih jalan hidup yang pengen saya jalani, di tengah jalan saya malah jadi ragu. Ah, membingungkan.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramadhan Day 22 : Ke Kota

Tidak ada yang bisa duduk tenang. Hujan deras menghimpun cemas di pintu stasiun. Kereta seharusnya datang 5 menit yang lalu. Terkadang, satu menit menunggu terasa lebih merugikan daripada seumur hidup berlalu sia-sia. Seorang pemuda menyalami seorang bapak yang kupikir adalah orangtuanya. Sang bapak melambaikan tangan. Bersedih. Senyum getirnya memunculkan keriput. Si pemuda membalas dengan lambaian yang sama. Tetapi sumringah. Senyum bahagianya memunculkan rona merah. Seolah ia sedang berpura-pura lupa bahwa pria berkeriput itu telah menua. Begitu pun mimpi-mimpi yang menunggunya di kota. Demikian pikirnya, barangkali. Berjarak satu sama lain bukanlah pilihan sulit bagi sebagian orang. Jauh dan dekat hanya soal hitungan kilometer. Berbagai moda melipat jarak bagai kertas. Tetapi seringkali, jarak tidak bekerja seperti itu. Ia mengganti peta dalam pikiranmu dengan ilusi. Jauh dekat bukan lagi dihitung melalui kilometer. Meski ia disampingmu, tapi seringkali ia terasa jauh. Sejauh ...

Ramadhan Day 25 : Tantangan Itu Biasa, Menyelesaikannya itu Istimewa

FIK UI 2015 wisuda. dokumentasi pribadi Pernah tidak dalam hidupmu kamu membuat keputusan yang menurutmu paling menantang ? Aku pernah yaitu saat memutuskan aku mengikuti profesi ners. Bagiku itu adalah keputusan besar yang membentuk diriku di hari ini. Setahun yang lalu, di saat yang sama aku sedang sibuk merevisi proposal skripsiku dan merayu dosen pembimbing agar aku bisa sidang akhir Mei. Singkat cerita aku bisa sidang di akhir Mei. Aku merasa aku menang. Aku berhasil melewati salah 1 fase terberatku, yaitu skripsi. Namun setelah itu muncul pertanyaan baru lagi, what's next ? Bagi mahasiswa keperawatan, wisuda sarjana bukanlah akhir dari masa perkuliahan. Justru ini awal kehidupan yang sesungguhnya. Setelah menimbang berbagai pertimbangan, aku akhirnya memutuskan untuk mengikuti profesi, karena jalan mimpiku yang selanjutnya memang harus dilalui melalui profesi. Iya, aku harus mendapatkan Surat Tanda Registrasi (STR) agar aku dapat bekerja sebagai praktisi. Untuk mend...

Ramadhan Day 19 : tidak berjudul

Aku tidak menjamin bisa seperti mereka. Karena I life with myself.  Tetapi setidaknya aku sedang berproses untuk bertumbuh setiap harinya. Meski hanya 1 mm. Aku juga tidak yakin, pertumbuhanku setiap hari bisa membuatku layak. Tetapi aku yakin, apa yang aku lakukan hari ini tidak ada yang sia-sia. Apa yang aku lakukan hari ini semoga bisa mengubah masa depanku, walaupun hanya sedikit. Sesuatu yang sangat aku khawatirkan. Rumah, 12 Mei 2020 19 Ramadhan 1441 H