Langsung ke konten utama

Cerita (super) pendek

Dari awal kamu mengatakan bahwa kita hanyalah teman. Kamu  berulang kali mengatakannya demikian. Sehingga aku selalu beranggapan bahwa kebaikan kebaikanmu hanyalah karena kamu memang demikian ke temanmu. Ga hanya ke aku, tapi mungkin juga ke temanmu yang lain.
"Paling dia begitu ke semuanya". Sebuah afirmasi yang aku lakukan terus menerus ke diriku sendiri. Setidaknya itu yang menyelamatkanku dari drama yang tidak perlu. Aku tidak perlu pusing menerka nerka maksudmu, kebaikanmu. Karena dari awal kamu sudah mengatakan demikian. Meski seringkali aku bertanya tanya, tapi seringnya jawabannya aku kaitkan lagi ke perkataanmu yang awal. 
Suatu hari kamu tiba tiba bertanya kepadaku tentang beberapa hal. Kamu bertanya kepadaku tentang kriteria kesiapan laki laki, tentang finansial planning, bagaimana menghadapi keadaan ekonomi yang sulit,tentang pendapatku merawat orangtua dan mertua, tentang bagaimana jika harus di rumah dan tidak bekerja, dsb. 
Ketika kamu bertanya hal demikian pun aku masih berpikiran bahwa kamu ingin mendapatkan referensi dari sisi perempuan. Meski, terkadang aku bertanya tanya. Kamu memang nanya beneran, atau basa basi, atau memang ingin mendapatkan sudut pandang dari sisi perempuan. Tapi aku selalu tidak mau ambil pusing. 
Aku hanya ingin bebas, tidak mau terikat dengan hal hal rumit, apalagi hanya basa basi.
Tapi sebenarnya pun sulit juga untuk menganggap itu biasa saja..karena hey tolong lah kita kan sudah sama sama dewasa, mana ada seseorang yang hanya basa basi bertanya hal hal demikian.

Tapi pikiranku selalu berkata "Ah dia paling gitu ke semua orang."

Maaf ya, di mataku sekarang
Sebaik baiknya laki laki, kalau tidak tegas mengambil sikap atau hanya basa basi..itu tidak terhitung laki laki yang baik menurutku.
Karena kebaikan laki laki yang bisa diperhitungkan sebenarnya hanya 1. Kamu tau engga ?
Semoga kamu tahu.
Dan kamu bisa mewujudkan 1 kebaikan itu.

#fiction

Depok, 25 Oktober 2020

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramadhan Day 22 : Ke Kota

Tidak ada yang bisa duduk tenang. Hujan deras menghimpun cemas di pintu stasiun. Kereta seharusnya datang 5 menit yang lalu. Terkadang, satu menit menunggu terasa lebih merugikan daripada seumur hidup berlalu sia-sia. Seorang pemuda menyalami seorang bapak yang kupikir adalah orangtuanya. Sang bapak melambaikan tangan. Bersedih. Senyum getirnya memunculkan keriput. Si pemuda membalas dengan lambaian yang sama. Tetapi sumringah. Senyum bahagianya memunculkan rona merah. Seolah ia sedang berpura-pura lupa bahwa pria berkeriput itu telah menua. Begitu pun mimpi-mimpi yang menunggunya di kota. Demikian pikirnya, barangkali. Berjarak satu sama lain bukanlah pilihan sulit bagi sebagian orang. Jauh dan dekat hanya soal hitungan kilometer. Berbagai moda melipat jarak bagai kertas. Tetapi seringkali, jarak tidak bekerja seperti itu. Ia mengganti peta dalam pikiranmu dengan ilusi. Jauh dekat bukan lagi dihitung melalui kilometer. Meski ia disampingmu, tapi seringkali ia terasa jauh. Sejauh ...

Ramadhan Day 25 : Tantangan Itu Biasa, Menyelesaikannya itu Istimewa

FIK UI 2015 wisuda. dokumentasi pribadi Pernah tidak dalam hidupmu kamu membuat keputusan yang menurutmu paling menantang ? Aku pernah yaitu saat memutuskan aku mengikuti profesi ners. Bagiku itu adalah keputusan besar yang membentuk diriku di hari ini. Setahun yang lalu, di saat yang sama aku sedang sibuk merevisi proposal skripsiku dan merayu dosen pembimbing agar aku bisa sidang akhir Mei. Singkat cerita aku bisa sidang di akhir Mei. Aku merasa aku menang. Aku berhasil melewati salah 1 fase terberatku, yaitu skripsi. Namun setelah itu muncul pertanyaan baru lagi, what's next ? Bagi mahasiswa keperawatan, wisuda sarjana bukanlah akhir dari masa perkuliahan. Justru ini awal kehidupan yang sesungguhnya. Setelah menimbang berbagai pertimbangan, aku akhirnya memutuskan untuk mengikuti profesi, karena jalan mimpiku yang selanjutnya memang harus dilalui melalui profesi. Iya, aku harus mendapatkan Surat Tanda Registrasi (STR) agar aku dapat bekerja sebagai praktisi. Untuk mend...

Ramadhan Day 9 : Dear Me,

sumber : unsplash.com Ada kalanya aku ingin menjadi aku yang masih berumur 10 tahun. Saat itu aku masih kelas 5 SD. Saat segalanya begitu menyenangkan. Saat segalanya begitu sederhana. Saat raga dan jiwa tak perlu saling tentang. Saat mulut dan hati tak perlu saling berpura-pura. Saat aku sedang suka-sukanya membaca buku pelajaran, apalagi buku pelajaran Bahasa Indonesia. Aku suka, karena di sana banyak cerita. Dengan membaca cerita, aku seperti jalan-jalan. Aku senang saat pelajaran IPA, terutama tentang tumbuh-tumbuhan. Saat itu, aku menjadi rajin meminjam buku ensiklopedia di perpus tentang bonsai, tanaman-tanaman yang tumbuh di dunia, dan juga hewan-hewan. Oh ya aku ingat, aku juga penasaran dengan planet-planet dan luar angkasa. Lantas aku meminjam buku ensiklopedia tentang itu. Dari buku itulah aku kenal dengan yang namanya negara-negara luar dan tanaman-tanaman yang tumbuh di sana. Aku juga jadi mengetahui tentang tata surya. Tak hanya itu, aku juga suka dengan pelajaran I...