Dari awal kamu mengatakan bahwa kita hanyalah teman. Kamu berulang kali mengatakannya demikian. Sehingga aku selalu beranggapan bahwa kebaikan kebaikanmu hanyalah karena kamu memang demikian ke temanmu. Ga hanya ke aku, tapi mungkin juga ke temanmu yang lain.
"Paling dia begitu ke semuanya". Sebuah afirmasi yang aku lakukan terus menerus ke diriku sendiri. Setidaknya itu yang menyelamatkanku dari drama yang tidak perlu. Aku tidak perlu pusing menerka nerka maksudmu, kebaikanmu. Karena dari awal kamu sudah mengatakan demikian. Meski seringkali aku bertanya tanya, tapi seringnya jawabannya aku kaitkan lagi ke perkataanmu yang awal.
Suatu hari kamu tiba tiba bertanya kepadaku tentang beberapa hal. Kamu bertanya kepadaku tentang kriteria kesiapan laki laki, tentang finansial planning, bagaimana menghadapi keadaan ekonomi yang sulit,tentang pendapatku merawat orangtua dan mertua, tentang bagaimana jika harus di rumah dan tidak bekerja, dsb.
Ketika kamu bertanya hal demikian pun aku masih berpikiran bahwa kamu ingin mendapatkan referensi dari sisi perempuan. Meski, terkadang aku bertanya tanya. Kamu memang nanya beneran, atau basa basi, atau memang ingin mendapatkan sudut pandang dari sisi perempuan. Tapi aku selalu tidak mau ambil pusing.
Aku hanya ingin bebas, tidak mau terikat dengan hal hal rumit, apalagi hanya basa basi.
Tapi sebenarnya pun sulit juga untuk menganggap itu biasa saja..karena hey tolong lah kita kan sudah sama sama dewasa, mana ada seseorang yang hanya basa basi bertanya hal hal demikian.
Tapi pikiranku selalu berkata "Ah dia paling gitu ke semua orang."
Maaf ya, di mataku sekarang
Sebaik baiknya laki laki, kalau tidak tegas mengambil sikap atau hanya basa basi..itu tidak terhitung laki laki yang baik menurutku.
Karena kebaikan laki laki yang bisa diperhitungkan sebenarnya hanya 1. Kamu tau engga ?
Semoga kamu tahu.
Dan kamu bisa mewujudkan 1 kebaikan itu.
#fiction
Depok, 25 Oktober 2020
Komentar
Posting Komentar