Ada seorang perempuan yang berhari-hari menimbang-nimbang keputusan apa yang akan diambil. Keputusan yang sangat menentukan timeline hidup ke depannya. Perempuan itu dipenuhi ragu, takut, khawatir dan berbagai pikiran lain yang dapat dikatakan "terlalu overthinking". Mungkin bagi orang lain, memutuskan akan berkarya dimana tidak menjadi masalah yang berarti. Akan tetapi, bagi perempuan itu, sebuah tempat dimana harus berkarya kalau bisa sesuai dengan keingin dari hatinya. Karena ia percaya bahwa segala sesuatu yang dikerjakan dari hati akan sampai ke hati. Bahasa simpelnya adalah ikhlas. Perempuan itu tidak muluk-muluk keinginannya. Bisa berkarya di tempat yang ia yakin ia dapat bertumbuh, ia dapat menjalaninya dengan ikhlas dan tenang, itu sudah menjadi kebahagiaan sendiri untuknya.
Perempuan itu ragu akan kemampuannya sendiri, ragu akan kepercayaan dirinya sendiri apakah mampu atau tidak menjalani konsekuensinya. Rasa-rasanya, rasa takut dan khawatir masih lebih besar dibanding perasaan berani.
Perempuan itu mencoba beberapa kali membagikan resahnya kepada teman-teman dekatnya. Tapi nihil. Tidak mendapatkan apapun. Karena memang, teman hanya bisa memberikan pandangan, keputusan final tetap ada pada diri sendiri. Hari-hari terakhir ini, perempuan itu selalu diliputi oleh keraguan. Berhari-hari itu pula, perempuan itu berusaha meyakinkan diri sendiri. Ia mulai membangun keberanian dirinya yang hilang, ia perlahan meruntuhkan ego dan keraguannya, dan ia selalu mengafirmasi diri sendiri setiap hari : semua akan baik-baik saja, lillahi ta'ala saja. Ketika sudah mantap, perempuan itu mengklik tombol submit. Kehidupan perempuan itu mungkin akan berubah setelah itu.
Perempuan itu, mungkin bukanlah perempuan kuat secara fisik dan mental, iya perempuan itu masih belajar untuk sekedar menguatkan diri sendiri. Perempuan itu mungkin bukanlah seorang petualang yang sering pergi ke tempat-tempat jauh. Iya, perempuan itu hanyalah anak rumahan yang lebih mendengarkan nasihat ayah ibu.
Perempuan itu menyadari memang ia adalah perempuan yang biasa saja. Tidak sekuat itu, tidak sepintar itu, tidak semenarik itu, dan lain-lain. Namun apakah orang biasa saja tidak boleh untuk belajar menjadi kuat ? Apa tidak boleh mencoba untuk bertumbuh menjadi yang lebih baik dari dirinya sendiri saat ini ?
Perempuan itu tidak suka pembandingan, meskipun bercanda. Baginya, membanding-bandingkan orang lain itu menyakitkan. Karena setiap orang memiliki variabel hidup yang berbeda, yang tidak bisa dibanding-bandingkan. Perempuan itu yakin bahwa setiap orang adalah mutiara. Setiap orang itu keren. Setiap orang itu bisa.
Di masa-masa kritis ini, perempuan itu sedang butuh dukungan, bukan pembandingan. Perempuan itu sedang butuh dikuatkan, bukan diruntuhkan kepercayaan dirinya.
Mungkin bagimu itu bercanda, tapi perempuan itu menangis di dalam hatinya.
Kamu hanya tidak tahu bagaimana perjuangan perempuan itu setiap hari melawan ketakurtan dan keraguan yang ada pada dirinya, belajar untuk menjadi lebih baik setiap hari dengan membaca, memperbaiki sikap, dan lain-lain.
Tapi, dalam sekejap perempuan itu menjadi merasa tidak layak lagi.
Kamu jahat.
Atau ekspektasi perempuan itu yang terlalu tinggi ?
Rumah, 2 Oktober 2020

Komentar
Posting Komentar