Langsung ke konten utama

Namanya Juga Ekspektasi

Ada seorang perempuan yang berhari-hari menimbang-nimbang keputusan apa yang akan diambil. Keputusan yang sangat menentukan timeline hidup ke depannya. Perempuan itu dipenuhi ragu, takut, khawatir dan berbagai pikiran lain yang dapat dikatakan "terlalu overthinking". Mungkin bagi orang lain, memutuskan akan berkarya dimana tidak menjadi masalah yang berarti. Akan tetapi, bagi perempuan itu, sebuah tempat dimana harus berkarya kalau bisa sesuai dengan keingin dari hatinya. Karena ia percaya bahwa segala sesuatu yang dikerjakan dari hati akan sampai ke hati. Bahasa simpelnya adalah ikhlas. Perempuan itu tidak muluk-muluk keinginannya. Bisa berkarya di tempat yang ia yakin ia dapat bertumbuh, ia dapat menjalaninya dengan ikhlas dan tenang, itu sudah menjadi kebahagiaan sendiri untuknya. 

Perempuan itu ragu akan kemampuannya sendiri, ragu akan kepercayaan dirinya sendiri apakah mampu atau tidak menjalani konsekuensinya. Rasa-rasanya, rasa takut dan khawatir masih lebih besar dibanding perasaan berani. 

Perempuan itu mencoba beberapa kali membagikan resahnya kepada teman-teman dekatnya. Tapi nihil. Tidak mendapatkan apapun. Karena memang, teman hanya bisa memberikan pandangan, keputusan final tetap ada pada diri sendiri. Hari-hari terakhir ini, perempuan itu selalu diliputi oleh keraguan. Berhari-hari itu pula, perempuan itu berusaha meyakinkan diri sendiri. Ia mulai membangun keberanian dirinya yang hilang, ia perlahan meruntuhkan ego dan keraguannya, dan ia selalu mengafirmasi diri sendiri setiap hari : semua akan baik-baik saja, lillahi ta'ala saja. Ketika sudah mantap, perempuan itu mengklik tombol submit. Kehidupan perempuan itu mungkin akan berubah setelah itu.

Perempuan itu, mungkin bukanlah perempuan kuat secara fisik dan mental, iya perempuan itu masih belajar untuk sekedar menguatkan diri sendiri. Perempuan itu mungkin bukanlah seorang petualang yang sering pergi ke tempat-tempat jauh. Iya, perempuan itu hanyalah anak rumahan yang lebih mendengarkan nasihat ayah ibu.

Perempuan itu menyadari memang ia adalah perempuan yang biasa saja. Tidak sekuat itu, tidak sepintar itu, tidak semenarik itu, dan lain-lain.  Namun apakah orang biasa saja tidak boleh untuk belajar menjadi kuat ? Apa tidak boleh mencoba untuk bertumbuh menjadi yang lebih baik dari dirinya sendiri saat ini ? 

Perempuan itu tidak suka pembandingan, meskipun bercanda. Baginya, membanding-bandingkan orang lain itu menyakitkan. Karena setiap orang memiliki variabel hidup yang berbeda, yang tidak bisa dibanding-bandingkan. Perempuan itu yakin bahwa setiap orang adalah mutiara. Setiap orang itu keren. Setiap orang itu bisa. 

Di masa-masa kritis ini, perempuan itu sedang butuh dukungan, bukan pembandingan. Perempuan itu sedang butuh dikuatkan, bukan diruntuhkan kepercayaan dirinya.

Mungkin bagimu itu bercanda, tapi perempuan itu menangis di dalam hatinya. 

Kamu hanya tidak tahu bagaimana perjuangan perempuan itu setiap hari melawan ketakurtan dan keraguan yang ada pada dirinya, belajar untuk menjadi lebih baik setiap hari dengan membaca, memperbaiki sikap, dan lain-lain. 

Tapi, dalam sekejap perempuan itu menjadi merasa tidak layak lagi.

Kamu jahat.

Atau ekspektasi perempuan itu yang terlalu tinggi ?

 

Rumah, 2 Oktober 2020



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramadhan Day 22 : Ke Kota

Tidak ada yang bisa duduk tenang. Hujan deras menghimpun cemas di pintu stasiun. Kereta seharusnya datang 5 menit yang lalu. Terkadang, satu menit menunggu terasa lebih merugikan daripada seumur hidup berlalu sia-sia. Seorang pemuda menyalami seorang bapak yang kupikir adalah orangtuanya. Sang bapak melambaikan tangan. Bersedih. Senyum getirnya memunculkan keriput. Si pemuda membalas dengan lambaian yang sama. Tetapi sumringah. Senyum bahagianya memunculkan rona merah. Seolah ia sedang berpura-pura lupa bahwa pria berkeriput itu telah menua. Begitu pun mimpi-mimpi yang menunggunya di kota. Demikian pikirnya, barangkali. Berjarak satu sama lain bukanlah pilihan sulit bagi sebagian orang. Jauh dan dekat hanya soal hitungan kilometer. Berbagai moda melipat jarak bagai kertas. Tetapi seringkali, jarak tidak bekerja seperti itu. Ia mengganti peta dalam pikiranmu dengan ilusi. Jauh dekat bukan lagi dihitung melalui kilometer. Meski ia disampingmu, tapi seringkali ia terasa jauh. Sejauh ...

Ramadhan Day 25 : Tantangan Itu Biasa, Menyelesaikannya itu Istimewa

FIK UI 2015 wisuda. dokumentasi pribadi Pernah tidak dalam hidupmu kamu membuat keputusan yang menurutmu paling menantang ? Aku pernah yaitu saat memutuskan aku mengikuti profesi ners. Bagiku itu adalah keputusan besar yang membentuk diriku di hari ini. Setahun yang lalu, di saat yang sama aku sedang sibuk merevisi proposal skripsiku dan merayu dosen pembimbing agar aku bisa sidang akhir Mei. Singkat cerita aku bisa sidang di akhir Mei. Aku merasa aku menang. Aku berhasil melewati salah 1 fase terberatku, yaitu skripsi. Namun setelah itu muncul pertanyaan baru lagi, what's next ? Bagi mahasiswa keperawatan, wisuda sarjana bukanlah akhir dari masa perkuliahan. Justru ini awal kehidupan yang sesungguhnya. Setelah menimbang berbagai pertimbangan, aku akhirnya memutuskan untuk mengikuti profesi, karena jalan mimpiku yang selanjutnya memang harus dilalui melalui profesi. Iya, aku harus mendapatkan Surat Tanda Registrasi (STR) agar aku dapat bekerja sebagai praktisi. Untuk mend...

Ramadhan Day 19 : tidak berjudul

Aku tidak menjamin bisa seperti mereka. Karena I life with myself.  Tetapi setidaknya aku sedang berproses untuk bertumbuh setiap harinya. Meski hanya 1 mm. Aku juga tidak yakin, pertumbuhanku setiap hari bisa membuatku layak. Tetapi aku yakin, apa yang aku lakukan hari ini tidak ada yang sia-sia. Apa yang aku lakukan hari ini semoga bisa mengubah masa depanku, walaupun hanya sedikit. Sesuatu yang sangat aku khawatirkan. Rumah, 12 Mei 2020 19 Ramadhan 1441 H