Langsung ke konten utama

Random Thought : Menasihati Diri

Akhir-akhir ini sibuk dengan diri sendiri. Sudah lama sih sebenarnya haha 

Tapi akhir-akhir ini yang paling berasa kalau semakin memikirkan diri sendiri, ternyata makin sadar kalau belum tau banyak hal dan makin sadar kalau masih banyak hal yang perlu difiksasi oleh diri sendiri.

Menyelesaikan diri tak segampang itu ternyata. Menjawab pertanyaan, "Sebenarnya, visi hidupmu apa ?" Itu pun sulit dijawab jika tidak benar-benar dipikirkan dan direnungi. Apalagi masalah ego. Aku punya rencana, tapi aku lupa kalau jika pada kenyataannya tak sesuai rencana, berarti itu yang terbaik, berarti itulah jawabannya. Ya, sesimple itu harusnya. Mungkin orang lain akan berkomentar, "Bersyukur dong", "Ya ampun apa susahnya sih buat bersyukur", atau "Yaudah jalani aja", atau komentar-komentar negatif lainnya. Tapi sayangnya mereka ga paham ga ngerti apa yang dirasakan. Mereka hanyalah melihat luarnya saja. 

Menasihati diri sendiri juga lebih sulit dibanding menasihati orang lain ya. Karena, jika kita menasihati orang lain belum tentu kita dapat meraskaan yang orang lain rasakan. Apalagi, jika jiwa empati kita sangat minim, yang ada malah ngejudge. Seperti menasihati untuk bersyukur atas apapun yang terjadi. Bagi kita mungkin simple dan mudah dilakukan. Tapi  belum tentu dengan orang lain. Kadang, orang lain harus merasakan berbagai peristiwa dulu untuk sampai pada tahap bersyukur. Pun, misal jika kita menasihati untuk berbakti kepada orang tua. Ternyata, tidak bisa berlaku dengan mudah pada semua orang. Kisah temanku sendiri, dengan keluarga yang hampir broken home, ternyata membuatnya menjadi sangat kecewa dengan orangtuanya. Berbakti kepada orangtua tidak semudah itu baginya. Rumah, tempat yang harusnya menjadi tempat paling nyaman. Bagi temanku itu menjadi tempat yang ingin sekali dia tinggal pergi. Dari hal itu aku belajar, bahwa apa apa yang terjadi dalam hidup kita. Nasihat-nasihat yang berlaku di hidup kita, belum tentu fit untuk hidup orang lain. 

Setiap orang sedang berjuang di medan juangnya masing-masing. Kamu hanyalah penonton dalam hidup orang lain. Nasihatilah dengan cara yang baik. Jangan pernah menjudge. Gunakan empati. Posisikan diri sebagai orang lain dengan, "Jika orang itu saya..maka saya ingin diperlakukan seperti bla bla bla...". Dengan begitu, kita bisa menjadi lebih bijak dalam bersikap dan berkomunikasi dengan orang lain. 

Depok, 6 November 2020


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramadhan Day 22 : Ke Kota

Tidak ada yang bisa duduk tenang. Hujan deras menghimpun cemas di pintu stasiun. Kereta seharusnya datang 5 menit yang lalu. Terkadang, satu menit menunggu terasa lebih merugikan daripada seumur hidup berlalu sia-sia. Seorang pemuda menyalami seorang bapak yang kupikir adalah orangtuanya. Sang bapak melambaikan tangan. Bersedih. Senyum getirnya memunculkan keriput. Si pemuda membalas dengan lambaian yang sama. Tetapi sumringah. Senyum bahagianya memunculkan rona merah. Seolah ia sedang berpura-pura lupa bahwa pria berkeriput itu telah menua. Begitu pun mimpi-mimpi yang menunggunya di kota. Demikian pikirnya, barangkali. Berjarak satu sama lain bukanlah pilihan sulit bagi sebagian orang. Jauh dan dekat hanya soal hitungan kilometer. Berbagai moda melipat jarak bagai kertas. Tetapi seringkali, jarak tidak bekerja seperti itu. Ia mengganti peta dalam pikiranmu dengan ilusi. Jauh dekat bukan lagi dihitung melalui kilometer. Meski ia disampingmu, tapi seringkali ia terasa jauh. Sejauh ...

Ramadhan Day 25 : Tantangan Itu Biasa, Menyelesaikannya itu Istimewa

FIK UI 2015 wisuda. dokumentasi pribadi Pernah tidak dalam hidupmu kamu membuat keputusan yang menurutmu paling menantang ? Aku pernah yaitu saat memutuskan aku mengikuti profesi ners. Bagiku itu adalah keputusan besar yang membentuk diriku di hari ini. Setahun yang lalu, di saat yang sama aku sedang sibuk merevisi proposal skripsiku dan merayu dosen pembimbing agar aku bisa sidang akhir Mei. Singkat cerita aku bisa sidang di akhir Mei. Aku merasa aku menang. Aku berhasil melewati salah 1 fase terberatku, yaitu skripsi. Namun setelah itu muncul pertanyaan baru lagi, what's next ? Bagi mahasiswa keperawatan, wisuda sarjana bukanlah akhir dari masa perkuliahan. Justru ini awal kehidupan yang sesungguhnya. Setelah menimbang berbagai pertimbangan, aku akhirnya memutuskan untuk mengikuti profesi, karena jalan mimpiku yang selanjutnya memang harus dilalui melalui profesi. Iya, aku harus mendapatkan Surat Tanda Registrasi (STR) agar aku dapat bekerja sebagai praktisi. Untuk mend...

Ramadhan Day 19 : tidak berjudul

Aku tidak menjamin bisa seperti mereka. Karena I life with myself.  Tetapi setidaknya aku sedang berproses untuk bertumbuh setiap harinya. Meski hanya 1 mm. Aku juga tidak yakin, pertumbuhanku setiap hari bisa membuatku layak. Tetapi aku yakin, apa yang aku lakukan hari ini tidak ada yang sia-sia. Apa yang aku lakukan hari ini semoga bisa mengubah masa depanku, walaupun hanya sedikit. Sesuatu yang sangat aku khawatirkan. Rumah, 12 Mei 2020 19 Ramadhan 1441 H