Langsung ke konten utama

Postingan

Assalamualaikum blog Lama sekali tangan ini tidak menulis di sini. Sebenarnya banyak sekali yang ingin ditumpahkan, banyak sekali ide tulisan, tetapi waktu sedang memintaku untuk fokus belajar. Kapan kapan kita menulis lagi ya blog:")

Menjadi Dewasa

Menjadi dewasa, mulai memikirkan hidup yang bukan untuk diri sendiri saja. Segala ambisi mulai dileburkan dengan realita. Orangtua yang semakin menua, adik yang akan mulai meninggalkan rumah untuk menggapai mimpinya. Di titik ini, ada sebuah kekhawatiran luar biasa dari orangtua. Apalagi melihat anak pertamanya sudah menginjak kepala dua. Tentang sepinya rumah ini, tentang masa tua. Entahlah, begitu banyak hal berkecamuk di masa sekarang. Bagaimanapun, orangtua tetap memikirkan anaknya. Setelah mengantarkan sampai kuliah pun memikirkan bagaimana kehidupan anaknya setelah ini. Apakah anaknya sudah bisa berdiri di atas kakinya sendiri untuk melanjutkan kehidupannya yang mungkin akan berpisah dengan mereka suatu hari nanti. Hal ini menjadi semacam kewajiban orangtua untuk memandirikan anak. Agar kelak ketika berpisah, mereka tidak khawatir, anaknya sudah dibekali perbekalan yang cukup untuk melanjutkan hidup. Kalau dipikir dan dirasakan. Yang membuat orangtua bahagia sederhana. Bu...

Review Novel Merdeka Sejak Hati

gambar dari goodreads,com Novel terbaru karya Ahmad Fuadi telah memberikan saya   pandangan   baru terhadap hidup yaitu kemerdekaan hakiki. Mungkin, dulu makna merdeka bagi saya adalah ketika negara sudah tidak dijajah oleh penjajah. Atau disaat saya tidak memiliki tugas apapun. Namun, setelah membaca novel ini makna itu telah berubah. Merdeka memang artinya kita bisa lepas dari penjajah. Namun, setelah kemerdekaan, Indonesia pun masih berjuang untuk mempertahankan kemerdekaanya. Tantangannya bukan lagi penjajah dari luar tetapi justru dari rakyat Indonesia sendiri yang berniat memberontak. Sedangkan merdeka bagi saya adalah ketika saya dapat menjalankan hidup ini tanpa ada pengaruh dari orang lain, ketika saya dapat menjalani hidup sesuai dengan nilai islam yang telah saya pelajari, ketika saya dapat memerdekakan pikiran saya dengan terus sekolah, ketika saya tidak terikat dengan siapapun atau apapun hal-hal yang berkaitan dengan dunia seperti ketergantungan kepada ...

Sebuah Jurnal Negeri di Atas Awan

“Manusia terlahir merdeka, lingkungan membuat kita terpenjara”- Fiersa Besari Manusia terkadang seenaknya saja. Meminta waktu lebih lambat dari biasanya ketika sedang mengalami hal yang membahagiakan dan meminta waktu berjalan secepat kilat ketika sedang mengalami ketidaknyamanan. Saya pun demikian. Namun kali ini saya bisa lebih berdamai dengan keadaan. Sebuah kenangan terkadang membuat kita terpenjara. Terpenjara dalam angan-angan kita sendiri. Berandai-andai, andaikan hari membahagiakan itu terjadi setiap hari, andaikan di hari yang membahagiakan itu waktu berjalan lebih lambat atau bahkan berharap waktu kan berhenti. Tapi saya sadar, tidak ada yang abadi di dunia ini. Semua akan datang dan pergi silih berganti. Maka, saya simpan saja kenangan yang bahagia dan tidak bahagia tersebut sebagai pembelajaran. Meski sudah pernah ke Dieng 2 tahun yang lalu, entah mengapa tahun ini saya ingin mengunjunginya lagi. Alasan utamanya adalah karena ingin merefresh otak dari perskripsian...
Kalau mau berhasil ya harus menghadapi itu semua (profesi dan lalala yeyeye nya). Kalau gamau menghadapi itu semua ya cukup sampai sini . Semangat !!!!!!
Seiring berjalannya waktu, bertambahnya umur, dan bertambahnya pemahaman hidup, pemahaman saya terhadap cinta mencintai seseorang telah berubah.  Dulu, saya memaknai cinta sebagai perasaan yang harus diungkapkan dan harus memiliki. Namun sekarang tidak sesederhana itu. Perasaan ini terlalu murah jika mudah diungkapkan tanpa adanya tindakan yang serius. Terlalu indah jika harus untuk main-main. Terlalu berharga jika hanya untuk memiliki sesuatu yang tidak bertujuan.  Saya paham, walaupun perasaan itu rumit, namun perlu dijaga karena perasaan itu sangat berharga. Yang perasaan itu perlu memiliki tujuan jika hendak diungkapkan. Saya belajar, bahwa menjaga tidak semudah itu. Tetapi saya juga belajar tentang kesabaran, tidak tergesa-gesa. Saya belajar, bahwa menunggu itu tidak semembosankan itu. Banyak hal yang bisa dilakukan. Belajar, berkarya, termasuk bersiap. Mencintai juga belajar mengikhlaskan. Sebagai manusia, saya tidak mengetahui kemana dan dengan siapa l...

Mengejar Mei

“Skripsi yang baik adalah skripsi yang selesai”-Anies Baswedan Setelah menjalani skripsi yang penuh dengan tantangan, ternyata skripsi tidak semenyeramkan yang ada dalam bayangan atau yang kakak tingkat katakan hehe. Jadi selow aja bagi kalian yang akan menjalani fase skripsi ini, nda usah mikir yang aneh-aneh dulu. Jalani aja. Petualangan skripsi saya dimulai di penghujung semester 7 saat saya masih menjalani praktik klinik stase anak. Sekitar bulan Desember awal kami se-angkatan ada orientasi tentang perskripsian oleh koordinator prodi S1. Skripsi di fakultas saya pada kurikulum saya (karena mulai tahun 2017 kurikulum berganti) dimulai full di semester 8 sehingga kami hanya mempunyai waktu kurang lebih 6 bulan untuk mengerjakan. Oke, saya mulai dengan proses pemilihan departemen peminatan skripsi. Departemen Peminatan Fakultas saya memiliki 6 departemen peminatan yaitu departemen dasar keperawatan dan keperawatan dasar (DKKD), keperawatan medikal bedah (KMB), keperawatan an...