Langsung ke konten utama

Cinta Mereka Tidak Berbatas

Jika dipikir-pikir dan rasakan, kasih sayang orangtua kepada anak tiada batasnya.
Tanpa kita minta, tanpa kita suruh, mereka memberikannya dengan tulus ikhlas.
Bersyukur, memiliki orangtua yang demikian. Orangtua lengkap dengan kasih sayang dan banyak memberikan pembekalan hidup. Bukan, bukan bekal harta tapi ilmu.

Ibu,
Seseorang yang setiap pagi bangun subuh untuk menyiapkan sarapan keluarga.
oiya bahkan ketika saya masih SMA, ibu saya setiap pagi menyiapkan bekal sarapan untuk saya makan siang di sekolah. Memberikan bekal air minum yang setiap hari harus dibawa. Sesederhana itu, tapi rasanya mengena sekali ketika jauh dari rumah.
Bagi saya, ibu itu seseorang yang hebat. Ibu saya ibu rumah tangga, tidak bekerja. Dulu waktu saya masih SD, ibu saya membuka warung di rumah untuk membantu ekonomi keluarga. Jadi ibu saya selalu menemani anak-anaknya tumbuh dan berkembang. Melakukan perannya sebagai ibu dengan baik.
Saya belajar banyak dari ibu saya. Tentang cara menjadi ibu yang baik untuk anak-anak, tetap bersyukur dengan apapun peran yang diberikan dengan menjalankan sebaik-baiknya. Bukankah sesuatu yang biasa jika dijalankan dengan tulus ikhlas akan menghasilkan hal yang luar biasa ?
Lihatlah, anak-anakmu kini Alhamdulilah bisa terus sekolah sampai kuliah dan adik saya SMA di salah satu SMA favorit.
Semua itu, berkat Kersaning Gusti dan doa ibu.
Bapak,
Seorang pekerja keras. Seorang yang menjelmakan cintanya menjadi kerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Dulu, bapak saya adalah pedagang roti di warung-warung hingga saya SD. Namun setelah itu bapak saya memutuskan untuk membuat pabrik roti sendiri hingga saat ini. Kerja kerasnya beliau sudah tak terhitung lagi. Pikiran ruwet ketika roti lagi sepi tak terhitung lagi. Semua bapak lakukan, demi untuk terus memajukan anak-anaknya. Alhamdulilah hingga saat ini, saya masih bisa berkuliah di sini. Banyak teman-teman yang bertanya, "kenapa nda ngambil bidikmisi ? kenapa nda ngambil ukt yang golongan D/C biar lumayan murah ?". Prinsip bapak saya saat itu adalah, jangan pernah membohongi diri sendiri. Walaupun gampang mendapatkan bidikmisi di sini atau dulu bisa saja mengajukan ukt yang golongan D/C tetapi rasanya masih mampu untuk membiayai. Bukan sombong, bapak saya hanya tidak ingin membohongi diri sendiri. Kalau misal mendaftar bidikmisi atau ukt yang golongan D/C, sama saja merasa diri tidak mampu. Padahal masih mampu. Biarkan untuk orang yang lebih membutuhkan saja. Kalau mersa ga mampu, padahal masih mampu, bukankah Allah sesuai dengan prasangka hambaNya ?. Tenang, rezeki anak sudah ada sendiri dan insha Allah lebih berkah.
Saya belajar banyak dari bapak saya tentang hidup. Beliaulah guru kehidupan saya.

Cinta orang tua tak pernah berbatas. Orangtua rela melakukan apapun untuk anak-anaknya. Tak banyak yang mereka harapkan, mereka hanya menginginkan anak-anaknya lebih baik dari mereka, bermanfaat untuk orang lain, dan mengerti 'hakikat hidup'.

Terus, hari ini bapak saya baru pulang ider (menjualkan) roti-rotinya di pasar saya tiba-tiba pengin nulis ini, terharu. Pengorbanannya begitu luar biasa. Melihat kedua orangtua, semakin memberikan semangat kepada saya untuk lebih serius kuliah, harus bisa dadi 'wong'.

Kebumen, 24 Juli 2018

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramadhan Day 22 : Ke Kota

Tidak ada yang bisa duduk tenang. Hujan deras menghimpun cemas di pintu stasiun. Kereta seharusnya datang 5 menit yang lalu. Terkadang, satu menit menunggu terasa lebih merugikan daripada seumur hidup berlalu sia-sia. Seorang pemuda menyalami seorang bapak yang kupikir adalah orangtuanya. Sang bapak melambaikan tangan. Bersedih. Senyum getirnya memunculkan keriput. Si pemuda membalas dengan lambaian yang sama. Tetapi sumringah. Senyum bahagianya memunculkan rona merah. Seolah ia sedang berpura-pura lupa bahwa pria berkeriput itu telah menua. Begitu pun mimpi-mimpi yang menunggunya di kota. Demikian pikirnya, barangkali. Berjarak satu sama lain bukanlah pilihan sulit bagi sebagian orang. Jauh dan dekat hanya soal hitungan kilometer. Berbagai moda melipat jarak bagai kertas. Tetapi seringkali, jarak tidak bekerja seperti itu. Ia mengganti peta dalam pikiranmu dengan ilusi. Jauh dekat bukan lagi dihitung melalui kilometer. Meski ia disampingmu, tapi seringkali ia terasa jauh. Sejauh ...

Ramadhan Day 25 : Tantangan Itu Biasa, Menyelesaikannya itu Istimewa

FIK UI 2015 wisuda. dokumentasi pribadi Pernah tidak dalam hidupmu kamu membuat keputusan yang menurutmu paling menantang ? Aku pernah yaitu saat memutuskan aku mengikuti profesi ners. Bagiku itu adalah keputusan besar yang membentuk diriku di hari ini. Setahun yang lalu, di saat yang sama aku sedang sibuk merevisi proposal skripsiku dan merayu dosen pembimbing agar aku bisa sidang akhir Mei. Singkat cerita aku bisa sidang di akhir Mei. Aku merasa aku menang. Aku berhasil melewati salah 1 fase terberatku, yaitu skripsi. Namun setelah itu muncul pertanyaan baru lagi, what's next ? Bagi mahasiswa keperawatan, wisuda sarjana bukanlah akhir dari masa perkuliahan. Justru ini awal kehidupan yang sesungguhnya. Setelah menimbang berbagai pertimbangan, aku akhirnya memutuskan untuk mengikuti profesi, karena jalan mimpiku yang selanjutnya memang harus dilalui melalui profesi. Iya, aku harus mendapatkan Surat Tanda Registrasi (STR) agar aku dapat bekerja sebagai praktisi. Untuk mend...

Ramadhan Day 19 : tidak berjudul

Aku tidak menjamin bisa seperti mereka. Karena I life with myself.  Tetapi setidaknya aku sedang berproses untuk bertumbuh setiap harinya. Meski hanya 1 mm. Aku juga tidak yakin, pertumbuhanku setiap hari bisa membuatku layak. Tetapi aku yakin, apa yang aku lakukan hari ini tidak ada yang sia-sia. Apa yang aku lakukan hari ini semoga bisa mengubah masa depanku, walaupun hanya sedikit. Sesuatu yang sangat aku khawatirkan. Rumah, 12 Mei 2020 19 Ramadhan 1441 H