Langsung ke konten utama

Wayang !

wayangan di SMA N  1 Gombong 2014. Dokumentasi pribadi

Bapak ngendika, yen manungsa kue persis kaya wayang sing lagi dilakokna nang dalang. Dalang wis gawe ceritane masing masing tokoh arep kepriwe. Wayang kur manut meng alure dalang. Manungsa ya padabae kaya ngono, kaya wayang sing dilakokna nang dalang. Bedane, manungsa due akal lan pikiran. Kue sing mbedaake manungsa karo makhluk liyane. Mula anane manungsa lair kue kudu ana artine (manfaate) mergane due akal lan pikiran. Aja malah anane manungsa kur dadi res res (sampah) nang masyarakat.
Sebab perkara rezeki, nasib, umur, jodoh wis ditentokna nang Gusti Allah, Manungsa ra perlu iri karo duene wong liya. Kudu eling nek kabeh kabeh wis ditentokna. Tugase manungsa ya ikhtiar nang dalan sing bener. Nek hasile urung pada karo sing dikarepna, ya aja elek pikir sit, kudu sabar lan tetep ikhtiar. Mungkin Gusti Allah lagi nyoba, lagi ngenei babagan anyar tentang ilmu urip.
Pun, nek berhasil kue pun cobaan.  Apa manungsa tetep eling meng Gusti Allah apa ora. Apa malah ngagungna kepinteran lan ikhtiare. Mula bapak pesen, nek koe berhasil aja nganti ngagungna kepinteran lan ikhtiarmu. Kabeh kue mergane Kersane Gusti Allah.
Esih berlanjut.......
Bersambung.......
#notetomyself#wayang#pengalamanhidup

Kebumen, 8 Juli 2018

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramadhan Day 22 : Ke Kota

Tidak ada yang bisa duduk tenang. Hujan deras menghimpun cemas di pintu stasiun. Kereta seharusnya datang 5 menit yang lalu. Terkadang, satu menit menunggu terasa lebih merugikan daripada seumur hidup berlalu sia-sia. Seorang pemuda menyalami seorang bapak yang kupikir adalah orangtuanya. Sang bapak melambaikan tangan. Bersedih. Senyum getirnya memunculkan keriput. Si pemuda membalas dengan lambaian yang sama. Tetapi sumringah. Senyum bahagianya memunculkan rona merah. Seolah ia sedang berpura-pura lupa bahwa pria berkeriput itu telah menua. Begitu pun mimpi-mimpi yang menunggunya di kota. Demikian pikirnya, barangkali. Berjarak satu sama lain bukanlah pilihan sulit bagi sebagian orang. Jauh dan dekat hanya soal hitungan kilometer. Berbagai moda melipat jarak bagai kertas. Tetapi seringkali, jarak tidak bekerja seperti itu. Ia mengganti peta dalam pikiranmu dengan ilusi. Jauh dekat bukan lagi dihitung melalui kilometer. Meski ia disampingmu, tapi seringkali ia terasa jauh. Sejauh ...

Ramadhan Day 25 : Tantangan Itu Biasa, Menyelesaikannya itu Istimewa

FIK UI 2015 wisuda. dokumentasi pribadi Pernah tidak dalam hidupmu kamu membuat keputusan yang menurutmu paling menantang ? Aku pernah yaitu saat memutuskan aku mengikuti profesi ners. Bagiku itu adalah keputusan besar yang membentuk diriku di hari ini. Setahun yang lalu, di saat yang sama aku sedang sibuk merevisi proposal skripsiku dan merayu dosen pembimbing agar aku bisa sidang akhir Mei. Singkat cerita aku bisa sidang di akhir Mei. Aku merasa aku menang. Aku berhasil melewati salah 1 fase terberatku, yaitu skripsi. Namun setelah itu muncul pertanyaan baru lagi, what's next ? Bagi mahasiswa keperawatan, wisuda sarjana bukanlah akhir dari masa perkuliahan. Justru ini awal kehidupan yang sesungguhnya. Setelah menimbang berbagai pertimbangan, aku akhirnya memutuskan untuk mengikuti profesi, karena jalan mimpiku yang selanjutnya memang harus dilalui melalui profesi. Iya, aku harus mendapatkan Surat Tanda Registrasi (STR) agar aku dapat bekerja sebagai praktisi. Untuk mend...

Ramadhan Day 19 : tidak berjudul

Aku tidak menjamin bisa seperti mereka. Karena I life with myself.  Tetapi setidaknya aku sedang berproses untuk bertumbuh setiap harinya. Meski hanya 1 mm. Aku juga tidak yakin, pertumbuhanku setiap hari bisa membuatku layak. Tetapi aku yakin, apa yang aku lakukan hari ini tidak ada yang sia-sia. Apa yang aku lakukan hari ini semoga bisa mengubah masa depanku, walaupun hanya sedikit. Sesuatu yang sangat aku khawatirkan. Rumah, 12 Mei 2020 19 Ramadhan 1441 H