Langsung ke konten utama

Cinta Menurut Bapak

Kalau kata bapak, cinta itu menjaga. Karena kata bapak, yang menjaga akan terjaga. Aku baru paham pernyataan itu akhir akhir ini. Tentang mengapa harus menjaga diri dan hati. Tentang tidak mengumbar perasaan kepada orang lain.
Suatu malam bapak bercerita 2 cerita.
“1) Di desa sebelah ada sepasang suami istri namun suaminya sedang sakit keras. Suaminya hanya bisa tiduran di atas kasur. Di saat seperti itu, sang istri seharusnya menemani suaminya, dan merawatnya. Namun, sang istri malah bermain api dengan laki laki lain tanpa sepengetahuan suaminya. Pada suatu saat, suaminya meninggal dan sang istri menikah dengan laki laki lain tersebut. Pada suatu hari, sang istri jatuh sakit parah dan hanya bisa tiduran di atas kasur selama 10 tahun”
“2) Ada sepasang suami istri sebutlah bapak A dan ibu B. Ibu B ini merupakan istri kedua dari bapak A karena istri bapak A yang pertama meninggal akibat leukimia. Pada suatu hari, ibu B ini sakit stroke yang menyebabkan ibu B tidak berdaya, hanya bisa tidur di tempat tidur. Hal ini membuat bapak A resah. Lalu keresahan bapak A dilampiaskan dengan mencari wanita lain sebagai pengganti ibu B jika suatu waktu ibu B meninggal dunia. Namun, ketika ibu B masih sakit, tanpa sepengetahuan ibu B, bapak A ternyata sudah menikah dulu dengan wanita lain. Lalu, sebulan setelah bapak A menikah lagi, ibu B meninggal dunia”.
Hikmah yang dapat dipetik dari kedua cerita tersebut yaitu, pada cerita satu apa yang diperbuat akan kembali kepada diri sendiri. Hal tersebut terbukti dari apa yang istri lakukan kepada suami ternyata beberapa tahun setelah suaminya meninggal istrinya juga jatuh sakit yang menyebabkan dia hanya bisa tiduran selama 10 tahun. Lalu pada cerita dua, apabila mencintai seseorang hanya karena fisik, suatu saat jika fisiknya sudah tidak sesuai harapan lagi, cinta itu juga pasti ikut luntur. Pada cerita dua bapak A terkesan hanya akan bersama istrinya jika keadaanya sedang “sehat”. namun ketika istrinya sakit keras, bapak A malah mencari wanita lain.
Setelah bercerita, bapak melanjutkan kembali nasihatnya. Bapak sudah berusaha untuk menjaga sikap dan perkataan untuk tetap berbuat baik.
Apapun yang terjadi, diusahakan sebagai orangtua, bapak tetap harus menjaga keutuhan keluarga dengan tidak berbuat serong pemuas nafsu. Agar anak anak bapak nanti juga tidak bersikap yang serong dan tidak mendapatkan orang yang berbuat serong.
Mencintai orang jangan karena hal hal yang bersifat sementara seperti fisik, harta, kepintaran. Tapi cintailah orang karenaNya. Karena dalam berproses nanti akan ada badai untuk menguji kesungguhan.
Depok, 15 Februari 2018

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramadhan Day 22 : Ke Kota

Tidak ada yang bisa duduk tenang. Hujan deras menghimpun cemas di pintu stasiun. Kereta seharusnya datang 5 menit yang lalu. Terkadang, satu menit menunggu terasa lebih merugikan daripada seumur hidup berlalu sia-sia. Seorang pemuda menyalami seorang bapak yang kupikir adalah orangtuanya. Sang bapak melambaikan tangan. Bersedih. Senyum getirnya memunculkan keriput. Si pemuda membalas dengan lambaian yang sama. Tetapi sumringah. Senyum bahagianya memunculkan rona merah. Seolah ia sedang berpura-pura lupa bahwa pria berkeriput itu telah menua. Begitu pun mimpi-mimpi yang menunggunya di kota. Demikian pikirnya, barangkali. Berjarak satu sama lain bukanlah pilihan sulit bagi sebagian orang. Jauh dan dekat hanya soal hitungan kilometer. Berbagai moda melipat jarak bagai kertas. Tetapi seringkali, jarak tidak bekerja seperti itu. Ia mengganti peta dalam pikiranmu dengan ilusi. Jauh dekat bukan lagi dihitung melalui kilometer. Meski ia disampingmu, tapi seringkali ia terasa jauh. Sejauh ...

Ramadhan Day 25 : Tantangan Itu Biasa, Menyelesaikannya itu Istimewa

FIK UI 2015 wisuda. dokumentasi pribadi Pernah tidak dalam hidupmu kamu membuat keputusan yang menurutmu paling menantang ? Aku pernah yaitu saat memutuskan aku mengikuti profesi ners. Bagiku itu adalah keputusan besar yang membentuk diriku di hari ini. Setahun yang lalu, di saat yang sama aku sedang sibuk merevisi proposal skripsiku dan merayu dosen pembimbing agar aku bisa sidang akhir Mei. Singkat cerita aku bisa sidang di akhir Mei. Aku merasa aku menang. Aku berhasil melewati salah 1 fase terberatku, yaitu skripsi. Namun setelah itu muncul pertanyaan baru lagi, what's next ? Bagi mahasiswa keperawatan, wisuda sarjana bukanlah akhir dari masa perkuliahan. Justru ini awal kehidupan yang sesungguhnya. Setelah menimbang berbagai pertimbangan, aku akhirnya memutuskan untuk mengikuti profesi, karena jalan mimpiku yang selanjutnya memang harus dilalui melalui profesi. Iya, aku harus mendapatkan Surat Tanda Registrasi (STR) agar aku dapat bekerja sebagai praktisi. Untuk mend...

Ramadhan Day 9 : Dear Me,

sumber : unsplash.com Ada kalanya aku ingin menjadi aku yang masih berumur 10 tahun. Saat itu aku masih kelas 5 SD. Saat segalanya begitu menyenangkan. Saat segalanya begitu sederhana. Saat raga dan jiwa tak perlu saling tentang. Saat mulut dan hati tak perlu saling berpura-pura. Saat aku sedang suka-sukanya membaca buku pelajaran, apalagi buku pelajaran Bahasa Indonesia. Aku suka, karena di sana banyak cerita. Dengan membaca cerita, aku seperti jalan-jalan. Aku senang saat pelajaran IPA, terutama tentang tumbuh-tumbuhan. Saat itu, aku menjadi rajin meminjam buku ensiklopedia di perpus tentang bonsai, tanaman-tanaman yang tumbuh di dunia, dan juga hewan-hewan. Oh ya aku ingat, aku juga penasaran dengan planet-planet dan luar angkasa. Lantas aku meminjam buku ensiklopedia tentang itu. Dari buku itulah aku kenal dengan yang namanya negara-negara luar dan tanaman-tanaman yang tumbuh di sana. Aku juga jadi mengetahui tentang tata surya. Tak hanya itu, aku juga suka dengan pelajaran I...