Suatu sore, sang ayah bercerita kepada putrinya mengenai harta dan
bagaimana kita mengelolanya. “Nak, harta yang kita miliki sekarang
adalah titipan, dan harta yang nilainya tinggi adalah harta yang paling
bermanfaat untuk orang lain”. Lalu sang ayah melanjutkan ceritanya
sembari meminum teh yang ada di dalam gelas. “Nak, jika kamu besok sudah
jadi perawat, jadilah perawat yang ringan tangannya untuk menolong
orang lain, niatkan semuanya untuk beribadah kepada Allah, jangan pernah
hitung menghitung gajimu berapa, rezeki udah ada yang mengatur,
ikutilah kata hati nuranimu nak karena itulah tempat tersuci manusia.
Nak, kamu tahu kenapa orang yang pelit sering dikatakan rezekinya sempit
? Karena sebelum memberi mereka sudah bersuudzon terlebih dahulu kepada
Allah dengan berpikiran bahwa memberi akan mengurangi harta mereka.
Jika berpikiran seperti itu sama saja berpikiran bahwa Allah tidak akan
memberi rezeki lagi kepada mereka. Kamu tidak boleh seperti itu ya.
Jadilah orang yang dermawan, yang dengan hartamu nanti kamu bisa menjadi
tangan bagi rezeki orang lain. Dengan begitu, kamu sudah beriman kepada
Allah bahwa Dia Maha Kaya. Selalu ingat nak, memberi tidak akan membuat
hartamu habis”. Lalu sang anak hanya terdiam dan meresapi semua
kata-kata ayahnya dan dalam hati berkata “Terima kasih Allah karena
Engkau telah memberikanku ayah yang bisa mengajariku tentang makna hidup
yang sesungguhnya. Ya Allah, jika beberapa tahun ke depan aku harus
meninggalkan ayahku untuk berbakti kepada orang asing yang kelak akan
jadi imamku, semoga dia juga bisa mengajariku makna hidup yang sama
seperti ayahku. Kupasrahkan semua kepadaMu. Engkau tahu yang terbaik”
sumber : unsplash.com Barusan banget ikut menyimak ig live dari @careerclass_id tentang Dealing with family about your career yang diisi oleh masgun. Aku belajar banyak banget dari perjalanan hidup beliau yang membuat beliau seperti hari ini. Kadang atau bahkan sering, kita melihat seseorang sebagai produk jadi tanpa kita tahu apa latar belakang yang menjadikan seseorang menjadi saat ini. Ternyata, dibalik keberhasilan/kesuksesan/kematangan seseorang saat ini, ada pengalaman hidup yang turut serta membentuknya. Dari cerita masgun, saat beliau semester 7/8 gitu, beliau mengalami masa-masa ‘galau’. Beliau menggalaukan diri sendiri yang sebenarnya sukanya apa, maunya kemana, dsb. Sehingga, beliau mengambil keputusan saat itu untuk menunda lulusnya. Keputusan ini tentu dikomunikasikan dengan orangtua lebih dulu dan orangtua menyetujuinya. Satu tahun perpanjangan itu beliau gunakan untuk mengeksplor dirinya lebih jauh lagi karena selagi masih bergelar mahasiswa ...
Komentar
Posting Komentar