Langsung ke konten utama

Makna Harta

Suatu sore, sang ayah bercerita kepada putrinya mengenai harta dan bagaimana kita mengelolanya. “Nak, harta yang kita miliki sekarang adalah titipan, dan harta yang nilainya tinggi adalah harta yang paling bermanfaat untuk orang lain”. Lalu sang ayah melanjutkan ceritanya sembari meminum teh yang ada di dalam gelas. “Nak, jika kamu besok sudah jadi perawat, jadilah perawat yang ringan tangannya untuk menolong orang lain, niatkan semuanya untuk beribadah kepada Allah, jangan pernah hitung menghitung gajimu berapa, rezeki udah ada yang mengatur, ikutilah kata hati nuranimu nak karena itulah tempat tersuci manusia. Nak, kamu tahu kenapa orang yang pelit sering dikatakan rezekinya sempit ? Karena sebelum memberi mereka sudah bersuudzon terlebih dahulu kepada Allah dengan berpikiran bahwa memberi akan mengurangi harta mereka. Jika berpikiran seperti itu sama saja berpikiran bahwa Allah tidak akan memberi rezeki lagi kepada mereka. Kamu tidak boleh seperti itu ya. Jadilah orang yang dermawan, yang dengan hartamu nanti kamu bisa menjadi tangan bagi rezeki orang lain. Dengan begitu, kamu sudah beriman kepada Allah bahwa Dia Maha Kaya. Selalu ingat nak, memberi tidak akan membuat hartamu habis”. Lalu sang anak hanya terdiam dan meresapi semua kata-kata ayahnya dan dalam hati berkata “Terima kasih Allah karena Engkau telah memberikanku ayah yang bisa mengajariku tentang makna hidup yang sesungguhnya. Ya Allah, jika beberapa tahun ke depan aku harus meninggalkan ayahku untuk berbakti kepada orang asing yang kelak akan jadi imamku, semoga dia juga bisa mengajariku makna hidup yang sama seperti ayahku. Kupasrahkan semua kepadaMu. Engkau tahu yang terbaik”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramadhan Day 22 : Ke Kota

Tidak ada yang bisa duduk tenang. Hujan deras menghimpun cemas di pintu stasiun. Kereta seharusnya datang 5 menit yang lalu. Terkadang, satu menit menunggu terasa lebih merugikan daripada seumur hidup berlalu sia-sia. Seorang pemuda menyalami seorang bapak yang kupikir adalah orangtuanya. Sang bapak melambaikan tangan. Bersedih. Senyum getirnya memunculkan keriput. Si pemuda membalas dengan lambaian yang sama. Tetapi sumringah. Senyum bahagianya memunculkan rona merah. Seolah ia sedang berpura-pura lupa bahwa pria berkeriput itu telah menua. Begitu pun mimpi-mimpi yang menunggunya di kota. Demikian pikirnya, barangkali. Berjarak satu sama lain bukanlah pilihan sulit bagi sebagian orang. Jauh dan dekat hanya soal hitungan kilometer. Berbagai moda melipat jarak bagai kertas. Tetapi seringkali, jarak tidak bekerja seperti itu. Ia mengganti peta dalam pikiranmu dengan ilusi. Jauh dekat bukan lagi dihitung melalui kilometer. Meski ia disampingmu, tapi seringkali ia terasa jauh. Sejauh ...

Ramadhan Day 25 : Tantangan Itu Biasa, Menyelesaikannya itu Istimewa

FIK UI 2015 wisuda. dokumentasi pribadi Pernah tidak dalam hidupmu kamu membuat keputusan yang menurutmu paling menantang ? Aku pernah yaitu saat memutuskan aku mengikuti profesi ners. Bagiku itu adalah keputusan besar yang membentuk diriku di hari ini. Setahun yang lalu, di saat yang sama aku sedang sibuk merevisi proposal skripsiku dan merayu dosen pembimbing agar aku bisa sidang akhir Mei. Singkat cerita aku bisa sidang di akhir Mei. Aku merasa aku menang. Aku berhasil melewati salah 1 fase terberatku, yaitu skripsi. Namun setelah itu muncul pertanyaan baru lagi, what's next ? Bagi mahasiswa keperawatan, wisuda sarjana bukanlah akhir dari masa perkuliahan. Justru ini awal kehidupan yang sesungguhnya. Setelah menimbang berbagai pertimbangan, aku akhirnya memutuskan untuk mengikuti profesi, karena jalan mimpiku yang selanjutnya memang harus dilalui melalui profesi. Iya, aku harus mendapatkan Surat Tanda Registrasi (STR) agar aku dapat bekerja sebagai praktisi. Untuk mend...

Ramadhan Day 9 : Dear Me,

sumber : unsplash.com Ada kalanya aku ingin menjadi aku yang masih berumur 10 tahun. Saat itu aku masih kelas 5 SD. Saat segalanya begitu menyenangkan. Saat segalanya begitu sederhana. Saat raga dan jiwa tak perlu saling tentang. Saat mulut dan hati tak perlu saling berpura-pura. Saat aku sedang suka-sukanya membaca buku pelajaran, apalagi buku pelajaran Bahasa Indonesia. Aku suka, karena di sana banyak cerita. Dengan membaca cerita, aku seperti jalan-jalan. Aku senang saat pelajaran IPA, terutama tentang tumbuh-tumbuhan. Saat itu, aku menjadi rajin meminjam buku ensiklopedia di perpus tentang bonsai, tanaman-tanaman yang tumbuh di dunia, dan juga hewan-hewan. Oh ya aku ingat, aku juga penasaran dengan planet-planet dan luar angkasa. Lantas aku meminjam buku ensiklopedia tentang itu. Dari buku itulah aku kenal dengan yang namanya negara-negara luar dan tanaman-tanaman yang tumbuh di sana. Aku juga jadi mengetahui tentang tata surya. Tak hanya itu, aku juga suka dengan pelajaran I...