Suatu sore, sang ayah bercerita kepada putrinya mengenai harta dan
bagaimana kita mengelolanya. “Nak, harta yang kita miliki sekarang
adalah titipan, dan harta yang nilainya tinggi adalah harta yang paling
bermanfaat untuk orang lain”. Lalu sang ayah melanjutkan ceritanya
sembari meminum teh yang ada di dalam gelas. “Nak, jika kamu besok sudah
jadi perawat, jadilah perawat yang ringan tangannya untuk menolong
orang lain, niatkan semuanya untuk beribadah kepada Allah, jangan pernah
hitung menghitung gajimu berapa, rezeki udah ada yang mengatur,
ikutilah kata hati nuranimu nak karena itulah tempat tersuci manusia.
Nak, kamu tahu kenapa orang yang pelit sering dikatakan rezekinya sempit
? Karena sebelum memberi mereka sudah bersuudzon terlebih dahulu kepada
Allah dengan berpikiran bahwa memberi akan mengurangi harta mereka.
Jika berpikiran seperti itu sama saja berpikiran bahwa Allah tidak akan
memberi rezeki lagi kepada mereka. Kamu tidak boleh seperti itu ya.
Jadilah orang yang dermawan, yang dengan hartamu nanti kamu bisa menjadi
tangan bagi rezeki orang lain. Dengan begitu, kamu sudah beriman kepada
Allah bahwa Dia Maha Kaya. Selalu ingat nak, memberi tidak akan membuat
hartamu habis”. Lalu sang anak hanya terdiam dan meresapi semua
kata-kata ayahnya dan dalam hati berkata “Terima kasih Allah karena
Engkau telah memberikanku ayah yang bisa mengajariku tentang makna hidup
yang sesungguhnya. Ya Allah, jika beberapa tahun ke depan aku harus
meninggalkan ayahku untuk berbakti kepada orang asing yang kelak akan
jadi imamku, semoga dia juga bisa mengajariku makna hidup yang sama
seperti ayahku. Kupasrahkan semua kepadaMu. Engkau tahu yang terbaik”
Tidak ada yang bisa duduk tenang. Hujan deras menghimpun cemas di pintu stasiun. Kereta seharusnya datang 5 menit yang lalu. Terkadang, satu menit menunggu terasa lebih merugikan daripada seumur hidup berlalu sia-sia. Seorang pemuda menyalami seorang bapak yang kupikir adalah orangtuanya. Sang bapak melambaikan tangan. Bersedih. Senyum getirnya memunculkan keriput. Si pemuda membalas dengan lambaian yang sama. Tetapi sumringah. Senyum bahagianya memunculkan rona merah. Seolah ia sedang berpura-pura lupa bahwa pria berkeriput itu telah menua. Begitu pun mimpi-mimpi yang menunggunya di kota. Demikian pikirnya, barangkali. Berjarak satu sama lain bukanlah pilihan sulit bagi sebagian orang. Jauh dan dekat hanya soal hitungan kilometer. Berbagai moda melipat jarak bagai kertas. Tetapi seringkali, jarak tidak bekerja seperti itu. Ia mengganti peta dalam pikiranmu dengan ilusi. Jauh dekat bukan lagi dihitung melalui kilometer. Meski ia disampingmu, tapi seringkali ia terasa jauh. Sejauh ...
Komentar
Posting Komentar