Langsung ke konten utama

Berganti Peran

Seminggu yang lalu, saya menjenguk teman saya yang habis operasi usus buntu. Di rumah teman saya, ada seorang perempuan membawa bayi yang sedang menjenguk teman saya juga. Teman saya berkata,"Wah reunian beneran ini. Pasti kamu udah lupa ya des mba ini siapa". Saya terus memperhatikan wajahnya dan tubuhnya, namun saya tidak mengenali juga siapa perempuan yang membawa bayi ini. Saya terus menggeleng dan bertanya "Siapa sih?". Lalu teman saya dengan tersenyum menjawab,"Ini mba X dulu seangkatanmu waktu SMP, dia kelas IX D". Saya langsung memutar otak mengingat-ingat. Saya pun akhirnya ingat siapa mba-mba yang membawa bayi ini. Saya langsung meminta maaf kepada mba X itu bahwa saya benar-benar pangling melihat wajahnya sehingga saya hampir tidak mengenalinya. Mba X pun dengan santainya menjawab,"Iya tidak apa-apa. Oiya ini anak saya sudah berumur 7 bulan, saya sudah menikah 1 tahun yang lalu dan sekarang saya tinggal di Kalimantan bersama suami".

Melihat teman satu angkatan sudah ada yang memiliki keluarga sendiri, hal ini berarti tak lama lagi saya juga akan menjalani masa-masa itu. Rasanya cepat sekali waktu berlalu, perasaan baru kemarin masih belajar di SMP sekarang sudah hampir tingkat empat saja. Hal ini membuat saya semakin menyadari bahwa peran pasti berganti. Yang dulunya anak-anak masih diperhatikan sama orangtua, besok akan menjadi orangtua yang akan memperhatikan anak. Sementara itu, seiring bertambah dewasanya kita, orangtua kita juga bertambah tua. Berarti kita juga harus gantian merawat orangtua.

Jadi, sudah siapkah untuk berganti peran ?

Depok, 20 Mei 2018

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramadhan Day 22 : Ke Kota

Tidak ada yang bisa duduk tenang. Hujan deras menghimpun cemas di pintu stasiun. Kereta seharusnya datang 5 menit yang lalu. Terkadang, satu menit menunggu terasa lebih merugikan daripada seumur hidup berlalu sia-sia. Seorang pemuda menyalami seorang bapak yang kupikir adalah orangtuanya. Sang bapak melambaikan tangan. Bersedih. Senyum getirnya memunculkan keriput. Si pemuda membalas dengan lambaian yang sama. Tetapi sumringah. Senyum bahagianya memunculkan rona merah. Seolah ia sedang berpura-pura lupa bahwa pria berkeriput itu telah menua. Begitu pun mimpi-mimpi yang menunggunya di kota. Demikian pikirnya, barangkali. Berjarak satu sama lain bukanlah pilihan sulit bagi sebagian orang. Jauh dan dekat hanya soal hitungan kilometer. Berbagai moda melipat jarak bagai kertas. Tetapi seringkali, jarak tidak bekerja seperti itu. Ia mengganti peta dalam pikiranmu dengan ilusi. Jauh dekat bukan lagi dihitung melalui kilometer. Meski ia disampingmu, tapi seringkali ia terasa jauh. Sejauh ...

Ramadhan Day 25 : Tantangan Itu Biasa, Menyelesaikannya itu Istimewa

FIK UI 2015 wisuda. dokumentasi pribadi Pernah tidak dalam hidupmu kamu membuat keputusan yang menurutmu paling menantang ? Aku pernah yaitu saat memutuskan aku mengikuti profesi ners. Bagiku itu adalah keputusan besar yang membentuk diriku di hari ini. Setahun yang lalu, di saat yang sama aku sedang sibuk merevisi proposal skripsiku dan merayu dosen pembimbing agar aku bisa sidang akhir Mei. Singkat cerita aku bisa sidang di akhir Mei. Aku merasa aku menang. Aku berhasil melewati salah 1 fase terberatku, yaitu skripsi. Namun setelah itu muncul pertanyaan baru lagi, what's next ? Bagi mahasiswa keperawatan, wisuda sarjana bukanlah akhir dari masa perkuliahan. Justru ini awal kehidupan yang sesungguhnya. Setelah menimbang berbagai pertimbangan, aku akhirnya memutuskan untuk mengikuti profesi, karena jalan mimpiku yang selanjutnya memang harus dilalui melalui profesi. Iya, aku harus mendapatkan Surat Tanda Registrasi (STR) agar aku dapat bekerja sebagai praktisi. Untuk mend...

Ramadhan Day 9 : Dear Me,

sumber : unsplash.com Ada kalanya aku ingin menjadi aku yang masih berumur 10 tahun. Saat itu aku masih kelas 5 SD. Saat segalanya begitu menyenangkan. Saat segalanya begitu sederhana. Saat raga dan jiwa tak perlu saling tentang. Saat mulut dan hati tak perlu saling berpura-pura. Saat aku sedang suka-sukanya membaca buku pelajaran, apalagi buku pelajaran Bahasa Indonesia. Aku suka, karena di sana banyak cerita. Dengan membaca cerita, aku seperti jalan-jalan. Aku senang saat pelajaran IPA, terutama tentang tumbuh-tumbuhan. Saat itu, aku menjadi rajin meminjam buku ensiklopedia di perpus tentang bonsai, tanaman-tanaman yang tumbuh di dunia, dan juga hewan-hewan. Oh ya aku ingat, aku juga penasaran dengan planet-planet dan luar angkasa. Lantas aku meminjam buku ensiklopedia tentang itu. Dari buku itulah aku kenal dengan yang namanya negara-negara luar dan tanaman-tanaman yang tumbuh di sana. Aku juga jadi mengetahui tentang tata surya. Tak hanya itu, aku juga suka dengan pelajaran I...