Ternyata tak semudah itu untuk menapaki dunia yang asing. Aku harus mengeluarkan semua tenagaku demi untuk bisa masuk ke sana. Masih teringat ketika kelas XI, saat pertama kali aku diperkenalkan dengan dunia asing itu. Mulai saat itu, aku merencanakan untuk menuju kesana. Aku sadar diri, otakku tak terlalu pintar untuk mengalahkan mereka semua dengan nilai. Hingga aku tak menggunakan cara itu. Ya, aku menggunakan cara dengan belajar lebih awal untuk test masuk dunia itu.
Tibalah hari dimana ada pembukaan bimbel di dunia asing impianku, aku mendaftar. Tapi ternyata baru tahap awal, aku sudah gagal. Ada pembukaan bimbel lagi dari dunia asing yang lain, aku mendaftar juga. Tapi ternyata aku gagal juga. Oke tidak apa apa, pasti ada jalan lain. Pada akhirnya, aku belajar sendiri di rumah. Hari demi hari melaksanakan apa yang sudah direncanakan.
DI tengah perjuangan itu, ada pengumuman penerimaan dunia asing nasional. Aku sudah pasrah dengan jalur yang hanya menggunakan nilai, karena aku pasti tidak masuk. Ternyata benar, aku tidak lolos masuk dunia asing melalui jalur itu. Sekarang fokusku dan semangatku semakin bertambah, "Aku harus bisa masuk ke dunia asing impianku". Itu yang ada di pikiranku saat itu.
Ujian demi ujian aku lewati, mulai ujian yang ada di Bandung, Solo, Jogja semuanya aku jalani demi masuk ke dunia asing itu. Ya, ternyata tak semuanya mau menerimaku. Entahlah apa karena aku memang tidak pantas masuk dunia asing itu karena terlalu bodoh atau memang Dia memberikan hadiah yang lebih baik.
Ya, aku ditolak lagi oleh ujianku yang pertama yaitu yang di Bandung. Saat itu aku benar benar kecewa kepada diri sendiri. Andaikan dulu belajarku lebih banyak lagi, dan andaikan andaikan yang lain.
Tapi, semua ini belum berakhir. Masih ada ujian yang lain. Ketika pengumuman ujianku yang kedua, yaitu yang di Jogja aku dinyatakan diterima. Saat itu aku tidak tahu harus mengatakan apa, selain bersyukur.
Semua itu tak lepas dari dukungan orangtua yang selalu menemani kemanapun aku pergi test. Mereka yang selalu ada dan menerima ketika aku gagal maupun berhasil.
Selain itu juga untuk teman teman GSGS, yang memberikan fasilitas berupa buku yang sangat bermanfaat.
Ya, begitulah lika liku memasuki dunia asing. Semangat saja tak cukup, tetapi butuh kesabaran, konsistensi, rasa syukur yang tinggi, ya semuanyaa. Karena ternyata dunia asing yang aku masuki sekarang menuntut lebih banyak hal-hal seperti itu.
Bersyukurlah diberi jalan yang tak mudah, karena di sana kita dapat belajar banyak pelajaran hidup yang mungkin tak semua orang dapat merasakannya.
Aku jadi lebih mengenal diriku sendiri. Aku baru mengenal ternyata aku orang yang tipe belajarnya lebih suka untuk belajar dalam lingkungan yang nyaman dan tenang.
Sepertinya kalau aku diterima di bimbel tadi, aku tak bisa masuk dunia asing itu karena bisa jadi pola belajarnya tak sesuai dengan aku. Ya, Dia selalu memberi apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan.
Bersyukur, karena tanpa kesulitan itu, aku tidak bisa menjadi destin yang sekarang.
Dan sekarang, aku telah berada di dunia asing itu. Ternyata tak sesuai dengan ekspektasi. Tapi, dunia asing itu mampu membuatku bertumbuh.
Bersambung....
Depok, 2 Mei 2018
#memories#Day2#sebuahapresiasidiri
Komentar
Posting Komentar