Langsung ke konten utama

Kehidupan Asing Selepas SMA (2)



Ternyata tak semudah itu untuk menapaki dunia yang asing. Aku harus mengeluarkan semua tenagaku demi untuk bisa masuk ke sana. Masih teringat ketika kelas XI, saat pertama kali aku diperkenalkan dengan dunia asing itu. Mulai saat itu, aku merencanakan untuk menuju kesana. Aku sadar diri, otakku tak terlalu pintar untuk mengalahkan mereka semua dengan nilai. Hingga aku tak menggunakan cara itu. Ya, aku menggunakan cara dengan belajar lebih awal untuk test masuk dunia itu.
Tibalah hari dimana ada pembukaan bimbel di dunia asing impianku, aku mendaftar. Tapi ternyata baru tahap awal, aku sudah gagal. Ada pembukaan bimbel lagi dari dunia asing yang lain, aku mendaftar juga. Tapi ternyata aku gagal juga. Oke tidak apa apa, pasti ada jalan lain. Pada akhirnya, aku belajar sendiri di rumah. Hari demi hari melaksanakan apa yang sudah direncanakan.
DI tengah perjuangan itu, ada pengumuman penerimaan dunia asing nasional. Aku sudah pasrah dengan jalur yang hanya menggunakan nilai, karena aku pasti tidak masuk. Ternyata benar, aku tidak lolos masuk dunia asing melalui jalur itu. Sekarang fokusku dan semangatku semakin bertambah, "Aku harus bisa masuk ke dunia asing impianku". Itu yang ada di pikiranku saat itu.
Ujian demi ujian aku lewati, mulai ujian yang ada di Bandung, Solo, Jogja semuanya aku jalani demi masuk ke dunia asing itu. Ya, ternyata tak semuanya mau menerimaku. Entahlah apa karena aku memang tidak pantas masuk dunia asing itu karena terlalu bodoh atau memang Dia memberikan hadiah yang lebih baik.
Ya, aku ditolak lagi oleh ujianku yang pertama yaitu yang  di Bandung. Saat itu aku benar benar kecewa kepada diri sendiri. Andaikan dulu belajarku lebih banyak lagi, dan andaikan andaikan yang lain.
Tapi, semua ini belum berakhir. Masih ada ujian yang lain. Ketika pengumuman ujianku yang kedua, yaitu yang di Jogja aku dinyatakan diterima. Saat itu aku tidak tahu harus mengatakan apa, selain bersyukur.
Semua itu tak lepas dari dukungan orangtua yang selalu menemani kemanapun aku pergi test. Mereka yang selalu ada dan menerima ketika aku gagal maupun berhasil.
Selain itu juga untuk teman teman GSGS, yang memberikan fasilitas berupa buku yang sangat bermanfaat.
Ya, begitulah lika liku memasuki dunia asing. Semangat saja tak cukup, tetapi butuh kesabaran, konsistensi, rasa syukur yang tinggi, ya semuanyaa. Karena ternyata dunia asing yang aku masuki sekarang menuntut lebih banyak hal-hal seperti itu.
Bersyukurlah diberi jalan yang tak mudah, karena di sana kita dapat belajar banyak pelajaran hidup yang mungkin tak semua orang dapat merasakannya.
Aku jadi lebih mengenal diriku sendiri. Aku baru mengenal ternyata aku orang yang tipe belajarnya lebih suka untuk belajar dalam lingkungan yang nyaman dan tenang.
Sepertinya kalau aku diterima di bimbel tadi, aku tak bisa masuk dunia asing itu karena bisa jadi pola belajarnya tak sesuai dengan aku. Ya, Dia selalu memberi apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan.
Bersyukur, karena tanpa kesulitan itu, aku tidak bisa menjadi destin yang sekarang.
Dan sekarang, aku telah berada di dunia asing itu. Ternyata tak sesuai dengan ekspektasi. Tapi, dunia asing itu mampu membuatku bertumbuh.

Bersambung....
Depok, 2 Mei 2018
#memories#Day2#sebuahapresiasidiri

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramadhan Day 22 : Ke Kota

Tidak ada yang bisa duduk tenang. Hujan deras menghimpun cemas di pintu stasiun. Kereta seharusnya datang 5 menit yang lalu. Terkadang, satu menit menunggu terasa lebih merugikan daripada seumur hidup berlalu sia-sia. Seorang pemuda menyalami seorang bapak yang kupikir adalah orangtuanya. Sang bapak melambaikan tangan. Bersedih. Senyum getirnya memunculkan keriput. Si pemuda membalas dengan lambaian yang sama. Tetapi sumringah. Senyum bahagianya memunculkan rona merah. Seolah ia sedang berpura-pura lupa bahwa pria berkeriput itu telah menua. Begitu pun mimpi-mimpi yang menunggunya di kota. Demikian pikirnya, barangkali. Berjarak satu sama lain bukanlah pilihan sulit bagi sebagian orang. Jauh dan dekat hanya soal hitungan kilometer. Berbagai moda melipat jarak bagai kertas. Tetapi seringkali, jarak tidak bekerja seperti itu. Ia mengganti peta dalam pikiranmu dengan ilusi. Jauh dekat bukan lagi dihitung melalui kilometer. Meski ia disampingmu, tapi seringkali ia terasa jauh. Sejauh ...

Ramadhan Day 25 : Tantangan Itu Biasa, Menyelesaikannya itu Istimewa

FIK UI 2015 wisuda. dokumentasi pribadi Pernah tidak dalam hidupmu kamu membuat keputusan yang menurutmu paling menantang ? Aku pernah yaitu saat memutuskan aku mengikuti profesi ners. Bagiku itu adalah keputusan besar yang membentuk diriku di hari ini. Setahun yang lalu, di saat yang sama aku sedang sibuk merevisi proposal skripsiku dan merayu dosen pembimbing agar aku bisa sidang akhir Mei. Singkat cerita aku bisa sidang di akhir Mei. Aku merasa aku menang. Aku berhasil melewati salah 1 fase terberatku, yaitu skripsi. Namun setelah itu muncul pertanyaan baru lagi, what's next ? Bagi mahasiswa keperawatan, wisuda sarjana bukanlah akhir dari masa perkuliahan. Justru ini awal kehidupan yang sesungguhnya. Setelah menimbang berbagai pertimbangan, aku akhirnya memutuskan untuk mengikuti profesi, karena jalan mimpiku yang selanjutnya memang harus dilalui melalui profesi. Iya, aku harus mendapatkan Surat Tanda Registrasi (STR) agar aku dapat bekerja sebagai praktisi. Untuk mend...

Ramadhan Day 9 : Dear Me,

sumber : unsplash.com Ada kalanya aku ingin menjadi aku yang masih berumur 10 tahun. Saat itu aku masih kelas 5 SD. Saat segalanya begitu menyenangkan. Saat segalanya begitu sederhana. Saat raga dan jiwa tak perlu saling tentang. Saat mulut dan hati tak perlu saling berpura-pura. Saat aku sedang suka-sukanya membaca buku pelajaran, apalagi buku pelajaran Bahasa Indonesia. Aku suka, karena di sana banyak cerita. Dengan membaca cerita, aku seperti jalan-jalan. Aku senang saat pelajaran IPA, terutama tentang tumbuh-tumbuhan. Saat itu, aku menjadi rajin meminjam buku ensiklopedia di perpus tentang bonsai, tanaman-tanaman yang tumbuh di dunia, dan juga hewan-hewan. Oh ya aku ingat, aku juga penasaran dengan planet-planet dan luar angkasa. Lantas aku meminjam buku ensiklopedia tentang itu. Dari buku itulah aku kenal dengan yang namanya negara-negara luar dan tanaman-tanaman yang tumbuh di sana. Aku juga jadi mengetahui tentang tata surya. Tak hanya itu, aku juga suka dengan pelajaran I...