Langsung ke konten utama

Kehidupan Asing Selepas SMA (1)



Tiga tahun yang lalu, kita semua berhasil menciptakan sebuah memori.
Diakhiri dengan senyum ceria menyambut dunia yang asing.
Akan seperti apakah dunia itu ? Apakah menyeramkan atau kah menyenangkan ?
Setau mereka dunia itu asing itu akan menjanjikan !
Karena menjanjikan, semua anak berlomba2 untuk bisa masuk dunia itu.
Tapi kenyataan terkadang tak sesuai dg harapan.
Ada mereka yang berhasil masuk dunia itu. Mereka didukung penuh oleh ortu, memiliki sarana untuk menuju kesana, dan dapat dipastikan mereka bisa bertahan hidup disana.
Namun ada pula mereka yang sudah mendapat panggilan untuk masuk dunia itu, namun ortu tidak merestui, mereka tak memiliki sarana menuju kesana, ya mereka pun tak yakin bisa bertahan hidup di sana. Pada akhirnya, hanya yang benar2 memiliki keinginan yg kuat yg karena keterbatasan itu mereka ttp bisa menuju dunia asing itu.
Tapi nampaknya mereka lupa akan 1 hal. Ada byk pendahulu mereka yg sudah berada di dunia asing itu. Para pendahulu mereka seharusnya bs membantu mereka dg mengulurkan tali.
Namun, para pendahulu itu pun tak semuanya peduli.
Tapi tak apa, setidaknya walaupun sedikit, para pendahulu itu bisa menyelamatkan mereka yg ingin masuk dunia asing itu.
Setidaknya,para pandahulu itu bisa menghidupkan kembali harapan2 mereka di dunia asing itu.

Depok, 1 Mei 2018

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramadhan Day 22 : Ke Kota

Tidak ada yang bisa duduk tenang. Hujan deras menghimpun cemas di pintu stasiun. Kereta seharusnya datang 5 menit yang lalu. Terkadang, satu menit menunggu terasa lebih merugikan daripada seumur hidup berlalu sia-sia. Seorang pemuda menyalami seorang bapak yang kupikir adalah orangtuanya. Sang bapak melambaikan tangan. Bersedih. Senyum getirnya memunculkan keriput. Si pemuda membalas dengan lambaian yang sama. Tetapi sumringah. Senyum bahagianya memunculkan rona merah. Seolah ia sedang berpura-pura lupa bahwa pria berkeriput itu telah menua. Begitu pun mimpi-mimpi yang menunggunya di kota. Demikian pikirnya, barangkali. Berjarak satu sama lain bukanlah pilihan sulit bagi sebagian orang. Jauh dan dekat hanya soal hitungan kilometer. Berbagai moda melipat jarak bagai kertas. Tetapi seringkali, jarak tidak bekerja seperti itu. Ia mengganti peta dalam pikiranmu dengan ilusi. Jauh dekat bukan lagi dihitung melalui kilometer. Meski ia disampingmu, tapi seringkali ia terasa jauh. Sejauh ...

Ramadhan Day 25 : Tantangan Itu Biasa, Menyelesaikannya itu Istimewa

FIK UI 2015 wisuda. dokumentasi pribadi Pernah tidak dalam hidupmu kamu membuat keputusan yang menurutmu paling menantang ? Aku pernah yaitu saat memutuskan aku mengikuti profesi ners. Bagiku itu adalah keputusan besar yang membentuk diriku di hari ini. Setahun yang lalu, di saat yang sama aku sedang sibuk merevisi proposal skripsiku dan merayu dosen pembimbing agar aku bisa sidang akhir Mei. Singkat cerita aku bisa sidang di akhir Mei. Aku merasa aku menang. Aku berhasil melewati salah 1 fase terberatku, yaitu skripsi. Namun setelah itu muncul pertanyaan baru lagi, what's next ? Bagi mahasiswa keperawatan, wisuda sarjana bukanlah akhir dari masa perkuliahan. Justru ini awal kehidupan yang sesungguhnya. Setelah menimbang berbagai pertimbangan, aku akhirnya memutuskan untuk mengikuti profesi, karena jalan mimpiku yang selanjutnya memang harus dilalui melalui profesi. Iya, aku harus mendapatkan Surat Tanda Registrasi (STR) agar aku dapat bekerja sebagai praktisi. Untuk mend...

Ramadhan Day 19 : tidak berjudul

Aku tidak menjamin bisa seperti mereka. Karena I life with myself.  Tetapi setidaknya aku sedang berproses untuk bertumbuh setiap harinya. Meski hanya 1 mm. Aku juga tidak yakin, pertumbuhanku setiap hari bisa membuatku layak. Tetapi aku yakin, apa yang aku lakukan hari ini tidak ada yang sia-sia. Apa yang aku lakukan hari ini semoga bisa mengubah masa depanku, walaupun hanya sedikit. Sesuatu yang sangat aku khawatirkan. Rumah, 12 Mei 2020 19 Ramadhan 1441 H