Langsung ke konten utama

Anak Perempuan Bapak


Kata bapak, anak adalah investasi terbaik orangtua. Sehingga orangtua selalu mengusahakan memberikan hal hal yang terbaik untuk anaknya. Termasuk perbekalan anak di kehidupan nanti. Anak perempuan bapak sekarang sudah dewasa, sudah saatnya anak perempuan bapak memahami pergaulan laki-laki dan perempuan.
Masa-masa liburan di rumah adalah hal  yang sangat saya nanti karena banyak nasihat-nasihat bapak sebagai bekal diri.
“Tadi bapak lihat anak-anak punk cewe ngamen di jalanan. Bagi bapak, itu seperti berdagang namun di tokonya sudah ditulis obral murah. Sehingga pengangguran pun bisa beli. Kamu paham maksud bapak?”
“Begini, menjadi seorang perempuan itu, harus punya rasa malu, harus punya harga diri. Sesederhana bagaimana kamu bersikap kepada laki-laki. Boleh saja berkomunikasi, tetapi ada batas-batasnya. Jangan sampai kamu “larut”. Ketegasan dari sikapmu itulah yang menyebabkan mereka bisa menghargaimu nak. Di zaman sekarang, laki-laki yang punya iman itu langkaaa sekali. Laki-laki yang bisa menghormati dan menghargai perempuan. Nah tapi, perempuannya juga harus bisa menghargai dirinya sendiri dulu. Dengan bersikap santun, baik, dan tidak melakukan hal-hal yang merendahkan harga dirinya.”
Bapak belum selesai memberikan nasihatnya.
“Membangun rumah tangga itu tidak hanya untuk di dunia, tetapi sampai di akhirat. Syukur-syukur jika sudah jodoh di dunia jadi jodoh juga di akhirat. Sehingga melihat orang tidak bisa lagi dari fisik, kekayaan, atau apapun yang bisa hilang dari orang tersebut. Mulailah melihat orang dengan hati. Hati akan mengenali karakter. Tetapi mata hanya akan mengenali fisik.
Misalnya kamu cinta kepada orang karena fisik, saat fisiknya sudah berubah mungkin perasaanmu akan berubah juga. Tetapi kalau karakter, tidak akan bisa hilang, akan terus melekat pada orang tersebut seumur hidupnya.” – iya pak destin sudah menemukan orang yang demikian- pernyataan itu hanya berhenti sampai di tenggorokan.
Demikian nasihat bapak sore ini. Semoga anaknya bisa menjadi anak perempuan yang bisa menghormati dan menghargai dirinya sendiri.

Baiti Jannati, 22 Maret 2020


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramadhan Day 22 : Ke Kota

Tidak ada yang bisa duduk tenang. Hujan deras menghimpun cemas di pintu stasiun. Kereta seharusnya datang 5 menit yang lalu. Terkadang, satu menit menunggu terasa lebih merugikan daripada seumur hidup berlalu sia-sia. Seorang pemuda menyalami seorang bapak yang kupikir adalah orangtuanya. Sang bapak melambaikan tangan. Bersedih. Senyum getirnya memunculkan keriput. Si pemuda membalas dengan lambaian yang sama. Tetapi sumringah. Senyum bahagianya memunculkan rona merah. Seolah ia sedang berpura-pura lupa bahwa pria berkeriput itu telah menua. Begitu pun mimpi-mimpi yang menunggunya di kota. Demikian pikirnya, barangkali. Berjarak satu sama lain bukanlah pilihan sulit bagi sebagian orang. Jauh dan dekat hanya soal hitungan kilometer. Berbagai moda melipat jarak bagai kertas. Tetapi seringkali, jarak tidak bekerja seperti itu. Ia mengganti peta dalam pikiranmu dengan ilusi. Jauh dekat bukan lagi dihitung melalui kilometer. Meski ia disampingmu, tapi seringkali ia terasa jauh. Sejauh ...

Ramadhan Day 25 : Tantangan Itu Biasa, Menyelesaikannya itu Istimewa

FIK UI 2015 wisuda. dokumentasi pribadi Pernah tidak dalam hidupmu kamu membuat keputusan yang menurutmu paling menantang ? Aku pernah yaitu saat memutuskan aku mengikuti profesi ners. Bagiku itu adalah keputusan besar yang membentuk diriku di hari ini. Setahun yang lalu, di saat yang sama aku sedang sibuk merevisi proposal skripsiku dan merayu dosen pembimbing agar aku bisa sidang akhir Mei. Singkat cerita aku bisa sidang di akhir Mei. Aku merasa aku menang. Aku berhasil melewati salah 1 fase terberatku, yaitu skripsi. Namun setelah itu muncul pertanyaan baru lagi, what's next ? Bagi mahasiswa keperawatan, wisuda sarjana bukanlah akhir dari masa perkuliahan. Justru ini awal kehidupan yang sesungguhnya. Setelah menimbang berbagai pertimbangan, aku akhirnya memutuskan untuk mengikuti profesi, karena jalan mimpiku yang selanjutnya memang harus dilalui melalui profesi. Iya, aku harus mendapatkan Surat Tanda Registrasi (STR) agar aku dapat bekerja sebagai praktisi. Untuk mend...

Ramadhan Day 19 : tidak berjudul

Aku tidak menjamin bisa seperti mereka. Karena I life with myself.  Tetapi setidaknya aku sedang berproses untuk bertumbuh setiap harinya. Meski hanya 1 mm. Aku juga tidak yakin, pertumbuhanku setiap hari bisa membuatku layak. Tetapi aku yakin, apa yang aku lakukan hari ini tidak ada yang sia-sia. Apa yang aku lakukan hari ini semoga bisa mengubah masa depanku, walaupun hanya sedikit. Sesuatu yang sangat aku khawatirkan. Rumah, 12 Mei 2020 19 Ramadhan 1441 H