Langsung ke konten utama

Lintasan


Dalam hidup, kita bertemu dengan berbagai jenis orang. Dari mereka ada yang kemudian pergi, ada juga yang tinggal sampai saat ini. Terkadang manusia memandang sesuatu dari sisi egois. Mereka menyangka bahwa orang-orang datang dan pergi dalam hidunpnya. Tetapi sebenernya dirinya juga sebenarnya datang dan pergi dari hidup orang-orang.
Semakin dewasa semakin paham. Ternyata orang-orang yang kita temui hanya bertemu saat kita sedang satu frekuensi. Setelah selesai, kita kembali berjalan menuju jalan masing-masing dan kembali menemukan frekuensi yang sama lagi. Karena manusia memang punya lintasan hidupnya sendiri-sendiri. Lintasan yang rumit, kadang bertemu di persimpangan, lalu berpisah menuju lintasan lain. Kaya dua bintang yang Cuma sebentar ketemu. Pertemuan singkat, namun bermakna, yang dapat digunakan sebagai pengalaman dan bekal perjalanan menyusuri lintasan lain. Sambil menunggu takdir mempertemukan lintasannya kembali dengan bintang yang lain. Maupun bintang yang sama-sebuah suara menimpali
Hal ini juga membuat saya sadar bahwa kedatangan dan kepergian adalah keniscayaan. Bahwa tak ada yang abadi dan tidak ada yang dapat kita miliki.

Baiti Jannati, 29 Maret 2020.


Komentar

  1. Hanya ada segelintir saja yang mampu bertahan dalam sebuah hubungan. Dalam hal ini pertemanan. Semoga kita selalu dipertemukan dengan orang-orang baik, walaupun hanya selintas bertatap muka :D

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramadhan Day 22 : Ke Kota

Tidak ada yang bisa duduk tenang. Hujan deras menghimpun cemas di pintu stasiun. Kereta seharusnya datang 5 menit yang lalu. Terkadang, satu menit menunggu terasa lebih merugikan daripada seumur hidup berlalu sia-sia. Seorang pemuda menyalami seorang bapak yang kupikir adalah orangtuanya. Sang bapak melambaikan tangan. Bersedih. Senyum getirnya memunculkan keriput. Si pemuda membalas dengan lambaian yang sama. Tetapi sumringah. Senyum bahagianya memunculkan rona merah. Seolah ia sedang berpura-pura lupa bahwa pria berkeriput itu telah menua. Begitu pun mimpi-mimpi yang menunggunya di kota. Demikian pikirnya, barangkali. Berjarak satu sama lain bukanlah pilihan sulit bagi sebagian orang. Jauh dan dekat hanya soal hitungan kilometer. Berbagai moda melipat jarak bagai kertas. Tetapi seringkali, jarak tidak bekerja seperti itu. Ia mengganti peta dalam pikiranmu dengan ilusi. Jauh dekat bukan lagi dihitung melalui kilometer. Meski ia disampingmu, tapi seringkali ia terasa jauh. Sejauh ...

Ramadhan Day 25 : Tantangan Itu Biasa, Menyelesaikannya itu Istimewa

FIK UI 2015 wisuda. dokumentasi pribadi Pernah tidak dalam hidupmu kamu membuat keputusan yang menurutmu paling menantang ? Aku pernah yaitu saat memutuskan aku mengikuti profesi ners. Bagiku itu adalah keputusan besar yang membentuk diriku di hari ini. Setahun yang lalu, di saat yang sama aku sedang sibuk merevisi proposal skripsiku dan merayu dosen pembimbing agar aku bisa sidang akhir Mei. Singkat cerita aku bisa sidang di akhir Mei. Aku merasa aku menang. Aku berhasil melewati salah 1 fase terberatku, yaitu skripsi. Namun setelah itu muncul pertanyaan baru lagi, what's next ? Bagi mahasiswa keperawatan, wisuda sarjana bukanlah akhir dari masa perkuliahan. Justru ini awal kehidupan yang sesungguhnya. Setelah menimbang berbagai pertimbangan, aku akhirnya memutuskan untuk mengikuti profesi, karena jalan mimpiku yang selanjutnya memang harus dilalui melalui profesi. Iya, aku harus mendapatkan Surat Tanda Registrasi (STR) agar aku dapat bekerja sebagai praktisi. Untuk mend...

Ramadhan Day 19 : tidak berjudul

Aku tidak menjamin bisa seperti mereka. Karena I life with myself.  Tetapi setidaknya aku sedang berproses untuk bertumbuh setiap harinya. Meski hanya 1 mm. Aku juga tidak yakin, pertumbuhanku setiap hari bisa membuatku layak. Tetapi aku yakin, apa yang aku lakukan hari ini tidak ada yang sia-sia. Apa yang aku lakukan hari ini semoga bisa mengubah masa depanku, walaupun hanya sedikit. Sesuatu yang sangat aku khawatirkan. Rumah, 12 Mei 2020 19 Ramadhan 1441 H