Ia berepetisi tiap detiknya. Tak peduli logika menghantam. Tak peduli upayaku melupakan. Tak peduli rentang waktu yang tak pasti. Apalagi jarak yang kilometernya pun aku tak tahu. Ia bernama rindu.
Aku khawatir dia akan terus berepetisi. Sebab temu bukanlah obat mujarab rindu. Apalagi tanpa temu. Mungkin benar, doa diam diam adalah penetralisir.
Aku khawatir dia akan terus berepetisi. Sebab temu bukanlah obat mujarab rindu. Apalagi tanpa temu. Mungkin benar, doa diam diam adalah penetralisir.
Komentar
Posting Komentar