| sumber: dokumentasi pribadi |
Pertanyaan itu terus terngiang-ngiang di kepala sampai hari ini.
Pergolakan batin antara ingin menyerah saja atau berjuang sampai titik darah penghabisan.
Apakah aku akan menjadi seorang perawat ?
Pertanyaan itu, belum terjawab sepenuhnya secara sempurna. Hati nurani belum sepenuhnya mengatakan "iya". Ada area keragu-raguan. Dan are itu terus memperluas diri ketika diri ini menyadari betapa tingginya risiko penularan penyakit kepada tenaga kesehatan khususnya perawat yang sering berinteraksi dengan pasien. Dapat kalian bayangkan ? Bagaimana rasanya setiap hari bertugas di ruangan TB ? HIV ? Hepatitis ?, atau ketika di IGD tiba-tiba ada orang yang datang dengan perdarahan dimana-mana akibat kecelakaan yang membuat kamu semakin sadar betapa mengerikannya menjadi tenaga kesehatan.
TAPI
Dibalik itu semua, semua itu adalah tugas mulia. Dibalik risiko tertular, rasa takut, rasa ngeri, dsb semua itu adalah tugas kemanusiaan. Memanusiakan manusia. Perawat adlaah perpanjangan tangan Tuhan untuk menjaga kehidupan di bumi ini melalui perawatan seseorang untuk kembali menjadi sehat.
Dan diri ini akan terus berjuang sampai titik darah penghabisan untuk melawan semua rasa takut itu, hingga diri ini tidak lagi memiliki rasa takut kepada penyakit. Sehingga rasa yang tersisa adalah perasaan peduli dan keikhlasan untuk menolong. Ya, melawan rasa takut adalah satu-satunya jalan saati ini.
Lalu pertanyaan "apakah aku akan menjadi perawat?"
jawaban itu masih menggantung.. di langit-langit
Depok, 5 Desember 2018
Komentar
Posting Komentar