Langsung ke konten utama

Meleleh karena Kebaikan Orang lain

sumber: dokumentasi pribadi (Pantai Jetis, Cilacap)


Pernah ga kamu meleleh karena kebaikan orang lain ? atau karena sikap orang lain yang menurut kamu sangat dewasa ?
Hari ini, saya dilelehkan oleh sikap orang-orang yang saya temui hari ini.
1. Pagi ini ada presentasi mata kuliah kolaborasi kesehatan. Kelompok sebelah belum selesai membuat PPT sedangkan kelompok saya sudah. Tetapi justru yang kelompok sebelah lah yang harus maju duluan. Tiba-tiba ada kakak-kakak yang mengatakan "Guys ini kelompok sebelah belum selesai membuat PPT. Kalau kita duluan yang maju gimana ? Kita tukeran urutan maju sama mereka."
Mungkin, jika kelompok saya egois, bisa saja tidak peduli dengan kelompok sebelah yang PPT nya belum selesai. Tetapi sikap kakak-kakak tadi membuat saya belajar untuk tidak egois dengan orang/kelompok lain.
2. Hari ini PdanK BEM mengadakan sebuah acara apresiasi untuk mahasiswa FIK UI yang pernah mengikuti lomba. Sejak kemarin PdanK sulit sekali untuk menemukan MC. Setelah mengontak beberapa orang berujung dengan penolakan karena jumat sore ada kelas pengganti. Sedangkan ketika menawari anak angkatan saya sudah pada tidak mau, sudah terlalu tua katanya. Waktu malam-malam tiba-tiba ada satu orang yang mau. Dia tidak ada kelas pengganti besok sore. Dia juga mengatakan kalau PdanK tidak menemukan orang lagi, dia bersedia menjadi MC sendirian. Saya senanng sekali akhirnya menemukan MC. Lalu di malam yang sama ada satu orang lagi yang mau. Dia sebenarnya ingin mengikuti debat publik pemira UI. Tetapi karena dingajakin untuk ngMC akhirnya dia mau ngeMC. Tetapi dia ternyata ada kelas pengganti. Sehingga jadinya sedikit PHP T.T
Namun ternyata di pagi harinya ada kabar bahwa tidak jadi ada kelas pengganti. Lalu ketika saya menghubungi dia lagi, dia mau jadi MC. Alhamdulilah selalu ditolong oleh orang-orang baik.
Dari sini saya belajar tentang tolong menolong. Walaupun sebenarnya setiap orang memiliki ego untuk mengikuti keinginannya, namun super ego masih mengendalikan untuk menurunkan ego dan membantu orang lain. Terima kasih kelian berdua yang sudah menjadi MC !
3. Acara apresiasi ini sebenarnya lumayan besar karena mengundang pihak dekanat yang diwakilkan oleh pihak kemahasiswaan. Dari pihak lembaga formal kemahasiswaa saya hanya mengudang ketuA BEM karena saya menganggapnya ini hanya acara BEM. Tetapi ternyata wakil dan ketua BPM juga ikut menghadiri untuk menghormati acara ini tanpa diundang. Ssaya terharu. Maafkan saya yang skip untuk mengundang kalian.

Dan juga kebaikan teman-teman PDanK yang sudah membersamai saya hingga hari ini. Walaupun ada naik turunnya untuk menjalani proker-proker di PdanK, walaupun sempat ada goresan konflik, tetapi tanpa kalian saya hanya butrian debut.


Destin lagi lagi belajar tentang bersyukur, peduli, dan toleransi. Dalam bersosialisasi kita memang harus meluaskan hati seluas lautan dan langit untuk bersikap yang terbaik kepada orang lain. Walaupun harus mengalah, walaupun harus menurunkan ego, dan awalaupun harus berkorban. Tetapi ternyata sikap-sikap tersebutlah yang membuat hati orang lain merasa meleleh dan menganggap "Wah orang ini baik loh, wah orang ini enakan buat diminati tolong, wah dia dewasa banget sikapnya."

Depok, 7 Desember 2018

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramadhan Day 22 : Ke Kota

Tidak ada yang bisa duduk tenang. Hujan deras menghimpun cemas di pintu stasiun. Kereta seharusnya datang 5 menit yang lalu. Terkadang, satu menit menunggu terasa lebih merugikan daripada seumur hidup berlalu sia-sia. Seorang pemuda menyalami seorang bapak yang kupikir adalah orangtuanya. Sang bapak melambaikan tangan. Bersedih. Senyum getirnya memunculkan keriput. Si pemuda membalas dengan lambaian yang sama. Tetapi sumringah. Senyum bahagianya memunculkan rona merah. Seolah ia sedang berpura-pura lupa bahwa pria berkeriput itu telah menua. Begitu pun mimpi-mimpi yang menunggunya di kota. Demikian pikirnya, barangkali. Berjarak satu sama lain bukanlah pilihan sulit bagi sebagian orang. Jauh dan dekat hanya soal hitungan kilometer. Berbagai moda melipat jarak bagai kertas. Tetapi seringkali, jarak tidak bekerja seperti itu. Ia mengganti peta dalam pikiranmu dengan ilusi. Jauh dekat bukan lagi dihitung melalui kilometer. Meski ia disampingmu, tapi seringkali ia terasa jauh. Sejauh ...

Ramadhan Day 25 : Tantangan Itu Biasa, Menyelesaikannya itu Istimewa

FIK UI 2015 wisuda. dokumentasi pribadi Pernah tidak dalam hidupmu kamu membuat keputusan yang menurutmu paling menantang ? Aku pernah yaitu saat memutuskan aku mengikuti profesi ners. Bagiku itu adalah keputusan besar yang membentuk diriku di hari ini. Setahun yang lalu, di saat yang sama aku sedang sibuk merevisi proposal skripsiku dan merayu dosen pembimbing agar aku bisa sidang akhir Mei. Singkat cerita aku bisa sidang di akhir Mei. Aku merasa aku menang. Aku berhasil melewati salah 1 fase terberatku, yaitu skripsi. Namun setelah itu muncul pertanyaan baru lagi, what's next ? Bagi mahasiswa keperawatan, wisuda sarjana bukanlah akhir dari masa perkuliahan. Justru ini awal kehidupan yang sesungguhnya. Setelah menimbang berbagai pertimbangan, aku akhirnya memutuskan untuk mengikuti profesi, karena jalan mimpiku yang selanjutnya memang harus dilalui melalui profesi. Iya, aku harus mendapatkan Surat Tanda Registrasi (STR) agar aku dapat bekerja sebagai praktisi. Untuk mend...

Ramadhan Day 19 : tidak berjudul

Aku tidak menjamin bisa seperti mereka. Karena I life with myself.  Tetapi setidaknya aku sedang berproses untuk bertumbuh setiap harinya. Meski hanya 1 mm. Aku juga tidak yakin, pertumbuhanku setiap hari bisa membuatku layak. Tetapi aku yakin, apa yang aku lakukan hari ini tidak ada yang sia-sia. Apa yang aku lakukan hari ini semoga bisa mengubah masa depanku, walaupun hanya sedikit. Sesuatu yang sangat aku khawatirkan. Rumah, 12 Mei 2020 19 Ramadhan 1441 H