![]() |
| sumber: dokumentasi pribadi |
Di bulan Desember ini saya menjalani praktik klinik stase keperawatan anak. Di minggu kedua stase ini, saya kebetulan praktik di sebuah wisma tuna ganda. Di hari pertama praktik saya kaget dan takut dengan keadaan penghuni wisma. Di wisma tersebut ternyata tidak semuanya berumur anak-anak. Bahkan ada yang sudah berumur 40th lebih dan mereka di wisma tersebut sejak kecil.
Namun walaupun terbilang sudah berumur, emosional mereka tidak sesuai dengan umurnya. Mereka lebih cenderung masih seperti anak-anak karena kebanyakan dari mereka mengalami cerebral palsy yaitu adanya lesi di otak serebral.. Hal ini menyebabkan retardasi mental, gangguan kognitif, dan motorik. Selain itu mereka juga ada yang tuna wicara, tua rungu, tuna netra, dan lumpuh permanen.
Kata dosen saya, kami ditempatkan di sini untuk melatih rasa empati kami. Tujuan dosen saya sangat sukses melatih rasa empati kami. Selain itu, ,saya menjadi lebih bersyukur bisa hidup dengan normal tak kurang satupun hingga detik ini. Bisa menikmati nikmatnya bangku sekolah, kebersamaan dengan keluarga, bersosialisasi dengan teman, dan bisa melihat dunia secara lebih luas. Seketika itu, rasa mengeluh karena tekanan akademik, organisasi, dan apapun itu..hilang. Ah Allah punya saja cara untuk menyadarkan manusia macam saya ini untuk kembali mengingat nikmati sederhana itu.
Di wisma ini kami mendampingi anak-anak untuk belajar di kelas dan menyuapi makan saat jam makan siang. Saya sempat kaget juga di hari pertama karena di kelas hanya 2 jam, yaitu dari jam 9-11 siang saja. Akan tetapi walaupun hanya 2 jam mereka cepat sekali bosan. Lalu di hari-hari berikutnya kegiatan di kelas juga sama rutinitasnya. Oh ya kelas ini berbeda ya dengan sekolah formal. Kalau di sekolah formal kit abelajar banyak hal. Ada menghitung, mewarnai, menulis, membaca, dsb. Di sekolah formal juga semua anak diajarkan hal yang sama dan dituntut untuk bisa melewati KKM (batas tuntas) ketika ujian nanti. Namun yang terjadi apa ? Anak-anak sekolah formal berusaha untuk menjadi yang terbaik namun tidak semuanya menggunakan cara yang baik. Ada yang mencontek, membeli jawaban soal UN, dsb. Kenapa ?? Karena mereka menganggap bahwa mereka akan lebih baik dari yang lain ketika memiliki nilai yang lebih tinggi. Padahal menurut saya kalau caranya demikian malah merendahkan diri sendiri.
Di sini setiap anak belajar sesuai dengan kemampuannya masing-masing, Misalnya yang tuna netra belajar mencocokkan. Yang tidak tuna netra, bisa belajar main puzzle, ada juga yang bisa menulis dan mewarnai. Oh ya ada juga yang bermain scrabble.
Dari mereka saya belajar tentang bersabar, Ketika saya mendampingin salah seorang anak untuk belajar scrabble tetapi anak tersebut lama sekali untuk emgambil satu huruf karena dia memiliki gangguan motorik (jari-jari tangannya tidak bisa lemas). Ya saya tetap bersabar untuk terus mendampingi. Saya berusaha untuk berempati bahwa karena kondisi tersebut memang anak tersebut tidak dapat mengambil secepat kita.
Saya juga pernah mendampingi anak untuk menulis kalimat. Anak tersebut mudah sekali terdistraksi. sehingga ketika baru nulis satu kata, berhenti. Terus nulis lagi. Tetapi saya mencoba untuk fokuskan dia.
Ya begitulah gambaran belajar anak-anak di sini. Mereka tidak pernah bersaing satu sama lain. Tetapi mereka berusaha untuk memberikan yang terbaik versi mereka sendiri karena mereka mengetahui, musuh terbesar adalah diri mereka sendiri.
Seketika itu, saya menengok diri sendiri yang terkadang masih compare to others. Padahal standar, kemampuan, dan tujuan hidup orang pun berbeda-beda. Dari sini saya belajar untuk fokus pada tujuan dan give the best as well as I can.
Depok, 9 Desember 2018

Komentar
Posting Komentar